مشاركة

Bab 7

مؤلف: Neny nina
last update آخر تحديث: 2026-01-22 08:00:00

Rumah Kosong

 

"Sekarang kita mau kemana, Nyonya? Apa kita akan kembali ke rumah orang tua Nyonya?" tanya Siti, matanya penuh kekhawatiran.

Selena menatap jauh, ingatan tentang cerita yang pernah dia baca menghampiri. Di dalamnya, bahkan mayat sang tokoh tak pernah diterima oleh keluarganya—akhirnya hanya Siti yang setia menguburkannya di tengah hutan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia akan kembali dengan status yang belum jelas?

"Untuk sekarang, kita tidak akan kembali ke sana, Siti. Kita akan mulai dari nol, membangun kehidupan baru di sini."

"Iya, Nyonya! Kita pasti bisa!" ucap Siti dengan semangat yang sedikit meredakan kesedihan di hati Selena.

"Saya juga akan mengikuti dan selalu mendukung Nyonya!" suara lain menyela. Wanita yang baru saja diselamatkan itu berdiri tegak di sisi mereka.

"Siapa nama kamu?" tanya Selena dengan lembut.

"Nama saya Yesi, Nyonya."

"Apa kamu tidak mau pulang? Saya sudah membebaskan kamu, kan?"

"Tidak, Nyonya. Saya tidak punya tempat lain untuk kembali. Selain ingin membalas budi baikmu, dunia luar tidak ada yang akan menerima saya. Jika Nyonya tidak mau saya ikuti, saya tidak tahu harus ke mana lagi..."

Sebelum Selena bisa menyela, Yesi langsung berlutut di depannya. Selena terkejut—di dunia sebelumnya, bahkan bi Narti yang sudah lama bekerja di rumahnya selalu bersikap seperti ibu yang tegas, tidak pernah melakukan hal seperti itu. "Kasihan sekali," batinnya.

"Eh, jangan begini! Ayo berdiri." Selena menolongnya bangun, rasa kasihan terlihat jelas di wajahnya. "Kamu bukan hamba saya, tapi teman yang akan bersama saya membangun hidup baru."

Yesi menyeka air mata yang menetes, bibirnya bergetar. "Baik, Nyonya. Saya janji nantinya akan selalu berhati-hati dalam bekerja dan membantu sebanyak mungkin. Saya akan usahakan untuk tidak buat kesalahan."

"Baiklah. Mulai sekarang, kita tinggal bertiga. Kalian berdua adalah tanggung jawab saya, dan nanti saya akan pastikan kalian menikah dengan laki-laki yang baik dan benar."

Siti dan Yesi saling melihat, mata mereka berkaca-kaca karena haru. "Kami sungguh beruntung bisa mengenal Nyonya," ucap Yesi dengan suara penuh rasa syukur.

Mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah rumah besar dengan tembok bata yang menguning dan atap genteng yang sebagian terkelupas. Udara tua dan sepi mengelilinginya.

"Rumah ini sepertinya sudah lama kosong," ucap Selena sambil menyapukan dua jarinya ke jendela kayu—debu tebal menempel di sana. "Tapi kalau dibersihkan, pasti bisa jadi tempat tinggal yang nyaman."

"Apa tidak ada orang yang punya rumah ini, Nyonya?" tanya Yesi, mengelilingi halaman yang tumbuh liar.

"Sepertinya tidak. Kita bisa menempatinya dulu sampai ada orang yang mengklaimnya."

"Apa Nyonya tidak takut ada hantu?" bisik Siti dengan suara gemetar, menatap pintu kayu yang menganga itu.

"Jika kita isi rumah ini dengan kehangatan dan kerja keras, tidak akan ada yang bisa membuatnya menyeramkan lagi."

Selena mendorong pintunya yang tidak terkunci—kabut tipis dan beberapa burung kecil terbang berhamburan. Ketiga perempuan yang hampir sebaya itu terbatuk-batuk, segera menutup mulut dengan selendang di lengannya. Mereka bekerja sama membuka semua jendela agar udara segar bisa masuk.

"Kita harus pergi beli alat pembersih, Nyonya," kata Siti.

"Tidak usah. Kalian tunggu di sini saja. Kemungkinan ada gudang di belakang rumah yang menyimpan perkakas. Tapi janji ya—jangan menyusul saya sampai saya kembali," pesan Selena dengan nada tegas.

"Baik, Nyonya!" jawab keduanya serempak, tanpa bertanya banyak.

Selena bergegas ke belakang rumah, menyelinap melalui semak-semak yang tumbuh liar. Setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, dia mengeluarkan liontin kalung yang selalu tergantung di lehernya, menggosoknya dengan lembut.

Tiba-tiba, sebuah layar hologram muncul di depannya, disertai suara imut seperti anak kecil:

"Halo, Selena! Selamat, kamu telah naik ke level tiga! Silakan pilih hadiah yang kamu inginkan."

Tanpa ragu, Selena memilih alat-alat yang dibutuhkannya. Dalam sekejap, mesin pembersih lantai, mesin cuci, lampu cas 100 watt, kompor gas lengkap dengan tabung baru, makanan siap saji, mie instan, kulkas, dan mejikom muncul di bawah kakinya. Yang paling penting adalah panel surya untuk menampung energi—karena di zaman ini tidak ada listrik; masyarakat hanya bergantung pada lampu minyak, dengan jenis yang berbeda antara kalangan kaya dan miskin.

"Dengan barang-barang ini, kami tidak akan kesusahan hidup di luar rumah keluarga Zarek," gumam Selena dengan lega.

"Nona! Kamu juga bisa memilih barang tambahan dan melipatgandakannya hingga sepuluh ribu kali lho!"

Selena tersenyum puas. "Bisakah saya menyimpannya dulu di ruang penyimpanan?"

"Tentu saja, Nona!"

Setelah menggosok liontin lagi, layar menghilang. Selena mengambil beberapa alat utama dan berjalan kembali ke depan, senyum terpampang karena membayangkan wajah terkejut Siti dan Yesi.

Bukannya terkejut, tapi mereka berdua heran melihat barang yang dibawa oleh Selena. Barang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Apa itu, Nyonya?"

"Ini sebuah mesin yang akan membantu pekerjaan kita," kata Selena menjelaskan.

"Mesin?" tanya Siti dan Yesi serempak. Mereka belum pernah melihat barang seperti itu.

"Sepertinya rumah besar ini ada penunggunya," batin Siti. Dia bergidik sendiri.

"Iya. Aku temukan ini di belakang. Aku akan tunjukkan cara kerjanya.

Tanpa menunggu Siti dan Yesi menjawab, Selena langsung menyalakan mesin itu. Saat mesin itu menyala, Siti dan Yesi terlonjak dan berteriak sambil lari tunggang langgang mencari tempat yang aman di dalam rumah yang masih dipenuhi debu itu.

"Tolooong! Toloooong! Siapapun, tolong.... " teriak Siti dan Yesi.

Selena mematikan mesin itu. Dia tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Yesi dan Siti bernapas lega karena mesinnya sudah mati. Dia menyalakan dan mematikannya beberapa kali untuk menggoda Yesi dan Siti. Mereka main kejar-kejaran sampai Selena merasa letih karena tertawa dan berlari. Akhirnya mereka terduduk di lantai yang masih berdebu itu.

Setelah beberapa kali mesin itu dihidupkan, Siti dan Yesi barulah yakin kalau mesin itu tidak membahayakan keselamatan mereka.

"Apa itu, Nyonya? Dari mana Nyonya mendapatkan barang itu? Kembalikan ketempat semula Nyonya? Kalau tidak, kita akan dikutuk," rengek Siti.

"Jangan khawatir Siti. Ini hanya alat untuk memudahkan kita melakukan pekerjaan rumah. Ini adalah alat penghisap debu otomatis, dan ini adalah alat pel otomatis. Aku akan ajari kalian menggunakannya." Setelah menjelaskan, Selena kembali tertawa kecil menghabiskan sisa tawanya yang masih ada.

"Nah! Jadi begini caranya." Selena mulai memperagakan cara penggunaannya. Siti dan Yesi awalnya takut memegangnya. Tapi setelah Selena memaksakan tangan mereka untuk memegang alat tersebut, akhirnya mereka jadi tidak takut lagi. Tapi tetap dengan penuh kewaspadaan.

Sementara itu, di sebuah rumah bordil yang terletak tidak jauh dari sana, Seorang pemuda berlari datang dengan wajah pucat menemui seorang pria tampan dengan tubuh tegap seperti seorang tentara, yang sedang dikelilingi beberapa wanita.

"Bos! Gawat, Bos!"

"Ada apa?!" suara pria itu yang diketahui bernama Eden terdengar tegas, membuat semua orang terdiam.

Pemuda itu mendekat dan berbisik di telinganya. Wajah Eden langsung memerah karena marah—tangannya membentuk tinju, otot-otot tubuhnya mengeras. Semua wanita menghindar karena takut menyaksikan kemarahannya yang terkenal kejam.

"Bawa semua orang kita ke sana sekarang juga!" perintahnya.

"Sudah siap di luar, Bos!"

Tanpa basa-basi, Eden berjalan keluar dengan langkah mantap, diikuti sepuluh orang lelaki perkasa dengan wajah serius. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah besar yang kosong itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 8.

    Bab 8: Mendapatkan Bantuan "Aku akan menghajar orang yang berani menyentuh properti keluargaku dengan paksa!" gumam Eden dengan suara rendah namun penuh amarah. Langkahnya berat menapak tanah, mata menyala dengan kemarahan saat melihat pintu rumah kosong yang sudah dikenalnya sejak kecil terbuka lebar. Namun langkahnya terhenti seketika saat seorang wanita keluar sambil membawa mesin pembersih. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berkilau, wajahnya cantik seperti bidadari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian. Selama hidupnya di kota itu, Eden belum pernah melihat sosok seindah itu. "Mimpi apa aku semalam..." gumamnya seraya mengucek matanya meskipun tidak terasa gatal. Wajahnya yang tadinya memerah karena marah kini mulai memerah karena pemalu. "Apa dia orangnya yang mengambil rumah ini?" tanya Eden dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan ia tidak sadar kalau tangannya yang tadinya mengepalkan tinju sudah mulai rileks. "Iya, Bos! Tadi ada dua or

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 7

    Rumah Kosong   "Sekarang kita mau kemana, Nyonya? Apa kita akan kembali ke rumah orang tua Nyonya?" tanya Siti, matanya penuh kekhawatiran. Selena menatap jauh, ingatan tentang cerita yang pernah dia baca menghampiri. Di dalamnya, bahkan mayat sang tokoh tak pernah diterima oleh keluarganya—akhirnya hanya Siti yang setia menguburkannya di tengah hutan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia akan kembali dengan status yang belum jelas? "Untuk sekarang, kita tidak akan kembali ke sana, Siti. Kita akan mulai dari nol, membangun kehidupan baru di sini." "Iya, Nyonya! Kita pasti bisa!" ucap Siti dengan semangat yang sedikit meredakan kesedihan di hati Selena. "Saya juga akan mengikuti dan selalu mendukung Nyonya!" suara lain menyela. Wanita yang baru saja diselamatkan itu berdiri tegak di sisi mereka. "Siapa nama kamu?" tanya Selena dengan lembut. "Nama saya Yesi, Nyonya."

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 6

    Mentari tengah hari memancarkan panasnya seolah ingin mencairkan segala yang ada di bawahnya. Keringat seperti mutiara kecil mulai menetes dari ubun-ubun Selena, mengalir perlahan di lehernya yang terlihat lembut, menjalar ke arah dadanya—menambah pesona wanita berambut panjang yang biasanya terlihat anggun itu. Zarek menelan liur tanpa sadar, mata terfokus pada kulit putihnya yang kini mengkilap karena dibasahi keringat.Namun, rasa terbakar di dadanya akibat harga diri yang terinjak membuat darahnya mendidih. Matanya yang biasanya tajam kini memerah karena amarah, dan dengan gesaan kasar, dia melemparkan batangan emas ke lantai restoran—suara "KLENG!" menggema di ruangan itu."Jangan anggap kamu cantik saja bisa seenaknya menghina diriku!" Suaranya tercekik karena menahan kemarahan, giginya terkunci rapat. Tapi Selena hanya menatapnya dengan wajah yang tetap tenang."Siapa bilang aku menghina kamu? Aku cuma membayarkan harga untuk membebaskan pelayan yang sedang ditindas oleh orang

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 5. Tiba-tiba diajak pulang

    Selena dan Siti sudah berjalan melewati pasar tradisional. Dari semua tempat yang ia kunjungi, dia tidak menemukan makanan yang enak. Atau sekedar aroma makanan enak yang biasa ia hirup dan makan selama berada di dunia. Tapi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi dia tidak sarapan, meronta mintak diisi."Ayo kita makan dulu," ajak Selena."Baiklah Nyonya. Aku juga sudah lapar."Mereka pergi ke sebuah kedai nasi. Mereka memilih restoran mewah."Mau makan apa, Nona?" tanya pelayan kedai."Berikan kami makanan andalan restoran ini.""Baik Nyonya," kata pelayan itu dan bergegas ke dapur restoran untuk memberitahu koki agar menyiapkan menu andalan restoran itu.Tidak berapa lamanya, pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada mereka. Banyak menu yang terhidang di atas meja. Tapi semua itu tidak menggugah seleranya. Bagaimanapun Selena tetap mengisi perutnya yang lapar. Mereka berdua makan makanan itu.Saat mereka sedang makan, terdengar ada keributan di dapur restoran, setelah b

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 4. Tiba-tiba Diusir

    Salah seorang kepercayaan Zarek datang memberikan perintah langsung dari Zarek."Dimana nyonya Selena," tanya Riker kepada Siti. "Saya di sini." Selena sudah berdiri di depannya dengan sebuah tas besar yang berisi baju dan perlengkapannya."Anda siapa?" tanya pria itu dengan kening berkerut karena heran. Namun hati kecilnya memuji kecantikan wanita yang mengaku sebagai Selena."Saya Selena. Ada apa?""Dari suaranya benar nyonya Selena. Tapi kenapa badannya bisa kurus dalam semalam?" batinnya"Iya. Ini adalah Nyonya Selena. Nyonya minum ramuan pelangsing yang bisa membuat butuhnya langsing dalam semalam," beber Siti memastikan kalau yang dihadapannya adalah betul Selena."Ah. Biarinlah. Mau dia Nyonya atau bukan, yang penting dia juga akan pergi dari rumah ini," batinnya lagi."Ok. Saya mendapat perintah dari tuan Zarek. Demi keselamatan calon pewaris yang sedang dikandung Nyonya Liana, terpaksa Nyonya Selena harus pergi dari rumah ini.""Katakan pada Zarek. Aku memang akan pergi dari

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab3. Kejutan selanjutnya ( Tiba-tiba menjadi langsing)

    Waktu terus berputar. Obat pelangsing yang diminum Selena sebelum tidur, mulai bekerja saat Selena sedang terlelap.Di alam mimpi, Selena berada di tempat sebelum ia terdampar ke dunia Fiksi. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri perselingkuhan Damian dengan Lili sahabat karibnya. Mereka asik bercumbu di dalam kamar kost kekasihnya itu. Karena tidak tahan mendengar suara desahan kenikmatan dua manusia yang sedang dirasuki hawa nafsu itu, Selena menendang pintu kostan itu. Jika dengan kekuatan biasa, pintu itu tidak akan terbuka. Yang ada kakinya akan merasa sakit. Tapi karena dia punya ilmu bela diri dan tenaga dalam yang kuat, pintu itu terbuka. Dua orang yang sedang bertelanjang tampak terkejut dan segera meraih selimut untuk menutup tubuh mereka."Zizi! Ini hanya kekilafanku. Maaf, Sayang ...."Zizi, melemparkan kue ulang tahun yang sudah ia siapkan untuk memberi kejutan Demian tepat di mukanya. Mukanya belepotan oleh kue tart yang berwarna putih bercampur dengan coklat. Apa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status