FAZER LOGINFatika masih terengah-engah setelah orgasmenya, tapi matanya berkilat penuh nafsu. Ia menarik Reva naik ke atas tubuhnya, mencium bibirnya dalam-dalam sambil tangannya mengusap punggung Reva yang basah keringat.“Mbak… masih mau belajar yang lain?” bisik Fatika di bibir Reva, suaranya manja tapi penuh godaan.Reva mengangguk pelan, wajahnya masih merah malu. “Apa lagi…?”Fatika tersenyum nakal. Ia membalikkan posisi mereka hingga Reva berbaring telentang lagi. Fatika naik ke atas, tapi kali ini ia memutar tubuhnya hingga posisi mereka saling bertolak belakang.“Kita coba **69**, Mbak,” kata Fatika sambil menjilat bibirnya. “Kita bisa saling menjilat bersamaan.”Fatika naik ke atas tubuh Reva dengan posisi terbalik. Wajahnya tepat di atas vaginanya Reva, sementara vaginanya sendiri tepat di atas wajah Reva.“Mbakk cuma ikutin apa yang Fatika lakukan ya,” bisik Fatika.Tanpa menunggu jawaban, Fatika langsung menunduk dan menjilat celah Reva yang masih sangat basah dengan lidahnya yang p
Fatika mencium bibir Reva lagi, kali ini lebih dalam dan penuh kasih sayang. Lidahnya menyusup lembut, membiarkan Reva merasakan rasa dirinya sendiri yang masih menempel di mulut Fatika. Reva mendesah pelan di antara ciuman, tubuhnya masih gemetar sisa orgasme yang kuat.“Mbak… masih mau lanjut?” bisik Fatika di bibir Reva, suaranya lembut tapi penuh harap.Reva tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, matanya setengah terpejam, wajahnya memerah malu dan gairah. Fatika tersenyum senang.Ia turun sedikit, mencium leher Reva, lalu turun ke payudara lagi. Kali ini ia tidak terburu-buru. Ia menghisap puting Reva dengan lembut, bergantian kiri dan kanan, lidahnya menari pelan di ujungnya sambil tangan kanannya kembali turun ke antara paha Reva.Jari Fatika mengusap celah yang masih sangat basah dengan gerakan melingkar yang lambat. Ia memasukkan dua jarinya perlahan ke dalam vaginanya, bergerak maju mundur dengan ritme yang lembut tapi dalam.“Ahh… Fatika…” desah Reva, p
Fatika melepaskan puting Reva dari mulutnya dengan suara kecil yang basah. Seutas air liur tipis masih menghubungkan bibirnya dengan puting Reva yang sudah sangat mengeras dan basah. Ia menatap Reva dengan mata penuh nafsu, napasnya hangat menyapu kulit dada Reva.“Mbak… bajunya menghalangi. Boleh Fatika buka semuanya?” bisik Fatika lembut, tapi ada nada memohon yang manja.Reva tidak langsung menjawab. Napasnya sudah tidak teratur, wajahnya memerah hebat. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah terlalu panas untuk berpikir jernih.Fatika menganggap diamnya Reva sebagai persetujuan. Dengan gerakan perlahan dan penuh godaan, ia menarik baju Reva ke atas. Reva sedikit mengangkat tubuhnya, membiarkan Fatika melepas bajunya hingga terlepas sepenuhnya.Kini hanya menyisakan bra dan celana pendek Reva.Fatika tersenyum melihat payudara Reva yang indah tanpa penghalang. Ia menunduk lagi, menghisap puting kiri Reva dengan lembut sambil tangan kanannya meremas payudara kanan. Kemudian tangan ki
---Fatika terus memijat punggung Reva dengan gerakan yang semakin lambat dan penuh perhatian. Tangan kecilnya menekan otot-otot bahu Reva dengan kuat, lalu perlahan meluncur turun ke pinggang dengan sentuhan yang semakin ringan, hampir seperti belaian.“Mbak Reva tegang banget… pasti capek ya kuliah sambil mikirin Den Leon,” bisik Fatika lembut di dekat telinga Reva. Napas hangatnya menyapu kulit telinga Reva, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.Reva mendesah pelan, “Iya… kadang aku merasa diabaikan. Hari ini aja dia pergi tanpa bilang apa-apa…”Fatika tersenyum kecil. Tangannya turun lebih rendah, memijat pinggang Reva dengan gerakan melingkar yang sensual. Jari-jarinya sesekali menyapu sisi tubuh Reva, hampir menyentuh bagian samping payudaranya.“Mbak terlalu cantik untuk merasa kesepian…” bisik Fatika lagi. “Kalau Den Leon sibuk, Mbak boleh cerita apa saja ke Fatika. Aku dengerin sambil pijit.”Reva mengangguk pelan, matanya setengah terpejam menikmati pijatan. Fatika semakin b
Leon terbangun dari tidur singkatnya setelah sesi panas dengan Fatika. Ponselnya bergetar di meja nakas. Ia melihat nama "Andra" di layar.“Halo, Bro. Lo di mana? Gue lagi di cafe favorit kita. Nongkrong yuk, lama banget lo ga kelihatan,” ajak Andra di telepon.Leon melirik Fatika yang masih tertidur pulas di ranjangnya, tubuh telanjangnya hanya ditutupi selimut tipis. “Oke, gue ke sana sekarang. Tunggu ya.”Leon cepat-cepat mandi, berpakaian, lalu meninggalkan Fatika yang masih tertidur nyenyak di kamarnya. Ia menutup pintu pelan sebelum pergi ke cafe.---Sepuluh menit kemudian, Reva pulang kuliah lebih awal dari biasanya. Wajahnya lelah, tas kuliah masih digantung di bahu. Ia masuk ke kamar Leon untuk mencari pacarnya, tapi yang dilihatnya malah seorang gadis muda sedang tidur telentang di ranjang Leon, selimut hanya menutupi separuh tubuhnya.Reva mengerutkan kening. Ia mendekat dan mengguncang bahu Fatika pelan.“Hei… bangun.”Fatika menggeliat, matanya terbuka pelan. Begitu meli
Fatika masih terbaring lemas dalam pelukan spooning Leon, tubuhnya gemetar sisa orgasme yang lembut tadi. Batang Leon masih tertanam dalam di dalamnya, berdenyut pelan. Leon menciumi tengkuk Fatika sambil tangannya meremas payudara gadis itu dengan lembut.“Fatika… aku masih ingin lagi,” bisik Leon di telinga gadis itu, suaranya masih penuh nafsu.Fatika tersenyum lelah tapi senang. Ia menoleh ke belakang, matanya berkilat genit.“Den mau yang mana lagi? Fatika ikut saja…”Leon menarik diri perlahan. Cairan putih kental mereka berdua langsung mengalir deras dari vaginanya. Ia menepuk bokong Fatika pelan dan berkata tegas:“Doggy style. Angkat bokongmu tinggi-tinggi.”Fatika langsung patuh. Ia berlutut di tengah ranjang, menekuk kedua tangannya di kasur, lalu mengangkat bokongnya yang bulat dan kenyal tinggi-tinggi. Punggungnya melengkung indah, rambut ponytailnya tergerai di bahu. Posisi doggy style yang sempurna.“Begini, Den?” tanya Fatika sambil menggoyang bokongnya menggoda ke kir







