Memberi Jatah Para Pewaris Cantik

Memberi Jatah Para Pewaris Cantik

last updateÚltima atualização : 2026-03-17
Por:  Leva LorichAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
7Capítulos
6visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Ronald Satria, terpaksa pensiun dini dari posisinya sebagai tentara elit karena cedera tulang. Ia menjadi luntang-lantung dan menganggur. Beruntung datang seorang pengacara, sahabat mendiang ayahnya, yang menawarkan pekerjaan sebagai Caretaker/Pengelola Aset dari kekayaan, aset, perusahaan, dan mansion yang ditinggal mati seorang miliarder. Namun yang membuat Ronald tercengang adalah anggota keluarga si miliarder yang tinggal di mansion itu, SEMUANYA WANITA!

Ver mais

Capítulo 1

1. Awal Sebuah Pekerjaan

“Saya umumkan pada kalian semua bahwa mulai detik ini, Ronald Satria akan menjadi Caretaker di dalam mansion ini,” ucap Pengacara Buan lantang. “Semua kekayaan dan aset peninggalan Pak Hermawan akan sepenuhnya dikelola oleh Ronald,” lanjut sang pengacara membacakan surat penunjukannya.

Semua tercengang!

Setiap pasang mata di ruang tamu mansion itu tertuju pada Ronald.

“Kenapa harus dia, Pak Buan? Bukankah warisan bisa segera dibagikan?“ sanggah Bianca keras.

Pengacara Buan tersenyum tenang. “Bianca, statusmu dan Citra nggak kuat. Kalian berdua cuma anak bawaan dari istri pertama Pak Hermawan, bukan anak kandung!“ jawabnya tegas.

“Bagaimana dengan Bu Arumi? Dia 'kan istri keduanya ayah,” Citra menambahkan.

Buan kembali tersenyum. “Hanya istri di bawah tangan. Bukan istri sah secara hukum!“

Semua tercekat mendengar jawaban Buan.

Mereka tak sepenuhnya bisa menerima kehadiran sosok Ronald yang terasa asing.

“Dia masih muda, hanya beberapa tahun di atasku kayaknya. Apa hebatnya dia?!“ Bianca masih tidak terima. Ia menatap tajam ke arah Ronald.

“Usia bukan ukuran, Bianca. Dan aku menunjuknya juga bukan asal tunjuk. Aku paham betul sejauh mana kejujuran dan jiwa loyalitasnya,” ujar Buan sambil melirik Ronald yang masih duduk diam.

“Jujur saja nggak cukup, Pak. Kekayaan Paman Hermawan sangat besar. Butuh otak yang cerdas dan gigih,” bantah Septa, salah satu keponakan Hermawan.

Buan tak menanggapi. Ia tak peduli sebesar apapun penolakan mereka—keputusannya sudah bulat.

Buan sangat tahu bahwa Ronald yang merupakan perwira sarjana bukanlah pemuda yang bodoh.

Lebih dari itu, kegigihan, keuletan, dan ketangguhan Ronald sudah teruji karena dia adalah mantan tentara yang terbiasa terdidik keras—tahan banting.

“Keputusan ini sudah final. Ronald dilindungi secara hukum sebagai pengelola resmi atas semua kekayaan Pak Hermawan hingga nantinya ditemukan sosok pewaris yang layak!“ pungkas Buan tanpa kompromi.

Ia kemudian melangkah pergi setelah menepuk bahu Ronald sebagai bentuk dukungan.

Ronald segera berdiri dari kursinya setelah Buan menghilang dari pandangan.

“Rapat keluarga aku akhiri. Silakan kalian kembali ke kamar masing-masing!“ ucap Ronald tanpa basa-basi.

Ronald kemudian berjalan masuk ke ruang kerjanya di dalam mansion tersebut.

Di dalam ruang kerja, Ronald berpikir cepat. Ia harus menjalankan amanah Hermawan dengan sebaik-baiknya.

Ronald tak pernah berpikir akan menerima penunjukan seperti itu.

Dalam benaknya masih hangat tersimpan saat-saat terakhir ia mendapatkan surat pensiun dini dari militer karena cedera tulang panggul di usianya yang masih 25 tahun.

Saat Pengacara Buan, sahabat mendiang ayah Ronald, menawarkan hal tersebut, ia sempat menolak.

Namun karena faktor kebutuhan finansial yang cukup krusial sejak ia menganggur, akhirnya ia menerima penunjukan tersebut.

Tok!

Tok!

Terdengar ketukan ringan dari balik pintu ruang kerja Ronald.

“Masuk!“ ujar Ronald pendek.

Seorang wanita cantik berusia awal tiga puluhan masuk. Dia adalah Arumi, istri muda Hermawan.

“Apa aku ganggu, Ronald?“ sapa Arumi lembut.

Ia sengaja tersenyum manis dan sedikit membusungkan dadanya.

Ronald sedikit tercekat menatap bagian yang membusung itu. Matanya nanar seperti seekor serigala yang haus darah.

“Ohh, nggak kok, Bu Arumi. Silakan,” jawab Ronald datar menutupi debaran jantungnya.

“Aku cuma mau bilang… sebagai penghuni baru mansion ini, pasti kamu perlu mengenal seluk beluknya secara keseluruhan. Silakan cari aku kalau butuh bantuan,” Arumi menawarkan, kali ini dengan menghempaskan buah pantat sekalnya ke kursi di depan Ronald.

Ronald kembali tercekat. Arumi menyilangkan kakinya dengan santai, membuat paha putihnya sedikit terbuka dibalik rok spannya.

Tanpa diminta, pedang pembunuh naga miliknya yang tersimpan rapi di balik celana segera bangkit menggeliat.

“Tentu, Bu. Aku bakal mencarimu kalau pas butuh bantuan,” balas Ronald sambil sesekali mencuri pandang ke arah paha Arumi yang terbuka.

Arumi mengangguk anggun, kemudian beranjak berdiri, mendekat ke posisi Ronald.

“Tak perlu terlalu formal begitu, Ronald. Kita hampir sepantaran. Kamu hanya sedikit lebih muda dariku,” bisik Arumi di dekat telinga Ronald.

Hembusan napas hangat seketika menerpa telinga dan tengkuknya.

Ronald menegang. Ia seperti ingin merengkuh Arumi saat itu juga jika tak teringat bahwa itu adalah hari pertamanya bekerja di mansion tersebut.

Arumi semakin berani. Jemarinya yang lentik kini bermain-main di dada Ronald yang masih tertutup kemeja dan jas.

“Atau mungkin kamu butuh hal lain? Aku pasti bersedia bantu,” ucap Arumi dengan nada suara sedikit mendesah.

Pikiran Ronald melayang. Ia jelas paham tentang maksud dari perkataan Arumi.

'Astaga! Dia bener-bener wangi dan montok!' teriak batin Ronald meronta.

“Pokoknya, kalau kamu 'butuh', cari aja aku, Ronald,” lanjut Arumi memberikan tawaran menggiurkan.

Pikiran Ronald seketika buntu. Ia hampir saja menangkup wajah Arumi, namun, tak lama kemudian Arumi melenggang pergi dengan lenggok pinggul yang sangat indah.

Arumi sengaja memancing Ronald dengan pesona kematangannya.

Belum hilang keterkejutan Ronald pada tingkah berani Arumi, wanita lain muncul di ambang pintu yang tidak ditutup oleh Arumi.

“Apa yang rubah betina tadi katakan padamu?“ tanya Bianca tajam. Matanya melotot ke arah Ronald.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
7 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status