MasukGelar Aditama tidak langsung pergi, melainkan malah melepas setelan jasnya, menyisakan kaus singlet dan celana pendek. Ia kemudian melangkah ke dapur, memeriksa kulkas, lalu ke berbagai ruangan lainnya sambil berkata pada Bita yang selalu mengekor di belakangnya.
"Aku harus pastikan semua keran air, lampu, dan peralatan lainnya berfungsi dengan baik dulu sebelum pergi. Aku khawatir nanti kamu kebingungan jika ada yang rusak," ujar Gelar.Bita hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya ia menghangat mendapatkan perhatian begitu besar dari Gelar. Bahkan hanya untuk urusan lampu mati saja Gelar begitu mengontrolnya. Perhatian sekecil ini terasa sangat berharga bagi Bita.Dalam diamnya, Bita mengamati Gelar beraktivitas. 'Kalau lihat seperti ini, hanya pakai pakaian rumah, dia beda banget. Seperti suami siaga. Sayangnya dia suami orang. Kapan ya aku bisa punya suami seperti dia?' batinnya.Dalam pakaian Gelar seperti itu, Bita bisa melihat lebih jelas bagaSuasana di dalam gudang tua itu mendadak berubah menjadi jauh lebih pekat dan beraroma maut. Satria berdiri dengan wajah yang diselimuti kegilaan. Dendam yang dipupuknya selama lima tahun telah mengubah logika manusianya menjadi insting binatang yang haus akan penghinaan. Ia menatap Bita dengan pandangan lapar yang menjijikkan, lalu beralih pada Gelar yang masih menatapnya dengan api amarah yang menyala-nyala."Kau tahu, Gelar? Membunuhmu terlalu sederhana. Itu tidak akan memuaskan rasa sakitku selama ini," ucap Satria sambil perlahan membuka ikat pinggangnya. Suara logam gesper yang berdenting di lantai semen yang sunyi terdengar seperti lonceng kematian. "Aku ingin kau menyaksikan bagaimana aku mengambil milikmu yang paling berharga. Aku ingin kau menonton setiap detiknya, melihat bagaimana istrimu ini memohon ampun di bawah kendaliku."Satria menoleh ke arah sepuluh anak buahnya yang berjaga di dekat pintu. "Lepaskan ikatan mereka. Biarkan si jalang ini bebas agar dia bisa bergerak
Pagi hari menyapa gudang lembap di pinggiran Yogyakarta itu dengan cahaya suram yang menerobos dari celah-celah atap seng yang berkarat. Suasana mencekam masih menyelimuti Gelar dan Bita yang terikat tak berdaya. Suara derit pintu besi yang dibuka paksa memecah keheningan, memicu detak jantung Bita yang kian kencang. Pemimpin penculik itu melangkah masuk dengan angkuh, tangannya bergerak ke belakang kepala, lalu dengan satu gerakan kasar, ia menyentak masker hitam yang menutupi wajahnya.Gelar, yang sejak tadi berusaha menajamkan indranya meski kepalanya masih terasa berat akibat sisa pembiusan, seketika membelalakkan mata. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menonjol seketika saat mengenali wajah pria di hadapannya."Satria?" desis Gelar dengan nada suara yang bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya. "Jadi kau bajingan di balik semua ini?"Satria, pria yang lima tahun lalu tertangkap basah oleh Gelar sedang bermesraan dengan Rima di apartemen rahasianya, kini berdiri
Waktu seolah terbang begitu cepat di tengah balutan kebahagiaan yang mereka bangun di Yogyakarta. Tanpa terasa, tujuh hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota ini. Agenda bulan madu yang awalnya terasa begitu panjang, kini sudah mendekati garis akhir. Di dalam kamar Diamond Suite, Bita sedang melipat beberapa pakaian dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, sementara Gelar sedang sibuk memeriksa jadwal kepulangan mereka melalui ponselnya."Mas, tidak terasa ya? Lusa kita sudah harus kembali ke Jakarta. Aku mulai rindu berat pada Thomas dan Thomson," ujar Bita sambil memasukkan oleh-oleh mainan kayu ke dalam koper.Gelar berjalan mendekat, memeluk bahu istrinya dari samping. "Aku juga, Sayang. Jakarta sudah menunggu kita, begitu juga dengan anak-anak. Tapi aku janji, kehidupan kita di sana tidak akan lagi penuh tekanan seperti dulu. Aku akan memastikan kalian aman dan bahagia."Namun, takdir yang manis itu mendadak berubah menjadi pahit dalam sekejap mata. Sore hari, menj
Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan mereka di kota gudeg ini. Dari rencana awal satu minggu agenda bulan madu yang telah disusun rapi oleh tim asisten Gelar, sebagian besar waktu justru mereka habiskan di dalam kedapnya dinding Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Ruangan mewah itu telah menjadi saksi bisu bagaimana dua jiwa yang lama dahaga akan kasih sayang saling menuntaskan rindu dengan cara yang paling primitif sekaligus paling suci.Pagi itu, Bita berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk kendaraan yang mulai memenuhi jalanan di bawah sana. Ia merasa fisiknya sedikit letih, namun hatinya jauh lebih tenang. Trauma yang di awal berangkat sempat menyergap kini perlahan terkikis oleh perhatian dan kasih sayang tanpa henti yang diberikan Gelar.Gelar menghampirinya, mengenakan jubah mandi putih yang senada dengan milik Bita. Ia memeluk istrinya dari belakang, menciumi pundaknya yang masih menyisakan beberapa tanda kemerahan akibat percintaan mereka semalam. "Bita, ini sudah
Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam dinding-dinding mewah Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Setelah tiga jam tenggelam dalam lautan gairah yang meluap-luap sejak fajar menyingsing, Bita akhirnya terjaga saat matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tubuhnya terasa lemas namun ringan, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Di sampingnya, Gelar sudah terjaga lebih dulu, bersandar pada tumpukan bantal sambil menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan kemenangan dan cinta yang tak terukur."Selamat siang, Nyonya Aditama. Apakah tidurmu nyenyak setelah petualangan panjang kita pagi tadi?" tanya Gelar dengan suara bariton yang serak namun terdengar sangat lembut.Suara itu mengingatkan Bita saat pertama kali mereka bertemu dan berkenalan 5 tahun yang lalu. Kalau itu Bita langsung terkesan mendengar suara bariton Gelar Aditama yang menurutnya sangat dewasa dan bernuansa mengayomi.Bita hanya bisa tersenyum malu-malu, menarik ujung selimut untuk menutupi dada
Gelar merasakan darahnya berdesir hebat saat jemari Bita bertautan di tengkuknya. Binar kekaguman di mata Gelar perlahan berubah menjadi api gairah yang dalam dan gelap, namun tetap sarat dengan pemujaan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Bita, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Aroma parfum vanilla yang 'gurih' bercampur dengan wangi alami kulit Bita seolah menjadi candu yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Gelar."Bita... kamu benar-benar ingin menyiksaku, hm?" bisik Gelar dengan suara serak, napasnya terasa panas di permukaan kulit pipi Bita.Bita tidak menjawab, namun ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gelar, menghirup aroma maskulin yang selama lima tahun ini hanya mampu ia bayangkan dalam mimpi. "Aku hanya ingin menjadi milikmu seutuhnya, Mas. Tanpa ada bayang-bayang siapa pun lagi. Aku ingin kamu menghapus semua ketakutanku," jawab Bita dengan suara yang bergetar namun penuh determinasi.Gelar tidak menunggu lebih lam







