Beranda / Romansa / Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku / Pria arogan yang kini mirip gembel

Share

Pria arogan yang kini mirip gembel

Penulis: Risya Petrova
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 21:07:38

Di sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta, suasana hening menyelimuti kamar yang temaram.

Claudia berbaring telentang, menatap langit-langit plafon dengan mata sembab. Di samping tempat tidurnya, sebotol red wine yang sudah kosong dan beberapa helai tisu berserakan. Hatinya baru saja hancur berkeping-keping setelah beberapa pekan diabaikan oleh pria yang sangat ia puja, Ervan.

Bahkan saking perihnya, membuat mentalnya terluka dan ia memutuskan untuk mengambil cuti panjang.

Kini Claudia mulai merasa dirinya hanyalah bayangan. Ia adalah tempat pelarian Ervan saat pria itu bosan dengan citra "suami sempurna" di samping Rina. Namun, belakangan ini, Ervan bahkan tidak mengangkat teleponnya. Claudia merasa dibuang seperti sampah setelah memberikan segalanya.

Tiba-tiba, getaran kuat dari ponsel di atas nakas memecah kesunyian. Claudia mengerang pelan, mengira itu hanya alarm atau pesan sampah. Namun, saat matanya melirik layar, jantungnya seolah melompat keluar dari dada.

Ervan Calling ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Di dalam kamar sederhana

    Ervan melepaskan cengkeramannya dari rahang Claudia dengan sentakan kasar, seolah-olah kulit wanita itu baru saja membakar telapak tangannya. Ia berbalik memunggungi Claudia, napasnya memburu berat dan tidak beraturan, menciptakan siluet yang tegang dan mengerikan di bawah temaram lampu penginapan yang berkedip-kedip. Bahunya yang lebar tampak naik turun, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja.Keheningan yang mengikuti begitu dalam. Jenis keheningan yang membuat telinga berdenging. Claudia tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengusap rahangnya yang kini memerah dan terasa sedikit berdenyut, namun matanya tidak lepas dari punggung Ervan. Pertanyaannya tadi, tentang apa yang sebenarnya disembunyikan Ervan hingga ia begitu alergi pada polisi, menggantung di udara seperti bom waktu yang detiknya terus berjalan. Claudia tahu dia telah menyentuh saraf yang sangat sensitif."Aku tidak punya rahasia apa pun," sahut Ervan akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Terjepit

    Keheningan di dalam kamar itu terasa begitu berat, seolah udara mendadak membeku meski hujan di luar sana masih mengguyur deras. Suara rintik yang menghantam atap seng menciptakan irama monoton yang justru menambah ketegangan. Fahmi masih berdiri kaku, matanya tidak lepas dari sosok Pak Jaja yang masih menatap ke jendela, membelakangi mereka.Fahmi meremas jemari Rina yang dingin. Di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario terburuk. Jika Pak Jaja menolak, ia akan meminta Bram membawa Rina lari lewat jendela sementara ia akan keluar menemui warga dan menyerahkan diri untuk mengulur waktu. Apapun, asal Rina selamat."Dua ratus juta ya ...." Pak Jaja berbalik perlahan. Ia menatap Fahmi dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu beralih menatap Rina yang wajahnya masih sembab.Fahmi mengangguk cepat. "Saya akan pastikan uang itu masuk ke rekening Bapak besok pagi. Tolong, Pak. Hanya Bapak harapan kami sekarang."Pak Jaja terdiam cukup lama, seolah ada peperangan besar di dalam kepal

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Tawaran di ujung tanduk

    Langkah kaki di teras rumah itu mendadak berhenti. Suara gesekan jas hujan plastik milik anak buah Pak Jaja terdengar sangat nyata di telinga Bram yang berdiri hanya beberapa inci dari balik pintu."Pak Jaja! Bagaimana? Ada yang mencurigakan di dalam?" teriak suara dari luar, menembus dinding papan yang tipis.Pak Jaja masih membungkuk, matanya terkunci pada tatapan memohon Rina dan sikap siaga Fahmi di bawah kolong ranjang. Tangannya yang memegang sprei tampak bergetar sedikit. Sedetik kemudian, ia berdiri tegak, menyembunyikan wajah Fahmi dan Rina kembali di balik kain kusam itu."Kosong! Tidak ada siapa-siapa di sini!" sahut Pak Jaja dengan suara lantang, berusaha menutupi getaran di tenggorokannya. "Kalian pergilah dulu ke arah gudang bawah. Periksa area sana. Aku mau mencari korek apiku yang jatuh di sekitar sini tadi. Nanti aku menyusul!""Tapi Pak, anjingnya tadi seperti mengendus sesuatu di pintu belakang," sela anak buahnya ragu."Sudah, jangan banyak tanya! Mungkin cuma bau

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Nafas yang tertahan

    Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu senter yang tajam, membelah kegelapan kamar yang pengap. Di bawah dipan kayu yang sempit, Rina merasa dunianya seolah mengecil hingga hanya seukuran ruang antara lantai semen yang dingin dan papan ranjang di atasnya. Ia bisa mencium aroma tanah dari sepatu boot Pak Jaja yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.Fahmi mempererat dekapannya. Lengan pria itu terasa kokoh, seolah menjadi satu-satunya benteng yang memisahkan Rina dari amukan massa atau cengkeraman Ervan. Tepat saat jemari kasar Pak Jaja menyentuh pinggiran sprei rumbai yang kusam, sebuah teriakan memecah ketegangan dari arah luar rumah."Pak Jaja! Bagaimana? Ketemu tidak? Anjingnya makin berisik di belakang, seperti mencium bau orang!" seru anak buah mandor itu dari halaman depan.Gerakan tangan Pak Jaja terhenti. Ia mematung selama beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi mereka yang bersembunyi."Iya, sebentar lagi saya keluar! Ini sedang saya periksa teliti sa

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Terkepung di balik hujan

    Suara gonggongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan terdengar seperti sangkakala kematian yang berdentang di tengah sunyinya perkebunan karet Sukabumi. Cahaya senter yang meliuk-liuk di kejauhan, menembus kabut dan rintik hujan, bergerak semakin cepat menanjak menuju rumah semi-permanen tempat mereka bersembunyi."Kita tidak punya pilihan lain, kita harus lari sekarang juga!" desis Fahmi. Suaranya rendah, namun penuh dengan desakan adrenalin yang memuncak. “Maaf Rin, bukannya aku pengecut. Tapi kita kalah jumlah dengan warga.”Fahmi segera menyambar tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai kayu. Ia menoleh ke arah Rina yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ketakutan yang nyata terpancar dari sepasang mata indahnya. Secara logika, mereka tidak akan pernah bisa menang melawan massa yang tergiur oleh uang seratus juta rupiah. Bagi penduduk di sekitar perkebunan ini, angka seratus juta adalah keajaiban yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. Dan bagi Ervan, itu hanyalah rece

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sayembara mencari Rina

    SUV hitam itu melaju menembus jalanan aspal yang semakin menyempit dan berlubang. Setelah keluar dari jalur utama yang berisiko, Bram memutuskan untuk memutar jauh, menghindari Cianjur yang merupakan basis keluarga Aqila. Ia membawa mereka ke arah selatan, menuju sebuah wilayah perkebunan karet terpencil di daerah Sukabumi.Suasana malam di sini sangat pekat. Pepohonan karet yang berjejer rapi di sisi jalan tampak seperti barisan raksasa yang mengawasi pelarian mereka. Gerimis mulai turun, menciptakan aroma tanah basah yang kuat menyusup ke dalam kabin mobil."Kita akan aman di sini untuk sementara," ucap Bram sambil memutar setir memasuki sebuah jalan setapak tanah. "Ini rumah singgah milik kenalanku, seorang mandor perkebunan yang sedang bertugas di luar kota. Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan Ervan sekalipun."Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan semi-permanen yang didominasi kayu. Di sekelilingnya hanya ada keheningan, sesekali pecah oleh suara burung malam dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status