LOGINCantik itu luka. Bagi perempuan seperti Elea, kecantikan bukanlah tiket menuju kebahagiaan. Sebaliknya kecantikan adalah belenggu yang membuatnya terjerat dalam obsesi dan hasrat seorang pria yang memiliki segalanya. Seorang pria yang menganggapnya properti, bukan manusia. Rendra Adiguna Kartanegara. Nama yang menjadikannya boneka hidup dalam genggaman.
View MoreRendra pikir, ia sudah begitu mengenal Elea. Bertahun-tahun mengenalnya sebagai perempuan penuh prinsip, keras kepala, pemberani, tapi lugu di saat bersamaan. Namun ternyata pernikahan membuat ia melihat sisi baru Elea. Sisi yang membuatnya kewalahan, namun kegemasan di saat bersamaan. Semenjak menikah, sifat-sifat yang dulu tidak begitu tampak mulai muncul ke permukaan. Elea lebih manja dari yang ia kira, sering kali menuntut perhatian dengan cara yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada hari di mana istrinya bersikap kelewat manja, menggelayut di lengannya tidak ingin ditinggalkan kerja, merengek minta perhatiannya, atau sekadar memintanya menemani menonton film sampai larut meskipun keesokan harinya ia harus bekerja pagi. Tapi di sisi lain, Elea juga jauh lebih rewel. Tidak terima kalau janji kecil terlupakan, bisa bad mood seharian hanya karena ia tanpa sengaja tidak mengangkat teleponnya karena sedang di tengah meeting, atau kesal sendiri saat hal-hal kecil t
Elea terusik dari tidurnya ketika sensasi geli menjalar di tubuhnya. Sentuhan hangat yang begitu familiar tengah meremas-remas lembut payudaranya, lalu puncaknya dipilin dengan gerakan yang sudah terlalu ia kenal. Ia tetap memejamkan mata sejenak, membiarkan kantuknya perlahan menghilang oleh keintiman yang diciptakan sosok di belakangnya. Ini bukan pertama kalinya ia terbangun seperti ini. Bukan pertama kalinya Rendra menggrepe-grepe tubuhnya saat ia sedang tidur. Elea menunduk, hanya untuk mendapati gaun tidurnya sudah melorot sehingga tangan Rendra yang tengah memainkan payudaranya terlihat jelas tanpa terhalang apa pun. Setelahnya ia menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok sang pria yang tengah menumpukan dagunya di pundaknya, membuat napas hangatnya menyapu kulitnya. Mata pria itu tertutup, tapi tangannya tak berhenti mengeksplorasi, seakan menyatakan kepemilikannya meski dalam keadaan setengah sadar. Elea menghela napas pelan, tubuhnya sedikit menggeliat dalam dekap
“Mas, tunggu dulu.” Elea menahan tangan Rendra yang tengah membuka kancing kemejanya dengan tergesa-gesa. Rendra dengan matanya yang jelas-jelas sudah dipenuhi oleh kabut nafsu menatap Elea linglung dan terlihat frustrasi di saat bersamaan. Seolah ia tidak ingin lagi mendengar kata “tunggu” di situasi saat ini. Ia tidak bisa lagi menunggu, sedetik pun itu. “Tunggu dulu, Mas,” ulang Elea, sebelum pria di atasnya benar-benar mengeluarkan protes. “Kenapa, Lea?” di tengah pikirannya yang sudah dikuasai oleh hasrat dan jemari yang masih bertahan di atas kancing kemeja yang setengah terbuka, Rendra masih mencoba menahan dirinya untuk tidak merobek pakaian perempuan itu sekarang juga — menahan diri dengan pertahanan diri yang sudah sekarat. Elea menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal akibat cumbuan panas barusan. “Aku mau mandi dulu,” ucapnya pelan. Rendra nyaris mengeluarkan umpatan. “Nanti sekalian mandinya. Biarin Mas tuntasin ini dulu.” Ia kembali menunduk,
Elea tak lagi bisa menyangkal. Kehadiran Rendra di hidupnya telah membawa perubahan besar. Salah satu yang paling nyata adalah bagaimana ia kini bisa tidur dengan lebih nyenyak, tanpa dihantui mimpi buruk yang selama tiga tahun terakhir selalu mengusiknya. Bahkan, kini ia bisa tidur sendiri tanpa dihantui mimpi buruk yang sama lagi. Semuanya bermula ketika malam itu Elea akhirnya menceritakan segala ketakutan yang selama ini ia pendam sendiri kepada. Tentang mimpi buruk yang selama bertahun-tahun membuatnya terbangun dalam ketakutan. Tentang bayang-bayang luka yang tak pernah benar-benar hilang. Saat mendengarnya, Rendra tak mengatakan apa pun untuk waktu yang cukup lama. Namun matanya yang berkaca-kaca sudah menunjukkan bahwa pria itu menyimpan penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Untuk kesekian kalinya lagi, Rendra meminta maaf sambil menangis. Menangis untuk semua luka yang Elea tanggung sendiri karena dirinya. Jujur saja, melupakan luka-luka yang ditorehkan pria
Cinta Beracun| Bonus ChapterDua tahun berlalu. Dua tahun berlalu sejak Rendra menemukan Elea kembali. Perempuan itu ternyata masih berada di dalam negeri. Tinggal di sebuah pedesaan dengan lingkungan yang membuat Rendra cukup tentram melihat Elea tumbuh di lingkungan barunya. Pedesaan yang ditin
Rendra terdiam di depan pintu ruang rawat inap vvip Elea. Ucapan dokter yang memeriksa Elea kembali teringang. “Dia mengalami demam dan asam lambungnya naik cukup parah. Kemungkinan besar karena kelelahan, stres, dan pola makan yang tidak teratur. Dia juga sepertinya kurang tidur dan terlalu bany
Setibanya di mansion, alih-alih langsung menuju bangunan utama, Rendra meminta diturunkan di gerbang. Haris sempat menatapnya ragu, tapi tidak berani membantah. Dengan suara rendah dan nyaris tak bernyawa, Rendra meminta Haris untuk pergi lebih dulu menemui ibu dan neneknya. Sementara dia sendiri
Baik Nina maupun Haris, mereka berdua tidak pernah melihat tuannya tampak mengkhawatirkan seperti ini. Tubuhnya yang kekar bugar berubah kurus dan semakin kurus seiring waktunya. Pipinya cekung, menonjolkan garis rahangnya yang terlihat semakin tajam dan keras. Kondisi tubuh dan wajahnya sangat me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.