LOGIN"Kamu istirahat ya, Rin. Aku akan berjaga di sampingmu," bisik Fahmi dengan nada suara yang begitu lembut, hampir menyerupai desau angin malam. Ia membungkuk, mencoba merapikan bantal yang sudah agak mengeras agar Rina bisa mendapatkan sedikit kenyamanan yang layak.Namun, Rina tidak segera berbaring. Tangannya yang lembut itu justru terjulur, meraih pergelangan tangan Fahmi dengan genggaman yang kuat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, pria itu akan menguap menjadi kabut. Rina menariknya perlahan, memberi isyarat agar Fahmi duduk di tepi ranjang bersamanya. Matanya yang jernih, yang kini memantulkan binar lampu pijar, menatap Fahmi dengan intensitas yang membuat jantung pria itu bergedup lebih kencang, lebih liar dari pada saat mereka berlari menghindari kejaran anak buah Ervan."Jangan berjaga di luar, Fahmi. Aku butuh kamu di sini ... tepat di dekatku," ucap Rina lirih. Suaranya mengandung kerentanan yang dalam, sebuah permohonan dari jiwa yang telah lama terkoyak ol
Ervan melepaskan cengkeramannya dari rahang Claudia dengan sentakan kasar, seolah-olah kulit wanita itu baru saja membakar telapak tangannya. Ia berbalik memunggungi Claudia, napasnya memburu berat dan tidak beraturan, menciptakan siluet yang tegang dan mengerikan di bawah temaram lampu penginapan yang berkedip-kedip. Bahunya yang lebar tampak naik turun, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja.Keheningan yang mengikuti begitu dalam. Jenis keheningan yang membuat telinga berdenging. Claudia tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengusap rahangnya yang kini memerah dan terasa sedikit berdenyut, namun matanya tidak lepas dari punggung Ervan. Pertanyaannya tadi, tentang apa yang sebenarnya disembunyikan Ervan hingga ia begitu alergi pada polisi, menggantung di udara seperti bom waktu yang detiknya terus berjalan. Claudia tahu dia telah menyentuh saraf yang sangat sensitif."Aku tidak punya rahasia apa pun," sahut Ervan akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang
Keheningan di dalam kamar itu terasa begitu berat, seolah udara mendadak membeku meski hujan di luar sana masih mengguyur deras. Suara rintik yang menghantam atap seng menciptakan irama monoton yang justru menambah ketegangan. Fahmi masih berdiri kaku, matanya tidak lepas dari sosok Pak Jaja yang masih menatap ke jendela, membelakangi mereka.Fahmi meremas jemari Rina yang dingin. Di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario terburuk. Jika Pak Jaja menolak, ia akan meminta Bram membawa Rina lari lewat jendela sementara ia akan keluar menemui warga dan menyerahkan diri untuk mengulur waktu. Apapun, asal Rina selamat."Dua ratus juta ya ...." Pak Jaja berbalik perlahan. Ia menatap Fahmi dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu beralih menatap Rina yang wajahnya masih sembab.Fahmi mengangguk cepat. "Saya akan pastikan uang itu masuk ke rekening Bapak besok pagi. Tolong, Pak. Hanya Bapak harapan kami sekarang."Pak Jaja terdiam cukup lama, seolah ada peperangan besar di dalam kepal
Langkah kaki di teras rumah itu mendadak berhenti. Suara gesekan jas hujan plastik milik anak buah Pak Jaja terdengar sangat nyata di telinga Bram yang berdiri hanya beberapa inci dari balik pintu."Pak Jaja! Bagaimana? Ada yang mencurigakan di dalam?" teriak suara dari luar, menembus dinding papan yang tipis.Pak Jaja masih membungkuk, matanya terkunci pada tatapan memohon Rina dan sikap siaga Fahmi di bawah kolong ranjang. Tangannya yang memegang sprei tampak bergetar sedikit. Sedetik kemudian, ia berdiri tegak, menyembunyikan wajah Fahmi dan Rina kembali di balik kain kusam itu."Kosong! Tidak ada siapa-siapa di sini!" sahut Pak Jaja dengan suara lantang, berusaha menutupi getaran di tenggorokannya. "Kalian pergilah dulu ke arah gudang bawah. Periksa area sana. Aku mau mencari korek apiku yang jatuh di sekitar sini tadi. Nanti aku menyusul!""Tapi Pak, anjingnya tadi seperti mengendus sesuatu di pintu belakang," sela anak buahnya ragu."Sudah, jangan banyak tanya! Mungkin cuma bau
Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu senter yang tajam, membelah kegelapan kamar yang pengap. Di bawah dipan kayu yang sempit, Rina merasa dunianya seolah mengecil hingga hanya seukuran ruang antara lantai semen yang dingin dan papan ranjang di atasnya. Ia bisa mencium aroma tanah dari sepatu boot Pak Jaja yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.Fahmi mempererat dekapannya. Lengan pria itu terasa kokoh, seolah menjadi satu-satunya benteng yang memisahkan Rina dari amukan massa atau cengkeraman Ervan. Tepat saat jemari kasar Pak Jaja menyentuh pinggiran sprei rumbai yang kusam, sebuah teriakan memecah ketegangan dari arah luar rumah."Pak Jaja! Bagaimana? Ketemu tidak? Anjingnya makin berisik di belakang, seperti mencium bau orang!" seru anak buah mandor itu dari halaman depan.Gerakan tangan Pak Jaja terhenti. Ia mematung selama beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi mereka yang bersembunyi."Iya, sebentar lagi saya keluar! Ini sedang saya periksa teliti sa
Suara gonggongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan terdengar seperti sangkakala kematian yang berdentang di tengah sunyinya perkebunan karet Sukabumi. Cahaya senter yang meliuk-liuk di kejauhan, menembus kabut dan rintik hujan, bergerak semakin cepat menanjak menuju rumah semi-permanen tempat mereka bersembunyi."Kita tidak punya pilihan lain, kita harus lari sekarang juga!" desis Fahmi. Suaranya rendah, namun penuh dengan desakan adrenalin yang memuncak. “Maaf Rin, bukannya aku pengecut. Tapi kita kalah jumlah dengan warga.”Fahmi segera menyambar tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai kayu. Ia menoleh ke arah Rina yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ketakutan yang nyata terpancar dari sepasang mata indahnya. Secara logika, mereka tidak akan pernah bisa menang melawan massa yang tergiur oleh uang seratus juta rupiah. Bagi penduduk di sekitar perkebunan ini, angka seratus juta adalah keajaiban yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. Dan bagi Ervan, itu hanyalah rece







