Share

Bab 4

Author: Ling Rezeki
Aveline duduk di meja kerjanya, jantungnya masih berdebar kencang saat mengingat kembali kejadian di lobi.

Kenapa harus kebetulan bertemu?

Marcell jadi tahu dia bekerja di sini. Apakah dia akan celaka?

Ya sudahlah, lihat saja nanti.

Kalau terpaksa, dia akan mengundurkan diri dan pergi jauh-jauh dari sini.

Di kala Aveline dihantui rasa cemas dan gelisah, grup perusahaan sedang ramai membicarakan gosip.

Seorang rekan kerja tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Aveline, cepat lihat grup perusahaan."

"Waktu Pak Marcell datang tadi, ada wanita yang melemparkan diri ke pelukannya. Entah siapa yang ambil fotonya, di grup perusahaan sudah diunggah."

Apa?!

Fotonya diunggah di grup perusahaan?!

Kelopak mata Aveline berkedut. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksa grup perusahaan.

Obrolannya sudah bertumpuk banyak. Dia harus menggulir cukup lama sebelum akhirnya melihat foto yang dimaksud.

Namun, foto itu hanya memperlihatkan punggungnya saat dia terjatuh ke pelukan Marcell. Wajahnya tidak terlihat.

Aveline sedikit lega, barulah dia bisa berani memeriksa foto itu lebih dekat.

Untuk pertama kalinya dia menyadari, tubuhnya tampak begitu mungil di hadapan pria itu.

Pria itu tinggi dan kekar. Dalam balutan setelan jas pun, lekuk ototnya tercetak samar dan memancarkan daya tarik sensual.

Sedangkan dirinya yang berada dalam pelukannya tampak mungil bagaikan boneka yang didekapnya.

Namun, Aveline memang tidak terlalu tinggi, hanya 164 cm.

Dengar-dengar, tinggi badan Marcell hampir 190 cm.

Jadi, wajar saja jika Aveline terlihat mungil saat berada bersamanya.

Foto itu tampak diambil secara candid, tetapi wajah tampan Marcell yang sempurna dari segala sudut itu tetap memukau.

Banyak komentar di bawah yang memuji ketampanannya.

[Wow, CEO kita memang kelewat tampan. Lagi-lagi aku terpukau!]

[Wajahnya luar biasa, badannya luar biasa, pintarnya luar biasa, kekayaannya juga luar biasa. Bisa-bisanya ada pria sesempurna dia di dunia? Andai aku jadi wanita yang melemparkan diri ke pelukannya itu.]

[Badan Pak Marcell pasti harum wangi. Nggak usah ditanya lagi, wanita yang melemparkan diri ke pelukannya itu pasti mabuk kepayang karena wanginya!]

[Iri banget, cemburu banget, benci banget!]

Aveline kehabisan kata-kata.

Sungguh berlebihan.

[Tapi, wanita itu siapa? Ada yang lihat wajahnya?]

[Sekretaris, dalam tiga detik, aku ingin tahu semua informasi wanita nekat ini!]

Melihat grup perusahaan yang dibanjiri pesan, Aveline tidak berani membaca lagi dan lekas meletakkan ponselnya.

Tiba-tiba, seorang rekan kerja wanita melewati Aveline.

"Aveline, yang di foto itu kamu?"

Aveline terkejut sejenak dan spontan membantah, "Bukan aku."

Rekan kerja itu bernama Brenda Amara, memandanginya dari atas ke bawah. "Tapi bajumu persis sama dengan wanita di foto itu."

Hari ini, Aveline mengenakan sweter rajut berwarna merah muda, dipadukan dengan rok panjang bermotif bunga, yang membuatnya tampak lembut dan anggun.

Persis sama dengan yang dikenakan wanita di foto itu.

Ditambah lagi, rambutnya hari ini diikat, yang juga cocok dengan penampilan wanita di foto itu.

Rekan-rekan kerja lainnya pun menoleh ke arahnya dan serempak sepakat.

"Benar juga!"

"Dilihat dari belakang memang mirip dengan Aveline."

Aveline pun tidak bisa lagi menyangkal.

Melihat reaksi Aveline ini, Brenda berkata dengan nada sinis, "Aveline, dasar kamu licik. Menjatuhkan diri ke pelukan Pak Marcell di depan banyak sekali orang di kantor. Kamu mimpi jadi istrinya, ya?"

Yang lain juga melirik Aveline dengan berbagai tatapan aneh.

Aveline mengerutkan kening dan menjelaskan, "Bukan begitu. Aku tadi ditabrak dari belakang, nggak tahu siapa, jadi aku nggak sengaja jatuh ke depan Pak Marcell."

"Aku nggak sengaja."

Brenda mendengus. Dia sudah lama tidak suka dengan sikap Aveline yang selalu sok cuek dan sok suci.

Padahal jelas-jelas dia sangat licik.

"Siapa percaya?!"

"Kamu kan sudah biasa mengandalkan tampang buat menggoda pria-pria di kantor. Ternyata masih belum puas, sampai CEO perusahaan pun digoda juga."

"Tapi jangan mimpi terlalu tinggi. Pak Marcell nggak akan tertarik dengan orang sepertimu."

Aveline mengerutkan kening. "Aku nggak pernah menggoda siapa pun."

Dia bahkan tidak pernah memperhatikan.

Hanya saja, ada orang-orang yang tidak suka melihat orang lain hidup tenang, jadi mereka melakukan segala cara untuk menjelek-jelekkannya.

Dia pernah mengalami situasi serupa sebelumnya. Tak disangka, situasinya jauh lebih buruk ketika di dunia kerja.

Brenda berkata dengan sinis, "Kalau kamu nggak menggoda orang-orang di kantor, mana mungkin mereka seloyal itu kepadamu?"

"Sampai mengirimimu bunga dan surat cinta setiap beberapa hari sekali. Kamu pasti di belakang pergi main juga dengan mereka, 'kan?"

Yang lebih membuat naik darah lagi, pacarnya yang juga bekerja di kantor ini, yang sudah pacaran dengannya selama enam bulan, putus dengannya karena jatuh cinta kepada Aveline.

Semua ini salah Aveline!

Aveline bangkit berdiri, matanya dingin. "Brenda, kamu menuduhku seperti itu, mana buktinya?"

"Kalau nggak ada bukti, tutup saja mulutmu. Aku nggak segan-segan merobeknya."

"Kamu ...."

Brenda marah sekaligus malu, dan hendak mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba, ada suara yang menyela, "Aveline di sini?"

Orang yang datang adalah Direktur Bagian Marketing, Erina Kusuma.

Melihatnya datang, Brenda tidak bisa terus menyerang Aveline lagi dan terpaksa menutup mulut.

Aveline menatap Erina dan menjawab, "Ya, saya di sini."

Erina berkata dengan nada formal, "Barusan ada telepon dari atas, kamu diminta datang ke kantor Pak Marcell."

Kelopak mata Aveline berkedut. "Sekarang?"

Erina mengangguk. "Ya, cepat ke sana."

Aveline menggigit bibirnya, hatinya sedikit gelisah.

Namun, kemudian dia berpikir, jika ditakdirkan akan terjadi, melarikan diri tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Lebih baik bicarakan saja secara terbuka.

Lagi pula, dia tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.

Jika dirunut dalam hati, sekalipun dia bersalah, apakah Marcell sepenuhnya tanpa salah?

Setelah mempertimbangkannya, Aveline memutuskan untuk pergi saja memenuhi panggilan.

Begitu dia pergi, kantor Divisi Marketing menjadi ramai.

Orang-orang saling bertukar pandang dengan ekspresi beragam, berbisik-bisik.

Bagaimanapun juga, kantor Direktur Utama berada di lantai 40. Kecuali untuk rapat penting, hampir tidak ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di tempat sakral itu.

Apalagi bagi mereka yang hanya karyawan biasa. Kesempatan untuk berada dalam jarak dekat dengannya pun hampir tidak ada.

Namun, Aveline tiba-tiba dipanggil, diminta pergi ke kantornya?

Apa maksudnya ini?

"Menurut kalian, Aveline dipanggil ke kantor Pak Marcell buat apa?"

"Siapa yang tahu?"

"Mungkin karena Aveline bikin Pak Marcell marah waktu di lobi?"

"Aku yakin, Pak Marcell pasti mau beri pelajaran kepada Aveline!"

Brenda bicara dengan nada bahagia melihat penderitaan orang lain. "Bagusnya, sekalian dipecat saja. Aku nggak suka satu kantor dengan wanita seperti Aveline yang tampangnya sok polos tapi sebenarnya gampangan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status