Share

Bab 5

Author: Ling Rezeki
Aveline naik lift ke lantai 40.

Lantai 40 merupakan area kantor Direktur Utama, kantor Sekretaris, serta ruang rapat.

Ini pertama kalinya dia naik ke lantai 40, dan dia tidak tahu di mana tepatnya letak ruang kantor Direktur Utama.

Kebetulan dia melihat Dion, asisten Marcell, dan segera menghampirinya.

"Pak Dion, maaf, boleh tanya kantor Pak Marcell?"

Dion melihat Aveline dan mengangguk. "Nona Aveline, silakan ikuti saya."

Aveline mengikuti Dion sampai ke pintu kantor Marcell.

"Pak Marcell ada di dalam. Silakan masuk."

Aveline ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, "Pak Dion ... tahu nggak kenapa Pak Marcell memanggil saya ke sini?"

Dion terdiam sebentar. "Saya kurang tahu, tapi Pak Marcell kelihatannya agak marah. Nona Aveline sebaiknya hati-hati."

Aveline mendesah dalam hati.

Tak perlu diragukan lagi, pasti bukan hal yang baik.

Dion pergi.

Aveline berdiri di depan pintu, maju mundur mau masuk atau tidak.

Akhirnya, dia menarik napas dalam-dalam dan mengangkat tangannya mengetuk pintu.

Suara pria yang dingin tapi memikat terdengar dari dalam.

"Masuk."

Aveline menggigit bibirnya dan perlahan membuka pintu.

Dia mengangkat pandangannya, dan seketika melihat pria yang sedang bekerja di belakang meja.

Dia telah melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja hitam.

Dua kancing teratas kemejanya dilepas dan kerahnya sedikit terbuka, memperlihatkan tulang selangkanya yang indah.

Saat melihat lebih dekat, dia bahkan bisa melihat beberapa bekas yang mencurigakan di tulang selangkanya.

Pipi Aveline sedikit memerah ketika melihatnya.

Mungkinkah itu bekas yang tidak sengaja ditinggalkan olehnya?

Sehari semalam telah berlalu, bekasnya masih ada, yang membuktikan betapa intensnya malam itu.

Aveline merasa malu untuk menghadapnya, tetapi tetap masuk dengan langkah pelan dan menutup pintu di belakangnya.

"Pak Marcell, Anda memanggil saya?"

Setelah mendengarnya menyapa, pria itu perlahan mengangkat pandangannya. Mata gelapnya seketika menatap kedua mata Aveline.

Tatapannya tajam dan agresif, seolah ingin melahapnya hidup-hidup.

Aveline merasa sangat tidak tenang dibuatnya.

Seolah pandangan itu menembus dirinya.

Dia pura-pura tidak panik. "Pak Marcell, ada perlu apa dengan saya?"

Marcell menyilangkan kakinya dan bersandar ke belakang, posturnya tampak malas dan santai.

Dia mengangkat dagu tajamnya. Wajah tampan dan agresifnya itu tampak arogan.

Suaranya yang acuh tak acuh menunjukkan ketenangan seseorang yang sudah lama menduduki posisi tinggi.

"Kalau nggak perlu apa-apa? Nggak boleh memanggilmu ke sini?"

Aveline menggigit bibirnya. "Kalau nggak ada perlu apa-apa, saya pergi dulu. Saya masih harus mengurus pekerjaan."

Mendengar itu, Marcell tertawa pelan, senyum di bibirnya tersungging dangkal.

Di telinga Aveline, suara itu membuatnya merasa kulit kepalanya merinding.

Jari Marcell memegang sebuah pulpen, memutar-mutarnya perlahan. Suara basnya yang memikat terdengar santai dan tidak peduli, yang justru menyiksa Aveline perlahan-lahan.

"Nona Aveline, naik ke ranjangku lalu kabur begitu saja, nyalimu besar juga."

Jari-jari Aveline mengepal erat. Seperti yang dia duga, perhitungannya akan segera dimulai.

Karena tidak mendapat respons, Marcell mengangkat kelopak matanya. Matanya dalam, dan suaranya rendah memikat dengan kesan malas.

"Nggak mau menjelaskan?"

Telinga Aveline terasa sedikit panas. Entah mengapa, dia merasa sangat malu.

"Saya mabuk malam itu. Saya nggak sadar, dan ... nggak tahu kenapa bisa ada di kamar Pak Marcell."

Marcell menimpali, "Dorongan nafsu saat mabuk, aku bisa mengerti."

"Tapi yang nggak aku mengerti, kenapa Nona Aveline kabur?"

"Takut, karena merasa bersalah?"

Aveline terdiam.

Pikir saja sendiri, siapa yang bisa tetap tenang saat pagi-pagi buta mendapati diri telanjang bulat di ranjang bersama kakak sahabatnya?

Dorongan nafsu saat mabuk, katanya?

Dia nafsu kepada Marcell saat mabuk?

Dia tidak terlalu jelas detailnya. Saat mulai sadar, dia sudah ditiduri.

Pada saat itu, dia benar-benar merasa tidak berdaya, tidak ada yang bisa menolongnya.

Dia berbicara dengan sedikit kesulitan, "S-saya ... nggak sengaja."

Marcell sedikit mengangkat alis panjangnya. "Nggak sengaja? Jadi kamu bilang tubuhmu bergerak sendiri?"

"B-bukan begitu ...."

Pria itu tertawa kecil. "Oke, kalau begitu, aku akan berbaik hati membantu Nona Aveline mengingat kembali."

"Dua malam yang lalu, kamu naik ke ranjangku, menindih tubuhku, bahkan mulai menggodaku lebih dulu."

"Aku sudah berusaha menolak, tapi kamu bersikeras memaksakan diri padaku dan bahkan melepas pakaianku ...."

Aveline merasa malu sampai telinganya merah, dan tidak bisa menahan diri untuk berkata, "T-tunggu, berhenti bicara ...."

Marcell menatap wajah tersipu itu dengan mata gelapnya, lalu bertanya dengan tenang, "Jadi, Nona Aveline, bagaimana kamu mau menyelesaikan masalah ini?"

Tanpa ragu, Aveline berkata, "Jangan khawatir, saya nggak akan menuntut tanggung jawab. Kejadian malam itu ... anggap sebagai kecelakaan saja?"

"Terlebih lagi, Cecilia adik Anda, dan saya berteman baiknya dengannya. Saya nggak ingin masalah ini memengaruhi hubungan kami."

Kalau sampai masalah ini memburuk, dia akan merasa sangat canggung saat bertemu Cecilia.

Yang terpenting, dia saat itu tidak bisa berpikir jernih. Dia pikir semua ini terjadi karena dia mabuk dan salah masuk ke kamar Marcell, sehingga refleks pertamanya adalah melarikan diri.

Jika dipikir-pikir lagi, langkah yang dia ambil memang benar. Dia tidak membuat keributan atau memperburuk situasi di rumah Keluarga Hadinata. Jika tidak, konsekuensinya akan sangat sulit.

Jari Marcell terhenti sejenak, keningnya agak berkerut.

Dia saja belum sempat mengatakan apa-apa, Aveline sudah menepisnya dengan pernyataan "kecelakaan"?

Cara berpikirnya terlalu sederhana.

Dia tersenyum dengan makna tersembunyi. "Jadi, maksud Nona Aveline, kesucianku, hanya dengan kata 'kecelakaan' darimu, bisa dilupakan begitu saja?"

"..."

Kesucian?

Lagaknya seolah dia pria perjaka suci!

Teknik ranjangnya yang lihai pada malam itu jelas-jelas tidak mencerminkannya.

Namun, Aveline dapat menangkap maksud bahwa pria itu meminta pertanggungjawaban, tetapi dia tidak tahu seperti apa, sehingga dia merasa gugup dan gelisah.

Bibirnya bergetar, dan wajahnya tersipu saat berbicara, "Saya nggak percaya Anda belum puas malam itu."

Marcell tertawa, suaranya santai. "Ya, belum puas."

Dia berhenti sejenak, matanya menatapnya dalam, seolah menyembunyikan sesuatu gelap yang sulit dibaca.

"Baru enam kali saja."

Aveline tercengang.

Tidak mengherankan kakinya sangat lemas keesokan harinya, ternyata dia ...

Dasar bajingan! Sudah enam kali berturut-turut, masih berani bilang tidak puas? Apa dia masih mau melakukannya lagi?

Memikirkan kemungkinan itu, entah kenapa kakinya gemetar.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu sengaja mengalihkan pembicaraan. "Intinya, malam itu, Anda juga nggak rugi."

"Kalau masalah ini sampai membesar juga nggak baik untuk Anda. Anggap saja nggak pernah terjadi apa-apa."

"Saya janji nggak akan menuntut tanggung jawab dalam bentuk apa pun."

Marcell menatap matanya.

Hari ini, wanita itu mengenakan sweter rajut berwarna merah muda dan rok panjang bermotif bunga.

Sweter rajut itu agak longgar, tetapi tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang menakjubkan.

Mengenang kembali malam itu, saat wanita itu berbaring telanjang di bawahnya, bagaikan mawar yang ranum cantik, memekar sebebas-bebasnya.

Napasnya yang harum dan manis, pesonanya yang merekah penuh sari, kulitnya yang lembut dan kenyal seperti kue yang lezat, benar-benar membuat pria mana pun merasa candu.

Seandainya Aveline tidak melarikan diri secepat itu, dia pasti akan menyeretnya kembali untuk melakukannya beberapa kali lagi.

Lagi pula ... dia sungguhan belum merasa puas.

Benar saja, mabuk memang bisa menimbulkan masalah.

Bukan hanya Aveline yang mabuk, Marcell pun juga sangat mabuk.

Marcell tersenyum tipis. "Nona Aveline, kamu naik ke ranjangku tanpa izin, menggodaku, mengambil kesucianku. Aku bahkan belum menuntut tanggung jawab untuk semua itu, kamu sudah lebih dulu memutar balik keadaan?"

Aveline terbungkam.

Dia benar-benar memahami arti dari "memutar balik keadaan" hari ini.

Namun, dia benar-benar tidak ingat siapa yang memulai lebih dulu pada malam itu.

Anggap saja dia yang memulai, bukankah Marcell juga tidak menolak?

Dia menarik napas dalam-dalam dan membela diri, "Saya sedang mabuk waktu itu, nggak sepenuhnya sadar. Jadi, wajar saja kalau saya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perilaku biasanya."

"Tapi, bukannya Anda nggak mabuk? Kenapa nggak langsung menolak?"

Marcell menjawab, "Di tengah malam, tiba-tiba ada wanita yang menggerayangi dan menciumiku. Aku juga pria normal, wajar saja kalau aku nggak bisa menolak."

"..."

Dia berhenti, lalu sudut matanya sedikit terangkat, ada rasa mengejek dalam tatapannya.

"Kamu malam itu cuma menganggap aku puas, apa kamu nggak puas juga?"

Aveline tersipu malu dan sontak membantah, "Saya nggak ...."

Marcell dengan santai menyebutkan fakta, "Jadi, siapa yang malam itu terus-terusan minta lagi? Aku nggak perlu menyebutnya secara langsung."

Pipi Aveline memerah sepenuhnya. Dia malu sampai ke ubun-ubun mengingat kejadian malam itu.

Lagi pula, kenapa dia baru menyadari bahwa pria di hadapannya ini, yang berpakaian rapi seperti ini, ternyata memiliki tabiat yang busuk dalam hatinya?!

Bisa-bisanya dia sampai berkata seperti itu?!

Ternyata, semua pria memang binatang berwujud manusia, tidak ada baiknya sama sekali.

Dia mengertakkan giginya, mengakui kesalahannya. "Jadi, mau Anda apa?"

Marcell merasa geli melihat wajahnya yang memerah menahan amarah.

Rupanya gampang salah tingkah jika digoda.

Tubuhnya sedikit mendekat ke depan, lalu dia mengeluarkan kode QR nomornya yang sudah dia siapkan di ponsel.

"Tukar kontak, nanti kuberi tahu kalau sudah kupikirkan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status