Share

Bab 6

Author: Ling Rezeki
Aveline melihat kode QR yang disodorkan pria itu sambil menggigit bibirnya, lalu berkata, "Kalau sesuatu yang melanggar hukum, nggak akan saya lakukan."

Mendengar pernyataan itu, wajah tampan Marcell tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tetapi terlintas senyuman tipis di sudut matanya. Wanita ini memegang moralnya dengan kuat.

Dia membuka bibir tipisnya. "Tenang saja, aku warga negara yang taat hukum, nggak akan melakukan apa pun yang ilegal atau melanggar hukum."

Aveline bergumam dalam hati, 'Siapa yang mau percaya?'

Pria itu mengangkat ponselnya, bergumam panjang dengan nada yang rendah dan memanjakan telinga. "Hm?"

Aveline menggigit bibirnya, dan pada akhirnya mengeluarkan ponsel dan memindai kode QR pria itu, lalu mengirim pesan untuk memberikan nomornya.

Foto profil pria itu adalah foto seekor anjing Golden Retriever besar, dengan nama akun "Win".

Aveline berpikir dalam hati, 'Apa itu nama anjingnya?'

Pada saat yang sama, Marcell juga sedang mengamati foto profil Aveline.

Ternyata tokoh kartun yang jelek.

Seingatnya, tokoh ini berasal dari serial animasi yang sering ditonton anak tetangga, yang judulnya Crayon Shin-chan.

Foto profil Aveline menggunakan gambar tokoh utamanya.

Sungguh jelek, tapi unik.

Aveline meletakkan ponselnya. "Pak Marcell, kalau nggak ada yang lain lagi, saya kembali dulu ke kantor."

Marcell mendongak. "Tunggu."

Jantung Aveline berpacu lagi. "Ada ... yang lain lagi?"

Mata dalam pria itu menatapnya dan tiba-tiba bertanya, "Malam itu, bagaimana kemampuanku menurutmu?"

Aveline terkejut sejenak, lalu tanpa sadar menjawab, "Eh ... bagus."

Namun, begitu menyadari apa yang telah meluncur dari mulutnya, wajahnya memerah dalam sekejap. "Bukan, bukan begitu maksud saya ...."

Aduh, dasar mulut, bicara apa dia?

Tidak bisakah dipikir dulu sebelum bicara?!

Marcell memandangi ekspresi malu dan kesal gadis itu. Senyum tipis terukir di bibirnya, lalu dia mengganti pembicaraan. "Masih sakit?"

Aveline menggigit bibirnya, pipinya masih merah padam, tampak sangat cantik.

"S-sakit?"

Tatapan Marcell tertuju ke antara kakinya, maknanya sangat jelas.

Wajah Aveline semakin membara, bahkan ujung telinga dan lehernya pun ikut seperti terbakar, dan kedua kakinya sedikit merapat.

Marcell bahkan berani mengajukan pertanyaan seperti itu.

Lagi pula, sakit atau tidak, sudah tahu jawabannya, ‘kan?

Dia belum punya pengalaman sebelumnya, tetapi langsung dituntut melakukan itu enam kali.

Wanita mana pun tidak akan tahan.

Marcell melihat pipi merahnya yang seperti diolesi perona, bisa menebak apa yang terjadi.

Dia membuka laci dan mengambil sebotol salep, perlahan mendorongnya ke tepi meja.

"Ini salep untukmu."

Aveline tanpa sadar mengambil salep itu dan melihatnya.

Rupanya, obat salep ini khusus untuk area intim, yang berfungsi meredakan bengkak dan nyeri.

Marcell menatap wajahnya yang semakin seperti tomat dan menjelaskan dengan nada datar, "Malam itu, kita sampai berkali-kali, apalagi kamu baru pertama kali, jadi pasti masih sensitif. Pakai salep ini biar cepat pulih."

Aveline merasa panas di telapak tangannya dan spontan meletakkan salep itu kembali. "Nggak usah, saya sudah beli di apotek."

Setelah jeda, dia menambahkan, "Saya juga sudah minum pil kontrasepsi darurat, jadi saya jamin nggak akan hamil."

Marcell tertawa kecil, dengan nada yang ambigu. "Nona Aveline pintar juga melindungi diri sendiri."

Aveline berkata dengan wajah tersipu, "Semua orang juga tahu hal sesederhana itu."

Dia teringat sesuatu dan berkata lagi, "Oh ya, tolong kalau lain kali mau melakukan lagi dengan wanita lain, jangan lupa pakai kondom. Mencegah penyakit menular seksual."

Marcell hanya bergumam pelan, dengan tatapan yang aneh di matanya. "Terima kasih sudah mengingatkan, lain kali aku ingat."

Aveline berpikir lagi, menyadari kata-katanya agak ambigu, mau tak mau dia menjelaskan, "Saya aman, nggak ada penyakit."

Marcell tertawa kecil. "Kebetulan, aku juga nggak ada penyakit."

"..."

Aveline menggigit bibirnya. "Kalau nggak ada yang lain lagi, saya pergi dulu."

Marcell mengingatkan, "Bawa salepnya, siapa tahu Nona Aveline butuh lagi kapan-kapan."

"..."

Aveline kembali ke ruang kantor Divisi Marketing.

Setelah duduk kembali di meja kerjanya, dia masih merasa bingung.

Marcell memintanya untuk bertukar kontak, apa sebenarnya yang dia rencanakan?

Dia mengerutkan kening melihat foto profil anjing yang baru ditambahkan di obrolannya.

Sudahlah, biarkan saja, kita lihat nanti.

Dan dia baru ingat, saat bertemu tadi, dia lupa menanyakan kepada Marcell apakah dia melihat kalungnya.

Karena terlalu gugup, dia benar-benar terlupa soal kalungnya.

Sekarang ....

Dia semakin malu untuk menanyakannya. Jadi, dia memutuskan untuk mencari kesempatan mampir ke rumah Cecilia lagi, dan mencari sendiri di kamar Marcell.

Pada saat itu, seorang rekan kerja wanita bernama Yasmin datang menghampiri dan bertanya dengan penasaran, "Aveline, Pak Marcell bicara apa tadi denganmu?"

"Tahu nggak, waktu kamu ke kantor Pak Marcell tadi, Brenda dan yang lainnya bilang kamu pasti akan dimarahi habis-habisan, lalu dipecat."

Mendengar itu, Aveline melirik ke arah Brenda.

Brenda menatap balik dan berkata dengan nada menggoda, "Aveline, wajahmu kelihatan aneh. Jangan-jangan, kamu beneran dipecat Pak Marcell?"

Aveline menjawab datar, "Maaf membuatmu kecewa, Pak Marcell cuma menyuruhku fokus bekerja, mengingatkan jangan sampai gosip di grup mengganggu suasana hatiku."

Brenda terdiam, lalu tidak bisa menahan diri untuk membantah, "Aku nggak percaya!"

"Mana mungkin Pak Marcell sesantai itu!"

Aveline tersenyum tanpa rasa tulus. "Kalau nggak percaya, kamu tanya langsung saja ke Pak Marcell."

"..."

Dia sebenarnya sangat ingin mencari perhatian di hadapan Marcell. Sayangnya, Marcell tidak memberinya kesempatan sama sekali.

Aveline sialan. Sudah jatuh ke dada Marcell, tambah lagi dipanggil ke kantornya. Hoki sialan.

Dia bertanya-tanya, jika itu terjadi padanya, apakah Marcell akan memberi perhatian padanya?

Peristiwa ini hanyalah insiden kecil yang segera terlupakan.

Setelah pulang kerja, Cecilia mengajak Aveline jalan-jalan bersama.

Aveline memikirkan rencananya dan menyetujui ajakan Cecilia.

Begitu melihat Aveline, Cecilia langsung memeluknya dan meremas pinggang rampingnya.

Benar-benar enak dipegang, di bagian mana pun itu.

Dia pun berseru, "Avie, badanmu ini sempurna sekali! Jadi keenakan buat pria menyebalkan yang mendapatkanmu nanti!

Membayangkan suatu hari nanti ada pria yang akan meraba-raba sahabatnya yang manis dan lembut ini, hatinya merasa sangat cemburu.

Tentu saja, dia tidak tahu bahwa sahabatnya ini sudah disentuh seluruhnya oleh kakaknya.

Bahkan, dia sendiri yang mengantarkannya.

Aveline merasa geli di sekujur tubuhnya karena sentuhan Cecilia, berkata sambil tersenyum, "Sudah, sudah, katanya mau belanja? Ayo berangkat."

Cecilia mengangguk. "Ayo."

Setelah diam sebentar, dia teringat sesuatu dan bertanya lagi, "Oh ya, kalungmu sudah ketemu?"

Aveline menggeleng. "Belum."

Cecilia melapor, "Rumahku sudah kucari sampai ke kolong-kolong. Di tempat pesta juga sudah. Aku sudah tanya manajernya, tapi nggak ada kalungmu. Apa mungkin jatuh di tempat lain?"

Aveline ingat bahwa sebelum dia mabuk berat, kalung itu masih tergantung di lehernya.

Setelah dia mabuk, Cecilia membawanya pulang ke rumah Keluarga Hadinata.

Selama itu, dia tidak pergi ke tempat lain.

Kalung itu kemungkinan jatuh di tempat pesta, atau jatuh di rumah Keluarga Hadinata.

Kalung itu juga tidak mudah lepas, kecuali jika ada gesekan atau gerakan yang terlalu keras, mungkin bisa terlepas tanpa sengaja.

Oleh karena itu, dia menduga kemungkinan besar kalungnya ada di kamar Marcell.

Namun, dia terlalu malu untuk mengakui itu kepada sahabatnya.

"Ya sudahlah, nggak usah dipikir lagi. Mungkin lupa kutaruh mana di rumah, nanti aku cari lebih teliti lagi."

Cecilia mengangguk lagi. "Ya sudah."

Keduanya berangkat bersama ke mal besar.

Setiap pergi ke mal, Cecilia suka membeli pakaian, tas, dan sepatu.

Dia selalu memastikan untuk mampir setiap ada model baru keluar.

Aveline dan Cecilia saling kenal sejak kuliah. Mereka tinggal sekamar di asrama dan cukup dekat.

Keluarga Cecilia kaya raya. Uang saku bulanannya tidak kurang dari satu miliar.

Pakaian dan barang-barang yang biasa dia pakai semuanya dari merek ternama.

Keluarga Aveline tidak terlalu kaya, tetapi tidak buruk juga. Orang tuanya dosen, dari keluarga berpendidikan tinggi, dan memiliki tabungan. Hanya saja, jika dibandingkan dengan Cecilia, perbedaannya sangat jauh.

Namun, Cecilia tidak sombong layaknya putri keluarga kaya. Dia memiliki kepribadian yang terbuka, supel, dan antusias.

Aveline memiliki kepribadian yang kalem, cukup penyendiri, dan pemalu.

Dua orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang ini ternyata sangat cocok. Perlahan-lahan, hubungan mereka berkembang menjadi sahabat karib yang hampir tidak punya rahasia satu sama lain, layaknya saudara kandung.

Setelah berbelanja kurang dari dua jam, Cecilia sudah mencoba lebih dari sepuluh pasang pakaian model terbaru dan membeli beberapa di antaranya.

Aveline hanya menemaninya sambil memberikan saran.

Setelah Cecilia selesai membeli pakaian, barulah dia menyadari bahwa Aveline belum memilih satu pun.

"Kamu nggak mau coba baju?"

Aveline menggeleng. "Gaji bulan ini belum cair. Aku tahan diri dulu, tunggu gajian nanti."

Karena dia sudah mulai bekerja, dia malu meminta uang lagi kepada orang tuanya.

Cecilia bertanya, "Gajimu berapa? Aku bisa telepon kakakku, suruh dia membayarmu lebih awal."

Kelopak mata Aveline berkedut. "Nggak, jangan merepotkan kakakmu. Ikuti saja alur perusahaan. Gajiannya cuma tinggal beberapa hari lagi."

Cecilia menepuk bahu Aveline, dengan nada santai. "Nggak repot kok, kita kan keluarga. Kakakku itu juga kakakmu. Kamu kerja di perusahaannya. Nggak usah sungkan-sungkan!"

"..."

Dia tidak berani.

Cecilia tiba-tiba teringat, "Oh iya, kakakku sudah tahu kamu kerja di perusahaannya?"

"Nanti kuberi tahu dia, biar dia lebih memperhatikanmu."

Aveline buru-buru berkata, "Nggak usah."

"Kerjaku kan nggak langsung dengan dia."

Cecilia mengedipkan matanya. "Kalau kamu mau kerja langsung dengan dia, bisa kok. Aku bisa minta kamu dipromosikan jadi sekretarisnya. Langsung dengan dia, 'kan?"

Aveline hampir menangis. "Jangan, aku takut ...."

Melayani bos secara langsung itu sama seperti melayani harimau!

Terutama, Aveline juga punya aib yang bisa dimanfaatkan olehnya.

Cecilia tertawa lepas. "Takut apa? Kita kan keluarga!"

Aveline jadi tidak bisa berkata-kata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status