เข้าสู่ระบบSecepatnya Rivan meletakkan kembali ponsel Salma di tempat semula. Ia duduk di sofa sambil menunggu aplikasi Langit Fiksi terpasang di ponsel miliknya. Selesai memasang, mau tidak mau Rivan harus mendaftar akun lantaran penasaran dengan cerita yang Salma tulis.
Terlebih judulnya Love in Contract, bukankah kebetulan sekali? Konyolnya lagi, malam ini seharusnya malam pertama mereka dan Salma mengunggah chapter berjudul malam pertama.
“Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, Salma?” batin Rivan.
Setelah berhasil membuat akun, Rivan melakukan pencarian pada judul novel yang Salma tulis. Tidak sulit menemukannya karena langsung muncul di paling atas karena termasuk novel populer di aplikasi tersebut.
Satu hal yang pasti, Salma tidak menggunakan nama aslinya. Bahkan, nama pena-nya Sava Elara, sangat jauh dengan nama asli wanita itu. Soal ini, Rivan sama sekali tidak merasa aneh dengan penggunaan nama pena karena sangat lumrah.
Konyolnya, Rivan yang sebenarnya tidak suka membaca novel fiksi secara otomatis membaca Love in Contract. Mungkin karena episode-nya masih sedikit. Bersamaan Rivan membaca bagian prolog, Salma keluar dari arah kamar mandi dan langsung menatap ke arahnya.
Salma tidak mengatakan apa-apa, lebih memilih langsung meraih ponselnya. Ia juga tidak lupa menutup kembali kotak hadiah pemberian Giri tanpa mengeluarkan parfum-nya.
“Itu dari siapa?” tanya Rivan yang memang penasaran.
“Hadiah ini? Tadi Kak Giri yang kasih.”
“Oh,” jawab Rivan, karena lebih fokus membaca cerita yang ditulis oleh wanita yang sekamar dengannya mulai malam ini.
“Aku tidur di kasur, kan?” tanya Salma kemudian.
“Silakan. Aku tidur di sofa,” jawab Rivan tanpa menoleh pada Salma. Ia fokus menatap layar ponselnya, terlebih pria itu mulai merebahkan diri scrolling lanjut ke chapter berikutnya. Ternyata seru.
Sementara itu, Salma yang mulai merebahkan diri di atas tempat tidur, sejenak melihat serbuan notifikasi yang masuk. Baru ditinggal beberapa menit saja, komentar sudah se-ramai itu. Apa karena membahas malam pertama?
Salma kemudian menoleh ke arah Rivan yang tampak fokus dengan ponselnya. Ia mengira pria itu sedang mengurus bisnisnya terlebih raut wajahnya terlihat serius, padahal Rivan sedang membaca Love in Contract. Entah sekaget apa jika Salma tahu, karena jujur saja selama ini wanita itu tak pernah membiarkan ada orang yang tahu konten seperti apa yang ditulisnya.
Bukannya apa-apa, Salma sangat malu. Apalagi tak jarang ia menyelipkan bed scene yang cukup hot—yang terkadang sampai memancing hasratnya sendiri. Itu sebabnya ia tak mau orang tahu betapa imajinasi liarnya sampai ke tahap itu.
Salma berusaha tidak membayangkan scene-scene agak ‘memancing gairah’ yang pernah ditulisnya, termasuk scene malam pertama yang ia publikasikan beberapa saat lalu. Lebih baik Salma lanjut menulis poin-poin untuk keperluan pembuatan surat kontrak pernikahannya dengan Rivan.
Sudah ada beberapa poin yang Salma tulis dalam catatan, ia hanya perlu melanjutkannya sambil berpikir ... hal apa lagi yang boleh dan sebaiknya tidak boleh dalam pernikahan sementara mereka. Salma harus memastikan tidak ada poin yang terlewat agar tidak merugikannya di kemudian hari.
Beberapa saat kemudian, notifikasi pembaca yang berkomentar tentang typo membuat Salma kembali harus membuka Langit Fiksi. Soal kesalahan ketik, Salma memang tak pernah ingin menunda untuk memperbaiknya.
Secara otomatis Salma membaca ulang dan sialnya ... yang harus Salma baca adalah scene di ranjang yang cukup intim dan konyolnya membuat Salma langsung berpikir ke arah yang agak nakal.
“Sadarlah, Salma. Kamu nggak sendirian di sini. Ada pria yang seharusnya menjadi suami adikmu, jadi jangan bertingkah aneh,” batin Salma, berusaha menyadarkan diri sendiri.
Sialnya, imajinasi Salma malah bertambah liar dan cenderung ke arah sulit dikendalikan. Bisa-bisanya ia terpancing hasratnya pada saat-saat begini. Pikirannya sudah ke mana-mana dan tidak seharusnya ia begini. Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat Salma merinding.
Salma tidak mungkin menuntaskan hasratnya secara mandiri. Lebih tidak mungkin lagi jika meminta bantuan Rivan lalu malam pertama mereka benar-benar seperti pasangan normal pada umumnya. Sungguh, Salma masih waras sehingga tidak bertindak sejauh ini.
“Aku masih bisa tahan. Aku bisa menahannya...,” batin Salma sambil menoleh ke arah Rivan yang tampak berbaring menyamping di sofa sehingga posisi pria itu kini membelakanginya.
Itu bagus. Dengan begitu Salma akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menuntaskan hasratnya sendiri. Toh ia hanya perlu tetap berbaring telentang seperti ini, dengan permainan tangan di bawah selimut ... seharusnya tidak ketahuan, kan?
Mungkin terasa aneh dan akan kentara kalau Rivan menatap ke arahnya karena ada pergerakan yang tak biasa. Itu sebabnya Salma baru berani melakukannya saat pria itu memunggunginya. Selain itu, hal semacam ini juga tak akan terjadi andai mereka tidur sebelahan. Sekalipun Rivan memunggunginya, pasti gerakannya akan membuat curiga.
Ah, Salma jadi ingin cepat-cepat meninggalkan hotel lalu mereka akan tidur di kamar berbeda dan privasi masing-masing lebih terjaga.
Sampai pada akhirnya, Salma sudah memulainya. Ia memuaskan diri menggunakan tangannya di dalam selimut.
Sementara itu, Rivan begitu menikmati bacaannya sampai-sampai tidak sadar sudah tiba di chapter 4 yang Salma publikasikan beberapa saat lalu. Seiring membacanya, Rivan perlahan mulai menggila lantaran terhanyut dalam bed scene yang membuat hasratnya terpancing.
“Oh, ini gila,” batin Rivan, mulai gelisah.
Bagaimana tidak, milik-nya di bawah sana sudah berdiri. Bukankah memalukan jika Salma melihat ada yang mencuat di celananya? Untungnya ia sedang berbaring menyamping membelakangi wanita itu. Satu hal yang pasti, Rivan tak menyangka istri sementaranya punya imajinasi yang begitu liar.
Tapi tunggu, kira-kira apa yang sedang Salma lakukan sekarang? Jujur saja Rivan merasa aneh saat melihat pantulan kaca pada bufet di depannya. View-nya memang menampilkan suasana di atas ranjang. Itu pun hanya terlihat samar lantaran bukan cermin murni.
Selama beberapa saat Rivan memperhatikan, sampai kemudian ia sadar kalau Salma sedang melakukan self-pleasure. Hal itu membuat milik Rivan semakin meronta-ronta ingin dibebaskan. Malam pertama macam apa ini? Baik Salma maupun Rivan sama-sama normal dan terpancing hasratnya, tapi pasti mustahil untuk memulai sentuhan karena sejak awal perjanjian mereka tanpa kontak fisik.
Namun, melihat Salma seperti itu ... Rivan jadi semakin tak tahan.
Rivan dengan senang hati akan membantu Salma mendapatkan kepuasan, karena dirinya pun sama butuhnya.
Detik berikutnya, Rivan dengan semangat ingin ‘tempur di ranjang’, ia beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Salma.
“Mau aku bantu?”
Hanya tiga kata, tapi sangat cukup untuk membuat Salma terkejut sekaligus deg-degan.
Mati aku....
Rivan yang hampir terbuai oleh ajakan berhubungan badan dari Nova, pada akhirnya sadar untuk tidak melanjutkan perbuatan mereka. Sekalipun Nova bilang tidak apa-apa karena mereka akan menikah setelah Rivan resmi bercerai dengan Salma, tapi tetap saja ... statusnya dengan Nova saat ini bukanlah suami-istri.Rivan pun bersikeras tidak melanjutkan aktivitas panas mereka, malah cenderung berusaha menjaga jarak dan menghentikannya.“Kita nggak boleh melewati batas,” ucap Rivan. “Kecuali kalau udah nikah, baru boleh,” sambung pria itu.Sambil membetulkan bajunya, Nova berkata, “Meskipun kamu amnesia, tapi kamu masih tetap Rivanku. Sejak dulu, kamu memang begini. Kamu selalu memastikan menjagaku dan nggak pernah macam-macam.”“Benar, kan? Kita memang nggak pernah macam-macam.”“Tentu. Mana mungkin Mas Rivan macam-macam?” kekeh Nova.Anehnya, Rivan bukan hanya dejavu berciuman di IGD. Rivan juga dejavu sedang berhubungan badan dengan seorang wanita yang entah itu Nova atau Salma. Bukannya apa
“Selain keluarga, sejauh ini kalian berdualah yang paling dekat dengan Salma dan Rivan. Bahkan, bisa dibilang kalian lebih dekat dengan mereka dibanding saya sebagai ibu kandung Rivan,” kata Mama Li. “Untuk itu saya ingin bertanya, menurut kalian ... bagaimana hubungan mereka?” tanyanya kemudian.Mama Li sadar jika dirinya terus terang pada Salma maupun Rivan tanpa bukti apa-apa, takutnya mereka tidak langsung percaya sekalipun yang mengatakan adalah seorang Mama Li.Itu sebabnya Mama Li memutuskan bicara dengan Septi dan Akmal. Ia berharap dua orang di hadapannya itu setidaknya bisa bersaksi tentang fakta yang sebenarnya. Tentunya, bersaksi jika Septi dan Akmal tahu sesuatu. Masalahnya adalah ... benarkah mereka mengetahui apa yang diketahuinya?Selama beberapa saat, Septi dan Akmal saling berpandangan. Sejak awal Mama Li menghubungi Akmal, mereka memang sudah sepakat akan memberi tahu fakta tentang hubungan Salma dengan Rivan, berharap sedikitnya Mama Li bisa membantu.“Sejujurnya,
Mama Li tahu semuanya, tentang pernikahan sementara antara Salma dengan Rivan. Tak hanya itu, Mama Li juga tahu tentang Nova yang selama ini koma pasca melakukan percobaan bunuh diri. Jujur saja, Nova yang sudah pulih dan telah kembali ke Indonesia saja sudah membuatnya cukup terkejut.Terlebih lagi skandal yang langsung muncul menghebohkan jagat maya ... rasanya Mama Li butuh waktu untuk mencerna segalanya. Ia sungguh bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anjar mengaku-ngaku menjalin hubungan dengan Salma? Sedangkan Mama Li sangat tahu betapa Salma dan Rivan itu saling mencintai.Ibaratnya, banyak hal gila dan penuh kejutan terjadi dalam waktu berdekatan. Mama Li dibuat semakin tak habis pikir saat mengetahui Salma dan Rivan kecelakaan. Ya, meskipun publik tahunya yang kecelakaan itu Nova, tapi Mama Li tahu bahkan sebelum diberi tahu, bahwa yang kecelakaan memang Salma.Sekarang Mama Li masih diam dan tidak mengatakan apa-apa meskipun tahu segalanya. Ia tahu Anjar berbo
Untuk sementara, selagi masa pemulihan pasca kecelakaan ... Salma akan berpura-pura menjadi Nova dulu. Bukannya apa-apa, publik tahunya yang kecelakaan mobil bersama Rivan adalah Nova. Bahkan, tenaga kesehatan di rumah sakit pun tahunya mereka sedang merawat Nova. Jadi, secara teknis Salma memang tak punya pilihan selain berperan menjadi Nova dulu.Hari demi hari berlalu, kondisi Salma dan Rivan sudah sangat baik. Secara fisik, mereka bisa dikatakan pulih, tapi secara ingatan ... keduanya masih belum ingat apa pun. Hal yang terpenting adalah mereka sudah diperbolehkan pulang. Tentunya, Salma dan Rivan akan sama-sama pulang ke rumah mewah Nova.Tentunya setelah Salma siap bertukar peran dengan Nova seperti seharusnya, rencananya Salma akan tinggal di apartemen yang ditempatinya bersama Rivan. Sedangkan Rivan akan tetap tinggal bersama Nova, toh rumah mewah itu sebetulnya rumahnya yang dihadiahkan pada Nova.“Paling tidak, butuh waktu seenggaknya seminggu untuk kita bertukar peran sepen
Saat pertama kali mengetahui Rivan hilang ingatan, jujur saja Nova terkejut sekaligus tak menyangka. Ia butuh waktu beberapa saat untuk mencerna situasi yang terjadi, sampai kemudian wanita itu menyadari betapa amnesia yang Rivan alami ... bisa saja menjadi jalan untuk me-reset ulang kehidupan mereka.Meskipun Nova sudah mendengar segala yang terjadi saat dirinya koma, termasuk kedekatan Rivan dengan Salma yang membuat Nova agak kurang nyaman. Nova juga cukup lega tidak ada perasaan apa-apa yang tumbuh antara Salma dengan Rivan karena terbukti Salma balikan dengan Anjar.Namun tetap saja, pada kesempatan ini ... amnesia yang Rivan alami adalah cara Tuhan menghapus segala ingatan tentang momen kebersamaannya dengan Salma. Anggap saja amnesia yang Rivan alami adalah jalan untuk memulai kisah dari nol lagi.Tapi, siapa sangka ... Salma juga hilang ingatan!“Aku masih nggak habis pikir, Ayah. Mas Rivan dan Kak Salma hilang ingatan semua,” ucap Nova yang saat ini duduk berdua dengan Fahmi.
Jangan ditanya betapa terkejutnya Nova saat mengetahui kenyataan bahwa selagi dirinya koma, yang Rivan nikahi rupanya Salma. Ini seperti pukulan yang tepat mengenai dada. Rasanya menyakitkan tapi begitulah faktanya. Bahkan, Nova belum sepenuhnya menerima kenyataan tersebut, masih ingin denial selama beberapa saat.Meskipun sudah ada solusi tentang pembatalan nikah atau perceraian yang bisa mereka upayakan bersama-sama, tapi tetap saja ... bohong kalau pikiran Nova tidak ke mana-mana. Jelas Nova mulai membayangkan sejauh ini apa yang sudah kakaknya dan Rivan lakukan?Namun, di sela rasa cemasnya, Nova kemudian sadar kalau seharusnya ia tak perlu takut tentang apa pun.“Ya! Kenapa aku harus mencemaskan itu? Mereka nggak mungkin ngapa-ngapain meskipun statusnya suami-istri. Lagian cuma Mas Rivan aja, kan, yang tahu? Kalau Kak Salma nggak tahu. Aku yakin Kak Salma bisa menjaga dirinya. Dan yang nggak kalah penting, Kak Salma nggak mungkin bersedia melakukan hal-hal semacam itu dengan Mas
Meskipun Salma sudah mengatakan pada Rivan kalau dirinya tak ingin berdansa, pada akhirnya ia tetap melakukannya bersama pria itu. Salma tak kuasa menolak saat Rivan langsung membawanya ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan-pasangan lain.Jujur saja, tatapan Rivan itu seolah penuh cinta, p
Di ball room sebuah hotel mewah, musik pengiring pernikahan masih bergema setelah Nova ‘palsu’ alias Salma dan Rivan dinyatakan resmi sebagai suami-istri. Tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan, sedangkan pengantin baru itu berdiri berhadapan.Pernikahan palsu ini membuat Salma sangat gugup. B
Sepuluh tahun yang lalu, orangtua Salma dan Nova memutuskan bercerai. Saat itu si kembar masih berusia 17 tahun dan sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun keduanya sempat menolak, pada akhirnya Salma setuju untuk ikut dengan sang ibu meninggalkan Jakarta dan pindah ke Senjaratu. Sedangkan
“Sinting!” gumam Salma dengan nada kesalnya. Ia memang jarang mengikuti berita artis, sekalinya melakukan pencarian dengan keyword Nova Aurelia—saudara kembarnya yang telah sukses menjadi selebritas papan atas, kok bisa kebanyakan beritanya berisi hal-hal negatif semua?Padahal Nova sebentar lagi m







