MasukDi ball room sebuah hotel mewah, musik pengiring pernikahan masih bergema setelah Nova ‘palsu’ alias Salma dan Rivan dinyatakan resmi sebagai suami-istri. Tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan, sedangkan pengantin baru itu berdiri berhadapan.
Pernikahan palsu ini membuat Salma sangat gugup. Bagaimana kalau ketahuan dirinya bukanlah Nova?
“Jangan tegang banget,” bisik Rivan pelan, bisa dipastikan hanya Salma yang mendengarnya.
“A-aku takut ketahuan.”
“Itu sebabnya kita harus meyakinkan mereka,” jawab Rivan. “Wedding kiss.”
Tunggu, apa?
Salma menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Pernikahan ini hanyalah sandiwara, Rivan pun sempat beberapa kali meyakinkannya dengan mengatakan tak akan ada kontak fisik apa pun. Tapi kenapa tiba-tiba ada wedding kiss?
Dengan gerakan tenang, Rivan meraih wajah Salma, mendekatkan diri. Bibir mereka akhirnya bersentuhan dalam sebuah ciuman singkat. Ciuman yang merupakan sebuah formalitas, tapi cukup untuk membuat Salma merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Apa ini ciuman pertamanya?
***
“Kamu marah?” tanya Rivan pada Salma.
Saat ini hanya ada mereka berdua di ruang pengantin. Mereka baru saja mengganti busana pernikahan sekaligus merapikan riasan. Beberapa saat lalu, Rivan sengaja meminta semua yang ada di ruangan seperti MUA, hair stylist, penata busana, crew wedding organizer dan lain-lain agar keluar meninggalkan mereka berdua.
Intinya, hanya boleh ada Salma dan Rivan di ruangan ini.
“Saya tanya, kamu marah?” ulang Rivan.
“Kamu yakin itu pertanyaan? Jelas aku marah. Kita sepakat nggak ada kontak fisik.”
“Ya, itu memang benar kesepakatan kita. Tapi mustahil nge-skip wedding kiss. Untuk itu saya minta maaf.”
Salma tidak menjawab, hanya mengembuskan napas kasar.
“Saya akui memang salah, seharusnya saya bilang dulu,” kata Rivan lagi.
“Terus kenapa nggak bilang?”
“Kamu pasti keberatan kalau saya bilang, tapi saya janji ... itu yang pertama dan terakhir.”
“Aku pegang kata-katamu,” balas Salma.
Jeda selama beberapa saat.
“Ini acaranya sampai jam berapa?” tanya Salma kemudian. “Perasaan udah lama banget, tapi nggak kelar-kelar,” lanjutnya.
“Sekitar satu jam lagi,” jawab Rivan. “Bisa dikatakan resepsinya berjalan lancar, mungkin karena tamunya itu kebanyakan tamu-tamu orangtua saya.”
“Enggak mungkin ada resepsi lagi, kan, setelah hari ini?”
“Adanya after party. Nanti malam. Tamunya spesial dari kenalan-kenalan saya dan Nova. Tamu saya jelas dari kalangan bisnis.”
“Dan tamunya Nova artis-artis, benar?”
Rivan mengangguk-angguk.
“Tapi aku nggak hafal nama artis seratus persen. Kalau ada yang aku lupa namanya, bukankah terlalu aneh? Jadi menurutku lebih baik nggak usah ada after party segala.”
Salma melanjutkan, “Belum lagi kenalan-kenalan yang non-seleb seperti crew film atau staf-staf di manajemen dia, bakal jadi masalah besar karena aku beneran nggak kenal mereka. Serius, sampai di titik ini aja ... aku yakin nggak bisa menjadi Nova. Aku nggak bisa menggantikannya.”
“Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Sebelum kamu cemas seperti sekarang, saya udah lebih dulu memikirkannya.”
Salma kemudian menatap pria yang kini berstatus suami sementaranya. “Maksudnya gimana?”
“Saya udah ngasih statement resmi ke semua tamu yang hadir kalau pasca kecelakaan ... Nova Aurelia mengalami amnesia. Jadi, meskipun kamu terlihat seperti orang bingung, nggak akan ada yang merasa aneh apalagi curiga.”
Rivan masih berbicara, “Manajer kamu udah meneruskan informasi ini ke semua pihak yang terlibat. Intinya kamu sedang berusaha mengingat lagi karena dokter mengatakan amnesia yang kamu alami nggak permanen.”
“Kamu memang gila,” ujar Salma.
“Itu namanya solusi,” balas Rivan. “Pokoknya kamu tenang aja, nanti di after party ... Septi bakalan ikut mendampingi kamu. Sebagai informasi, dia juga nggak tahu kalau kamu bukan Nova.”
Salma mengernyit. “Septi?”
“Ah, kamu belum bertemu dengannya, ya?” tanya Rivan. “Lagian kamu keluarganya Nova bukan, sih? Masa manajernya aja nggak tahu.”
Salma terdiam.
“Pokoknya kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehidupan barumu sebagai Nova Aurelia, selebritas sekaligus istri saya. Ingat, sekarang namamu Nova.”
Rivan kemudian beranjak dari duduknya. “Kalau begitu, mari kita keluar bersama. Para tamu pasti kebingungan jika pelaminan dibiarkan kosong terlalu lama,” ujarnya sambil mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Salma meraih dan menggenggam tangannya.
Salma sempat menatap Rivan selama beberapa saat, sampai akhirnya ia mengizinkan pria itu meraih tangannya.
***
Malam harinya....
Berbeda dengan resepsi yang tamu-tamunya sebagian besar berasal dari orangtua Rivan, untuk after party secara ekslusif hanya akan dihadiri oleh kenalan Nova dan Rivan saja. Bisa dibilang acara mereka yang sebenarnya adalah malam ini karena suasananya lebih santai dan menyenangkan.
“Aku nggak mau dansa,” ucap Salma.
“Kenapa?”
“Aku nggak bisa. Kalaupun bisa, aku tetap nggak mau,” tegas Salma.
Saat ini Salma dan Rivan berada di kamar hotel yang mereka tempati malam ini. Kamar tipe honeymoon suite yang sudah didekorasi sedemikian romantis, tapi sayangnya sia-sia karena pernikahan mereka hanyalah palsu.
Salma sudah memakai riasan yang lebih natural. Bahkan gaun yang dipakainya pun jauh lebih sederhana, tidak seperti saat resepsi tadi siang. Namun, yang pasti gaunnya tetaplah elegan. Begitu juga dengan Rivan yang memakai setelan putih sleek and clean.
Setelah benar-benar siap, Salma dan Rivan menuju rooftop. After party-nya memang dilaksanakan di sana. Beberapa tamu undangan sudah hadir dan langsung menyelamati Salma dan Rivan. Tamu-tamu Nova jelas tidak asing bagi Salma karena mereka dari kalangan selebritas sehingga Salma sedikitnya tahu siapa mereka. Sungguh, Salma tak pernah membayangkan akan ada dalam situasi seperti ini.
“Nah, itu Septi,” ucap Rivan sambil menunjuk seorang wanita yang Salma yakini tak berbeda jauh usianya dengannya.
“Ya ampun, Nova.” Septi langsung berhambur ke pelukan Salma yang ia pikir adalah Nova. “Aku pengen banget peluk kamu semenjak di resepsi, tapi baru bisa sekarang. Kamu bikin aku khawatir banget tahu nggak?”
Pelukan hangat Septi serta kata-kata tulus wanita itu membuat Salma sadar ... meskipun banyak sekali hujatan tanpa alasan yang sering Nova terima, setidaknya orang-orang terdekat adiknya itu baik dan tulus.
“Maaf karena aku bikin kamu khawatir. Terutama maaf karena aku nggak mengingat apa pun,” jawab Salma.
Mereka kemudian saling melepaskan pelukan.
“Enggak usah minta maaf, Nov. Bagiku ... yang penting kamu baik-baik aja sekarang. Soal ingatan, biarkan pulih dengan alami. Enggak usah dipaksa, oke?”
Bersamaan dengan itu, rekan bisnis Rivan datang menyapa. Otomatis pengantin baru itu menyambut dengan hangat. Salma tak bisa memungkiri kalau dirinya mulai terbiasa dengan peran barunya ini.
Setelah ikut menyapa rekan bisnis Rivan, kini Salma berkeliling rooftop untuk menikmati suasana santai dan menyenangkan ini. Salma menyayangkan ... seharusnya Nova yang menjadi ratu di after party ini. Ia sangat berharap agar sang adik segera pulih.
“Nov, itu lawan main kamu di film selanjutnya,” ucap Septi sambil menunjuk arah belakang Salma.
Refleks Salma memutar tubuhnya untuk menyapa seseorang yang Septi tunjuk barusan. Namun, detik berikutnya dunia Salma seakan berhenti karena yang Septi tunjuk adalah seorang pria. Bukan pria biasa, melainkan pria yang pernah mengisi hari-hari Salma sepuluh tahun lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA.
Anjar Adrian....
Salma jelas tahu nama itu. Selain karena Anjar adalah aktor yang bisa dikatakan populer sehingga banyak yang mengenalinya di mana pun termasuk Salma, alasan lainnya adalah ... Anjar adalah cinta pertamanya.
Ya, Anjar itu cinta pertama Salma.
“Bisa-bisanya aku hampir lupa kalau Anjar itu artis, jadi bukan hal aneh kalau dia mengenal Nova,” batin Salma. “Bahkan, Septi bilang apa tadi? Lawan main?!”
Sebentar, Salma jadi teringat judul artikel yang sempat ia baca kemarin—Adegan panas dengan Anjar Adrian? Maksudnya, selagi menggantikan Nova ... artinya Salma-lah yang akan beradegan panas dengan sang mantan?
“Aku tahu kamu belum lama menjadi sekretaris Pak Rivan, tapi sejauh kamu menjadi sekretarisnya ... menurutmu bagaimana hubungan mereka?” tanya Septi pada Akmal. Saat ini memang mereka duduk berdua di kantin. Bahkan, memilih tempat pun di paling ujung untuk memastikan pembicaraan rahasia mereka tetap terjaga, jangan sampai ada yang mendengar.“Mereka yang kamu maksud itu Pak Rivan dengan Bu Salma, kan? Bu Salma yang selama ini kita pikir Bu Nova. Bukan hanya kita, melainkan semua orang juga.”Septi mengangguk-angguk. “Menurutmu, bagaimana interaksi mereka?”“Sejujurnya saya nggak terlalu sering melihat mereka bersama, tapi saat melihat kebersamaan mereka ... saya merasa hubungan mereka jauh dari kata palsu. Makanya saya kaget kalau selama ini ternyata yang di samping Pak Rivan adalah istri palsu, karena istri aslinya ... baru pulih dari koma. Bahkan, baru aja kembali.”“Aku pikir, aku sendirian yang berpikir begini,” balas Septi. “Soalnya aku tahunya Nova hilang ingatan. Jadi, aku sama
Memang benar. Salma dan Rivan mengalami kecelakaan lantaran sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya berdebat tentang langkah yang harus dilakukan. Salma teguh pada pendiriannya untuk merahasiakan hubungan mereka dari Nova dan diam-diam bercerai. Setelah bercerai, Rivan bisa kembali melanjutkan hidup dengan sang adik.Hanya saja, Rivan menolak mentah-mentah. Pria itu bersikeras akan jujur pada Nova tentang hubungannya dengan Salma. Rivan bahkan siap menjamin segala risikonya bisa mereka hadapi bersama. Namun, sekali lagi ... Salma tidak setuju. Sekalipun ia mencintai Rivan, tapi setelah Nova pulih, rasa ingin merelakan Rivan jauh lebih besar daripada rasa ingin memilikinya.Lagi pula Salma sudah berjanji bahwa dirinya hanya akan memiliki Rivan selagi Nova koma saja. Setelah sang adik pulih, Salma harus mengembalikan Rivan pada pemiliknya. Salma tak boleh ingkar janji.Selama beberapa saat Salma dan Rivan terus berdebat, sehingga membuat Rivan tidak bisa berkonsentrasi saat menge
Sejak mengetahui bahwa selama ini Nova koma dan sejauh ini Salma yang menggantikannya, Aruni memang syok. Namun, Fahmi sudah menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir, serta alasan yang membuat pria itu memilih merahasiakan fakta tersebut. Satu hal yang pasti, Aruni tidak marah meskipun ia tahunya belakangan.Belum selesai rasa terkejutnya mengetahui kenyataan yang ada, terlebih Fahmi mengatakan bahwa kondisi Nova yang mulai pulih menimbulkan firasat yang buruk karena kekacauan mungkin akan terjadi tak lama lagi, dan benar saja ... pagi ini mereka langsung dikejutkan dengan skandal yang agak gila.Bagaimana tidak, Nova diisukan berselingkuh dengan Anjar?Fahmi terlihat frustrasi sambil berusaha menghubungi nomor Salma. “Dia nggak jawab teleponnya. Nelepon ke hape Nova dan Rivan juga nggak direspons,” ucapnya. “Ayah ingin menemui mereka, tapi ayah sadar bukan hal mudah terlebih untuk saat ini. Mereka pasti sembunyi dan berusaha tidak tertangkap oleh para pemburu berita,” lanjut pria
Nova terkejut mengetahui Giri masuk penjara. Selama masa pemulihan, ia tidak mengetahui apa pun yang terjadi terhadap kakak tirinya. Pantas saja Giri tidak mengunggah apa pun di media sosialnya. Selain karena tidak ada informasi apa pun di internet mengingat Giri bukanlah selebritas, Nova juga tidak diberi tahu oleh Rivan kemarin ... atau mungkin belum?Mungkin juga terlalu aneh kalau langsung membahas Giri, padahal itu pertama kalinya ia dan Rivan bertemu lagi setelah dirinya koma. Satu hal yang pasti, Nova tidak menyangka. Namun, meski begitu, Nova tidak terkejut dengan alasan Giri masuk penjara. Ia memang tahu pekerjaan apa yang selama ini kakak tirinya itu lakukan.Dan yang membuat Nova penasaran adalah ... bagaimana sikap Giri selama Salma berpura-pura menjadi dirinya? Takutnya pria itu bersikap kurang ajar pada Salma. Itu sebabnya Nova segera bertanya pada Anjar, apakah Giri macam-macam pada Salma?Sayangnya, Anjar tidak sempat menjawab. Pembicaraan mereka terhenti lantaran suar
Setelah selesai memakai pakaian lengkap, Anjar keluar dari kamarnya bersamaan dengan Nova yang keluar dari kamar yang menjadi tempat wanita itu menginap malam ini. Nova juga sama sepertinya yang baru selesai mandi. Bedanya, Nova mengenakan pakaian yang sama karena tak ada baju ganti untuk wanita di rumah ini.“Aku kira Kak Salma punya beberapa pakaian yang dia tinggalin di rumah ini. Tapi ternyata nggak ada,” ucap Nova. “Aku jadi pakai baju ini lagi deh.”“Salma nggak pernah menginap di sini.”“Ah iya, bahaya juga, sih. Secara orang-orang tahunya Kak Salma itu aku. Skandal perselingkuhannya mungkin bakal meledak lebih awal kalau sampai kamu dan Kak Salma terang-terangan.”“Ngomong-ngomong, mereka belum datang? Aku pikir udah. Tadi sampai buru-buru mandinya,” tanya Anjar kemudian, sengaja tak membahas lebih jauh soal hubungannya dengan Salma.“Aku juga buru-buru, takutnya mereka datang tapi kita masih di kamar mandi. Nantinya bikin curiga kalau kita buka pintunya agak lama, dikiranya l
Tadi malam....“Kamu nggak punya minuman segar?” tanya Nova pada Anjar yang masih berbicara empat mata dengannya. “Semakin malam, rasanya aku semakin butuh minuman dingin dan segar.”“Punya, kok. Aku sama Salma sering ke sini. Bisa dibilang rumah ini adalah tempat rahasia kami untuk bertemu dan kencan, jadi jelas ada minuman segar selain yang di meja ini,” jelas Anjar. “Aku ambil dulu.”Jujur, menurut Anjar ini agak bahaya. Wajah Nova yang semirip itu dengan Salma, membuatnya tak henti-hentinya memikirkan Salma. Padahal saat bersama Salma, sedikit pun ia tak pernah memikirkan Nova. Sungguh, Anjar tak menyangka cinta lamanya benar-benar masih se-dalam itu terhadap Salma. Ia harap cinta mereka sungguh bisa bersemi kembali.Serius, sikap Nova dan Salma memang jauh berbeda. Hanya saja, saat tidak ada pembicaraan apa pun, bukan hal aneh kalau Anjar terkecoh karena wajah mereka benar-benar mirip. Terlebih bisa-bisanya gaya rambut dan panjang rambut mereka nyaris sama.Selama beberapa saat,
Secepatnya Rivan meletakkan kembali ponsel Salma di tempat semula. Ia duduk di sofa sambil menunggu aplikasi Langit Fiksi terpasang di ponsel miliknya. Selesai memasang, mau tidak mau Rivan harus mendaftar akun lantaran penasaran dengan cerita yang Salma tulis.Terlebih judulnya Love in Contract, b
Meskipun Salma sudah mengatakan pada Rivan kalau dirinya tak ingin berdansa, pada akhirnya ia tetap melakukannya bersama pria itu. Salma tak kuasa menolak saat Rivan langsung membawanya ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan-pasangan lain.Jujur saja, tatapan Rivan itu seolah penuh cinta, p
Sepuluh tahun yang lalu, orangtua Salma dan Nova memutuskan bercerai. Saat itu si kembar masih berusia 17 tahun dan sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun keduanya sempat menolak, pada akhirnya Salma setuju untuk ikut dengan sang ibu meninggalkan Jakarta dan pindah ke Senjaratu. Sedangkan
“Sinting!” gumam Salma dengan nada kesalnya. Ia memang jarang mengikuti berita artis, sekalinya melakukan pencarian dengan keyword Nova Aurelia—saudara kembarnya yang telah sukses menjadi selebritas papan atas, kok bisa kebanyakan beritanya berisi hal-hal negatif semua?Padahal Nova sebentar lagi m







