Partager

Bab 3 - Adegan Panas

Auteur: Aggiacossito
last update Date de publication: 2026-05-12 12:17:05

Di ball room sebuah hotel mewah, musik pengiring pernikahan masih bergema setelah Nova ‘palsu’ alias Salma dan Rivan dinyatakan resmi sebagai suami-istri. Tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan, sedangkan pengantin baru itu berdiri berhadapan.

Pernikahan palsu ini membuat Salma sangat gugup. Bagaimana kalau ketahuan dirinya bukanlah Nova?

“Jangan tegang banget,” bisik Rivan pelan, bisa dipastikan hanya Salma yang mendengarnya.

“A-aku takut ketahuan.”

“Itu sebabnya kita harus meyakinkan mereka,” jawab Rivan. “Wedding kiss.”

Tunggu, apa?

Salma menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Pernikahan ini hanyalah sandiwara, Rivan pun sempat beberapa kali meyakinkannya dengan mengatakan tak akan ada kontak fisik apa pun. Tapi kenapa tiba-tiba ada wedding kiss?

Dengan gerakan tenang, Rivan meraih wajah Salma, mendekatkan diri. Bibir mereka akhirnya bersentuhan dalam sebuah ciuman singkat. Ciuman yang merupakan sebuah formalitas, tapi cukup untuk membuat Salma merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Apa ini ciuman pertamanya?

***

“Kamu marah?” tanya Rivan pada Salma.

Saat ini hanya ada mereka berdua di ruang pengantin. Mereka baru saja mengganti busana pernikahan sekaligus merapikan riasan. Beberapa saat lalu, Rivan sengaja meminta semua yang ada di ruangan seperti MUA, hair stylist, penata busana, crew wedding organizer dan lain-lain agar keluar meninggalkan mereka berdua.

Intinya, hanya boleh ada Salma dan Rivan di ruangan ini.

“Saya tanya, kamu marah?” ulang Rivan.

“Kamu yakin itu pertanyaan? Jelas aku marah. Kita sepakat nggak ada kontak fisik.”

“Ya, itu memang benar kesepakatan kita. Tapi mustahil nge-skip wedding kiss. Untuk itu saya minta maaf.”

Salma tidak menjawab, hanya mengembuskan napas kasar.

“Saya akui memang salah, seharusnya saya bilang dulu,” kata Rivan lagi.

“Terus kenapa nggak bilang?”

“Kamu pasti keberatan kalau saya bilang, tapi saya janji ... itu yang pertama dan terakhir.”

“Aku pegang kata-katamu,” balas Salma.

Jeda selama beberapa saat.

“Ini acaranya sampai jam berapa?” tanya Salma kemudian. “Perasaan udah lama banget, tapi nggak kelar-kelar,” lanjutnya.

“Sekitar satu jam lagi,” jawab Rivan. “Bisa dikatakan resepsinya berjalan lancar, mungkin karena tamunya itu kebanyakan tamu-tamu orangtua saya.”

“Enggak mungkin ada resepsi lagi, kan, setelah hari ini?”

“Adanya after party. Nanti malam. Tamunya spesial dari kenalan-kenalan saya dan Nova. Tamu saya jelas dari kalangan bisnis.”

“Dan tamunya Nova artis-artis, benar?”

Rivan mengangguk-angguk.

“Tapi aku nggak hafal nama artis seratus persen. Kalau ada yang aku lupa namanya, bukankah terlalu aneh? Jadi menurutku lebih baik nggak usah ada after party segala.”

Salma melanjutkan, “Belum lagi kenalan-kenalan yang non-seleb seperti crew film atau staf-staf di manajemen dia, bakal jadi masalah besar karena aku beneran nggak kenal mereka. Serius, sampai di titik ini aja ... aku yakin nggak bisa menjadi Nova. Aku nggak bisa menggantikannya.”

“Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Sebelum kamu cemas seperti sekarang, saya udah lebih dulu memikirkannya.”

Salma kemudian menatap pria yang kini berstatus suami sementaranya. “Maksudnya gimana?”

“Saya udah ngasih statement resmi ke semua tamu yang hadir kalau pasca kecelakaan ... Nova Aurelia mengalami amnesia. Jadi, meskipun kamu terlihat seperti orang bingung, nggak akan ada yang merasa aneh apalagi curiga.”

Rivan masih berbicara, “Manajer kamu udah meneruskan informasi ini ke semua pihak yang terlibat. Intinya kamu sedang berusaha mengingat lagi karena dokter mengatakan amnesia yang kamu alami nggak permanen.”

“Kamu memang gila,” ujar Salma.

“Itu namanya solusi,” balas Rivan. “Pokoknya kamu tenang aja, nanti di after party ... Septi bakalan ikut mendampingi kamu. Sebagai informasi, dia juga nggak tahu kalau kamu bukan Nova.”

Salma mengernyit. “Septi?”

“Ah, kamu belum bertemu dengannya, ya?” tanya Rivan. “Lagian kamu keluarganya Nova bukan, sih? Masa manajernya aja nggak tahu.”

Salma terdiam.

“Pokoknya kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehidupan barumu sebagai Nova Aurelia, selebritas sekaligus istri saya. Ingat, sekarang namamu Nova.”

Rivan kemudian beranjak dari duduknya. “Kalau begitu, mari kita keluar bersama. Para tamu pasti kebingungan jika pelaminan dibiarkan kosong terlalu lama,” ujarnya sambil mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Salma meraih dan menggenggam tangannya.

Salma sempat menatap Rivan selama beberapa saat, sampai akhirnya ia mengizinkan pria itu meraih tangannya.

***

Malam harinya....

Berbeda dengan resepsi yang tamu-tamunya sebagian besar berasal dari orangtua Rivan, untuk after party secara ekslusif hanya akan dihadiri oleh kenalan Nova dan Rivan saja. Bisa dibilang acara mereka yang sebenarnya adalah malam ini karena suasananya lebih santai dan menyenangkan.

“Aku nggak mau dansa,” ucap Salma.

“Kenapa?”

“Aku nggak bisa. Kalaupun bisa, aku tetap nggak mau,” tegas Salma.

Saat ini Salma dan Rivan berada di kamar hotel yang mereka tempati malam ini. Kamar tipe honeymoon suite yang sudah didekorasi sedemikian romantis, tapi sayangnya sia-sia karena pernikahan mereka hanyalah palsu.

Salma sudah memakai riasan yang lebih natural. Bahkan gaun yang dipakainya pun jauh lebih sederhana, tidak seperti saat resepsi tadi siang. Namun, yang pasti gaunnya tetaplah elegan. Begitu juga dengan Rivan yang memakai setelan putih sleek and clean.

Setelah benar-benar siap, Salma dan Rivan menuju rooftop. After party-nya memang dilaksanakan di sana. Beberapa tamu undangan sudah hadir dan langsung menyelamati Salma dan Rivan. Tamu-tamu Nova jelas tidak asing bagi Salma karena mereka dari kalangan selebritas sehingga Salma sedikitnya tahu siapa mereka. Sungguh, Salma tak pernah membayangkan akan ada dalam situasi seperti ini.

“Nah, itu Septi,” ucap Rivan sambil menunjuk seorang wanita yang Salma yakini tak berbeda jauh usianya dengannya.

“Ya ampun, Nova.” Septi langsung berhambur ke pelukan Salma yang ia pikir adalah Nova. “Aku pengen banget peluk kamu semenjak di resepsi, tapi baru bisa sekarang. Kamu bikin aku khawatir banget tahu nggak?”

Pelukan hangat Septi serta kata-kata tulus wanita itu membuat Salma sadar ... meskipun banyak sekali hujatan tanpa alasan yang sering Nova terima, setidaknya orang-orang terdekat adiknya itu baik dan tulus.

“Maaf karena aku bikin kamu khawatir. Terutama maaf karena aku nggak mengingat apa pun,” jawab Salma.

Mereka kemudian saling melepaskan pelukan.

“Enggak usah minta maaf, Nov. Bagiku ... yang penting kamu baik-baik aja sekarang. Soal ingatan, biarkan pulih dengan alami. Enggak usah dipaksa, oke?”

Bersamaan dengan itu, rekan bisnis Rivan datang menyapa. Otomatis pengantin baru itu menyambut dengan hangat. Salma tak bisa memungkiri kalau dirinya mulai terbiasa dengan peran barunya ini.

Setelah ikut menyapa rekan bisnis Rivan, kini Salma berkeliling rooftop untuk menikmati suasana santai dan menyenangkan ini. Salma menyayangkan ... seharusnya Nova yang menjadi ratu di after party ini. Ia sangat berharap agar sang adik segera pulih.

“Nov, itu lawan main kamu di film selanjutnya,” ucap Septi sambil menunjuk arah belakang Salma.

Refleks Salma memutar tubuhnya untuk menyapa seseorang yang Septi tunjuk barusan. Namun, detik berikutnya dunia Salma seakan berhenti karena yang Septi tunjuk adalah seorang pria. Bukan pria biasa, melainkan pria yang pernah mengisi hari-hari Salma sepuluh tahun lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA.

Anjar Adrian....

Salma jelas tahu nama itu. Selain karena Anjar adalah aktor yang bisa dikatakan populer sehingga banyak yang mengenalinya di mana pun termasuk Salma, alasan lainnya adalah ... Anjar adalah cinta pertamanya.

Ya, Anjar itu cinta pertama Salma.

Bisa-bisanya aku hampir lupa kalau Anjar itu artis, jadi bukan hal aneh kalau dia mengenal Nova,” batin Salma. “Bahkan, Septi bilang apa tadi? Lawan main?!”

Sebentar, Salma jadi teringat judul artikel yang sempat ia baca kemarin—Adegan panas dengan Anjar Adrian? Maksudnya, selagi menggantikan Nova ... artinya Salma-lah yang akan beradegan panas dengan sang mantan?

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
nah nah, persis seperti yg aku takutkan, tiba² Salma ketemu kenalan dia. dan ternyata ini lebih dr kenalan. mantan...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
yuhuuuu, Kak Gia..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 14 - Desahan

    Anehnya, dunia seakan berhenti. Salma dan Rivan berpandangan seperti dalam sinetron, bahkan Salma mulai membayangkan adegan tatapan yang sering ditulisnya dalam novel. Seperti inikah rasanya?Serius, momen awkward sungguh tak bisa terhindarkan semenjak Salma mendarat dengan sempurna di pangkuan Rivan. Rivan masih ternganga, begitu juga dengan Salma yang tak menyangka akan ‘kebablasan’ seperti ini. Sungguh, ini memalukan. Hanya saja, meskipun begitu, rasanya sebanding saat melihat raut wajah Intan yang menunjukkan ketidaknyamanan.“Kamu kenapa?” bisik Rivan yang membuat Salma langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah sekitar, hampir semua pengunjung restoran menatap ke arah mereka. Termasuk Septi dan Anjar yang bengong dengan apa yang terjadi.Detik berikutnya, tanpa diduga Rivan mendekatkan wajahnya pada wajah Salma. Hal itu membuat Salma berdebar hebat. Ya ampun!“Beberapa pengunjung merekam kita dengan ponsel mereka, jadi bersikaplah natural selayaknya kita suami-istri,”

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 13 - Mendarat di Pangkuanmu

    Salma yang masih terbatuk-batuk, hanya bisa memberi isyarat menggunakan tangannya kalau dirinya memang baik-baik saja. Meski ia sebetulnya masih belum bisa mengendalikan batuknya yang seolah tak mau berhenti.“Nova kenapa? Tersedak, ya?” tanya Septi yang baru kembali dari toilet. Ia tetap tenang sambil memukul-mukul punggung Salma bagian atas.“Iya. Dia tersedak,” jawab Anjar, yang masih telihat panik.Lagi, Salma memberikan isyarat pada Septi bahwa dirinya baik-baik saja sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan. Perlahan batuknya pun mereda hingga akhirnya sepenuhnya berhenti.“Aku baik-baik aja,” ucap Salma, membuat Septi dan Anjar terlihat lega.“Kamu ini. Bikin aku panik aja.” Septi berkata seraya mengambil posisi duduk.“Aku, kan, udah kasih isyarat. I’m fine. Masa kamu nggak paham?”“Tetep aja, kamu batuknya nggak berhenti-berhenti.”“Hampir aja aku mau ikutan pukul-pukul punggung kamu,” timpal Anjar.“Aku seperti itu gara-gara pertanyaan kamu, Anjar!” batin Salma.Salma hanya

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 12 - Kaget Sekaget-kagetnya

    “Hari ini Pak Rivan sibuk sekali. Bagaimana kalau kita mampir dulu untuk makan siang?” tawar Intan, sekretaris pribadi Rivan.Memang benar hari ini kegiatan Rivan lumayan padat. Sebagai co-owner sekaligus komisaris yang mengelola perusahaan taksi online milik keluarganya bernama Silver Wing, tentu saja Rivan bukanlah orang yang senggang.Pria itu memulai hari dengan meeting online di apartemennya dan dilanjutkan berangkat ke kantor. Melakukan rapat dengan para staf, mengerjakan banyak hal di ruang kerjanya, selanjutnya bertemu orang-orang penting seperti klien dan investor di luar kantor. Seperti beberapa saat yang lalu, Rivan baru saja meeting di kantor klien-nya untuk membicarakan kontrak layanan transportasi.Di usia Rivan yang baru menginjak 32 tahun, bisa dibilang ia mencapai posisi penting di perusahaan berkat privilege orangtuanya. Jika bukan terlahir dari keluarga Antonio yang memang sudah kaya sejak dulu, belum tentu Rivan bisa menduduki kursi co-owner se-pintar apa pun itu.T

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 11 - Mantan Sepuluh Tahun Lalu

    Sepuluh tahun yang lalu....“Sebelum kita berpisah dan nggak akan bertemu lagi, aku mau jujur tentang sesuatu yang selama ini kamu belum tahu. Bukannya nggak mau kasih tahu, tapi waktunya selalu nggak tepat. Ternyata sekarang adalah waktunya,” ucap Salma dengan nada serius.Saat itu, Salma dan Anjar masih memakai seragam SMA yang sama. Mereka masih sangat muda.“Dari tadi terus-terusan bilang kita nggak akan bertemu lagi, padahal belum tentu. Aku termasuk yang percaya red string theory,” balas Anjar.“Serius, An. Aku mau jujur tentang sesuatu yang aku pikir bakal bikin kamu kaget. Kaget banget. Pasti.”“Aku rasa nggak ada yang lebih mengejutkan dari tiba-tiba diputusin hanya karena orangtuamu cerai dan kamu mau pindah ke luar kota,” jawab Anjar. “Sampai detik ini pun aku masih belum sepenuhnya mencerna apa yang kamu katakan. Kita putus? Padahal kita baik-baik aja. Kita bisa menjalin hubungan jarak jauh dan—”“Aku punya saudara kembar dan kami kembar indentik. Kami sangat mirip satu sam

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 10 - Perjanjian Tak Tertulis

    Salma tak menduga kalau dirinya bukan sekadar menggantikan Nova untuk sementara, tapi ada hal lain yang menjadi alasan dirinya melakukan segala kemustahilan ini. Ya, selagi Nova koma, ia berjanji akan menjaga Rivan agar jangan sampai berpaling dari adiknya. Terutama setelah melihat sang sekretaris, membuat Salma sadar kalau dirinya memang ditakdirkan untuk menjalani peran ini.“Se-jelas itu, kan? Kayaknya mulai sekarang kamu harus dengerin saranku deh, Nov. Suruh Pak Rivan ganti sekretaris.”“Aku udah mempertimbangkan itu sejak pertama melihat sekretarisnya nggak banget,” balas Salma.“Wah, serius? Biasanya kamu misuh-misuh lalu bad mood, tapi ujung-ujungnya bilang percaya kalau Pak Rivan itu tahan godaan. Enggak mungkin aneh-aneh, apalagi sekretarisnya itu bukan tipe Pak Rivan.”“Memang benar, Intan itu bukan tipenya Mas Rivan. Kamu lihat sendiri tipenya adalah Nova Aurelia. Tapi tetap aja, yang begitu memang harus disingkirkan, sih. Sekalipun Mas Rivan tahan godaan, tapi bukan berart

  • Terjebak Pernikahan Sementara    Bab 9 - Ada Bibit Pelakor

    “Aku pikir, aku hanya perlu menunggu sampai Nova bangun. Kenyataannya, aku punya tanggung jawab yang lebih besar dari itu,” keluh Salma yang saat ini duduk di samping kursi kemudi.Sedangkan Rivan duduk diam mendengarkan. Mobil yang dikemudikannya juga sudah mulai menjauh meninggalkan kediaman orangtuanya.“Kamu yakin nggak tahu kalau Nova sama Mama Li punya kesepakatan seperti itu? Memberi cucu? Apa-apaan coba?” tambah Salma, masih dengan nada protesnya.Secara fisik, Salma dan Nova memang nyaris sulit dibedakan. Namun, dari cara mereka berbicara ... Rivan bisa membedakannya dengan sangat jelas. Salma itu cukup blak-blakan dan tanpa ragu menunjukkan kemarahannya. Berbeda dengan Nova yang tak jarang berusaha menyembunyikan segalanya.“Aku juga nggak tahu kalau mereka punya kesepakatan seperti itu. Apalagi Nova juga nggak pernah cerita,” balas Rivan.“Lagian apa-apaan, sih, bikin kesepakatan aneh gitu? Sumpah, aku nggak habis pikir sama Nova ... kenapa dia mau?”“Aku nggak bisa memastik

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status