Share

Makan Siang Bersama

Author: Nafelluve
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-20 08:37:45

“Kenapa sih harus aku?”

Clara yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. “Ada apa?”

Hana buru-buru mematikan layar ponselnya. “Tidak ada.”

“Barusan kamu seperti orang yang sedang dimarahi.”

“Bukan dimarahi.”

Clara tersenyum penuh arti. “Tuan Reinald?”

Hana mengerucutkan bibirnya. “Kok kamu tahu?”

“Karena dari tadi cuma dia yang membuatmu kelihatan seperti itu.”

Hana menggeleng. “Dia menyuruhku turun untuk makan siang.”

Clara langsung mengangkat alis. “Berdua? Hanya berdua antara kamu sama Tuan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Perasaan Itu Semakin Tumbuh

    Hana masih duduk di tempatnya ketika Reinald berjalan menjauh. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya, membuat jemarinya yang berada di atas meja bahkan tidak mampu kembali menyentuh keyboard.Hana menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa satu kalimat itu bisa membuat jantungnya berdebar sedemikian keras, seolah-olah dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar.Ia memaksa pandangannya kembali pada layar komputer. Namun huruf-huruf yang tersusun di hadapannya justru tampak semakin kabur karena pikirannya tidak lagi berada di sana.Hana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak seharusnya berharap.Hubungan mereka sejak awal bahkan tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang jelas. Reinald adalah atasannya, sementara dirinya hanya seseorang yang kebetulan masuk ke dalam hidup pria itu setelah serangkaian kejadian yang tidak pernah mereka rencanakan.Tetapi belakangan ini semuanya berubah. Reinald menjemputnya setiap p

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Masih Ada Harapan?

    Hana menatap foto yang tergeletak di atas mejanya. Wajah Reinald di dalam gambar itu terlihat begitu berbeda dari pria yang selama ini ia kenal.Terlihat lebih muda, lebih ringan, dan memiliki senyum yang seolah tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak Hana mengenalnya.Ada sesuatu yang terasa sakit ketika menyadari bahwa senyum itu pernah menjadi milik seseorang dan bukan miliknya.Hana mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Karissa. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di hadapannya, seakan sengaja membiarkan Hana mencerna setiap hal yang baru saja ia tunjukkan.“Aku tidak tahu kenapa kau menunjukkan semua ini padaku.”Karissa tersenyum tipis. “Karena kau perlu tahu bahwa Reinald bukan hanya pria dingin seperti yang mungkin kau lihat sekarang.”“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria dingin.”“Baguslah.” Karissa mengambil kembali foto itu. “Berarti kau sudah mengenalnya cukup jauh.” Nada suaranya terdengar ringan, tetapi justru membuat Hana semakin tidak nyaman.Ka

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Merasa Tersisih

    Hana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Masa Lalu Reinald

    Pagi itu, Hana datang ke kantor seperti biasanya. Namun sejak melangkah melewati pintu utama, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari suasana di dalam gedung tersebut. Meski tidak ada satu pun hal yang terlihat mencolok.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum seperti biasa. Dimas bahkan sempat menyapanya sebelum masuk ke ruang Reinald, sementara Hana hanya membalas dengan anggukan kecil sambil membawa beberapa dokumen yang harus ia serahkan.Ia berhenti di depan pintu ruangan Reinald lalu mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban. Hana kembali mengetuk sebelum akhirnya membuka pintu sedikit dan menemukan Reinald berdiri membelakanginya di dekat jendela.Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sedikit tergulung. Pemandangan tersebut seharusnya tidak lagi membuat Hana memperhatikannya terlalu lama, tetapi entah mengapa beberapa waktu terakhir ia semakin mudah menyadari hal-hal kecil tentang pria itu.“Aku membawa laporan yang kau minta.”Reinald menoleh. Tatapannya

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Mulai Terobsesi

    Hana mengira Dimas datang membawa pekerjaan dari Reinald, tetapi ketika mengangkat wajah, justru mendapati pria itu berdiri sendiri di hadapannya.Reinald tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana selama beberapa detik, membuat Hana mengerutkan kening.“Ada apa? Kenapa tiba-tiba berdiri di situ seperti patung? Ada yang harus aku kerjakan?”“Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu.”Jawaban itu membuat Hana tidak tahu harus menanggapinya dengan serius atau menganggap Reinald sedang bercanda. Namun wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sedang bergurau.“Melihatku untuk apa? Bukankah setiap hari kau juga sudah melihatku?”“Tidak ada alasan khusus sih.”“Lalu kenapa datang?”Reinald menarik kursi di depan meja Hana dan duduk. “Karena dari tadi aku tidak melihatmu. Sekarang biarkan aku melihatmu sampai puas.”Hana menatap jam di sudut layar komputernya. Baru sekitar satu jam mereka tidak bertemu.“Kau tahu kita masih satu kantor, kan?”“Aku tahu kok.”“Dan kau baru

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Aku Tidak Suka!

    Pagi itu, Hana berdiri di depan meja kerjanya sambil merapikan beberapa berkas yang baru saja diterimanya. Suasana kantor belum terlalu ramai, tetapi beberapa karyawan sudah mulai memenuhi ruangan dengan kesibukan masing-masing.Ia baru saja hendak duduk ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Hana.”Hana menoleh dan mendapati Arga berdiri tidak jauh darinya. Pria itu merupakan salah satu karyawan dari divisi pemasaran yang beberapa kali membantunya menyelesaikan pekerjaan sejak Hana mulai bekerja di Wijaya Group.“Pagi, Arga. Ada apa?”“Aku mau mengembalikan berkas yang kemarin aku pinjam. Sekalian kalau kau tidak sibuk, nanti siang aku ingin minta bantuanmu memeriksa proposal.”Hana menerima berkas tersebut sambil tersenyum. “Boleh. Kirim saja ke mejaku nanti, aku akan lihat setelah pekerjaanku selesai.”Arga mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih. Oh, satu lagi. Kemarin kau bilang suka kedai kopi di dekat gedung ini, kan? Aku kebetulan mau beli sebelum rapat. Kalau kau mau—”

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status