Terjebak Pesona Presdir Muda
DewasaDramaBos / CEOPosesifCinta Satu Malam
Demi menyelamatkan nyawa ayahnya, Hana terpaksa mempertaruhkan harga diri dalam sebuah misi yang mengubah hidupnya selamanya. Namun, satu malam yang seharusnya menjadi akhir justru menjadi awal dari takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Josephan Reinald, presdir muda yang dingin, berkarisma, dan nyaris sempurna, tak pernah menyangka perempuan asing yang datang ke hidupnya akan perlahan meruntuhkan dinding yang selama ini ia bangun. Di balik pesona dan kekuasaan yang dimilikinya, tersimpan rahasia yang dapat menghancurkan mereka berdua.
Saat cinta mulai tumbuh, masa lalu kembali datang menagih. Di antara kebohongan, pengorbanan, dan pilihan yang menyakitkan, mampukah mereka mempertahankan cinta yang lahir dari sebuah kesalahan?
閱讀
Chapter: Bertemu LagiPagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj
最後更新: 2026-08-11
Chapter: Orang Suruhan Reinald Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"
最後更新: 2026-07-01
Chapter: Pria Di Dalam MobilHana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak
最後更新: 2026-07-01
Chapter: Siapa Orang Itu?Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb
最後更新: 2026-07-01
Chapter: Salah Kamar?Ting! Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang.Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang?Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk.Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu.Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian.“Ya Tuhan...”Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana.Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca.Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bah
最後更新: 2026-07-01
Chapter: Tidurlah Dengan Tunanganku Beranda rumah sakit terasa begitu sunyi meski lalu-lalang orang tidak pernah benar-benar berhenti. Aroma obat-obatan menusuk hidung, berpadu dengan suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di lorong. Marcelia Hana atau yang akrab disapa Hana, ia masih berdiri mematung di depan ruang perawatan ayahnya. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang sejak beberapa menit lalu menempel di telinga. “Tidurlah dengan tunanganku, Hana.” Suara Bianca terdengar begitu damai, seolah yang sedang mereka bicarakan bukanlah tentang harga diri seseorang. “Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.” Suara Hana melemah. Ia memejamkan mata, membayangkan hal yang diminta oleh sahabatnya itu. “Aku akan membayar seluruh biaya operasi ayahmu kalau kau berhasil menggagalkan pertunanganku.” “Tapi, Bi...” Hana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada dua suara yang saling bertarung di dalam kepalanya. Sejak kecil, sang ayah selalu mengajarkannya bahwa kehormatan
最後更新: 2026-07-01