LOGINDemi menyelamatkan nyawa ayahnya, Hana terpaksa mempertaruhkan harga diri dalam sebuah misi yang mengubah hidupnya selamanya. Namun, satu malam yang seharusnya menjadi akhir justru menjadi awal dari takdir yang tak pernah ia bayangkan. Josephan Reinald, presdir muda yang dingin, berkarisma, dan nyaris sempurna, tak pernah menyangka perempuan asing yang datang ke hidupnya akan perlahan meruntuhkan dinding yang selama ini ia bangun. Di balik pesona dan kekuasaan yang dimilikinya, tersimpan rahasia yang dapat menghancurkan mereka berdua. Saat cinta mulai tumbuh, masa lalu kembali datang menagih. Di antara kebohongan, pengorbanan, dan pilihan yang menyakitkan, mampukah mereka mempertahankan cinta yang lahir dari sebuah kesalahan?
View MoreBeranda rumah sakit terasa begitu sunyi meski lalu-lalang orang tidak pernah benar-benar berhenti. Aroma obat-obatan menusuk hidung, berpadu dengan suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di lorong.
Marcelia Hana atau yang akrab disapa Hana, ia masih berdiri mematung di depan ruang perawatan ayahnya. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang sejak beberapa menit lalu menempel di telinga. “Tidurlah dengan tunanganku, Hana.” Suara Bianca terdengar begitu damai, seolah yang sedang mereka bicarakan bukanlah tentang harga diri seseorang. “Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.” Suara Hana melemah. Ia memejamkan mata, membayangkan hal yang diminta oleh sahabatnya itu. “Aku akan membayar seluruh biaya operasi ayahmu kalau kau berhasil menggagalkan pertunanganku.” “Tapi, Bi...” Hana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada dua suara yang saling bertarung di dalam kepalanya. Sejak kecil, sang ayah selalu mengajarkannya bahwa kehormatan seorang perempuan adalah sesuatu yang harus dijaga. Uang bisa dicari kembali, tetapi harga diri yang hilang tidak akan pernah benar-benar bisa kembali. Karena itulah, selama ini Hana selalu memandang rendah perempuan yang rela menjual dirinya demi uang. Bukan karena membenci mereka, melainkan karena ia percaya setiap orang pasti masih memiliki pilihan. Namun kini kenyataan seolah menertawakannya. Ternyata tidak semua orang benar-benar memiliki pilihan. Hana menatap ke balik kaca ruang rawat inap. Seorang lelaki paruh baya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya semakin pucat dari hari ke hari. Selang infus terpasang di punggung tangannya, sementara alat pemantau detak jantung terus berbunyi pelan. Dokter mengatakan operasi harus segera dilakukan. Jika terus ditunda, kemungkinan ayahnya untuk bertahan hidup akan semakin kecil. Air mata Hana jatuh begitu saja. Ia hanya memiliki sang ayah. Ibunya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, hanya sang ayah yang menjadi tempatnya pulang. Apa gunanya mempertahankan prinsip jika pada akhirnya ia harus kehilangan satu-satunya keluarga yang masih tersisa? “Hana, pokoknya ini tawaran terakhir dariku. Kamu bebas berbuat apa saja sama dia, yang penting pertunangan itu gagal. Setelahnya, aku akan langsung transfer uangnya ke kamu. Aku kasih bonus juga nanti.” Kabarnya, Bianca menolak perjodohan itu karena pria yang dijodohkan itu adalah pria tua yang telah beristri. Jelas, Bianca lebih memilih tetap bersama kekasih berondongnya. Air mata tak bisa berhenti mengalir membasahi wajah cantik Hana. Mencari uang sebanyak itu dalam waktu sekejap, itu jelas tidak mungkin. Hana mengusap pipinya kasar. “Baiklah. Aku akan melakukannya.” Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Senyum puas seolah dapat ia rasakan dari balik sambungan telepon. “Bagus. Datang ke Apartemen Arunika pukul delapan malam. Kamar nomor 6009.” “6009?” “Iya. Jangan sampai salah kamar.” Sambungan telepon itu pun terputus. Hana menurunkan ponselnya perlahan. Pandangannya kembali tertuju pada sang ayah. “Maafkan Hana, Ayah,” lirihnya. –– Malam itu, Hana berdiri gugup di depan sebuah kamar yang alamatnya telah Bianca berikan beberapa jam lalu. Tangannya terangkat, tetapi berhenti sesaat sebelum menyentuh pintu. Hana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang sejak tadi berdetak tak beraturan. Tok. Tok. Hana mengernyit. Bianca bilang pria itu berada di dalam kamar. Lantas, mengapa tidak ada suara sedikit pun? Setelah menimbang beberapa detik, Hana perlahan menyentuh gagang pintu. Klik. "Permisi?" Ia mendorong pintu sedikit lebih lebar dan melangkah masuk dengan hati-hati. Baru satu langkah, aroma alkohol yang begitu pekat langsung menyerbu penciumannya. Bau menyengat itu bercampur dengan aroma parfum maskulin yang tertinggal di udara. Hana spontan mengernyit. Kepalanya terasa sedikit pening. Ruangan tersebut hampir sepenuhnya gelap. Hanya sebuah lampu tidur di sudut kamar yang menyala redup, meninggalkan bayangan panjang pada dinding dan perabotan di sekitarnya. Hana menelan ludah. Suasana ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. "Permisi," panggilnya sekali lagi. Kali ini, sebuah suara terdengar dari balik kegelapan. "Jadi ... kau yang mereka kirim untuk menghancurkanku?" Hana membeku. Suara pria itu berat dan serak. Ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Meskipun pengucapannya terdengar sedikit kacau, seolah kesadarannya tengah dikaburkan oleh alkohol. "Maaf ... saya tidak bermaksud—" Hana belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sebuah bayangan bergerak dari sofa di sisi ruangan. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit goyah. Namun, entah karena pengaruh alkohol atau sesuatu yang lain, gerakannya tetap terasa mengancam. Hana terus memundurkan langkahnya sampai punggungnya membentur dinding. Brak! Tubuhnya menegang. Pria itu mengangkat satu tangan dan menahannya di dinding, tepat di samping kepala Hana. Hana mendongakkan kepala ketika jarak mereka begitu dekat. Di bawah cahaya lampu yang remang, Hana akhirnya dapat melihat wajah pria itu dengan lebih jelas. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja gelap yang dikenakannya tampak kusut, dan beberapa kancing bagian atas terbuka. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam, meskipun kedua matanya tampak berat dan kehilangan fokus. "T-Tuan..." Hana berusaha untuk bicara. "Maaf, saya—" Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru terus mengamati Hana, seakan sedang berusaha mengenali seseorang yang telah lama menjadi bagian dari mimpi buruknya. Hana semakin gugup. Jadi... ini pria yang akan dijodohkan dengan Bianca? Tidak heran Bianca begitu keras menolak perjodohan tersebut. Baru berhadapan beberapa detik saja, Hana sudah merasa sulit bernapas karena tekanan dari pria ini. Namun, ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Bukankah Bianca pernah mengatakan bahwa pria yang dijodohkan dengannya adalah seorang pria tua yang bahkan telah memiliki istri? Hana diam-diam memperhatikan wajah di hadapannya. Pria ini jelas tidak terlihat tua. Jika dilihat dari postur tubuh, suara, serta wajahnya, usianya bahkan mungkin masih terbilang muda. Lalu, mengapa Bianca menggambarkannya seperti itu? Sebelum Hana sempat menemukan jawabannya, pria tersebut tiba-tiba menundukkan wajah. "Sebelum kau menghancurkanku..." bisiknya tepat di depan wajah Hana. "Aku yang akan menghancurkanmu lebih dulu." Dada Hana terasa sesak. "Apa maksudnya, Tuan?" Tangan pria itu tiba-tiba bergerak dan mencengkeram tengkuk Hana. Hana membelalak. "Tunggu—" Kalimatnya terputus. Dalam sekejap, bibir pria itu menekan bibirnya. "Mmh...!" Pikiran Hana seketika kosong. Ia membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan refleks mendorong dada pria itu. Namun, tubuh pria itu nyaris tidak bergeser sedikit pun. Hana kembali mendorongnya dengan tenaga yang lebih besar. Tetap tidak berhasil. Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya seakan dipenuhi suara dentuman. Panik menjalar ke seluruh tubuhnya ketika ia menyadari bahwa pria di hadapannya sama sekali tidak sedang bertindak seperti seseorang yang mengenalnya. Dan yang lebih mengerikan, tatapan pria itu seolah mengatakan bahwa Hana bukanlah orang yang salah masuk kamar. Ia memang seseorang yang sejak awal telah ditunggunya.Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj
Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"
Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak
Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.