Terjebak Pesona Presdir Muda

Terjebak Pesona Presdir Muda

last updateLast Updated : 2026-08-11
By:  NafelluveUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan nyawa ayahnya, Hana terpaksa mempertaruhkan harga diri dalam sebuah misi yang mengubah hidupnya selamanya. Namun, satu malam yang seharusnya menjadi akhir justru menjadi awal dari takdir yang tak pernah ia bayangkan. Josephan Reinald, presdir muda yang dingin, berkarisma, dan nyaris sempurna, tak pernah menyangka perempuan asing yang datang ke hidupnya akan perlahan meruntuhkan dinding yang selama ini ia bangun. Di balik pesona dan kekuasaan yang dimilikinya, tersimpan rahasia yang dapat menghancurkan mereka berdua. Saat cinta mulai tumbuh, masa lalu kembali datang menagih. Di antara kebohongan, pengorbanan, dan pilihan yang menyakitkan, mampukah mereka mempertahankan cinta yang lahir dari sebuah kesalahan?

View More

Chapter 1

Tidurlah Dengan Tunanganku

Beranda rumah sakit terasa begitu sunyi meski lalu-lalang orang tidak pernah benar-benar berhenti. Aroma obat-obatan menusuk hidung, berpadu dengan suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di lorong.

Marcelia Hana atau yang akrab disapa Hana, ia masih berdiri mematung di depan ruang perawatan ayahnya. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang sejak beberapa menit lalu menempel di telinga.

“Tidurlah dengan tunanganku, Hana.”

Suara Bianca terdengar begitu damai, seolah yang sedang mereka bicarakan bukanlah tentang harga diri seseorang.

“Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.” Suara Hana melemah. Ia memejamkan mata, membayangkan hal yang diminta oleh sahabatnya itu.

“Aku akan membayar seluruh biaya operasi ayahmu kalau kau berhasil menggagalkan pertunanganku.”

“Tapi, Bi...” Hana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada dua suara yang saling bertarung di dalam kepalanya.

Sejak kecil, sang ayah selalu mengajarkannya bahwa kehormatan seorang perempuan adalah sesuatu yang harus dijaga. Uang bisa dicari kembali, tetapi harga diri yang hilang tidak akan pernah benar-benar bisa kembali.

Karena itulah, selama ini Hana selalu memandang rendah perempuan yang rela menjual dirinya demi uang. Bukan karena membenci mereka, melainkan karena ia percaya setiap orang pasti masih memiliki pilihan.

Namun kini kenyataan seolah menertawakannya. Ternyata tidak semua orang benar-benar memiliki pilihan.

Hana menatap ke balik kaca ruang rawat inap. Seorang lelaki paruh baya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya semakin pucat dari hari ke hari. Selang infus terpasang di punggung tangannya, sementara alat pemantau detak jantung terus berbunyi pelan.

Dokter mengatakan operasi harus segera dilakukan. Jika terus ditunda, kemungkinan ayahnya untuk bertahan hidup akan semakin kecil.

Air mata Hana jatuh begitu saja. Ia hanya memiliki sang ayah. Ibunya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, hanya sang ayah yang menjadi tempatnya pulang.

Apa gunanya mempertahankan prinsip jika pada akhirnya ia harus kehilangan satu-satunya keluarga yang masih tersisa?

“Hana, pokoknya ini tawaran terakhir dariku. Kamu bebas berbuat apa saja sama dia, yang penting pertunangan itu gagal. Setelahnya, aku akan langsung transfer uangnya ke kamu. Aku kasih bonus juga nanti.”

Kabarnya, Bianca menolak perjodohan itu karena pria yang dijodohkan itu adalah pria tua yang telah beristri. Jelas, Bianca lebih memilih tetap bersama kekasih berondongnya.

Air mata tak bisa berhenti mengalir membasahi wajah cantik Hana. Mencari uang sebanyak itu dalam waktu sekejap, itu jelas tidak mungkin.

Hana mengusap pipinya kasar. “Baiklah. Aku akan melakukannya.” Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Senyum puas seolah dapat ia rasakan dari balik sambungan telepon.

“Bagus. Datang ke Apartemen Arunika pukul delapan malam. Kamar nomor 6009.”

“6009?”

“Iya. Jangan sampai salah kamar.”

Sambungan telepon itu pun terputus. Hana menurunkan ponselnya perlahan. Pandangannya kembali tertuju pada sang ayah.

“Maafkan Hana, Ayah,” lirihnya.

––

Malam itu, Hana berdiri gugup di depan sebuah kamar yang alamatnya telah Bianca berikan beberapa jam lalu.

Tangannya terangkat, tetapi berhenti sesaat sebelum menyentuh pintu. Hana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang sejak tadi berdetak tak beraturan.

Tok. Tok.

Hana mengernyit. Bianca bilang pria itu berada di dalam kamar. Lantas, mengapa tidak ada suara sedikit pun?

Setelah menimbang beberapa detik, Hana perlahan menyentuh gagang pintu.

Klik.

"Permisi?"

Ia mendorong pintu sedikit lebih lebar dan melangkah masuk dengan hati-hati. Baru satu langkah, aroma alkohol yang begitu pekat langsung menyerbu penciumannya. Bau menyengat itu bercampur dengan aroma parfum maskulin yang tertinggal di udara.

Hana spontan mengernyit. Kepalanya terasa sedikit pening. Ruangan tersebut hampir sepenuhnya gelap. Hanya sebuah lampu tidur di sudut kamar yang menyala redup, meninggalkan bayangan panjang pada dinding dan perabotan di sekitarnya.

Hana menelan ludah. Suasana ini sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. "Permisi," panggilnya sekali lagi.

Kali ini, sebuah suara terdengar dari balik kegelapan. "Jadi ... kau yang mereka kirim untuk menghancurkanku?"

Hana membeku. Suara pria itu berat dan serak. Ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Meskipun pengucapannya terdengar sedikit kacau, seolah kesadarannya tengah dikaburkan oleh alkohol.

"Maaf ... saya tidak bermaksud—"

Hana belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sebuah bayangan bergerak dari sofa di sisi ruangan.

Pria itu berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit goyah. Namun, entah karena pengaruh alkohol atau sesuatu yang lain, gerakannya tetap terasa mengancam.

Hana terus memundurkan langkahnya sampai punggungnya membentur dinding.

Brak!

Tubuhnya menegang. Pria itu mengangkat satu tangan dan menahannya di dinding, tepat di samping kepala Hana.

Hana mendongakkan kepala ketika jarak mereka begitu dekat. Di bawah cahaya lampu yang remang, Hana akhirnya dapat melihat wajah pria itu dengan lebih jelas.

Rambutnya sedikit berantakan, kemeja gelap yang dikenakannya tampak kusut, dan beberapa kancing bagian atas terbuka. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam, meskipun kedua matanya tampak berat dan kehilangan fokus.

"T-Tuan..." Hana berusaha untuk bicara. "Maaf, saya—"

Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru terus mengamati Hana, seakan sedang berusaha mengenali seseorang yang telah lama menjadi bagian dari mimpi buruknya.

Hana semakin gugup. Jadi... ini pria yang akan dijodohkan dengan Bianca?

Tidak heran Bianca begitu keras menolak perjodohan tersebut. Baru berhadapan beberapa detik saja, Hana sudah merasa sulit bernapas karena tekanan dari pria ini.

Namun, ada satu hal yang mengganjal pikirannya.

Bukankah Bianca pernah mengatakan bahwa pria yang dijodohkan dengannya adalah seorang pria tua yang bahkan telah memiliki istri?

Hana diam-diam memperhatikan wajah di hadapannya. Pria ini jelas tidak terlihat tua. Jika dilihat dari postur tubuh, suara, serta wajahnya, usianya bahkan mungkin masih terbilang muda.

Lalu, mengapa Bianca menggambarkannya seperti itu?

Sebelum Hana sempat menemukan jawabannya, pria tersebut tiba-tiba menundukkan wajah.

"Sebelum kau menghancurkanku..." bisiknya tepat di depan wajah Hana. "Aku yang akan menghancurkanmu lebih dulu."

Dada Hana terasa sesak. "Apa maksudnya, Tuan?"

Tangan pria itu tiba-tiba bergerak dan mencengkeram tengkuk Hana.

Hana membelalak. "Tunggu—" Kalimatnya terputus. Dalam sekejap, bibir pria itu menekan bibirnya.

"Mmh...!"

Pikiran Hana seketika kosong. Ia membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan refleks mendorong dada pria itu. Namun, tubuh pria itu nyaris tidak bergeser sedikit pun.

Hana kembali mendorongnya dengan tenaga yang lebih besar. Tetap tidak berhasil. Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya seakan dipenuhi suara dentuman.

Panik menjalar ke seluruh tubuhnya ketika ia menyadari bahwa pria di hadapannya sama sekali tidak sedang bertindak seperti seseorang yang mengenalnya.

Dan yang lebih mengerikan, tatapan pria itu seolah mengatakan bahwa Hana bukanlah orang yang salah masuk kamar. Ia memang seseorang yang sejak awal telah ditunggunya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status