MasukAku tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi begitu menyenangkan.
Awalnya aku hanya berdiri di dekat meja bersama beberapa tamu, berusaha mengikuti percakapan yang sebagian besar tidak kupahami.
Namun setelah beberapa saat, aku mulai menikmatinya.
Musik yang dimainkan begitu indah.
Lampu-lampu di ruangan itu membuat semuanya terlihat seperti adegan dari film.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
aku merasa benar-benar bebas.
Aku tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi begitu menyenangkan.Awalnya aku hanya berdiri di dekat meja bersama beberapa tamu, berusaha mengikuti percakapan yang sebagian besar tidak kupahami.Namun setelah beberapa saat, aku mulai menikmatinya.Musik yang dimainkan begitu indah.Lampu-lampu di ruangan itu membuat semuanya terlihat seperti adegan dari film.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...aku merasa benar-benar bebas."May I?"Aku menoleh.Seorang pria berdiri di hadapanku sambil mengulurkan tangannya.Aku sempat melihat ke arah Mattheo.Ia masih sibuk berbicara dengan beberapa pria di sisi lain ruangan.Aku kembali menatap pria di hadapanku."Untuk berdansa?"Ia mengangguk.Aku tersenyum."Baiklah."Tanganku menyambut uluran tangannya.Kami berjalan menuju lantai dansa.Aku tidak tahu siapa dia.Dan jujur saja, aku ti
Malam itu London terlihat berbeda.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil yang kami tumpangi, sementara gedung tempat acara berlangsung sudah terlihat dari kejauhan. Barisan mobil mewah memenuhi area depan gedung. Para tamu datang silih berganti, sebagian besar ditemani pengawal, asisten, atau pasangan mereka.Aku mengenali beberapa wajah.Pebisnis.Investor.Pemilik galeri.Orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam dunia seni dan pendidikan.Malam ini bukan sekadar acara peringatan.Bagi kami, ini adalah kesempatan.Kesempatan untuk membuka pintu yang selama ini tertutup bagi Akademi Bellucci.Aku menoleh ke samping.Evelyn sedang melihat ke luar jendela.Sejak tadi ia terlihat tenang.Terlalu tenang.Aku tahu dia sebenarnya gugup.Tangannya beberapa kali merapikan bagian gaunnya meskipun tidak ada yang salah."Berhenti."Ia menoleh."Apa?""Jan
Sejak kejadian di pesawat itu, ada satu masalah yang tidak bisa kuabaikan.Aku tidak bisa berhenti memikirkan Evelyn.Bukan hanya tentang bagaimana ia terjatuh ke pangkuanku.Bukan pula tentang wajahnya yang memerah setelah menyadari posisi kami.Melainkan tentang bagaimana tubuhku bereaksi saat itu.Aku sudah mengenal banyak perempuan sepanjang hidupku.Aku tahu bagaimana mengendalikan diri.Aku tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh.Namun Evelyn...Ia berbeda.Dan sejak kejadian itu, pikiranku menjadi kacau.Aku bahkan masih bisa mengingat jelas bagaimana tubuhnya menabrakku ketika pesawat mengalami turbulensi.Bagaimana ia panik.Bagaimana ia menyebut namaku dengan suara gagap.D
Akhirnya...Kami sampai di London.Begitu roda pesawat menyentuh landasan, aku spontan menoleh ke luar jendela.Langit London terlihat sedikit kelabu.Berbeda dengan Italia.Namun entah kenapa, aku sangat senang."Yeay....London."Mattheo yang duduk di sebelahku menoleh."Aku sudah lama tidak ke sini.""Kapan terakhir kali?"Aku berpikir sebentar."Beberapa tahun lalu.""Lalu?"Aku menunjuk ke luar jendela."Aku selalu menyukai kota ini."Mattheo hanya mengangguk.Pesawat perlahan bergerak menuju area parkir pribadi.Aku memperhatikan segala sesuatu dari balik jendela seperti seorang anak kecil yang baru pertama kali bepergian.Beberapa kendaraan hitam sudah menunggu.Begitu pesawat berhenti sempurna, para staf mulai bersiap.Aku melepas sabuk pengaman."Sudah?"Mattheo mengangguk.Aku berdiri.Namun sebelum keluar, aku tiba-tiba teringat sesuatu."Mattheo.""Hmm?""Terima kasih."Ia menatapku."Untuk apa?""Mengajakku."Ia diam sebentar.Kemudian menjawab singkat."Sama-sama."Aku te
Aku masih duduk di pangkuannya.Dan Mattheo masih memegang pinggangku.Entah kenapa tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.Pesawat kembali berguncang pelan.Namun kali ini aku tidak lagi memikirkan turbulensi.Aku justru terlalu sadar dengan jarak kami yang begitu dekat.Mattheo menatapku.Tatapannya berbeda.Lebih dalam.Lebih sulit kubaca.Kemudian wajahnya perlahan mendekat.Aku langsung menahan napas.Jantungku seperti ingin keluar dari dada."Mattheo...""Hmm?"Wajahnya semakin dekat.Aku menelan ludah."K-kau mmau ap-apaa..."Entah kenapa suaraku justru terdengar seperti orang gagap.Sudut bibirnya sedikit terangkat."Apa?""Kau..."Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat.Jarak kami hanya tinggal beberapa sentimeter.Aku bahkan bisa merasakan hangat napasnya.Matanya turun sebentar ke bibirku.Dan refleks...aku menutup mata.Ya Tuhan.Apa yang sedang kulakukan?Kenapa aku menutup mata?Apa aku benar-benar berharap ia menciumku?Aku bahkan tidak sempat menemukan jawabannya.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.Sejujurnya, aku masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa aku akan pergi ke London bersama Mattheo.Semuanya terasa terlalu mendadak.Kemarin kami baru saja kembali bertemu setelah dua bulan.Dan sekarang...Aku sudah berdiri di parkiran.Dan menatap sekeliling.Tidak ada gedung bandara.Tidak ada antrean penumpang.Tidak ada suara pengumuman keberangkatan.Bahkan tidak ada satu pun pesawat komersial yang terlihat.Aku menoleh kepada Mattheo yang berjalan beberapa langkah di depanku."Tunggu."Ia berhenti.Aku menghampirinya."Di mana bandaranya?"Mattheo menatapku."Bandara?""Iya."Ia mengangkat salah satu alisnya."Kau mengira kita akan naik pesawat komersial?"Aku mengerutkan kening."Memangnya tidak?""Kenapa harus?"Aku terdiam."Karena... biasanya orang pergi ke London







