Share

62. Adalah Pokoknya

Penulis: Henny Djayadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 18:55:31

Mita tersenyum canggung. Ia membiarkan tatapannya jatuh ke layar ponsel sebentar, lalu naik lagi.

Perhatian yang gara berikan sebenarnya sangat sederhana. hanya sebuah tanya, sebuah upaya untuk memastikan.

Namun, bagi Mita, kesederhanaan itu terasa menyesakkan. Hal-hal kecil seperti ini dulu ia emis dari Pram, namun suaminya itu selalu punya cara untuk datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali.

Ironi itu terasa seperti empedu di lidah, kenyamanan yang ia dambakan selama bertahun-tahun justru diberikan oleh sosok yang paling tidak mungkin.

Asisten pribadinya.

Anak dari perempuan yang merusak rumah tangganya.

“Kami aman,” suara Mita akhirnya pecah, nyaris berbisik. Ia mengangguk pelan, bukan untuk Gara, melainkan untuk meyakinkan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan. “Aku dan Sam baik-baik saja.”

“Syukurlah,” jawab Gara singkat.

Suaranya berat, membawa getaran yang entah mengapa membuat Mita merasa terlindungi sekaligus terancam.

Mita menarik napas panjang, m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
duh ..setiap baca novel ini..selalu terasa ikut didalamnya seperti roller coaster...oke Gara setuju denganmu.andai dunia melarangmu menyintai Mita.semangat kalau kamu akan menentangnya..selamat berjuang Sagara kesayanganku
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   74. Sendiri

    Langkah Amara terasa berat, seolah setiap inci lantai marmer itu berusaha mengisap sisa tenaga yang ia miliki.Fisik perempuan yang sedang hamil terlihat lelah, namun psikisnya jauh lebih hancur, tercabik antara rasa bersalah dan rahasia yang kian menghimpit. Dalam kegelapan ruang tamu, ia hanya ingin merebahkan diri dan menghilang.Klik.Cahaya lampu ruang tengah menyala tiba-tiba, menusuk matanya yang sembap. Amara tersentak, jantungnya berpacu liar saat menangkap siluet pria yang duduk tegak di sofa tunggal. Gara. Putranya itu duduk di sana layaknya seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis."Dari mana Mama jam segini?"Suara Gara datar, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan. Ia tidak beranjak, hanya tatapannya yang mengunci Amara, dingin dan penuh penghakiman yang tak terucap."Mama... hanya mencari udara segar, Gar," jawab Amara terbata, jemarinya tanpa sadar meremas ujung blusnya yang kusut.Gara berdiri, langkah kakinya mendekat dengan ritme yang mengintimid

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   73. Fatamorgana

    Pram menatap ruang tamu yang mendadak terasa asing. Keheningan di rumah itu biasanya adalah bentuk kepatuhan Mita yang menenangkan, namun kini keheningan itu terasa seperti jerat yang mencekik lehernya.Jika melihat perubahan sikap Mita askhir-akhir ini, langkah yang diambil Mita tidak mengejutkan. Pram tahu istrinya bukan wanita bodoh, namun akan sejauh ini.Selama bertahun-tahun, Pram memelihara kejumawaan di bawah atap ini. Ia yakin Mita akan selalu patuh nurut dengan titahnya. Namun, satu pemberontakan dingin dari Mita ternyata cukup untuk meruntuhkan kesombongannya."Untuk saat ini, tidak banyak yang bisa kulakukan," suara Pram terdengar parau, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri. "Aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk sidang pertama."Amara, yang duduk di seberangnya, langsung menajamkan tatapan. Mereka beradu pandang, bukan lagi dengan binar asmara seperti biasanya, melainkan dengan perhitungan untung rugi yang tidak boleh salah."Mita sudah menguras semua hartamu,

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   72. Yang Tersisa

    Udara di dalam kabin mobil terasa menipis, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru Amara. Jari-jarinya gemetar hebat saat kunci mobil itu berdenting menghantam dashboard. Bayangan wajah Mita yang sedingin es dan tatapan Samudra yang menghakimi masih menari-nari di pelupuk matanya."Pram harus tahu," bisiknya pada kekosongan. Suaranya serak, nyaris pecah oleh beban ketakutan yang menggunung. "Aku tidak bisa membiarkan Mita menghancurkan segalanya. Tidak sekarang."Amara mengelus perutnya yang masih rata. Di sana ada nyawa yang ia jadikan tameng sekaligus senjata. Pram bukan sekadar kekasih gelapnya selama dua tahun ini, Pram adalah asuransi masa depannya.Setelah Gara dewasa, aliran dana dari Sadewa akan mengering. Ia tak sudi membayangkan masa tua di mana ia harus menengadahkan tangan pada putranya sendiri demi selembar rupiah.Pram adalah tiket bagi Amara menuju kenyamanan abadi. Pram harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya beserta masa depan mereka, apa pun risikonya.

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   71. Pertemuan

    Malam itu, di antara rak-rak yang menjulang terasa menyempit. Udara malam terasa semakin tipis, seolah oksigen direnggut paksa oleh kehadiran mereka bertiga.Mita, yang biasanya adalah sosok yang penuh kehangatan dan tawa renyah, kini berdiri kaku. Wajahnya terlihat beku, tanpa ekspresi, seolah-olah Amara hanyalah orang asing yang kebetulan menghalangi jalannya.Amara mencoba menarik sudut bibirnya, memaksakan sebuah senyum yang terasa seperti luka robek di wajahnya. Namun, saat matanya beradu dengan sepasang netra tajam milik Samudra yang berdiri di samping Mita, senyum itu raib tanpa bekas.Ada kilat kebencian yang murni di mata remaja itu. Amara teringat siluet Samudra yang beberapa kali tertangkap matanya di lorong hotel saat ia bersama Pram. Dulu, ia mengira itu hanya kebetulan. Kini, ia sadar, Samudra adalah saksi nyata yang mengumpulkan setiap kepingan dosa papanya."Mit..." Suara Amara bergetar, nyaris tertelan deru napasnya sendiri.Mita tak segera menjawab. Ia mengatur napas

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   70. Kasmaran

    "Kamu sadar beda usia kalian jauh, Gara? Di matanya, kamu itu cuma anak kecil yang sedang butuh pengakuan!"Suara Bimo memecah keheningan ruangan, tajam dan menghakimi. Gara tidak bergeming, namun rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang seperti senar gitar yang hampir putus.“Kenapa semua orang picik dan hanya mempermasalahkan angka?" desis Gara. Suaranya rendah, namun sarat dengan kemarahan yang tertahan. “Aku yang bersamanya saat dia menangis, menemaninya saat jatuh! Bukan suaminya yang brengsek itu.”Bimo menggeleng-gelengkan kepala, menatap Gara dengan rasa kasihan yang merendahkan. “Logikamu sudah hilang, Gar. Sepertinya kamu sedang mabuk.”“Apa salahnya aku mencintai Tante Mita?” tanya Gara cepat, suaranya naik satu oktav. “Aku lelaki. Dia perempuan. Tidak ada kodrat yang aku langgar. Apa cinta punya masa kedaluwarsa hanya karena tanggal lahir?”“Aku tidak bilang itu salah secara hukum, tapi kita harus realistis! Kamu ingin bekerja di luar Sadewa hanya karena in

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   69. Bocah Gemblung

    Malam merayap turun dengan angkuh, menyisakan bau tanah basah dan aspal yang mengilap di depan teras rumah Dian.Di dalam kabin mobil yang senyap, Gara masih mencengkeram kemudi. Napasnya berat, beradu dengan detak jam di dasbor. Di kursi penumpang, sebuah bingkisan kecil tergeletak, dibungkus kertas kado warna gading yang licin dan rapi.Isinya sepotong pakaian bayi berwarna putih bersih, selembut awan. Sebuah kontras yang menyakitkan bagi tangan Gara yang kasar, tangan yang lebih akrab dengan gesekan cetak biru dan debu semen daripada serat katun premium.Bagi Gara, kado itu bukan sekadar hadiah, itu adalah simbol dari dunia yang ingin ia masuki, namun terasa begitu jauh dari jangkauannya.Pintu terbuka bahkan sebelum Gara mengetuk. Bimo berdiri di sana dengan sorot mata yang sulit dibaca."Masuk," sapa Bimo datar. "Sudah dapat rumah untuk Mita?"Gara mengangguk, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di wajahnya yang lelah. Ia menyodorkan bingkisan itu."Untuk Arsen.""Dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status