MasukMeyra membelalak kaget, tubuhnya menyentak. "M-mas, tunggu—"Namun Glen tak mendengarkan. Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke antara paha Meyra yang terbuka. Nafas hangatnya menyentuh kulit sensitif di sana.Dan kemudian, Glen menyerang dengan sebuah jilatan lembut, tepat pada bagian paling sensitif Meyra."Ahh, m-mas!" Meyra refleks mengerang, punggungnya melengkung. Kedua tangannya mencengkeram erat seprei, mencoba mencari pegangan di tengah gelombang sensasi yang tiba-tiba itu.Sentuhan Glen semakin membuat Meyra menggeliat. Seperti ada sengatan listrik yang merambat ke seluruh tubuhnya, mengalir dari titik sentuhan Glen hingga ke ujung jari kaki dan rambutnya.Tubuh Meyra semakin memanas. Wajahnya merona karena lidah Glen bergerak semakin liar dan terampil di dalam dirinya.Hingga tak lama kemudian. Meyra tak kuasa menahan desahan yang terus mendesak keluar saat dia mencapai puncak pelepasan yang mengguncang."Aahh!"Gelombang kenikmatan menerjang, membuat kakinya gemetar. Cairan
Usai ciuman sekilas itu terlepas, Evan masih menatap Meyra. Namun, matanya terbuka setengah, pandangan kosong dan berkabut. Entah ia benar-benar sadar atau tidak dengan apa yang barusan dilakukannya."Kamu sendiri banyak bicara, berisik. Erina lebih manis dan kalem," gumamnya dengan suara parau, seperti mengigau.Meyra yang masih terpaku dalam kejutan akhirnya tersadar. Amarah yang mendidih tiba-tiba meledak. Dia langsung mendorong tubuh Evan yang lemas menjauh darinya.Meyra refleks berdiri. Dan satu tangannya sudah terangkat dan melayang, mendarat dengan keras di pipi Evan.Plak!"Buat apa dia cium-cium aku kalau masih dibandingin sama Erina?!" geram Meyra dengan wajah yang memerah campuran antara malu, jijik, dan kesal yang membara.Namun Evan tak menjawab. Dia hanya terdiam dengan tubuh sedikit oleng ke sisi bangku.Pria itu bahkan tak bergerak, dan malah tertidur pulas. Tak peduli dengan tamparan atau teriakan yang baru saja diterimanya.Meyra semakin kesal, merasa dipermainkan.
Evan melangkah keluar dari ruangan dengan helaan napas panjang yang penuh frustrasi.Meyra yang menunggu di lorong segera mendekat saat melihat suaminya muncul. "Gimana, Mas? Kamu ngobrol apa aja?"Namun Evan sama sekali tak menjawab dan tetap fokus menatap ke depan."Ayo pulang," ucapnya singkat, terdengar ketus. Dia melangkah menuju lift lebih dulu.Walau diabaikan, Meyra sama sekali tak kesal. Bibirnya malah diam-diam tersenyum.'Pasti gagal, kan? Rasain!' seru Meyra dalam hati, bersorak senang.Meyra bergegas mengikutinya masuk lift. Mereka akhirnya keluar gedung perusahaan dan naik taksi untuk kembali ke hotel.Di saat wajah Evan terlihat jengkel, Meyra tak memperdulikannya. Dia memaksa Evan pergi ke berbagai tempat wisata yang belum sempat didatangi kemarin.Dengan malas, Evan tetap menuruti keinginannya. Walau dalam hati Evan sangat ingin berteriak dan berkata kasar karena emosi yang tertahan.Seharian mereka berkeliling dan bersenang-senang. Tidak, atau lebih tepatnya hanya Mey
"Mas. Jangan diem aja. Nggak sopan!" bisik Meyra di sampingnya langsung menyenggol suaminya.Evan akhirnya tersadar dari lamunannya. Dengan cepat membalas jabat tangannya."Kalian dari mana? Kayaknya bukan orang sini," tanya Aaron penasaran."K-kami, dari keluarga Anderson," jawab Evan terbata-bata."Oh, keluarga Anderson yang itu, ya. Ayo ikut, kita temui CEO Gray Evander itu," ajak Aaron kemudian berbalik dan melangkah lebih dulu.Meyra mengangguk dan mulai mengikutinya. Evan terlihat ragu, namun ia tetap harus menyelesaikan tujuannya datang ke tempat ini.Mereka menaiki lift menuju lantai teratas gedung. Selama menunggu, Aaron bertanya untuk memecah keheningan."Ada urusan apa kalian ketemu Ethan?"Meyra mengerjap pelan, sedikit kaget pria di depannya memanggil CEO Gray Evander dengan akrab seperti itu.Meyra kembali menyenggol lengan suaminya."A-ada urusan bisnis," jawab Evan singkat, masih sedikit gugup.Aaron mengangguk pelan. "Kalau gitu kalian kenal putri saya, dong? Katanya
Merasa familier dengan suara itu, refleks Evan menoleh. Di hadapannya kini seorang wanita dengan topi hitam dan pakaian yang sedikit tertutup, membawa koper di tangannya.Senyum Evan langsung merekah. Tak membuang waktu, dia langsung merangkul wanita itu."Gimana perjalanannya? Capek?" tanya Evan dengan suara lembut.Erina, wanita di pelukannya, membalas pelukan sambil mengangguk."Capek banget. Rasanya pengen langsung tidur."Perlahan pelukan mereka terlepas. "Ya udah. Aku anter ke hotel."Evan membantu membawakan koper milik Erina dan mengajaknya masuk ke sebuah taksi yang sudah ia pesan. Mereka melaju pergi menyusuri jalanan kota.Erina duduk menempel sembari merangkul lengan Evan, bersandar manja padanya."Istri kamu gimana? Dia curiga nggak kamu pergi?" tanyanya penasaran.Evan terdiam sejenak, berpikir. "Biarin aja. Nanti aku bisa cari alasan salah naik bus atau kereta," jawabnya dengan santai, seolah itu bukanlah hal penting.Erina tersenyum lebar."Bagus, deh. Kalau gitu malam
Barang-barang yang Meyra beli berjatuhan di pasir. Tapi sekarang hal itu tak penting.Tatapan Meyra mencoba mencari bantuan di sekitar, matanya menyapu kerumunan yang mulai menipis di pinggir pantai.Namun seolah paham maksud Meyra, dua pria di depannya dengan sengaja menutup akses pandangannya dan semakin mendekatkan pisau kecil itu ke arahnya."Orang-orang nggak bakal peduli sama kita, nona," bisik pria berambut pirang dengan senyuman mencemooh, napasnya berbau alkohol.Meyra menggertakkan gigi. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Hingga akhirnya dia teringat pada cerita Lisa saat dirinya diganggu seperti ini saat liburan dulu."Tuan," ucap Meyra perlahan melembutkan suaranya. Satu tangannya yang bebas kini merangkul lengan pria pirang di sampingnya dengan pura-pura manja."Saya nggak akan melawan. Tapi tolong kita pergi ke tempat yang lebih sepi, ya?" lanjut Meyra sambil malu-malu, menundukkan wajah.Mendengar hal itu, dua pria di depannya saling menatap dan langsung menyu







