Mag-log inNanti dua bab lagi nyusul ya. Diusahakan up tiap hari 3 bab. Kalau lagi nggak sibuk, mungkin bisa lebih. Happy reading (〃^ω^〃)
Tak lama kemudian, Erina merasa lebih baik setelah memuntahkan semuanya. Dia kembali menuju tempat tidur dan mengambil ponselnya. Panggilan masih berlangsung."Sayang, kamu kenapa tiba-tiba ngilang?" tanya Evan dengan nada khawatir.Erina berdehem pelan dan menjawab, "Nggak tau, nih. Tiba-tiba mual. Mungkin asam lambungku naik lagi.""Kirain apa, bikin kaget aja," sahut Evan terdengar lega. "Kalau gitu cepet makan, minum obat, terus istirahat. Kamu pasti suka lewat jam makan, kan?"Erina mendengus pelan mendengar omelannya."Iya, iya," jawabnya singkat, lalu memutus panggilan begitu saja.Erina kemudian berdiri dan hendak mengambil pakaian dari lemari. Tapi di meja riasnya terdapat sebuah kalender kecil. Seketika Erina menyipit tajam."Terakhir aku haid kapan, ya?" gumamnya bicara sendiri. Refleks, Erina menunduk dan menatap tubuhnya, terutama bagian perut. Dalam hati ia menduga-duga.'Jangan-jangan ....'Tiga hari berlalu tanpa terasa. Di bandara, Evan keluar sambil menggeret koperny
Meyra terdiam mendengar perkataan Glen. Matanya membelalak kaget. Rahangnya menegang, namun coba ia sembunyikan."Ya terserah. Aku nggak punya hak larang-larang kamu," jawabnya dengan suara sedikit bergetar, dan kembali menundukkan kepalanya.Meyra fokus menyantap makanannya lagi. Tapi kini terasa sulit untuk menelannya.Sedangkan Glen, di depannya terlihat santai. Dia terus memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Meyra. Dia sangat menikmati tingkah Meyra saat ini."Aku jarang lihat kamu cemburu kayak gini, ternyata lucu ya," ucapnya dengan nada bermain-main.Meyra menatapnya lagi. Raut wajahnya semakin kesal."Siapa yang cemburu?!" bantahnya. "Silahkan aja kamu kalau mau sama siapa aja."Glen tentu tak percaya dengan perkataan itu. Dia berdiri lalu beralih duduk di samping Meyra. Satu tangannya terulur mengelus wajah Meyra."Aku udah punya kamu, sayang. Buat apa cari yang lain?"Namun Meyra tak menjawab. Dia malah memalingkan pandangan, menjauh dari sentuhan Glen. Perkataannya masih k
Meyra terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Namun dia bersusah payah menyembunyikannya.Meyra tersenyum tipis dan akhirnya menjawab, "Aku nggak yakin, Tante. Coba tanya aja nanti ke Papa."Tiana menarik napas, lalu menyilangkan kedua lengannya."Tapi saya nggak punya nomor teleponnya. Kalau tiba-tiba dateng ke kantornya juga kan aneh."Luna terkekeh pelan. Dia mengeluarkan ponselnya."Bilang aja mau minta nomornya. Nih kukasih," ucapnya sambil menekan-nekan tombol di ponselnya.Wajah Tiana kembali cerah, lalu ia tersenyum sedikit malu-malu. "Kamu tau aja, Lun."Meyra tak berkomentar apa pun. Melarang pun ia tak punya hak. Jadi hanya bisa membiarkannya saja.Di tengah rasa tak nyaman di hati, tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggil."Mey!"Meyra menoleh mendengar suara yang familier. Itu adalah sahabatnya, Lisa, yang mereka tunggu-tunggu."Tante Tiana, temen saya udah dateng. Kami pergi dulu, ya," pamitnya dengan ramah.Tiana lan
Meyra sedikit tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. "Tante, kok bisa tau?" Luna menoleh sekilas sambil menyeringai kecil, lalu kembali menatap jalanan di depan. "Siapa pun di posisiku yang lihat kejadiannya langsung pasti bakal sadar. Pikir aja, istrinya ditabrak, malah penabraknya yang ditemui duluan. Kan aneh." Meyra hanya tersenyum kecut mengingat kejadian itu. Luna melanjutkan. "Dan lihat perilaku kamu hari ini, dugaanku jadi makin kuat." "Hm. Gimana ya, Tan. Aku sempat desak dia juga, nggak mau ngaku," sahut Meyra dengan nada tenang, walaupun tersirat kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Luna menarik napas panjang. Mobilnya berhenti saat lampu merah. "Apa kamu nggak mau berencana buat cerai sama dia?" Meyra kembali tersenyum, namun kemudian menghela napas berat. "Rumit, Tante." "Iya juga, sih," balas Luna kembali berpikir. "Pasti nggak gampang, apalagi kalau si suami nggak mau ngaku dan kita nggak ada bukti kuat. Itu yang nyebelin dan bikin stres para perempuan
Tapi melihat ekspresi Meyra yang tampak biasa saja, Erina pun tetap berusaha bersikap tenang. "Bukan apa-apa, kok."Erina kemudian bergegas masuk menuju script room, sedangkan Meyra tetap di tempat. Dia hanya menatap punggung Erina dari belakang sambil tersenyum menyeringai."Kamu harus dapat peran sesuai kehidupan aslimu, Erina," gumamnya terdengar mencemooh, kemudian berbalik dan melangkah pergi.Di script room, Erina segera duduk saat semua orang ternyata sudah hadir. "Maaf, saya ke toilet dulu tadi.""Nggak apa-apa," jawab Luna sambil mengibaskan tangannya. "Kita langsung ke intinya aja. Ada sedikit perubahan setelah kami berdiskusi."Mereka yang ada di ruangan, mendengarkan dengan seksama. Tatapannya fokus penuh rasa penasaran."Pertama, penggantian pemeran utama perempuan, yaitu Erina. Kamu saya ganti jadi sebagai Kirana, antagonis yang merebut suami protagonis."Mendengar hal itu, Erina langsung mengerutkan alis. Rahangnya menegang. Dia kembali berdiri dan memprotes."Kok gitu?
Suasana mendadak hening. Erina semakin menundukkan kepalanya. Sedangkan Luna, hanya memperhatikan dan mendengarkan sejak tadi. Dia malah menyunggingkan senyuman kecil.Asisten di samping Luna menyenggolnya dan berbisik. "Gimana nih, Bu?"Luna akhirnya berdiri dari kursi. Sontak semua orang menatap ke arahnya."Kita break sebentar. Kami rapat dulu," ucapnya memutuskan, kemudian melangkah keluar dari ruangan.Sutradara, penulis naskah, dan yang lain mengikuti keluar, begitu pun dengan Meyra. Dia berjalan di samping Luna dan membisikan sesuatu."Tante, maaf ya. Aku tiba-tiba minta ubah pemeran," sesalnya.Luna menoleh. Sebelah alisnya terangkat."Yah, aku nggak sangka kamu sampai ngomong gitu. Tapi kayaknya aku tau alasan kamu begitu.""Oh, ya?" Meyra mengerjap pelan.Luna menyunggingkan senyuman tipis, lalu mengusap rambut Meyra. "Iya. Tenang aja, biar aku yang ngomong sama yang lain."Sementara itu, suasana tegang di script room perlahan memudar setelah kepergian mereka.Para aktor dan







