MasukValerie yang hanya bisa berdiam diri di dalam kamar, tanpa seseorang yang bisa diajak bicara. Valerie hanya bisa menatap langit malam di dalam kamar, jendela kamar yang tertutup rapat, membuat Valerie semakin merasa dalam kurungan penjara yang mewah.
Valerie memikirkan cara untuk bisa pergi menjauh dari James, tapi tidak ada yang bisa dipikirkan olehnya saat ini, semua seolah buntu. Tidak ada yang bisa dihubungi, tidak ada orang yang bisa membantunya. Bahkan Valerie tidak tahu kini ia sedang berada dimana.
Vale duduk di sebuah sofa dengan tatapan kosong menatap langit di atas sana yang dihiasi oleh bintang, seolah sedang menertawakan dirinya yang bersedih, terluka oleh takdir yang tidak pernah berpihak baik padanya. Valerie mencari tahu tentang James, seorang CEO sukses dengan harta miliaran, dan memiliki rumor jika James pria cassanova yang memiliki banyak wanita di sisinya.
Mendengar rumor tentang James, membuat Vale tersenyum miris. “Itu bukan sebuah rumor, bahkan itu fakta. Hanya saja kenyataanya James jauh lebih buruk dari yang mereka tahu.”
Valerie sangat penasaran, bagaimana bisa Lukas memiliki hutang pada James, entah apa yang sudah dilakukan Lukas?
James kembali dan melihat Valerie duduk di sofa dengan tatapan kosongnya. Tatapan datar James pada Vale kini berubah menjadi tajam, marah melihat makanan yang diberikan Anna tidak sama sekali disentuh olehnya.
“Mengapa kau tidak memakan makanannya?” tanya James, suaranya berat dan sedikit meninggi, seolah menjelaskan jika dirinya kesal.
Valerie tidak menjawab pertanyaan James, membuat pria itu semakin marah, ia melangkah dengan langkah cepat, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. “Aku tanya, kau tidak menjawab, apa kau tidak mengerti bahasaku?!”
“Kau manusia? Aku kira bukan, kau tidak memiliki hati, James!” balas Valerie tidak takut saat menatap langsung kedua mata James yang marah padanya. “Lagipula… apa pedulimu, jika aku mati, bukankah kau akan tetap baik-baik saja?”
Mendengar itu membuat James tertawa dan melepas pelukannya. “Benar, aku akan baik-baik saja, meskipun kau mati! Namun, kau harus ingat, kau milikku, kau tidak diizinkan mati sebelum aku puas bermain denganmu!”
Lagi, James melakukan itu padanya, Valerie tidak memberontak ia membiarkan James bermain dengan tubuhnya. Air mata menetes tanpa disadari oleh Valerie. Ia merasa sangat hina, hancur, dan kotor.
Setelah puas, James berdiri merapikan pakaiannya, ia memandangi tubuh Valerie yang masih polos tanpa pakaian. Namun berbeda dengan tatapan mata Valerie padanya, terlihat sangat membenci James, jika bisa bahkan Valerie ingin sekali membunuhnya. Akan tetapi, semua itu hanya tekadnya yang lemah. Valerie tidak memiliki kekuatan untuk membalas James, menghancurkan hidupnya, seperti James menghancurkan dirinya.
“Kau harus merawat dirimu dengan baik, bahkan kau juga harus mulai bersikap baik padaku, jika aku senang, kau akan mendapatkan keuntungan banyak dariku,” ucap James seolah ia ingin Valerie menerima takdirnya, menjadi salah satu wanita simpanannya.
“Lebih baik aku mati bunuh saja aku, James!” desis Valerie.
Perkataan Valerie membuat James murka. James mencekik leher Valerie, matanya memerah tajam, Valerie seolah menantang dirinya agar segera menghabisi nyawanya.
Valeria, ia bukannya takut, tapi justru ia menetap wajah James dengan tatapan datar, seolah menunggu ia benar-benar dibunuh oleh James.
“Bunuh… aku…” ucap Valerie, nafasnya tersenggal.
James semakin menguatkan cengkraman tangan pada Valeria, tapi kemudian ie melepasnya. Menarik tubuh Valerie mendorongnya ke lantai, memukul, lalu mendengnya.
“Arghtt…” Valerie menjerit sakit.
Tapi mendengar jeritan itu membuat James tertawa, seolah teriakan sakit Valerie adalah nyanyian indah untuknya.
“Inikah yang kamu mau? Bermimpi saja kau bisa mati dengan mudah, aku tidak akan membiarkanmu mati, Valerie. Sekali lagi kau menantangku, kau akan mendapatkan lebih dari ini!”
James pergi meninggalkan Valerie yang kesakitan, tubuhnya penuh luka lebam akibat pukulan dari James. Valerie terisak, tangisnya pecah. Mengapa takdir buruk itu harus menimpa dirinya?
Valerie menatap gelas kaca berisikan air putih di atas meja dekat dengannya, ia berdiri perlahan, mengambil gelas itu dan lalu memecahkannya.
Valerie mengambil pecahan gelas itu, ia kembali terisak, tidak tahu apa yang akan dilakukan olehnya benar atau tidak, hanya saja ia tidak mau terus hidup dalam kungkungan pria kejam seperti James. Meskipun baru sehari, tapi baginya sudah berada satu tahun dalam neraka yang kejam.
Jika Valerie mati saat ini, ia berharap tidak ada wanita lain yang akan bernasib sama sepertinya. Namun sebaliknya, jika ia memiliki kesempatan untuk hidup, ia berjanji akan membuat mereka yang telah menyakitinya hancur berkeping-keping, membalas perlakuan mereka dengan sangat keji, seperti apa yang dilakukan James padanya.
“Apa gunanya aku hidup, jika hanya menjadi wanita hina?” Valerie tertawa miris melihat hidupnya yang menyedihkan, tidak ada siapapun yang akan khawatir padanya, dan menjadi salah satu alasan kuat untuk Valerie mengakhiri hidupnya.
Valerie menggoreskan pecahan kaca tajam itu pada lengannya, darah segar mengalir di nadinya. Valerie memejamkan matanya, ia siap untuk mati, dan bebas dari hidupnya yang hina oleh sentuhan James.
Valerie menyerah dengan hidupnya…
Pagi harinya, Valerie yang sedang memandangi taman dari dalam rumah di lantai dua, dengan masih mengenakan lingerie. Tatapannya terlihat kosong, tidak ada semangat untuk menjalani hari-harinya yang penuh dengan ancaman. Valerie dipaksa harus terus tersenyum dengan rasa sakit yang bertubi-tubi datang padanya, penuh dengan ancaman, dari James pada orang-orang yang disayanginya.“Apa yang sedang kamu lamunkan, Sayang?” tanya James, tangannya melingkar di perut Valerie, memeluknya dari belakang.“Aku merindukan kakekku, kapan kau akan mengajakku kesana? Aku baru sebentar bertemu dengannya, tapi kau memisahkanku,” ucap Valerie dengan enggan menatap James, yang lebih memilih menatap taman dengan langit mendung.“Aku sibuk, akhir-akhir ini, jika senggang aku akan mengajakmu kesana. Vale, kau tidak perlu khawatir, kakekmu tidak akan apa-apa, pengobatan sudah aku berikan maksimal. Kau akan ke perusahaan sekarang?” tanya James, mengubah topik pembicaraan. Tidak mau Valerie terus menanyakan kebe
"Tidak, jangan membunuhku! James, kau tidak akan melakukan ini padaku bukan? bagaimanapun, aku adalah istri ayahmu, aku sudah menjadi ibu tirimu," ucap Maeva memohon agar James tidak membunuhnya.Maeva tidak pernah berpikir jika tindakan nekatnya akan membuat dirinya menerima amarah James, hingga nyawanya terancam. Maeva masih percaya jika siapapun wanita disisi James, tidak akan membuat James marah, dengan mencelakai atau menghilangkan nyawanya yang berharap Eleanor bisa menjadi istri James. Tapi sayangnya, pemikirannya salah, karena Valerie bahkan kini bertindak seperti James yang kejam dan tanpa belas kasih."Kau salah jika memohon pada James, Nyonya Maeva. Seharusnya, kau memohon padaku! Apa harus diulangi, jika semua ini tergantung padaku, bukan James!" desis Valerie, tatapannya tajam, membuat Maeva kesal, tidak terima. "Mengapa, mengapa kau membuat keputusan bodoh seperti itu, James. Bukankah selama ini kau hanya mempermainkan semua wanita sesukamu?" tanya Maeva pada James, tid
"Menyingkirkannya langsung?' tanya kembali James, memastikan pada sang istri. Valerie pun mengangguk, tanpa ingin berlama-lama berada di tempat yang cukup membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyaman Valerie, tentu karena kehidupannya sangat jauh berbeda dari yang dulu, meski penuh dengan kemiskinan akan tetapi Valerie merasa bahagia, tidak ada masalah yang berat, bahkan jika harus menghukum orang. Valerie pada dasarnya adalah wanita yang baik, tapi memiliki keberanian. Namun, Valerie tidak pernah mengira jika keberaniannya kini akan dipakai untuk sesuatu hal yang di luar hati nuraninya. Hanya karena James, hanya karena ingin menyelamatkan nyawa yang berada di tangan James, dan hanya karena Valerie harus bisa kuat bahkan lebih kuat lagi dari James, agar bisa membalas dan melawan, bahkan sampai membuat James jatuh tunduk padanya.Jika Valerie lemah dan tidak bisa sekuat James, maka dipastikan Valerie akan kalah dari James. Valerie tidak mau itu terjadi. Maeva, Eleanor, dan juga Grace, mere
Maeva dibawa ke sebuah gudang kosong yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat berlangsungnya pesta pernikahan James dan Valerie. Di gudang itu, sudah ada Eleanor dan juga Grace. Maeva terkejut melihat keadaan Grace dan Eleanor yang sudah tidak baik-baik saja. Wajah mereka terlihat lebam, seolah sudah mendapat pukulan yang menyakitkan. Tidak jauh dari mereka, seorang pria yang dibayar untuk menyentuh Valerie pun terlihat sudah tidak berdaya. "Kalian akan segera menjemput kematian. Tuan James, tidak pernah memberikan kesempatan pada orang yang mengusik ketenangan hidupnya. Terlebih Valerie, adalah wanita yang Tuan James miliki." Leon mengatakan pada mereka yang sudah merencanakan rencana licik dan jahat pada Velerie yang berharap pernikahan itu akan gagal, dan digantikan oleh Eleanor. "Tahu apa kau, Leon. Aku adalah ibu tiri James, dia tidak akan menghukumku!" desis Maeva. Leon mengangkat sebelah alisnya. Leon merasa lucu dengan percaya dirinya Maeva jika James tidak akan pernah m
"Bermain?" gumam Valerie tanpa mengalihkan pandangannya pada Maeva yang sedang ketakutan. "Permainan ini adalah keinginanmu? Kau yang memulai, maka kau lah yang harus mengakhiri. Vale, tunjukkan kalau kau memang layak berada disisi, di depan mereka!" ucap James dengan senyum seringainya.James menantikan, Valerie bertindak sebagai nyonya Addison yang tidak kalah kejam dengan dirinya.Valerie menatap James, ia tahu pria yang kini menjadi suaminya menginginkan dirinya menjadi istri yang sama jahatnya. Valerie tersenyum pada James, hingga semua orang mengira, Valerie benar-benar jatuh cinta pada James, wanita yang bahagia karena dipilih James sebagai pasangan hidupnya. "Aku akan ikuti apapun yang kamu mau, James, itukan yang kamu ingin dariku?""Benar, buat aku semakin menyukaimu, Valerie, jangan sampai aku membencimu, karena itu tidak akan baik untuk hidupmu!"Maeva yang masih duduk dengan tubuh membeku, merasa putus asa, entah apa yang harus dilakukan olehnya. Maeva membaca berkali-k
Pernikahan yang megah dan mewah dengan para tamu undangan yang menunggu sepasang pengantin yang akan memulai hidup baru mereka. Alunan musik klasik yang merdu, dengan dekorasi indah yang dihiasi kristal-kristal yang menggantung di langit-langit gedung, bunga-bunga mahal yang tersusun rapi menambah kesan keindahan. Sehingga mereka berpikir, jika pernikahan itu adalah pernikahan yang paling membahagiakan. Mereka tidak tahu, jika itu hanyalah sebuah permainan, sebuah keegoisan James.Para tamu tersenyum, kagum melihat semuanya, melihat James yang sudah siap menyambut pasangan pengantinnya.Mereka pun tidak menyangka jika James Addison, pada akhirnya menikah.Valerie berdiri di balik pintu besar, dengan gaun pengantin putih membuatnya terlihat sempurna, cantik dan elegan. Tapi semua itu terasa sia-sia jika hanya untuk terperangkap dalam jerat James Addison.Anna berdiri di belakangnya, membantunya melangkah hingga sampai pada Tuannya. "Sudah waktunya, Nona," ucap Anna singkat.Valerie m







