LOGINPintu kamar terbuka, Anne terkejut melihat Valerie tergeletak di lantai tak sadarkan diri, tubuh polos Valerie membuat ia menutupinya dengan selimut. Hingga Anna menyadari, darah segar keluar dari pergelangan tangan Valerie.
Anna berteriak meminta pertolongan, segera membawa Valerie ke rumah sakit.
“Wanita ini benar-benar bodoh, mengapa sampai melukai dirinya! Tuan James, pasti akan sangat marah, hidupmu tidak akan pernah bebas, Valerie!” geram Anna. Tidak menyangkan Valerie berani mengakhiri hidupnya.
James mendapat laporan jika Valerie mencoba mengakhiri hidupnya, membuat James tertawa dengan kencang. Pria kejam itu tidak merasa iba atau bahkan kasihan. James justru semakin tertarik pada Valerie, karena berani berbuat sejauh itu, berani menantang dirinya.
Berbeda dengan wanita lain yang berada di pelukannya, mereka justru berlomba menjadi wanita kesayangan James, yang akan diberikan kemewahan sehingga hidupnya akan bahagia. Valerie tidak menginginkan hal itu, bahkan mungkin tidak pernah terlintas olehnya untuk menjadi wanita kesayangan James.
“Orang seperti apa kau, Valerie?” geram James. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Masih kritis, tapi untungnya masih bisa diselamatkan,” jelas sekretaris James, Leon.
“Pastikan wanita itu hidup, jika harus mati, harus melalui tanganku sendiri!” ujar James, tersenyum dengan seringainya.
“Tuan James…” ucap Leon, seolah ragu mengatakan apa yang sudah didapatkan olehnya, sebuah informasi.
“Apa, katakan!”
“Maaf, sebelumnya aku masih menyelidikinya. Ada yang sedang mencari keberadaan Nona Valerie, bahkan Lukas-ayah tiri Valerie, ditangkap oleh mereka,” jelas Leon membuat James menyunggingkan senyumannya.
“Mencari wanitaku? siapa orang itu? polisi?” tanya James berturur.
“Saya rasa tidak, tapi aku yakin mereka bukan orang biasa, karena informasinya sulit dilacak,” jelas Leon kemudian.
James tertawa, membuat Leon takut, karena ia tahu James adalah pria yang kejam yang bisa melakukan apapun yang diinginkan olehnya. Tawa James, bukan sesuatu yang baik.
“Valerie… siapa kau sebenarnya, siapa mereka, apa ingin membawamu dariku? tidak akan pernah terjadi!” geram James. “Leon, kita pergi ke rumah sakit!”
Di rumah sakit…
Vale membuka matanya perlahan, ia mengerjapkan matanya, melihat dirinya ia mendapati dirinya berada di rumah sakit.
“James…” Pria itu tidak akan melepaskannya, menyakitinya, dan lalu menyembuhkannya.
“Aku mendapat kesempatan hidup?” ucap lirih Valerie, kini ia merasa harus memanfaatkan kesempatan itu.
Valerie kemudian sadar, rumah sakit adalah tempat yang memiliki banyak celah agar bisa melarikan diri. Vale berharap ia bisa melakukan itu, bisa mendapat kesempatan untuk bisa bebas dari James.
Terdengar suara langkah yang memasuki ruang perawatannya, membuat Valerie dengan cepat kembali menutup kedua matanya.
“Bagaimana keadaanya?” tanya James pada Anna yang bertugas menjaga Valerie.
“Untunya, goresan kaca itu tidak begitu dalam, Tuan. Selain itu, Nona Valerie tubuhnya sudah lemas, hampir tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. Semua akan baik-baik saja,” jelas Anna, James menganggukkan kepalanya.
“Jaga dia, jangan sampai di melarikan diri,” ucap tegas James. “Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam ruangan ini, tanpa seizin dariku. Hubungi aku ketika dia sudah sadar!” perintah James pada Anna.
Sebelum benar-benar pergi, James menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan, perasaan marah, kepemilikan dan sesuatu yang lebih gelap lagi. Tapi yang pasti saat ini James tidak mau Valerie pergi darinya.
“Siapa yang mencarimu, Vale? kau berhubungan dengan orang lain? keluargamu?” tanya James penuh kebingungan. “Apapun itu, kau tidak akan pernah lepas dariku, kau harus ingat itu, Valerie!” James pun pergi dari ruangan itu, membiarkan Valerie menyembuhkan dirinya.
Anna mendengar perkataan James, ikut merasa bingung, karena yang ia tahu Vale tidak lagi memiliki keluarga, Lukas–ayah tiri Valerie bahkan sudah tidak terlihat lagi, dan tidak mungkin mencari Valerie. Lalu siapa yang mencari Valerie?
Begitupun dengan Valerie, dalam diamnya, ia ikut merasa bingung. Mengapa ada yang mencarinya.
“Siapa, siapa yang mencariku?” bisik Valerie, bertanya dalam hatinya.
Valerie tidak mau pusing memikirkan hal itu lebih dahulu, karena baginya lebih baik mencari cara untuk bisa lari dari James, bebas dari pria kejam itu. Valerie berharap akan ada cara untuk bisa melarikan diri dari rumah sakit, dengan penjagaan yang diberikan oleh James.
Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar suara mesin dekat dengan Valerie, dan helaan nafas berat dari Anna, mendesah kesal.
“Wanita ini benar-benar menyusahkan. Mengapa tidak dia menerima takdirnya, karena James sendiri pasti akan memberikan kemewahan padanya. Tapi kau malah memilih untuk melawan dan mati, hingga pada akhirnya kau akan benar-benar menjadi tawanannya,” ucap Anna tidak habis pikir dengan Valerie.
“Menerima, kemewahan? aku tidak mau jika hanya menjadi pemuasnya!” batin Vale. “Lebih baik aku mati!”
Lama Vale menunggu, hingga kesempatan itu datang, seorang perawat memasuki ruangan untuk mengganti botol infus Vale yang sudah hampir habis. Anna terlihat bahkan keluar dari ruangan menemui dua pengawal.
Valerie tersenyum, karena kini tuhan berpihak padanya. Valerie memohon pada perawat itu untuk bisa membantunya.
“Tolong aku, aku mohon… Tolong bantu aku keluar dari rumah sakit…” ucap Vale sedikit berbisik pada perawat itu, tatapannya penuh dengan harapan, dapat bantuan darinya.
Tapi, perawat itu hanya diam, ia tidak menjawab permintaan Valerie.
“Kumohon, bantu aku keluar dari sini!” ucap Vale kembali.
Perawat itu menatap datar Valerie, tanpa menjawab, ia memilih pergi begitu saja setelah selesai mengganti botol infusan tersebut.
Vale mendesah kesal, tapi kemudian ia dengan cepat kembali menutup kedua matanya, Anna kembali mendekatinya, memeriksa keadaan Valerie.
“Mengapa wanita ini masih saja menutup matanya!” kesal Anna.
Tidak lama perawat itu datang kembali bersama seorang dokter, berkata jika Valerie harus menjalani pemeriksaan kembali, karena sampai saat ini Valerie belum sadarkan diri.
Dokter dan perawat itu sempat khawatir, Anna akan mencurigai mereka, tapi pada akhirnya Anna setuju membiarkan Valerie diperiksa kembali.
Valerie pun dibawa oleh mereka dengan pengawalan ketat, serta Anna yang membuntutinya dari belakang. Hingga sampai di ruang pemeriksaan Anna dan pengawal lainnya dilarang masuk.
“Maaf Nona, demi kenyamanan, hanya pasien yang masuk kedalam,” ucap sang Dokter.
“Aku harus menjaganya!” ucap Anna sinis, ia tidak bisa membiarkan Valerie bebas tanpa pengawasan darinya.
“Percayakan saja pada kami, Nona. Pasien ini akan baik-baik saja, pemeriksaan tidak akan lama. Ini sudah menjadi prosedur rumah sakit kami. Semoga Nona bisa mengerti,” ucap perawat itu meyakinkan Anna.
Anna pun terpaksa membiarkan mereka membawa Valerie masuk ke ruang pemeriksaan tanpa pengawasan darinya. Ia setia menunggu di depan ruangan, hingga Valeria selesai diperiksa, tanpa merasa curiga sedikitpun.
Saat di dalam ruangan, perawat itu tersenyum pada dokter, ia membuka maskernya. Menatap Valerie yang masih menutup kedua matanya.
“Bukalah matamu, Nona kau sudah aman,” ucap perawat tersebut, sedikit berbisik.
Valerie membuka matanya perlahan, memastikan tidak ada anak buah James, dan ia tidak masuk ke dalam jebakan kembali.
“Aku kira kau tidak akan menolongku,” ucap Valerie menyadari perawat itu yang menolongnya. .
“Jangan khawatir Nona Vale, penyelamatanmu memang sudah direncanakan,” ucap perawat itu membuat Valerie terkejut.
“Apa? sudah direncanakan, oleh siapa?” tanya Valerie terkejut.
Perawat itu hanya tersenyum. “Nona akan tahu ketika keluar dari sini, lebih baik sekarang kita ganti pakain lebih dahulu, untuk keluar dari sini sebelum mereka menyadarinya.”
Dengan penuh kebingungan Valerie terpaksa menuruti perkataan perawat itu, mencoba mempercayai mereka jika akan menolongnya. Tanpa berlama-lama, mereka mengganti pakaiannya, Valerie mengikuti semua instruksi dari perawat tersebut.
Mereka merencanakan semuanya dengan rapi, tanpa ada keributan yang akan mengganggu orang-orang di rumah sakit. Valerie duduk di kursi roda, dibantu dorong oleh perawat wanita itu, yang sudah mengganti pakaiannya, begitupun dengan dokter.
Valerie, bersama dua orang yang membantunya, keluar dari pintu lainnya, dengan penuh kehati-hatian.
Hingga Anna dan dua pengawal itu tidak menyadari kepergian Valerie.
Valerie pada akhirnya bisa keluar dari rumah sakit dan bebas dari James, ia terlihat tersenyum dengan senang.
“Terima kasih, sudah menolongku,” ucap Valerie tulus.
“”Ini sudah tugas kami, Nona. Saya, Merry, dan ini Beni,” ucapnya memperkenalkan diri sambil menunjuk pria di sebelahnya.
“Valerie,” balas Valerie ikut memperkenalkan diri, tapi Valerie masih merasa bingung dengan mereka seolah mereka memang bertanggung jawab untuk menyelamatkannya. Sedangkan Merry dan Beni hanya tersenyum melihat kebingungan Valerie.
Dibalik kebebasan Valerie, James murka ketika tahu Anna dan pengawalnya kehilangan Valerie.
“Brengsek! Apa saja yang kalian lakukan, menjaga satu orang saja tidak becus!” James sangat marah ketika mendengar laporan, jika Valerie tidak ditemukan dimanapun, disetiap sudut rumah sakit.
Valerie berhasil melarikan diri, terbebas darinya. James tidak bisa menerimanya.
Anna menundukkan kepalanya, takut dan sangat bersalah. “Maaf, Tuan, saya kira Nona Vale benar-benar sedang dalam pemeriksaan.” Anna benar-benar merasa sudah dibodohi oleh seorang perawat serta dokter palsu yang membantu Valerie melarikan diri.
“Cari! cari wanita itu, cari sampai dapat, aku tidak mau tahu, kalian harus segera membawanya padaku, secepat mungkin!” titah James.
James sangat marah, ia tidak rela wanita yang dibelinya melarikan diri darinya, terlebih Valerie adalah wanita yang cukup membuatnya terkesan dengan perilaku yang berbeda dengan wanita lainnya. Valerie melawan padanya, tapi itu menjadi tantangan untuknya, untuk bisa membuatnya tunduk padanya. .
James kemudian teringat tentang seseorang yang sedang mencari Valerie. Tapi sayang James belum mendapat informasi apapun tentang siapa mereka yang mencari miliknya.
Pria itu sangat kesal, karena baru kali ini ia kesulitan dalam mencari informasi yang diinginkan olehnya. Orang yang mencari Valerie, terkesan misterius sehingga sulit mencari siapa mereka. Karena hal itu lah, James semakin penasaran dengan Valerie dan siapa sosok yang berada di belakangnya.
James pun sudah mencoba mencari keberadaan Lukas, karena ia berpikir jika Lukas pasti mengetahui informasi yang dibutuhkan. Namun sayangnya, James pun tidak dapat menemukan Lukas dimanapun, bahkan ia mendengar jika Lukas telah dibawa oleh beberapa pria berjas hitam, dengan tubuh penuh luka, oleh mereka yang mencari keberadaan Valerie.
“Siapa mereka, apa hubunganmu dengan mereka, Valerie ?” geram James.
Pagi harinya, Valerie yang sedang memandangi taman dari dalam rumah di lantai dua, dengan masih mengenakan lingerie. Tatapannya terlihat kosong, tidak ada semangat untuk menjalani hari-harinya yang penuh dengan ancaman. Valerie dipaksa harus terus tersenyum dengan rasa sakit yang bertubi-tubi datang padanya, penuh dengan ancaman, dari James pada orang-orang yang disayanginya.“Apa yang sedang kamu lamunkan, Sayang?” tanya James, tangannya melingkar di perut Valerie, memeluknya dari belakang.“Aku merindukan kakekku, kapan kau akan mengajakku kesana? Aku baru sebentar bertemu dengannya, tapi kau memisahkanku,” ucap Valerie dengan enggan menatap James, yang lebih memilih menatap taman dengan langit mendung.“Aku sibuk, akhir-akhir ini, jika senggang aku akan mengajakmu kesana. Vale, kau tidak perlu khawatir, kakekmu tidak akan apa-apa, pengobatan sudah aku berikan maksimal. Kau akan ke perusahaan sekarang?” tanya James, mengubah topik pembicaraan. Tidak mau Valerie terus menanyakan kebe
"Tidak, jangan membunuhku! James, kau tidak akan melakukan ini padaku bukan? bagaimanapun, aku adalah istri ayahmu, aku sudah menjadi ibu tirimu," ucap Maeva memohon agar James tidak membunuhnya.Maeva tidak pernah berpikir jika tindakan nekatnya akan membuat dirinya menerima amarah James, hingga nyawanya terancam. Maeva masih percaya jika siapapun wanita disisi James, tidak akan membuat James marah, dengan mencelakai atau menghilangkan nyawanya yang berharap Eleanor bisa menjadi istri James. Tapi sayangnya, pemikirannya salah, karena Valerie bahkan kini bertindak seperti James yang kejam dan tanpa belas kasih."Kau salah jika memohon pada James, Nyonya Maeva. Seharusnya, kau memohon padaku! Apa harus diulangi, jika semua ini tergantung padaku, bukan James!" desis Valerie, tatapannya tajam, membuat Maeva kesal, tidak terima. "Mengapa, mengapa kau membuat keputusan bodoh seperti itu, James. Bukankah selama ini kau hanya mempermainkan semua wanita sesukamu?" tanya Maeva pada James, tid
"Menyingkirkannya langsung?' tanya kembali James, memastikan pada sang istri. Valerie pun mengangguk, tanpa ingin berlama-lama berada di tempat yang cukup membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyaman Valerie, tentu karena kehidupannya sangat jauh berbeda dari yang dulu, meski penuh dengan kemiskinan akan tetapi Valerie merasa bahagia, tidak ada masalah yang berat, bahkan jika harus menghukum orang. Valerie pada dasarnya adalah wanita yang baik, tapi memiliki keberanian. Namun, Valerie tidak pernah mengira jika keberaniannya kini akan dipakai untuk sesuatu hal yang di luar hati nuraninya. Hanya karena James, hanya karena ingin menyelamatkan nyawa yang berada di tangan James, dan hanya karena Valerie harus bisa kuat bahkan lebih kuat lagi dari James, agar bisa membalas dan melawan, bahkan sampai membuat James jatuh tunduk padanya.Jika Valerie lemah dan tidak bisa sekuat James, maka dipastikan Valerie akan kalah dari James. Valerie tidak mau itu terjadi. Maeva, Eleanor, dan juga Grace, mere
Maeva dibawa ke sebuah gudang kosong yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat berlangsungnya pesta pernikahan James dan Valerie. Di gudang itu, sudah ada Eleanor dan juga Grace. Maeva terkejut melihat keadaan Grace dan Eleanor yang sudah tidak baik-baik saja. Wajah mereka terlihat lebam, seolah sudah mendapat pukulan yang menyakitkan. Tidak jauh dari mereka, seorang pria yang dibayar untuk menyentuh Valerie pun terlihat sudah tidak berdaya. "Kalian akan segera menjemput kematian. Tuan James, tidak pernah memberikan kesempatan pada orang yang mengusik ketenangan hidupnya. Terlebih Valerie, adalah wanita yang Tuan James miliki." Leon mengatakan pada mereka yang sudah merencanakan rencana licik dan jahat pada Velerie yang berharap pernikahan itu akan gagal, dan digantikan oleh Eleanor. "Tahu apa kau, Leon. Aku adalah ibu tiri James, dia tidak akan menghukumku!" desis Maeva. Leon mengangkat sebelah alisnya. Leon merasa lucu dengan percaya dirinya Maeva jika James tidak akan pernah m
"Bermain?" gumam Valerie tanpa mengalihkan pandangannya pada Maeva yang sedang ketakutan. "Permainan ini adalah keinginanmu? Kau yang memulai, maka kau lah yang harus mengakhiri. Vale, tunjukkan kalau kau memang layak berada disisi, di depan mereka!" ucap James dengan senyum seringainya.James menantikan, Valerie bertindak sebagai nyonya Addison yang tidak kalah kejam dengan dirinya.Valerie menatap James, ia tahu pria yang kini menjadi suaminya menginginkan dirinya menjadi istri yang sama jahatnya. Valerie tersenyum pada James, hingga semua orang mengira, Valerie benar-benar jatuh cinta pada James, wanita yang bahagia karena dipilih James sebagai pasangan hidupnya. "Aku akan ikuti apapun yang kamu mau, James, itukan yang kamu ingin dariku?""Benar, buat aku semakin menyukaimu, Valerie, jangan sampai aku membencimu, karena itu tidak akan baik untuk hidupmu!"Maeva yang masih duduk dengan tubuh membeku, merasa putus asa, entah apa yang harus dilakukan olehnya. Maeva membaca berkali-k
Pernikahan yang megah dan mewah dengan para tamu undangan yang menunggu sepasang pengantin yang akan memulai hidup baru mereka. Alunan musik klasik yang merdu, dengan dekorasi indah yang dihiasi kristal-kristal yang menggantung di langit-langit gedung, bunga-bunga mahal yang tersusun rapi menambah kesan keindahan. Sehingga mereka berpikir, jika pernikahan itu adalah pernikahan yang paling membahagiakan. Mereka tidak tahu, jika itu hanyalah sebuah permainan, sebuah keegoisan James.Para tamu tersenyum, kagum melihat semuanya, melihat James yang sudah siap menyambut pasangan pengantinnya.Mereka pun tidak menyangka jika James Addison, pada akhirnya menikah.Valerie berdiri di balik pintu besar, dengan gaun pengantin putih membuatnya terlihat sempurna, cantik dan elegan. Tapi semua itu terasa sia-sia jika hanya untuk terperangkap dalam jerat James Addison.Anna berdiri di belakangnya, membantunya melangkah hingga sampai pada Tuannya. "Sudah waktunya, Nona," ucap Anna singkat.Valerie m







