Masuk‘Duh! Gimana ya?’
Kenyataan bahwa nama Zayn Vaughan, terpampang jelas di kartu nama yang sebelumnya Leena lihat, menghantam lebih keras dari apa pun.
‘Masuk nggak ya? Felling gue nggak enak nih. Dia pasti bakal ngenalin gue,’ pikirnya lagi, jantungnya berdegup tak karuan.
Leena terlihat mondar-mandir di depan ruang Zayn. Ia makin resah karena ditugaskan menemani Zayn si Dosen baru untuk keliling kampus.
Sudah Leena jual murah hak itu pada beberapa mahasiswi, tetapi tidak ada yang berani melanggar perintah Dekan. Kalau ketahuan, bisa-bisa dapat nilai F!
Gugup, Leena melirik jam tangannya. Ia sadar hari akan semakin gelap. Ia juga tak bisa membuat Zayn menunggu. Bagaimana kalau sampai dilaporkan karena Leena tidak tepat waktu?
Akhirnya, setelah menenangkan diri, Leena mengetuk pelan dan membuka pintu ruangan itu.
“Selamat sore, Pa—ah! Astaga!”
Leena terpekik kaget, karena ia melihat Zayn tengah tidak berpakaian.
“Bapak mau apa sih?! Kok buka baju di sini?!” tukas Leena dengan wajah memanas.
Mahasiswi semester 6 itu memang menutupi mukanya dengan dua telapak tangan, tetapi posisi jemarinya dibuat renggang. ‘Buset! Badan apa roti sobek?!’
“Berisik banget! Ini bukan pertama kalinya kamu lihat badan saya, kan?”
Netra Leena membulat sesaat, sebelum ia meringis, seolah tak tahu apa apa. “Apaan sih, Bapak? Mau ngedeketin saya?”
Zayn mendengus geli. “Velvet Haven. Kamar VIP 22.”
Ruangan mendadak sunyi. Menyisakan suara tarikan nafas berat dari keduanya.
Leena tersentak, matanya sempat melebar sesaat. 'Mati gue!' batinnya.
Zayn berdiri tepat di depan Leena. Tatapannya menusuk tajam, menuntut jawaban.
Tak mau terintimidasi, Leena menekan rasa paniknya dan berusaha tetap tenang. Ia bersedekap sambil menaikkan salah satu alis.
“Maksud Pak Zayn gimana ya? Maaf, saya kurang paham!” ujar Leena, suaranya tegas meski sedikit bergetar.
Zayn melangkah lebih dekat, meraih salah satu tangan Leena dan menggenggamnya erat.
“A—apaan sih, Pak?!” Leena mencoba menarik tangannya, tapi genggaman itu tak memberi celah.
Zayn menatap Leena tajam.
“Itu kamu, kan. Leena Laudya?” Setiap katanya terasa seperti ancaman yang dibungkus tenang.
Ketegangan menjalar sampai ke ujung jari Leena. Kini ia yakin, dosen baru itu juga mengenali dirinya.
Leena melepas paksa dirinya, lalu mundur dari hadapan Zayn. Dengan cepat ia meraih gagang pintu. “Sa—saya, uhm … tunggu di luar aja ya Pak!”
Zayn menatap kepergian Leena dari ruangannya. Sudut bibirnya terangkat miring, membatin, ‘Nggak mau ngaku ya.’
Di luar, Leena berdiri membeku. Nafasnya tercekat. Padahal ia sudah melarikan diri dari Zayn.
Tadi, matanya sempat menangkap sebuah tanda lahir di bahu kiri Zayn. Persis seperti milik pria malam itu.
Yang lebih membuatnya syok, di sisi tengkuk Zayn terlihat jelas ada bekas cakaran yang tampak familiar.
Dadanya semakin berdegup. Kenyataan itu menyergap Leena saat tahu kalau Zayn, benar Pria itu.
“Mati gue!” desisnya pelan. “Kalau udah gini, gue harus gimana?!”
Padahal Leena pergi ke klub untuk menenangkan diri dari tuntutan bibinya. Siapa sangka akan menjadi plot twist hidupnya.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Zayn terbuka. Sang dosen muncul dengan pakaian rapi.
Spontan Leena memasukkan kembali kartu nama itu. Ia mencoba tenang, seolah hanya sedang menunggu dengan santai. “Sudah? Ayo berangkat, Pak!”
Koridor fakultas kedokteran terasa panjang. Leena berjalan di depan Supaya tidak ketahuan kalau ia gugup.
“Jadi ini, Pak, area utama Fakultas SPAP di AASM. Ke kanan ini itu, area Laboratorium Komputer. Biasanya dipake buat praktik aplikasi kantor dan simulasi audit.”
Zayn mengamati area yang ditunjuk, kemudian berkata singkat. “Saya tau.”
‘Lah! Kalau tau ya nggak usah tur kali! Repotin orang aja ni!’ keluh Leena tanpa suara.
Beberapa kelompok mahasiswa yang melintas, melirik ke arah mereka sambil berbisik.
“Eh, itu dosen barunya?!”
“Gila sih visualnya! Keenakan Leena tuh, bisa-bisa dia gercep buat modusin Dosen baru!”
Tak nyaman mendengar celotehan mereka, Leena meraih perhatian Zayn. Ia tersenyum tipis, lalu dengan cepat melanjutkan tur mereka.
“Kalau kita belok ke kiri tadi, itu ada Ruang Prodi, Ruang Senat Fakultas, dan lainnya Pak.”
Tak semua dijajah oleh mereka. Sebagian hanya Leena tunjuk dan jelaskan dengan singkat.
Suasana keduanya nampak kaku. Leena hanya bicara seperlunya, sedangkan Zayn hanya menanggapi singkat.
Diam-diam, Zayn sebenarnya menatap Leena keheranan sambil membatin, ‘Dia tenang banget. Serius nggak kepikiran tentang malam itu? Apa cuman pura-pura?’
Memang. Dari luar Leena tampak tenang, padahal gugupnya nyaris tak bisa disembunyikan. Jarinya mengepal di sisi tubuh.
Suasana di antara keduanya nampak kaku. Leena yang berbicara seperlunya, sementara Zayn hanya menanggapi dengan singkat.
“Terakhir, ini taman belakang fakultas. Biasa buat nenangin diri di sini, Pak. Enak tempatnya.”
Leena menarik nafas lega sambil meregangkan sedikit bahunya. Akhirnya tur ini selesai juga, pikirnya.
Zayn maju beberapa langkah ke depan, jaraknya cukup dekat dengan Leena yang berdiri di depannya. Pandangannya memperhatikan sekeliling.
“Ada tempat tenang, kenapa pilih yang bising?” cetus Zayn. “Klub malam maksud saya.”
Netra Leena membulat mendengar kalimat terakhir dosennya, ‘Mampus!’ pikirnya.
Ia berbalik, bermaksud menghadapi Zayn. Namun, saat memutar tubuhnya, ia terkejut karena jarak mereka terlalu dekat.
Keduanya terdiam seolah waktu berhenti. Leena bisa merasakan detak jantungnya yang makin cepat. Ia menatap mata Zayn yang semula datar, kini terlihat redup dan hangat.
Baru saja Leena bermaksud menjelaskan, seseorang memanggil namanya dengan lantang.
“Leena!”
‘Dasar otak sialan!’Leena membanting tubuhnya ke kasur asrama yang entah kenapa terasa jauh lebih keras dari biasanya. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya memikirkan hal-hal yang jauh di luar batas urusan akademis hanya karena satu kata ‘puas’.Suasana kamar asrama lebih remang, kontras dengan gemerlap lampu di resto Saga yang baru saja ia tinggalkan.Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tubuhnya pegal, tapi otaknya malah masih berputar kencang, memutar ulang setiap adegan di ruang Saga siang itu.“Fokus, Na. Fokus. Dia itu dosen lo, nggak lebih,” gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan pipi yang masih terasa panas.Manik mata Leena seketika tertuju pada flashdisk hitam milik Zayn yang kini ada di genggaman.Sebelum pulang dari resto, Zayn melemparkan benda itu padanya disertai satu instruksi tajam: “Jangan sampai ada yang kelewat. Pelajari semuanya.”Lalu kemudian, Leena bangkit, menyeret kaki ke kursi belajar. Dengan gerakan terbata, ia menautk
“Ni orang tenangnya kalau lagi tidur aja. Kalau melek kerjaannya ngancem mulu...’ suara batin Leena mengomel, tapi bibirnya tetap terkunci.Zayn tak menanggapi. Pria itu hanya merapikan setelan kemejanya yang sedikit kusut, baru kemudian melangkah ke meja kerja Saga. Dari saku kemeja, ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.Gerakannya tenang, seolah langkahnya sudah tak memiliki canggung lagi ketika menggunakan area kerja Saga.Leena hanya mengawasi dengan mata, tak beranjak dari tempat. Hanya manik matanya yang bergerak mengikuti setiap gerak Zayn.“Pindah ke sini.” Suara Zayn singkat, sambil menarik kursi kerja yang biasa dipakai Saga.Dengan spontan Leena menolak, “Lah, nggak sopan dong, Pak. Masa iya saya duduk di kursi bos sendiri.”Bukan lagi suara Zayn yang jadi jawaban, tapi tatapannya yang tajam dan menusuk, membuat Leena akhirnya menurut meski hatinya masih penuh tanda tanya. Leena menjatuhkan diri, tubuhnya terasa kaku.Layar monitor menyala, dan folder terenkripsi dibuka.
“Cih!” Leena ikut mendengus ketika Zayn tiba-tiba terdengar mengumpat. Dan untuk yang kedua kalinya, suara berat itu kembali jatuh, “...Bangsat!.”Otomatis Leena terperangah. Manik matanya membelalak, tak habis pikir kalau Zayn bisa semarah itu sampai mengucap kata kasar. Kedua tangan Leena refleks berkacak di pinggang, sambil dada naik turun menahan emosi. “Pak, saya tau saya salah. Tapi omongan bapak barusan—”Kalimat makian yang tertahan di ujung lidah Leena mendadak terputus, setelah langkahnya menyingkap sisi depan sofa. Dan disanalah ia melihat sesuatu yang membuatnya diam. Pria yang biasanya tampil dengan aura otoritas yang menindas itu ternyata sedang terlelap. Zayn tampak menyandarkan kepala di bantalan sofa dengan posisi duduk yang miring dan terlihat tak nyaman. Rambutnya kusut, beberapa helai jatuh menutupi kening, menambah kesan lelah yang jelas di rautnya.Tak ada tatapan tajam yang menghakimi, tak ada suara dingin yang menusuk. Yang ada hanya helaan napas sedikit
"Di mana kamu?"Nada suara Zayn terdengar sedikit lantang dari seberang telepon, tajam dan tanpa basa-basi. Leena yang baru saja setengah duduk di ranjang langsung mengernyit heran, matanya masih berat oleh sisa kantuk.ia melirik ke arah ponsel sekali lagi. Nama Zayn tertera jelas.‘Pagi-pagi gini… ngapain dia nelpon, sih?’ tukasnya dalam hati.“Saya di asrama, Pak,” jawab Leena akhirnya dengan nada sedikit kaku. “Kenapa, emangnya?”Hari itu hari selasa, tepat lima hari sebelum ia kembali ke rutinitas kampus dan memulai semester baru dengan magang chapter dua.Libur masih berjalan, dan selama libur itu, Zayn bukan sepenuhnya menghilang, tapi juga bukan sosok yang rutin muncul.Leena masih bertemu pria dingin itu sesekali kalau dirinya mampir ke resto Saga. Itupun sebatas profesional. Hanya ada sapaan singkat, dingin dan seperlunya saja. Tak lebih. Bahkan semingguan terakhir, Zayn sama sekali tak muncul.Lalu, sekarang, tiba-tiba saja pria itu menelpon Leena.“Kamu kesini sekarang!”
“Ni anak, akhir-akhir ini kenapa jadi makin rewel sih?”Leena mengumpat dalam hati. Terkadang selalu dibuat heran akan perubahan sikap Evan yang tiba-tiba terlihat posesif.Evan masih mengangkat telepon. Alisnya tampak mengerut tipis seolah isi percakapan di layar bukan hal sepele. Padahal, sebelum ponsel itu bergetar, Evan masih sibuk menanyai ini-itu ke Leena dengan nada setengah curiga dan setengah khawatir.Leena menggaruk tengkuknya pelan. Ringisan kecil tersungging di wajahnya. Lebih terlihat heran daripada geli. “Sejak kapan dia jadi kayak gini?” gumamnya lirih, hanya cukup untuk didengar sendiri.Padahal, Evan adalah tipe yang santai. Cerewet iya, kepo juga iya, tapi tak sampai seperti saat ini. Sekarang ia bersikap seolah setiap gerak Leena perlu dipastikan.Tak lama, Evan menutup telepon dan menjauhkan layar dari daun telinganya, lalu menghela napas pendek.“Kayaknya... gue juga harus pergi sekarang, Na,” ucap Evan dengan nada pasrah.Leena mengerjap seketika. “Hah?”“Boka
“Bentar, deh… ?” Langkah Evan mendadak tercekat. Tubuhnya mematung tepat di tengah tarikan Leena yang sedari tadi sudah setengah menyeretnya. Alis pria itu mengernyit dalam. Sorot mataya masih terkunci ke arah mobil yang terparkir di bahu jalan seberang. “Na, kok… kayaknya gue pernah liat mobil itu,” ucap Evan pelan. Nada suaranya tampak diturunkan, seperti sedang memaksa ingatan yang belum sepenuhnya menyatu. Jarak antara gedung asrama Leena dan bahu jalan seberang tepat Leena berhenti, untung saja cukup lebar. Dari titik mereka berdiri, cukup mustahil bagi Evan untuk bisa melihat dengan jelas. Apalagi dengan kaca mobil yang gelap, tak mungkin mudah untuk ditembus pandang dari jarak yang segitu jauh. Logikanya jelas.Namun justru karena itu, jantung Leena berdegup semakin tak beraturan. “Lo ngeyel banget sih, Van,” ketus Leena pada akhirnya. Lagi, Leena mendorong kuat-kuat tubuh Evan. Namun, percuma. Tubuh Evan tetap tak bergeming sedikit pun, seakan kakinya sudah men







