Se connecter“Na! Leena!”
Panggilan lantang itu memecah suasana dari kejauhan, refleks Leena dan Zayn tersentak bersamaan.
Leena langsung mundur menjauh. Sementara Zayn berdehem sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah tak terjadi apa-apa.
Yang memanggilnya rupanya Evan. Sahabatnya itu berlari menghampiri. Nafasnya terengah, wajahnya panik seperti habis maraton.
“Na! Akhirnya nemu juga,” katanya sambil sedikit membungkuk, mencoba menstabilkan nafas.
Leena menatap bingung, “Kenapa emang, Van?”
Evan menggaruk tengkuknya, gelagatnya canggung.
Begitu mendengar dari mahasiswa lain kalau Leena sedang bersama Zayn, ia refleks mencari Leena ke seluruh penjuru kampus untuk memastikan.
Evan sadar, Zayn nampak tampan dan mudah disukai orang.
Membayangkan kedekatan Leena dengan Zayn, hati Evan panas. Ia merasa cemburu.
‘Gue nggak akan ngebiarin Leena jauh dari gue!’ batin Evan.
“Ehm … ke kafe bareng yuk?” ajak Evan, bahkan tak menyapa Zayn.
Mendengar itu, Leena melirik keduanya bergantian. Ada ketegangan yang tak ia pahami.
Leena yang dasarnya tak mau jika harus lebih lama berhadapan dengan Zayn, ia memutuskan untuk berpamitan.
‘Thanks Van, lo emang penyelamat gue’ batin Leena lega, merasa ajakan Evan jadi alasan tepat untuk segera menjauh dari Zayn.
Dengan senyum sopan, Leena berkata, “Tugas saya selesai ya, Pak. Saya izin pamit duluan.”
Zayn mengangguk singkat, manik matanya mengikuti langkah Leena sebelum akhirnya melangkah ke arah yang berlawanan.
Leena dan Evan langsung bergegas ke kafe tempat mereka biasa nongkrong.
Sementara di kafe, Leena merasa pikirannya sangat kalut. Ia terus mengingat kilasan malam panas itu dan pertemuannya dengan Zayn hari ini.
Leena duduk sambil memijat pelipisnya, pikirannya rancau.
Evan sempat melirik sekilas, lalu mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Tur-nya harus sampe taman belakang segala, ya?” ucap Evan, sambil berusaha terdengar santai.
Leena menghela nafas lelah. “Ya semua lah!”
Jawabannya singkat, nadanya hambar. Leena sendiri merasa tak punya tenaga lagi untuk mengobrol.
Sadar kalau Leena sedang tak bisa diajak bicara, Evan memutuskan untuk diam. Ia pikir, mungkin Leena hanya sedang letih.
**
Selama berhari-hari setelah itu, kondisi Leena masih sama. Ia yang biasanya riang, selalu optimis, kini terlihat berubah.
Evan menduga, Leena jadi begitu sejak selesai tur bersama Zayn. Senyumnya jarang tersungging. Sorot mata Leena sering terlihat kosong, dan semangatnya seperti meredup perlahan.
Evan merasa was-was dan khawatir. Suatu siang, setelah kelas selesai. Evan menemui Leena di depan pintu kelasnya. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Leena.
Setelah kelas selesai, para mahasiswa mulai berhamburan keluar. Tak lama kemudian, Leena muncul dari ambang pintu sambil merapikan rambutnya.
“Na!” panggil Evan singkat.
Leena spontan menoleh, ia sedikit terkejut, “Eh … Van. Lo nunggu gue?”
Evan hanya mengangguk singkat. Tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat, jelas bermaksud menemani Leena berjalan bersama ke gerbang kampus.
Sambil berjalan, Evan menoleh ke arah Leena. “Na, Lo oke?”Nadanya merendah. “Ada yang ganggu pikiran lo ya?”
Leena membantu sepersekian detik. Pandangannya jatuh, jemarinya memainkan ujung lengan bajunya. Ada jeda sebelum ia menoleh ke arah Evan.
Leena tahu Evan khawatir, tatapannya juga penuh dengan rasa keingintahuan yang tak bisa disembunyikan.
Di sisi lain, Leena juga tak mungkin membuka cerita. Makanya ia selalu berusaha untuk menekan gejolak paniknya.
Sekalipun Evan adalah sahabatnya, ia tak akan membuka mulut. Ia sadar, itu akan sama saja dengan mengumbar aibnya.
Leena akhirnya menatap Evan sambil tersenyum tipis. “Nggak, Van. Gue oke kok!”
Dibalik senyuman Leena, ada hati yang berseru, antara ingin berteriak minta tolong dan takut kehilangan harga diri.
Dahi Evan mengernyit. “Lo yakin?” tanyanya penuh ragu.
“Iya beneran … akhir-akhir ini kayaknya gue emang lagi kecapean aja. Tapi, gue fine kok,” kata Leena, sambil berusaha terlihat meyakinkan.
Senyuman Leena terasa berat, senyum yang disunggingkan hanya untuk meredam kekhawatiran Evan.
Namun, Evan sangat mengenal Leena. Setiap gurat kebohongan pada wajah Leena tak luput dari perhatiannya.
‘Gue tau lo bohong Na! Sebenarnya lo nyembunyiin apa?’ batin Evan, sorot matanya sambil menelisik setiap ekspresi Leena.
Evan menahan pergelangan tangan Leena dengan lembut. “Gue cuma pengen lo tau, kalau gue ada di sini,” ujar Evan melunak.
Langkah keduanya terhenti. Tubuh Leena kaku, seolah tersentak oleh sentuhan itu.
Leena sontak menarik tangannya, gerakannya refleks dan sedikit berlebihan. Raut kesal muncul, seseorang yang biasa membuatnya tenang, kini justru terasa sedang menekannya.
“Gue beneran cuma capek aja Van! Please deh, nggak usah drama,” ujar Leena cepat, nada suaranya tetap rendah.
Ucapan Leena membuat Evan berkedip sekali, ia paham Leena sedang di titik tertekan yang tak diketahui penyebabnya.
Suasana mendadak hening. Udara terasa menekan Leena lebih dalam lagi, membuatnya semakin gelisah.
Leena cepat-cepat mengalihkan pandangannya, nafasnya semakin berat. Ia ingin segera mengakhiri percakapan yang menekan itu.
“Van, gue duluan ya,” ucap Leena singkat sambil melangkah pergi dengan langkah tergesa.
Tanpa menunggu jawaban Evan, leena terus berjalan menjauh.
Evan yang tak bergeming, tiba-tiba, suaranya mendadak menyalip di udara dan menghentikan gerakan Leena.
“Na! Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu, kan?!” teriak Evan dengan sedikit lantang.
Langkah Leena tercekat seketika, mendengar kata-kata itu yang menusuk. Tangannya mengepal disisi tubuh, menahan riakan yang hampir pecah.
Meski hatinya sempat goyah, Leena memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
Perlahan punggungnya menjauh, sampai akhirnya lenyap dari manik mata Evan, menggantungkan hening yang berat di udara.
Evan masih saja tertegun di tempat. Evan pikir, sepertinya ia harus mencari tahu semuanya sendiri.
“Leena mulai murung sejak tur bareng dosen baru itu. Apa ini ada sangkut pautnya?”
“Lagi-lagi Pak Zayn!”Gumaman itu meluncur begitu saja dari mulut Arin, refleks begitu telinganya menangkap jelas ucapan Leena.Arin yang tadinya menatap ke sembarang arah, menoleh cepat. Rahangnya mengeras seketika, tatapannya menyalang merah. Napas gadis itu tersengal, seolah gumaman Leena membuka celah yang ia tutupi.Hening sejenak. Lalu tanpa bisa ditahan lagi, Arin kembali melontarkan kalimat yang lebih tajam kepada Leena. “Emangnya lo punya apa sih, Na, sampai semua orang penting di kampus ini harus banget memprioritaskan lo?!”Leena yang tadinya hendak melengos, kembali tercekat oleh seruan itu. Tanpa sadar, sikap Arin tampak seolah mengakui sesuatu yang sebelumnya ia sangkal-sangkal. “Arin…?” Suara Leena bergetar tipis, sambil berusaha tetap mempertahankan sisa ketenangannya. Setelah itu, tiba-tiba Arin terkekeh sumbang. Gadis itu melangkah maju untuk kembali memangkas jarak di antara keduanya.“Iya! Semua itu ulah gue! Puas lo?!” Arin akhirnya meledak. Pertahanannya runtu
‘Kepo dikit, nggak masalah kan ya?’Di tempatnya, batin Leena masih komat-kamit. Rasa ingin tahunya semakin memuncak. Dari ekor matanya, Zayn sadar dengan gelagat aneh Leena yang sudah condong ke arahnya. Senyum geli sempat muncul, tapi ia tahan. Pria itu sengaja menjeda ucapan sebentar sebelum kembali fokus ke panggilan. “Oke, saya mengerti. Kirim juga semua detailnya ke email saya sekarang, biar bisa saya tindak lanjuti langsung ke rektorat dalam waktu dekat,” ujar Zayn tegas.Begitu selesai, ia menekan tombol merah di kemudi untuk memutus sambungan. Hening sepersekian detik, sebelum Zayn tiba-tiba menyeletuk tanpa menolehkan pandangan dari jalan.“Nggak sopan tau, nguping obrolan orang. Kalau mau tau, mending hadap sini sekalian!”Merasa tertangkap basah, raut Leena langsung merona. Dengan gerakan cepat ia melempar kembali tubuhnya ke sandaran jok dan kembali merapat ke jendela.“Dih, siapa juga yang nguping. Lagian bukan urusan saya,” elak Leena ketus sambil memalingkan wajah de
“Ughhh…” Tanpa sadar Leena melenguh halus saat merasakan telapak tangannya tengah memeluk sesuatu yang lembut dan hangat. Jemarinya meraba secara acak, tapi kesadarannya belum pulih.Barulah ketika kesadarannya terkumpul, otak Leena dihantam realitas. Ia buru-buru membuka mata dan sadar kalau posisi tubuhnya melintang jauh, melewati benteng guling dan selimut yang semalam disusun sendiri.Deg!Spontan. Leena langsung tersentak bangun sampai terduduk tegak. Dengan rambutnya yang acak-acakan seperti singa, ia menelisik panik ke sisi kanan ranjang.Sisi kasur sebelahnya masih tampak rapi. Ternyata yang ia peluk tadi hanya guling pembatas yang kini sudah koyak oleh polah tidurnya sendiri.“Eh? Loh… Pak Zayn nggak tidur di sini?”Heran, Leena kaget sekaligus lega saat mendapati dirinya tidur sendirian di kamar utama sang dosen. Ia menggaruk pelan tengkuknya dengan raut bingung.Leena kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Saat manik matanya tertuju pada sofa panjang di sebe
“A—anu, Pak… kamarnya…?”Leena menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah apartemen yang luas itu. Ia menatap Zyan dengan raut memelas, memastikan apa dirinya benar-benar akan satu ranjang dengan sang dosen.Mendengar itu, Zayn yang sibuk melonggarkan dasi hanya menoleh sekilas dengan santai. “Kamar yang kemarin kamu pakai.”Zayn kemudian melengos begitu saja menuju dapur, meninggalkan Leena yang mematung di tempat.‘Gila! Ini beneran kita bakal tidur satu ranjang kah?!’ bisik Leena panik dalam hati.Jantung Leena semakin tak karuan membayangkan berbagai skenario. Namun, karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket, ia mengesampingkan kepanikannya sejenak.‘Ah, gue pikirin nanti deh! Yang penting sekarang gue harus mandi dulu biar otak waras,’ batin Leena pasrah.Hembusan napas panjang akhirnya Leena loloskan. Ia menyeret kakinya masuk ke kamar utama milik sang dosen.Setelah beberapa saat, Leena selesai mandi. Gadis itu sudah tampak jauh lebih segar dalam balutan setelan piyama len
‘Duh… tadi gue ngomong apaan sih?!’ rutuk Leena dalam hati.Lagi-lagi Leena merutuki kecerobohannya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Sekitar hampir satu jam setelah drama emosional di kampus tadi, Leena kini sudah terduduk kaku di dalam kabin mobil SUV perak milik sang dosen.Secara fisik, Leena memang tampak jauh lebih tenang. Sisa isakannya sudah hilang, tapi ada hal lain yang tiba-tiba mengusik pikirannya.Bukan lega, Leena justru memikirkan ulang semua ucapan impulsifnya.‘Tunggu deh… kalau gue beneran satu atap sama dia, berarti kita… bakal sekamar terus dong?!’ jerit akal sehat Leena yang baru saja aktif lagi.Detak jantung Leena mendadak mencelos. Sebelumnya, di taman tadi, ia masih sempat tersenyum. Awalnya berpikir bahwa melalui keputusan beraninya itu, ia sedang memberi pernyataan tegas bahwa keduanya sudah saling menaruh perasaan.Namun, realitas tinggal bersama seorang Zayn Vaughan ternyata jauh lebih mengintimidasi daripada sekadar teori otak sendiri.D
“Karena lo nggak pernah ngerasain jadi kita!” Dengan intonasi yang lebih tinggi, Leena menahan kalimat Evan sebelum pria itu kembali memangkas ucapannya. Bola mata Leena kini sudah mulai berkaca-kaca, meluapkan seluruh realitas pahit yang ditelan sendiri. “Lo kaya! Dari lahir udah terjamin! Jelas segalanya beda sama kita-kita yang harus mati-matian berjuang di kampus ini!” seru Leena dengan napas memburu.“Dan satu lagi…” Sempat menjeda kalimatnya, Leena melemparkan tatapan yang lebih tajam. “Lo nggak punya kuasa di sini, jadi… mau bantu apa?”Fakta sosial itu seketika membuat Evan bungkam dan kalah telak di tempatnya berdiri. Semua tekad dan ego pria itu runtuh oleh hantaman kalimat Leena.Brak! Lagi-lagi, Evan meluapkan frustasinya yang mendalam dengan menghentakkan kepalan kedua tangan ke atas meja sampai menimbulkan dentuman yang cukup keras.Suasana hening dan makin memanas. Leena sudah menumpahkan kejelasan yang selama ini mengendap, sementara Evan juga tak tahu harus member







