Share

Bab 3. Berubah

Penulis: Elwy Canopus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 13:02:07

“Na! Leena!”

Panggilan lantang itu memecah suasana dari kejauhan, refleks Leena dan Zayn tersentak bersamaan. 

Leena langsung mundur menjauh. Sementara Zayn berdehem sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah tak terjadi apa-apa. 

Yang memanggilnya rupanya Evan. Sahabatnya itu berlari menghampiri. Nafasnya terengah, wajahnya panik seperti habis maraton. 

“Na! Akhirnya nemu juga,” katanya sambil sedikit membungkuk, mencoba menstabilkan nafas.

Leena menatap bingung, “Kenapa emang, Van?”

Evan menggaruk tengkuknya, gelagatnya canggung. 

Begitu mendengar dari mahasiswa lain kalau Leena sedang bersama Zayn, ia refleks mencari Leena ke seluruh penjuru kampus untuk memastikan. 

Evan sadar, Zayn nampak tampan dan mudah disukai orang. 

Membayangkan kedekatan Leena dengan Zayn, hati Evan panas. Ia merasa cemburu.

‘Gue nggak akan ngebiarin Leena jauh dari gue!’ batin Evan.

“Ehm … ke kafe bareng yuk?” ajak Evan, bahkan tak menyapa Zayn. 

Mendengar itu, Leena melirik keduanya bergantian. Ada ketegangan yang tak ia pahami. 

Leena yang dasarnya tak mau jika harus lebih lama berhadapan dengan Zayn, ia memutuskan untuk berpamitan. 

‘Thanks Van, lo emang penyelamat gue’ batin Leena lega, merasa ajakan Evan jadi alasan tepat untuk segera menjauh dari Zayn.

Dengan senyum sopan, Leena berkata, “Tugas saya selesai ya, Pak. Saya izin pamit duluan.” 

Zayn mengangguk singkat, manik matanya mengikuti langkah Leena sebelum akhirnya melangkah ke arah yang berlawanan.

Leena dan Evan langsung bergegas ke kafe tempat mereka biasa nongkrong. 

Sementara di kafe, Leena merasa pikirannya sangat kalut. Ia terus mengingat kilasan malam panas itu dan pertemuannya dengan Zayn hari ini. 

Leena duduk sambil memijat pelipisnya, pikirannya rancau.

Evan sempat melirik sekilas, lalu mencoba untuk membuka pembicaraan. 

“Tur-nya harus sampe taman belakang segala, ya?” ucap Evan, sambil berusaha terdengar santai.

Leena menghela nafas lelah. “Ya semua lah!” 

Jawabannya singkat, nadanya hambar. Leena sendiri merasa tak punya tenaga lagi untuk mengobrol.

Sadar kalau Leena sedang tak bisa diajak bicara, Evan memutuskan untuk diam. Ia pikir, mungkin Leena hanya sedang letih.

**

Selama berhari-hari setelah itu, kondisi Leena masih sama. Ia yang biasanya riang, selalu optimis, kini terlihat berubah. 

Evan menduga, Leena jadi begitu sejak selesai tur bersama Zayn. Senyumnya jarang tersungging. Sorot mata Leena sering terlihat kosong, dan semangatnya seperti meredup perlahan.

Evan merasa was-was dan khawatir. Suatu siang, setelah kelas selesai. Evan menemui Leena di depan pintu kelasnya. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Leena. 

Setelah kelas selesai, para mahasiswa mulai berhamburan keluar. Tak lama kemudian, Leena muncul dari ambang pintu sambil merapikan rambutnya.

“Na!” panggil Evan singkat. 

Leena spontan menoleh, ia sedikit terkejut, “Eh … Van. Lo nunggu gue?” 

Evan hanya mengangguk singkat. Tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat, jelas bermaksud menemani Leena berjalan bersama ke gerbang kampus.

Sambil berjalan, Evan menoleh ke arah Leena. “Na, Lo oke?”Nadanya merendah. “Ada yang ganggu pikiran lo ya?”

Leena membantu sepersekian detik. Pandangannya jatuh, jemarinya memainkan ujung lengan bajunya. Ada jeda sebelum ia menoleh ke arah Evan.

Leena tahu Evan khawatir, tatapannya juga penuh dengan rasa keingintahuan yang tak bisa disembunyikan.

Di sisi lain, Leena juga tak mungkin membuka cerita. Makanya ia selalu berusaha untuk menekan gejolak paniknya.

Sekalipun Evan adalah sahabatnya, ia tak akan membuka mulut. Ia sadar, itu akan sama saja dengan mengumbar aibnya.

Leena akhirnya menatap Evan sambil tersenyum tipis. “Nggak, Van. Gue oke kok!”

Dibalik senyuman Leena, ada hati yang berseru, antara ingin berteriak minta tolong dan takut kehilangan harga diri. 

Dahi Evan mengernyit. “Lo yakin?” tanyanya penuh ragu.

“Iya beneran … akhir-akhir ini kayaknya gue emang lagi kecapean aja. Tapi, gue fine kok,” kata Leena, sambil berusaha terlihat meyakinkan.

Senyuman Leena terasa berat, senyum yang disunggingkan hanya untuk meredam kekhawatiran Evan.

Namun, Evan sangat mengenal Leena. Setiap gurat kebohongan pada wajah Leena tak luput dari perhatiannya.

‘Gue tau lo bohong Na! Sebenarnya lo nyembunyiin apa?’ batin Evan, sorot matanya sambil menelisik setiap ekspresi Leena. 

Evan menahan pergelangan tangan Leena dengan lembut. “Gue cuma pengen lo tau, kalau gue ada di sini,” ujar Evan melunak.

Langkah keduanya terhenti. Tubuh Leena kaku, seolah tersentak oleh sentuhan itu.

Leena sontak menarik tangannya, gerakannya refleks dan sedikit berlebihan. Raut kesal muncul, seseorang yang biasa membuatnya tenang, kini justru terasa sedang menekannya.

“Gue beneran cuma capek aja Van! Please deh, nggak usah drama,” ujar Leena cepat, nada suaranya tetap rendah.

Ucapan Leena membuat Evan berkedip sekali, ia paham Leena sedang di titik tertekan yang tak diketahui penyebabnya. 

Suasana mendadak hening. Udara terasa menekan Leena lebih dalam lagi, membuatnya semakin gelisah.

Leena cepat-cepat mengalihkan pandangannya, nafasnya semakin berat. Ia ingin segera mengakhiri percakapan yang menekan itu.

“Van, gue duluan ya,” ucap Leena singkat sambil melangkah pergi dengan langkah tergesa. 

Tanpa menunggu jawaban Evan, leena terus berjalan menjauh. 

Evan yang tak bergeming, tiba-tiba, suaranya mendadak menyalip di udara dan menghentikan gerakan Leena.

“Na! Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu, kan?!” teriak Evan dengan sedikit lantang. 

Langkah Leena tercekat seketika, mendengar kata-kata itu yang menusuk. Tangannya mengepal disisi tubuh, menahan riakan yang hampir pecah. 

Meski hatinya sempat goyah, Leena memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

Perlahan punggungnya menjauh, sampai akhirnya lenyap dari manik mata Evan, menggantungkan hening yang berat di udara.

Evan masih saja tertegun di tempat. Evan pikir, sepertinya ia harus mencari tahu semuanya sendiri.

“Leena mulai murung sejak tur bareng dosen baru itu. Apa ini ada sangkut pautnya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 111. Kopi Spesial

    “Apa lagi, Pak? Saya udah telat loh ini!”Napas Leena tertahan, tangannya masih menggantung di gagang pintu mobil yang terbuka.Bukannya lepas, Zayn justru lagi-lagi mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Leena dalam ruang kabin yang seolah menyempit.Tangan panjang pria dingin itu terulur melewati bahu Leena, jemarinya hangat menyentuh tengkuk dengan gerakan sangat perlahan.Zayn merapikan kerah blazer Leena yang sedikit terlipat, sisa-sisa kekacauan kecil saat di apartemen tadi.“Apa nggak sebaiknya kamu resign aja?” tanya Zayn tiba-tiba dengan suara rendah yang sangat tenang.Leena mengerjap, manik matanya bergetar menatap wajah sang dosen yang begitu dekat. “Maksud Bapak?”“Biaya hidup kamu… saya yang tanggung,” timpal Zayn lagu tanpa ada kilat ragu sedikitpun di rautnya.Kening Leena mengernyit dalam, ia menarik kepalanya sedikit ke belakang untuk mencerna kalimat gila itu.“Ngurus biaya hidup saya? Emangnya Bapak siapa saya?” tanya Leena, nada bicaranya antara bingung dan tert

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 110. Minggir Pak!

    “Pak Zayn! Saya harus kerja!” teriak Leena mendadak panik setengah matiRefleks mendorong dada bidang Zayn agar menjauh, Leena langsung celingukan mencari tas dan blazer-nya yang tadi entah terlempar ke mana. “Minggir Pak! Saya bisa dipecat kalau telat lagi.”“Telat sedikit nggak akan bikin kamu miskin, Leena,” sanggah Zayn cepat.Zayn mencoba menahan bahu Leena, tapi gadis itu sudah melengos, memungut heels-nya di lantai. Tak peduli lagi dengan suasana romantis yang baru saja terbangun. Bagi Leena, urusan cuan lebih mendesak daripada urusan asmara.Sambil kembali memakai heels-nya dengan terhuyung-huyung, Leena sempat menoleh ke arah Zayn dengan tatapan yang memicing. “Bapak enak orang kaya! Saya kalau dipecat nggak bisa makan dan ngurus diri sendiri!” dengus Leena akhirnya.Zayn melangkah ke depan, lalu menyambar bahu Leena lagi. “Kalau sampai kamu dipecat…” sempat berhenti sejenak, Zayn menatap lekat manik mata Leena. “Saya yang bakal ngurus kamu.” Leena terdiam sepersekian det

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 109. Si Brengsek yang Mempertemukan

    “Ck! Bukan gitu, Pak.”Takut akan jadi salah paham, Leena cepat-cepat mengalihkan pembahasan. “Udahlah, kita nggak perlu bahas itu lagi,” ujar Leena sambil memakai kembali sepasang heels-nya dengan gerakan kikuk. Leena melangkah maju, lalu mendorong tubuh Zayn agar berbalik menuju lift penghuni. “Ayok Pak, kita langsung naik ke unit Bapak aja. Saya nggak punya banyak waktu karena jam part-time sanya tinggal setengah jam lagi.” Tak bergeming, tubuh Zayn terasa kaku layaknya patung saat Leena mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga, sebelum akhirnya pria itu mengalah dan berjalan masuk ke dalam lift bersama Leena. Di dalam lift, suasana mendadak jadi canggung, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Zayn juga nampak masih menatap Leena lewat pantulan dinding lift, raut bersalahnya masih belum luntur sedikit pun.Merasa tak nyaman dengan tatapan sang dosen, Leena meringis kecil sambil mencetus, “Kenapa Bapak masih ngeliatin saya terus? Tadi kan saya nggak jadi n

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 108. Siapa Pria Asing Itu?

    “Lumayan catik Nona ini.”Tepat di depan pintu putar lobi. Leena terperanjat, kepalanya mendongak otomatis dan manik matanya bertatapan dengan sosok pria asing.Pria muda dengan setelan jas rapi yang nampak sangat mahal, tapi auranya jauh sari kata formal. Ada senyum miring yang terpatri di wajahnya, seolah baru saja menemukan hal menarik.Leena mengerjap, tanpa sadar mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh tinggi badan pria di depannya.“Nona cantik ini, kalau boleh tau siapanya Zayn?” tanya pria itu lagi.Sorot matanya menelisik Leena dari ujung kepala sampai kaki, berhenti sejenak pada blazer yang membalut dress mahal pilihan Zayn. Di belakang pria itu, ada sekitar tiga atau empat orang pria lain yang nampak sama mewahnya, berdiri dengan gaya santai.Dengusan kecil lolos dari bibir Leena, rasa jengkelnya tadi bergeser target pada pria asik yang sok akrab itu.“Maaf, saya rasa nggak ada urusan sama anda, Pak,” ketus Leena sinis.Mendengar dirinya dipanggil ‘Pak’, raut

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 107. Tertahan di Lobi

    “Yakin kamu, Leena?” Suara bariton itu menggantung rendah. Sang direktur memicingkan mata, manik hitamnya menelisik tiap ekspresi Leena, seolah ingin menguliti kebohongan di sana.Tenggorokan Leena mendadak terasa kering, namun tak membiarkan sorot matanya lari. Dengan sisa ketenangan di bawah perlindungan Zayn, ia mengatur napasnya agar tetap teratur.“Sangat yakin, Pak,” kata Leena sambil memperlihatkan data absensi dari mesin fingerprint. . “Bukankah absensi saya ada di jam yang tepat?” Leena menimpali pertanyaan itu dengan nada yang stabil, meski dalam hatinya berdecih jijik. ‘Kenapa? Takut kalau kebusukan Bapak bakal terkuak, ya?’ batin Leena sinis.Dawson berhenti bergerak, ia menyandarkan pinggang pada bibir meja kayu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu tampak menimbang-nimbang ucapan sang sekretaris.“Bagus kalau gitu. Saya cuma nggak suka staf saya punya agenda pribadi di luar jam kerja,” tutur Dawson tajam.Sambil memasang raut sepolos mungkin, senyum tipi

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 106. Mendadak Ngambek

    “Maksud perkataan Bapak tadi apa…?”Suara Leena memecah sunyi di dalam lift yang sedang bergerak turun. Manik matanya masih menatap pantulan Zayn di dinding yang mengkilap, mencoba mencari sisa emosi di wajah sang dosen..Tak menoleh, Zayn hanya merapikan letak arlojinya dengan gerakan yang tampak begitu presisi.“Tadi yang mana? Pas kita jatuh dari kasur?” tanya Zayn tanpa beban sedikit pun.Bibir Leena tampang mengerucut, merasa pertanyaannya dianggap angin lalu. “Bukan itu… soal Pak Zayn bilang, batas—” Leena sempat ragu, pandangannya jatuh. Rasa penasaran mendesak, tapi ia sadar situasinya kurang tepat untuk membicarakan hal itu “Nggak jadi, Pak,” ucap Leena akhirnya sambil menarik napas dan tersenyum tipis.Zayn menghentikan gerakan sebelum akhirnya perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap Leena.Langkah pria itu memangkas jarak formal, memojokkan Leena ke sudut lift. Zayn mencondongkan wajah, membuat manik mata Leena berkedip cepat karena intensitas tatapan yang begitu leka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status