INICIAR SESIÓNDayang pribadiku telah kembali dan menyentuh lenganku lembut. Aku menoleh melihat ke arahnya dan dia mengulurkan beberapa buku padaku. Kuanggukkan kepala ringan, aku membungkuk sesaat sebelum melangkah menuju ke hadapan ibu suri.Sebelum mengucapkan sepatah kata, aku tersenyum lebih dulu. Kemudian, tanganku kusodorkan apa yang ada di tanganku. "Silakan Ibu Suri baca sendiri apa yang aku temukan selama ini!"Sudut mata ibu Suri menyipit memberi kode pada pelayan setianya untuk mengambil benda yang aku sodorkan itu. Kulihat wajahnya berubah saat membaca lembar demi lembar catatan tersebut. Hingga beberapa saat tidak ada suara dari bibirnya sampai pada lipatan ke empat barulah kepalanya terangkat dan menatapku menyipit."Bagaimana, Ibu Suri?" tanyaku."Darimana kau dapatkan semua ini, tidak mungkin putraku yang berbuat semua kesalahan. Pasti kau yang merekayasa," kilah Ibu Suri.Aku tertawa ringan, "Mana ada aku yang berbuat seperti itu. Semua sudah terbukti jelas di sana, itu bukan rek
Sesaat aku melupakan jika di istana ini suaraku belum terungkap, tetapi tanpa sadar bibirku bergerak h hingga menghasilkan suara itu. Untung mereka masih Belum sadar bahwa aku tadi mengeluarkan suara. Aku sedikit lega. Namun, hanya sesaat. Ibu Suri tiba-tiba berpaling menatapku tajam dengan kerumitan di dahinya."Sejak kapan kau bisa bersuara, Putri Gendhis?''Pertanyaan permaisuri membuatku termangu seperti orang bingung, tetapi dengan cepat pelayanku menyenggol lenganku hingga akhirnya suaraku kembali keluar terbata. "Ini kebetulan saja, I-ibu Su-suri.""Ada apa dengan suaramu? bukankah tadi begitu lancar bertanya. Apa sebenarnya yang sedang klau rencanakan, Putri?"Aku mendengus lirih, lalu menarik napas panjang. Kutatap lagi permaisuri itu, baru aku tersenyum simpul."Apa kau tahu mengapa kau dihadirkan di sini?"Aku menggeleng, "Tidak."Dengan jelas permaisuri menjelaskan semua padaku. Di sini aku dihadirkan karena beberapa hal yang terjadi selama aku berada di istana. Ada bukti
Udara terasa sangat dingin menyentuh kulitku hingga memaksaku untuk membuka mata. Ada yang aneh pada tubuhku, dada terasa berat seakan sedang ditimpa oleh benda. Kualihkan pandanganku ke dadaku, saat itu juga kedua mataku membola.Kupejamkan mata kembali untuk mengingat kejadian semalam. Kubungkam mulutku saat ingatan itu kembali memutar kejadian pagi tadi hingga malam. "Kau menggodaku?"Seketika tubuhku sudah berada dalam kungkungan Samuel Ortega, pria itu tidak melepaskanku hingga aku terpaksa menggigit bibirnya.Bukannya melepaskan tubuhku, dia justru makin menggila. Kepalanya bergerak turun ke leher dengan salah satu tangannya mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala.Aku terkunci tidak dapat bergerak leluasa, tetapi setiap sentuhan bibirnya mampu membuat tubuhku bereaksi lebih. Bak cacing kepanasan, tubuhku menggeliat ke samping kanan dan kiri.Gerakan ini makin membuat Ortega bergairah."Teruslah bergerak, Gendhis, maka aku akan menggila bersama tubuhmu," kata Ort
Perlahan aku berbalik arah, kembali masuk ke dalam tetapi sebelumnya kulayangkan tatapan tajam ke arah Sandiago. Pria berwajah datar itu hanya mengangguk kecil tanpa kata. Ku acungkan jari tengahku ke arahnya dengan decihan kuat, barulah aku melangkah masuk.Pandanganku langsung tertangkap oleh dua mata elang milik Ortega, rupanya pria itu sudah menungguku dengan sebatang rokok terjepit di sela jarinya. Aku mengulum senyum santai dengan langkah yang sengaja kubuat seanggun mungkin."Duduk!" perintahnya dingin dan datar.Dari tatapannya sudah bisa kutebak bahwa hatinya sedang dalam keadaan tidak baik. Aku mendengus kasar, lalu kuhempaskan berat tubuhku di tepi ranjang yang menghadap ke arahnya. "Ada apa lagi, Paman?"Kedua mata pria itu seketika membulat saat kata paman kusebut dengan nada datar. Dahiku berkerut melihat reaksinya itu."Siapa yang kau sebut paman di sini, Hem?"Aku seketika terkikik sambil menutup mulutku, sungguh aneh. Hanya ada aku dan dia yang ada di kamar ini, rasan
Dua hari aku di dunia modern, semua sudah aku rencanakan untuk menyiapkan beberapa alat yang sekiranya dapat kugunakan di dunia kerajaan. Bila dipikir-pikir selama aku di duniaku sendiri belum berbincang lama dengan Senopati itu. Mungkinkah tebakan aku benar bahwa dia juga terbawa ke dunia ini?Tiba-tiba aku ingat akan laptop milikku saat masuk perguruan itu, tapi kuletakkan dimana ya? Ku buka beberapa laci meja kerja, mencari benda tersebut. Aku ingat di sana banyak kusimpan file penting. Aku tersenyum saat menemukan laptop tersebut."Baiklah, kita mulai berselancar mencari informasi tentang Samuel Ortega."Jari jemariku bergerak lincah menekan setiap tuts kayboard mencari informasi tentang pria itu. Ternyata identitasnya sangat tertutup, aku tidak dapat membukanya. Huek! Kenapa tiba-tiba perutku terasa mual, tidak mungkin 'kan jika aku hamil?" Tidak, ini sudah empat bulan aku tidak merasakan nyeri perut. Ah, tidak!"Kuremas rambutku pelan, seakan ini adalah keruntuhan nasibku. Sung
Suara Siska membuatku sadar, ternyata pintu itu bisa aku akses setiap saat. Kutatap dalam wajah Siska yang ternyata baru bangun tidur, dan ini adalah kamar pribadiku."Kenapa kau masih di sini?" tanyaku seperti orang bodoh.Dahi Siska menyatu, bibirnya mengerucut dengan tatapan tanpa tanya. Aku mengulum senyum melihat wajahnya, lalu ku raih tangannya dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Dia menurut saja."Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Nona? Tiba-tiba, menghilang dan muncul lagi," cicitnya.Aku masih menatapnya hangat, kuhirup udara panjang sebelum mulai menjelaskan apa yang sedang kualami. Tampak Siska sangat gusar akibat rasa penasaran yang mendera. Sengaja kuulur waktu untuk melihat reaksi asistenku itu hingga beberapa saat aku pun mulai bercerita mengenai semua hal rahasia."Jadi, sekarang Nona menjadi diri sendiri lagi ah?" tanyanya antusias."Bukan seperti itu," jawabku menggantung, Siska makin penasaran."Lalu-," ujar Siska sambil menggeser tubuhnya agar lebih dekat dan
"Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasi
Sial, wanita tua itu mulai berani menekanku. Apakah dia lupa bahwa tanpa ku tidak akan ada status permaisuri yang tersemat di belakang namanya. Sungguh ini bukan seperti inginku saat pertama kali memasuki istana Balai Kambang, apalagi saat ini suami yang seharusnya membelaku justru membawaku dalam
Akhirnya senopati itu duduk satu meja denganku, dia ingin ikut aku sarapan dan bodohnya dayangku justru mempersilakan pria itu untuk sarapan bersamaku. Aku melotot ringan pada pelayanku itu.'Maaf, Putri,' kata pelayanku dengan nada sangat rendah.Aku hanya menyeringai tipis, "Tinggalkan kami!"Day
Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicar







