Share

80.

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-05-17 17:58:16

Serangan kedua datang lebih cepat. Tubuh Anusapati melenting ke udara dengan sikap siap menendang dan tebasan pedang secara bersamaan.

Kali ini serangan itu lebih kuat dan bertenaga. Untuk beberapa saat keduanya bertempur di udara. Namun, lagi, dan lagi. Serangan Anusapati selalu menemui ruang kosong tanpa ada perlawanan yang berarti dari Senopati.

Ranggalawe sama sekali tidak melawan, gerakannya sangat ringan seperti air yang mengalir mengikuti arus dan arus ya telah tersusun secara akurat o
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   80.

    Serangan kedua datang lebih cepat. Tubuh Anusapati melenting ke udara dengan sikap siap menendang dan tebasan pedang secara bersamaan. Kali ini serangan itu lebih kuat dan bertenaga. Untuk beberapa saat keduanya bertempur di udara. Namun, lagi, dan lagi. Serangan Anusapati selalu menemui ruang kosong tanpa ada perlawanan yang berarti dari Senopati. Ranggalawe sama sekali tidak melawan, gerakannya sangat ringan seperti air yang mengalir mengikuti arus dan arus ya telah tersusun secara akurat oleh Anusapati. Aku menahan napas. Lagi, lagi bayangan Samuel melintas di ujung mataku. Gerakan itu… sama persis dengan cara pria modern menyerang sekumpulan preman beberapa bulan silam. Anusapati menggeram. “Berhenti kabur!”Serangannya semakin liar. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa jeda. Pertempuran kembali ke arena, serangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat tanah mulai tergores. Debu beterbangan."Serang aku, lawan. Jangan menghindar terus seperti wanita!" Ranggala

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   79.

    Matahari tepat di puncaknya. Aku sudah duduk di taman menunggu Ranggalawe yang janji akan datang menjemputku. Ditemani secangkir teh hijau hangat buatan dayang, pikiranku berputar mencari kisah yang mungkin terselip di otakku. Namun, hingga beberapa waktu tidak kutemukan sesuatu yang kuinginkan. Udara hari ini terasa sedikit berbeda dengan sebelumnya, sesungguhnya aku sedikit khawatir dengan duel kali ini. Bukan bermaksud untuk meremehkan kekuatan Ranggalawe, melainkan jika yang keluar adalah sosok Samuel, apakah bisa mengalahkan Anusapati yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Belum lagi, kelicikannya itu. Kuhirup napas panjang. "Jangan melamun, Sayang."Tidak ada suara atau perubahan udara yang jelas suara itu sudah begitu dekat di telingaku, bahkan hembusan napasnya dapat kurasakan. Kutengadah menatap wajah itu, dan —cup. Saat itu juga kedua mataku membulat, terkejut sekaligus tertegun menyatu menjadi satu. Namun, anehnya pria itu justru menyeringai penuh kemenangan. Ciuman

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   78.

    Aku terpaku, tidak bisa bersuara seolah lidahku terikat rantai yang berat. Untuk berteriak menyatakan bahwa ini milikku pun sangat sulit. Kemudian, tatapan wanita itu beralih padaku. "Ada pembelaan darimu, Putri?" Dia berhenti sesaat, lalu kembali bersuara seiring hembusan napasnya, "atau, kita bahas selanjutnya di ruang yang lebih luas."Aku diam, tidak memberi respon sama sekali. “Kalau begitu,” suara Ibu Suri memecah keheningan, halus… tetapi tak memberi ruang untuk menolak, “kita tidak perlu berdebat lebih lama. Ikut aku sekarang!" Semua mata tertuju padanya. Dia melangkah maju dan kami bertiga berjalan mengekor tanpa jeda. Ranggalawe berjalan di sisi kananku melindungi aku dari sentuhan Anusapati. Kami terus berjalan mengikuti langkah ibu Suri yang pelan dan anggun. Namun, setiap langkahnya terasa seperti vonis.“Kita akan mencari kebenaran,” lanjutnya setelah sampai di ruang leluhur. “Dengan cara yang tidak bisa dibantah siapa pun di istana ini," lanjutnya. Deg.Jantungku b

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   77.

    Sunyi itu pecah. Saat pintu terbuka, di sana begitu jelas kulihat wajah pria laknat itu—Anusapati. Wajah itu seketika membuatku mual dan ingin muntah. Dengan cepat lengan Ranggalawe menahan tubuhku yang mulai limbung. "Jangan takut, aku masih di sini," ucap Ranggalawe rendah di ujung telingaku. “Akhirnya,” ujar Anusapati pelan, namun penuh tekanan. “Kau tidak bersembunyi di balik pintu lagi.”Ranggalawe tidak menjawab. Dia berdiri tegak di ambang, tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk menutup pandang langsung ke arahku.Menghalangi.Melindungi.Mengklaim.“Aku tidak datang untukmu,” lanjut Anusapati, nada suaranya mulai mengeras. “Minggir.”Ranggalawe bergeming, lelaki itu terlihat begitu mendominasi, menguasai tubuhku dari ancaman sang mantan. Aku mencengkeram erat telapak tangannya. Dapat kurasakan tatapan dingin dari Ranggalawe yang justru semakin dalam. “Dia tidak ingin menemuimu," ujarnya dingin dan datar. Namun memotong tajam.Anusapati tersenyum tipis. Senyum yang berbahaya

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   76.

    Malam belum benar-benar larut, ketika semuanya berubah. Kurebahkan tubuhku, semua terasa sangat melelahkan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidupku, mengapa jadi serumit ini. Kepingan demi kepingan kisah masa silam kembali berputar di ujung mataku. Saat pertama kali aku dibawa ke istana ini. Aura ibu Suri begitu mendominasi, dan suamiku—dia sama sekali tidak inginkan pernikahan ini karena kebisuanku. Kemudian malam itu, saat semua sedang terlelap dalam mimpi. Tubuhku melesat meninggalkan istana dan masuk ke dalam tubub seorang gadis bisu. Nahasnya, di dunia yang berbeda itu nasibku masih sama. Bisu dan memiliki nama yang sama yaitu Gendhis. Hanya saja, di dunia itu nasibku sedikit lebih baik. Sosok pria dewasa yang hangat dan ramah selalu membuatku nyaman—Samuel Ortega. Sementara di istana ini—Ranggalawe, meskipun dia juga pria dewasa tetapi watak dan pribadinya sangat jauh berbeda. Bila di sini, dalam kerajaan aku selalu sembunyi di runag kerja Ranggalawe dan membantunya untuk

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   75.

    Sunyi itu belum sepenuhnya reda, ketika sesuatu berubah. Bukan di sekitar ku, melainkan pada Ranggalawe. Aku bisa merasakannya. Cara dia menatap dan menyentuh, tidak lagi sama.Bukan sekadar memperhatikan. Ini lebih pada cara dia mengawasi. Seolah ada sesuatu yang kini perlu dia jaga dengan sangat hati-hati.Dan sesuatu itu ada di dalam diriku. Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum aku sempat berkata apa pun, Ranggalawe sudah bergerak lebih dulu.Ia berdiri. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya kembali terulur. Kali ini bukan ke bahuku, melainkan ke pergelangan tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, sangat alami.“Ayo,” ucapnya singkat.Aku mengernyit. “Ke mana?”“Kau butuh istirahat.”Nada itu tidak tinggi. Justru pelan, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Aku menatapnya, mencoba membaca maksud di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah ini.“Kau terdengar seperti memerintah,” sindirku pelan.Biasanya dia akan membalas dengan dingin. Atau setidakn

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   22. Bingung

    Tidak ada kata, tidak ada ijin, tiba-tiba tubuhku terangkat dan digendong Ortega. Aku terhenyak kaget, kepalanya tegak dengan tetapan lurus ke depan. Kulirik Siska yang mengangguk memberiku tanda agar tetap tenang.Aku tidak bisa berkata, bibirku terkatup rapat bahkan suaraku sendiri seakan kembali

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   23. Akhirnya Tumbang

    Begitu tubuhku berbalik, tubuh Ortega luruh perlahan. Tubuhnya jatuh ke bawah, terkulai lemas. Hal ini membuatku terkejut, pria yang dingin dan dominan ternyata bisa tumbang juga.Untuk sesaat otakku berhenti berpikir hingga akhirnya tersadar saat kudengar langkah kaki mendekat. Gegas aku meraih tu

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   24. Ada apa dengan jantungku

    "Jangan terlalu dipikirkan apa yang aku lakukan." Suara ini membuyarkan lamunan ku dan kepalaku langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya aku saat mendapati kedua mata biru itu terbuka dengan senyum khas terukir di wajah tampan Ortega. "Kau sudah sadar, Ortega?"Tidak kusadari panggilan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   20. Apa Lagi Ini

    Tanpa bersuara, Ranggalawe terus menatap semua yang hadir. Auranya dapat kurasakan begitu kuat seakan ingin menelan semua yang ada. Aku masih diam menunggu. Perlahan tapi pasti nyali semua yang hadir menghilang, aku termangu. "Baiklah, kami pergi, tetapi ingat satu hal. Satu hari kami datang menun

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status