Share

13. Harus Kembali

Penulis: Shaveera
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 20:59:27

Aku mendengus kasar, ingin rasanya bersuara lantang untuk mengusir wanita jalang itu. Wanita yang kuperkirakan adalah pembunuh ibu pemilik tubuh dan merebut semua perhatian ayahku.

"Aku tidak peduli apa yang telah kau perbuat di masa lalu, saat ini perusahaan tidak menginginkan seorang pelakor," ucap ku dengan bahasa isyarat.

Wanita itu adalah ibu tiri permilik tubuh, dia pula yang terlalu menyiksa. Dengan begini aku bisa membalaskan dendam sebagai pelampiasan jiwaku dari negara lain.

"Sudah a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   95.

    Hingga tengah malam aku masih belum bisa memejamkan mata. Pikiranku menerawang pada peristiwa awal aku datang hingga munculnya Nyai Daksima. Ada kejanggalan yang tersirat dari sorot matanya dan cara dia menyampaikan lisannya.Tidurku tidak nyaman, bukan karena ranjangnya melainkan karena pikiran yang berkelana tanpa ujung. Gerakan ku yang gelisah membuat Ranggalawe bangkit dan duduk menyandar pada dinding ranjang.Lengannya yang kekar meraih kepalaku lalu diletakkan pada dadanya. Dia menunduk dan menatapku dalam."Pasti pikiranmu penuh tanya, Sayang?" tanyanya sambil membelai bibirku. "Lebih baik kita bercinta saja daripada memikirkan hal yang tak pasti itu," lanjutnya dengan senyum entah."Ish, mesum.""Jelas dong, aku suamimu baik dalam dunia ini maupun duniaku. Dengan bercinta pasti pikiranmu bisa terbuka."Kutatap wajah mesum itu, dahi berkerut mendengar kalimatnya. Bagaimana bisa usai bercinta pikiran langsung terbuka. Aneh.Tanpa menunggu jawaban dariku, tubuhku sudah berada dal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   94.

    Aku masih terdiam tanpa suara menatap wajah lelakiku itu. Ranggalawe pun juga sama, kamu saling tatap untuk waktu yang cukup lama hingga suara Nyai Daksima terdengar lembut di ujung telingaku."Ternyata kau datang, Cah Ayu. Kenapa tanpa kabar?" ujarnya sambil menyentuh bahuku. "Jangan biasa lakukan hal itu, nanti akan menguras energimu."Aku menghela napas dalam dan menoleh ke sumber suara. Wanita yang sudah memasuki usia senja itu tersenyum menampilkan gigi putih yang utuh dan rapi.Kemudian, dia berpaling ke samping kananku dimana suamiku berdiri dengan kedua tangan terliipat di belakang. Sikap seorang prajurit yang siaga penuh."Inikah sosok legendaris itu, Empu? Pria yang digadang sebagai penguasa putri Blambangan?"Aku tersentak, bukan karena apa melainkan heran saja dengan ungkapan Nyai Daksima. Dari kalimat itu seakan mereka berdua sudah lama mengenal sosok suamiku dan jalan hidupku.Sedangkan aku? Ini sungguh tidak pernah aku tahu dan perhitungkan. Dulu saat pertama kali melih

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   93.

    "Empu," panggilku saat kami sudah duduk di ruang utama padepokan Sekar Galuh milik pribadi Empu Sukmabiru. Untuk sesaat pria tua itu berdiri saja dengan tatapan menerawang jauh. Ada duka dan luka yang tersirat dari sorot mata itu, tetapi bibirnya berusaha untuk menghadirkan senyum menyambut kedatanganku. Sementara Ranggalawe berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Pria itu melihat sekeliling padepokan yang tampak sepi dan sunyi. "Apakah selalu seperti ini keadaan padepokan kala senja hadir, Empu?" tanya Ranggalawe dengan nada rendah dan tanpa berpaling menatap pada sang empu. Beliau menghela napas panjang, Embu Sukmabiru tidak langsung menjawab, dia justru melangkah mendekat pada meja kayu jati berukiran naga. Di sana tersedia kendi khusus dengan ukiran unik dan ada sejak dulu saat aku masih kecil. Tangan keriputnya bergerak menuangkan cairan dari dalam kendi yang berwarna cokelat terang dan beraroma khas. Setelah menyediakan dua cangkir dan ditata pada baki kayu juga, dia melangka

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   92.

    Prajurit itu tampak serba salah. "Maafkan kami, Putri. Kami hanya menjalankan perintah."Aku menghela napas panjang. Tidak ada gunanya melampiaskan kemarahan kepada mereka, karena itu sudah menjadi kewajiban untuk menjalankan tugas.Pada akhirnya aku memilih menunggu. Di depan gerbang, duduk di kereta dengan ditemani suamiku—Ranggalawe aka Samuel Ortega. Di tempat yang seharusnya menjadi rumahku sendiri, aku terusir secara halus. Entah mengapa waktu pun seolah tidak memihak padaku, mereka memilih berjalan sangat lambat hingga perlahan matahari bergerak turun ke ufuk barat. "Apakah perlu aku dobrak tatanan yang merugikan ini, Nyai?" tanya Ranggalawe dengan kedua tangan mengepal menahan emosi. "Tidak usah, aku masih kuat menunggu meskipun sampai tujuh hari ke depan," jawabku. Satu per satu pelayan dan prajurit yang melintas mulai melirik ke arah kami dengan rasa ingin tahu. Tidak hanya mereka saja, melainkan para warga sekitar. Mereka mulai berbisik-bisik. Dan aku tetap diam, tetap

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   91.

    Perjalanan menuju Blambangan berlangsung jauh lebih lancar daripada yang kubayangkan. Jantungku terus berdetak lebih cepat dari biasanya dan ini membuat aku selalu salah tingkah. Ranggalawe benar-benar menepati janjinya. Dia mengantarku sendiri, ini membuat otakku berkelana dan berbagai pertanyaan muncul di otakku. Bukan hanya itu, pasukan bayangan yang selama ini menjadi kebanggaannya juga ikut mengawal perjalanan kami dari kejauhan. Mereka bergerak nyaris tanpa terlihat, tetapi keberadaan mereka dapat kurasakan setiap saat.Beberapa kali kami melewati perbatasan wilayah dan pos penjagaan kerajaan.Setiap kali para prajurit melihat panji Senopati Utama Balai Kambang berkibar di atas kereta kami, mereka langsung memberi jalan tanpa berani mengajukan banyak pertanyaan.Aku duduk di dalam kereta sambil sesekali menyingkap tirai. Hanya untuk memastikan jalan yang diambil tidak keliru. "Jangan khawatir, aku pasti antar kamu sesuai dengan janji, Gendhis. Nyai tidak perlu takut," ujarnya

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   90.

    Aku tetap berada dalam pelukan Ranggalawe cukup lama. Tidak ada percakapan yang terburu-buru, bahkan kata manis pun hanya sederhana. Hanya kehangatan yang perlahan meresap ke dalam relung hatiku yang selama ini penuh luka. Kutatap dalam wajah itu tanpa suara, tanpa tanya. "Kenapa?" tanya Ranggalawe ringan. Aku menggeleng lemah. Entah mengapa, setiap kali berada di dekat pria ini, seluruh beban yang selama ini kupikul terasa jauh lebih ringan.Aku tidak perlu berpura-pura tegar atau menyembunyikan rasa takut. Bahkan untuk memikirkan bagaimana cara bertahan sendirian pun hampir tak terlintas. Yang kurasakan ada seseorang yang berdiri di sisiku tanpa syarat, tidak memintaku berubah menjadi orang lain. Sosok yang hanya ingin melindungiku.Aku menarik napas panjang. Lalu perlahan kekecup ujung dagunya. Dia tersenyum, "Ranggalawe?""Hm?"Aku menatap matanya beberapa saat. Mencari keraguan sekecil apa pun di sana. Namun, yang kutemukan hanya ketenangan. "Jadi," aku menggigit bibir pelan.

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   29. Akhirnya Sedikit Beban Hilang

    Setelah urusanku dengan Siska selesai, aku pun keluar dari cafe tersebut, Langkahku y ang awalnya semangat tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan. Dari jauh kulihat sosok Ranggalawe berjalan menuju ke cafe Ini juga. Rasa penasaranku muncul, maka kuikuti segera langkahnya dalam senyap.Pria itu te

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   27. Sesuatu yang membuatku pilu

    Seluruh duniaku seketika bungkam, sungguh satu kenyataan yang sulit kupahami. Apa yang ada padaku hingga mereka saling berebut untuk mendapatkan perhatianmu kembali. Dulu, saat masih bisu tidak satu pun pria yang mendekat bahkan mereka sering menghina kekuranganku itu meskipun ada aku berusaha menu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   25. terbangun di tempat berbeda

    Cukup lama aku tertidur hingga suara kicau burung terdengar membangunkan aku. Sesaat kulihat sekitar, ada yang berbeda dengan lingkungan sekitar. Kuedarkan pandanganku ke sekitar, ada yang aneh."Kau sudah bangun, Putri. Syukurlah." Suara ini mengapa sangat familiar, sebutan putri membuat daku ber

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   22. Bingung

    Tidak ada kata, tidak ada ijin, tiba-tiba tubuhku terangkat dan digendong Ortega. Aku terhenyak kaget, kepalanya tegak dengan tetapan lurus ke depan. Kulirik Siska yang mengangguk memberiku tanda agar tetap tenang.Aku tidak bisa berkata, bibirku terkatup rapat bahkan suaraku sendiri seakan kembali

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status