Aku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," kata Andrean, "Benarkan, Kawan?""Aku masih ingat jelas, kulitmu begitu lembut dan halus. Saat mendapat sentuhan begitu liar, dengan cepat belajar.""Bangsat!" Suaraku keluar, serak dan terluka.Apa yang terjadi membuat mereka berempat saling tatap, "Apa kalian mendengar suaranya?" "Ini makin menggairahkan, Stepan."Mereka terus melangkah maju, aku melangkah mundur mencari celah dan tempat sedikit luas agar memudahkan aku bergerak."Mau kemana, Bisu. Ayo, keluarkan suara merdumu itu!"Mereka terus menekanku, mendekat lalu mengulurkan tangannya bersamaan meraih lenganku untuk mengunci. Dengan sigap kutangkis gerakan itu lalu membuat tendangan ringan mempertahankan diri. Mereka terhenyak kaget,
Last Updated : 2026-01-10 Read more