LOGINSerangan kedua datang lebih cepat. Tubuh Anusapati melenting ke udara dengan sikap siap menendang dan tebasan pedang secara bersamaan. Kali ini serangan itu lebih kuat dan bertenaga. Untuk beberapa saat keduanya bertempur di udara. Namun, lagi, dan lagi. Serangan Anusapati selalu menemui ruang kosong tanpa ada perlawanan yang berarti dari Senopati. Ranggalawe sama sekali tidak melawan, gerakannya sangat ringan seperti air yang mengalir mengikuti arus dan arus ya telah tersusun secara akurat oleh Anusapati. Aku menahan napas. Lagi, lagi bayangan Samuel melintas di ujung mataku. Gerakan itu… sama persis dengan cara pria modern menyerang sekumpulan preman beberapa bulan silam. Anusapati menggeram. “Berhenti kabur!”Serangannya semakin liar. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa jeda. Pertempuran kembali ke arena, serangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat tanah mulai tergores. Debu beterbangan."Serang aku, lawan. Jangan menghindar terus seperti wanita!" Ranggala
Matahari tepat di puncaknya. Aku sudah duduk di taman menunggu Ranggalawe yang janji akan datang menjemputku. Ditemani secangkir teh hijau hangat buatan dayang, pikiranku berputar mencari kisah yang mungkin terselip di otakku. Namun, hingga beberapa waktu tidak kutemukan sesuatu yang kuinginkan. Udara hari ini terasa sedikit berbeda dengan sebelumnya, sesungguhnya aku sedikit khawatir dengan duel kali ini. Bukan bermaksud untuk meremehkan kekuatan Ranggalawe, melainkan jika yang keluar adalah sosok Samuel, apakah bisa mengalahkan Anusapati yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Belum lagi, kelicikannya itu. Kuhirup napas panjang. "Jangan melamun, Sayang."Tidak ada suara atau perubahan udara yang jelas suara itu sudah begitu dekat di telingaku, bahkan hembusan napasnya dapat kurasakan. Kutengadah menatap wajah itu, dan —cup. Saat itu juga kedua mataku membulat, terkejut sekaligus tertegun menyatu menjadi satu. Namun, anehnya pria itu justru menyeringai penuh kemenangan. Ciuman
Aku terpaku, tidak bisa bersuara seolah lidahku terikat rantai yang berat. Untuk berteriak menyatakan bahwa ini milikku pun sangat sulit. Kemudian, tatapan wanita itu beralih padaku. "Ada pembelaan darimu, Putri?" Dia berhenti sesaat, lalu kembali bersuara seiring hembusan napasnya, "atau, kita bahas selanjutnya di ruang yang lebih luas."Aku diam, tidak memberi respon sama sekali. “Kalau begitu,” suara Ibu Suri memecah keheningan, halus… tetapi tak memberi ruang untuk menolak, “kita tidak perlu berdebat lebih lama. Ikut aku sekarang!" Semua mata tertuju padanya. Dia melangkah maju dan kami bertiga berjalan mengekor tanpa jeda. Ranggalawe berjalan di sisi kananku melindungi aku dari sentuhan Anusapati. Kami terus berjalan mengikuti langkah ibu Suri yang pelan dan anggun. Namun, setiap langkahnya terasa seperti vonis.“Kita akan mencari kebenaran,” lanjutnya setelah sampai di ruang leluhur. “Dengan cara yang tidak bisa dibantah siapa pun di istana ini," lanjutnya. Deg.Jantungku b
Sunyi itu pecah. Saat pintu terbuka, di sana begitu jelas kulihat wajah pria laknat itu—Anusapati. Wajah itu seketika membuatku mual dan ingin muntah. Dengan cepat lengan Ranggalawe menahan tubuhku yang mulai limbung. "Jangan takut, aku masih di sini," ucap Ranggalawe rendah di ujung telingaku. “Akhirnya,” ujar Anusapati pelan, namun penuh tekanan. “Kau tidak bersembunyi di balik pintu lagi.”Ranggalawe tidak menjawab. Dia berdiri tegak di ambang, tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk menutup pandang langsung ke arahku.Menghalangi.Melindungi.Mengklaim.“Aku tidak datang untukmu,” lanjut Anusapati, nada suaranya mulai mengeras. “Minggir.”Ranggalawe bergeming, lelaki itu terlihat begitu mendominasi, menguasai tubuhku dari ancaman sang mantan. Aku mencengkeram erat telapak tangannya. Dapat kurasakan tatapan dingin dari Ranggalawe yang justru semakin dalam. “Dia tidak ingin menemuimu," ujarnya dingin dan datar. Namun memotong tajam.Anusapati tersenyum tipis. Senyum yang berbahaya
Malam belum benar-benar larut, ketika semuanya berubah. Kurebahkan tubuhku, semua terasa sangat melelahkan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidupku, mengapa jadi serumit ini. Kepingan demi kepingan kisah masa silam kembali berputar di ujung mataku. Saat pertama kali aku dibawa ke istana ini. Aura ibu Suri begitu mendominasi, dan suamiku—dia sama sekali tidak inginkan pernikahan ini karena kebisuanku. Kemudian malam itu, saat semua sedang terlelap dalam mimpi. Tubuhku melesat meninggalkan istana dan masuk ke dalam tubub seorang gadis bisu. Nahasnya, di dunia yang berbeda itu nasibku masih sama. Bisu dan memiliki nama yang sama yaitu Gendhis. Hanya saja, di dunia itu nasibku sedikit lebih baik. Sosok pria dewasa yang hangat dan ramah selalu membuatku nyaman—Samuel Ortega. Sementara di istana ini—Ranggalawe, meskipun dia juga pria dewasa tetapi watak dan pribadinya sangat jauh berbeda. Bila di sini, dalam kerajaan aku selalu sembunyi di runag kerja Ranggalawe dan membantunya untuk
Sunyi itu belum sepenuhnya reda, ketika sesuatu berubah. Bukan di sekitar ku, melainkan pada Ranggalawe. Aku bisa merasakannya. Cara dia menatap dan menyentuh, tidak lagi sama.Bukan sekadar memperhatikan. Ini lebih pada cara dia mengawasi. Seolah ada sesuatu yang kini perlu dia jaga dengan sangat hati-hati.Dan sesuatu itu ada di dalam diriku. Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum aku sempat berkata apa pun, Ranggalawe sudah bergerak lebih dulu.Ia berdiri. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya kembali terulur. Kali ini bukan ke bahuku, melainkan ke pergelangan tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, sangat alami.“Ayo,” ucapnya singkat.Aku mengernyit. “Ke mana?”“Kau butuh istirahat.”Nada itu tidak tinggi. Justru pelan, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Aku menatapnya, mencoba membaca maksud di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah ini.“Kau terdengar seperti memerintah,” sindirku pelan.Biasanya dia akan membalas dengan dingin. Atau setidakn
Mobil terus melaju di kendarai oleh Siska, aku melihat ke samping sepanjang jalan menuju ke lokasi yang dimaksud dalam rekaman vidio. Ada yang aneh dari perjalanan ini, bagaimana bisa Siska selancar ini menjalankan kendaraan menuju ke lokasi itu. Ini aneh bagiku, aku tetap diam sambil mengirim siny
Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan
Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala
Tawa Sagara justru makin terbahak dengan tatapan yang masih hangat tertuju ke arahku. Aku bungkam. Tatapan ku lurus ke arah manik mata hitam yang penuh misteri. Jika jiwa ini pemilik tubuh mungkin saja dia sudah meleleh mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, tetapi sayangnya saat ini tubuh in







