로그인Kami terus berpacu mengejar kenikmatan, iya meskipun saat ini aku sedang hamil ternyata libidoku pun masih mampu bertahan. Sentuhan demi sentuhan Ranggalawe terus memberiku kenikmatan yang luar biasa.Gerakannya yang lembut mampu membangkitkan gairahku hingga di ubun-ubun. Beberapa kali aku mengalami orgasme tingkat tinggi, tetapi pria itu terlihat belum satu kali pun. Aku, mendengus, menatapnya tanpa tanya."Lanjutkan dulu apa yang masih kau inginkan, Gendhis. Sampai pagi pun akan kuberikan jika kamu masih belum puas," ujarnya dengan penuh perhatian.Jarinya bergerak perlahan mengusap keringat yang mulai mengalir di pelipisku, perhatian ini sangat nyata. Pas sesuai dengan kebiasaan Samuel saat kami menyatu." Aku hampir sampai," kataku dengan nada rendah dan manja." Tunggu, kita barengan!"Setelah berkata, Ranggalawe bergerak lebih cepat, panggulnya mendorong dengan frekuensi stabil dan lebih cepat. Aku, melenguh panjang dan Ranggalawe pun terlihat tengadah—merasakan letusan yang da
"Apa maksud dari biaya mahal itu, Paman?""Apakah perlu kujelaskan semua, Sayang? Tidakkah kau sadari sendiri semua ini dimana ujungnya?"Aku mengurai pelukannya, lalu kutatap lebih dalam wajah itu. Memindai keseluruhan mulai dari dua matanya hingga ujung dagunya.Semua masih sama milik Ranggalawe, lalu biaya mahal apa? Mungkinkah itu adalah Samuel Ortega, tidak ada kesamaan sedikitpun dari wajah itu. Hanya pola pikir dan nada bicara saja yang ikut terbawa."Jika kau masih ingin tinggal di sini, maka menurutlah padaku, Sayang. Semua pasti akan berada di jalannya. Aku senantiasa ada untukmu, Gendhis," paparnya sambil membelai kedua pipiku.Sungguh ini tidak kuasa kutolak, perhatiannya, sentuhannya, bahkan cara dia menenangkan aku—sama persis dengan Samuel Ortega."Paman Sam, apakah ini kamu?" tanyaku pada akhirnya.Dia tidak menjawab, tetapi tersenyum sambil kepalanya bergerak turun. Turun, dan makin dekat dengan wajahku. Kemudian, lembut ... Sangat lembut, bibir itu menyentuh bibirku.
Kurasakan perutku mencengkeram, seakan janin ini berontak. Dia ikut merasakan ketegangan yang saat ini kurasakan. Bukan hanya ketegangan, tetapi juga keresahan dan rasa khawatir yang terus menguasai otakku. Tanpa sadar aku merintih sambil memegang perutku. Suara teriakanku memecah fokus mereka berdua yang sedang bersiap untuk saling serang. Keduanya secara bersamaan melangkah mengikis jarak denganku dan berdiri di depanku dengan tatapan penug tanya. Bahkan, gerakan mereka pun kompak. Lengannya terulur dan menggantung di udara, hendak menyentuh ku tetapi ragu. Kutatap wajah mereka berdua bergantian. Wajah Ranggalawe terlihat begitu khawatir, tetapi tangannya seolah ragu untuk menyentuh perutku. Seperti ada dinding yang membatasi geraknya. Sementara Anusapati, wajah itu terlihat begitu menyebalkan untuk dipandang. Seakan meremehkan dan menghina. Aku mendengus. "Apa yang kau rasakan, Gendhis?" Akhirnya suara Ranggalawe pun keluar sarat kekhawatiran, "Apakah dia menyusahkanmu?" "Keh
Serangan kedua datang lebih cepat. Tubuh Anusapati melenting ke udara dengan sikap siap menendang dan tebasan pedang secara bersamaan. Kali ini serangan itu lebih kuat dan bertenaga. Untuk beberapa saat keduanya bertempur di udara. Namun, lagi, dan lagi. Serangan Anusapati selalu menemui ruang kosong tanpa ada perlawanan yang berarti dari Senopati. Ranggalawe sama sekali tidak melawan, gerakannya sangat ringan seperti air yang mengalir mengikuti arus dan arus ya telah tersusun secara akurat oleh Anusapati. Aku menahan napas. Lagi, lagi bayangan Samuel melintas di ujung mataku. Gerakan itu… sama persis dengan cara pria modern menyerang sekumpulan preman beberapa bulan silam. Anusapati menggeram. “Berhenti kabur!”Serangannya semakin liar. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa jeda. Pertempuran kembali ke arena, serangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat tanah mulai tergores. Debu beterbangan."Serang aku, lawan. Jangan menghindar terus seperti wanita!" Ranggala
Matahari tepat di puncaknya. Aku sudah duduk di taman menunggu Ranggalawe yang janji akan datang menjemputku. Ditemani secangkir teh hijau hangat buatan dayang, pikiranku berputar mencari kisah yang mungkin terselip di otakku. Namun, hingga beberapa waktu tidak kutemukan sesuatu yang kuinginkan. Udara hari ini terasa sedikit berbeda dengan sebelumnya, sesungguhnya aku sedikit khawatir dengan duel kali ini. Bukan bermaksud untuk meremehkan kekuatan Ranggalawe, melainkan jika yang keluar adalah sosok Samuel, apakah bisa mengalahkan Anusapati yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Belum lagi, kelicikannya itu. Kuhirup napas panjang. "Jangan melamun, Sayang."Tidak ada suara atau perubahan udara yang jelas suara itu sudah begitu dekat di telingaku, bahkan hembusan napasnya dapat kurasakan. Kutengadah menatap wajah itu, dan —cup. Saat itu juga kedua mataku membulat, terkejut sekaligus tertegun menyatu menjadi satu. Namun, anehnya pria itu justru menyeringai penuh kemenangan. Ciuman
Aku terpaku, tidak bisa bersuara seolah lidahku terikat rantai yang berat. Untuk berteriak menyatakan bahwa ini milikku pun sangat sulit. Kemudian, tatapan wanita itu beralih padaku. "Ada pembelaan darimu, Putri?" Dia berhenti sesaat, lalu kembali bersuara seiring hembusan napasnya, "atau, kita bahas selanjutnya di ruang yang lebih luas."Aku diam, tidak memberi respon sama sekali. “Kalau begitu,” suara Ibu Suri memecah keheningan, halus… tetapi tak memberi ruang untuk menolak, “kita tidak perlu berdebat lebih lama. Ikut aku sekarang!" Semua mata tertuju padanya. Dia melangkah maju dan kami bertiga berjalan mengekor tanpa jeda. Ranggalawe berjalan di sisi kananku melindungi aku dari sentuhan Anusapati. Kami terus berjalan mengikuti langkah ibu Suri yang pelan dan anggun. Namun, setiap langkahnya terasa seperti vonis.“Kita akan mencari kebenaran,” lanjutnya setelah sampai di ruang leluhur. “Dengan cara yang tidak bisa dibantah siapa pun di istana ini," lanjutnya. Deg.Jantungku b
Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan
Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala
Tawa Sagara justru makin terbahak dengan tatapan yang masih hangat tertuju ke arahku. Aku bungkam. Tatapan ku lurus ke arah manik mata hitam yang penuh misteri. Jika jiwa ini pemilik tubuh mungkin saja dia sudah meleleh mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, tetapi sayangnya saat ini tubuh in
Tanpa berkata lagi aku bangkit dari kursi itu, lalu berjalan menuju ke mej a kecil di sudut ruangan. Berdiri menatap ke luar di mana terlihat kesibukan kota yang begitu padat."Apa tujuanmu mengundang aku dan Siska?" "Akhirnya dapat kudengar dengan jelas suaramu, Sayang," ujar Sagara sesaat sebelu







