MasukDiego duduk tegak di kursi ruang kerja Andrew. Pandangannya tertambat pada dinding yang didominasi oleh peta struktur Grup Ortiz. Bagan besar yang memetakan imperium bisnis keluarga Sergio, dari industri manufaktur, logistik, hingga jaringan hotel mewah yang tersebar di berbagai benua.
Andrew berdiri di sampingnya, menjelaskan dengan nada serius namun tenang. “Di sisi keluarga,” katanya, menunjuk satu titik di bagan.
“Ada Miguel Ortiz, adik kandung Sergio. Cukup ambisius, dan seringkali berjalan sendiri di luar struktur utama grup.”
Jari Andrew lalu bergeser ke sisi lain. “Dan ini Juan Ortiz. Putra Sergio. Belum banyak terlibat… untuk saat ini.”
Diego mengerutkan dahi. Ia baru mendengar nama itu. Putra Sergio? Pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya, tapi satu hal yang lebih mengusiknya adalah,mengapa ia diberi penjelasan seperti ini?
Ia bukan siapa-siapa, bukan manajer, bukan bagian keluarga, bahkan bukan staf senior.
“Diego...."
Suara Andrew memutus lamunannya.
“I-iya, Tuan.” Diego segera duduk tegak, tangannya tanpa sadar mengepal di pangkuan.
Andrew melangkah lebih dekat. Sorot matanya berubah serius. “Dengarkan baik-baik. Jaga jarak dari Miguel dan Juan. Tidak ada hal baik yang datang dari interaksi dengan mereka.”
Diego mengangguk pelan, masih mencoba mencerna maksud di balik peringatan itu.
“Tapi Tuan…” Ia akhirnya bersuara. “Kenapa saya perlu tahu semua ini? Saya hanya tukang kebun.”
Andrew menatapnya dalam. “Karena mulai hari ini, kamu bukan lagi tukang kebun. Kamu akan menjadi asisten pribadi Nyonya Ariana.”
Diego tercengang. Ia langsung berdiri dari kursinya. “A-asisten pribadi? Nyonya Ariana?”
Andrew mengangguk. Diego, masih terkejut, menggeleng pelan.
“Maaf, Tuan. Saya rasa… saya tidak cocok untuk tugas itu. Saya sadar diri.”
Tapi Andrew justru tertawa kecil. “Kamu memang jujur. Sama seperti yang Tuan Sergio bilang.”
Diego menatapnya bingung. “Maksud Tuan?”
Andrew berhenti tertawa, lalu menatapnya serius. “Ini perintah terakhir dari Tuan Sergio sendiri. Ia yang memintaku langsung untuk mendidikmu, menjadi orang kepercayaan Ariana.”
Diego terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih dalam dari yang ia duga.
Andrew meletakkan satu tangan di bahu Diego. “Aku akan bantu. Aku yang akan latih kamu dari awal. Tapi keputusan tetap di tanganmu. Kamu bisa menolak.”
Hening sejenak. Diego menunduk, hatinya bergemuruh. Kenapa Tuan besar memilihku? Kenapa beliau begitu percaya?
Lalu, ia menarik napas panjang. Wajahnya mendongak perlahan. Ada tekad yang mulai tumbuh di sorot matanya.
“Kalau itu keinginan terakhir Tuan Sergio… saya siap.”
Andrew tersenyum kecil. Ia menepuk pundak Diego sekali lagi. “Bagus. Sekarang dengar baik-baik. Kita punya banyak yang perlu dibahas.”
Dalam satu jam berikutnya, Andrew membongkar realitas keluarga Ortiz yang tidak pernah Diego bayangkan sebelumnya. Politik internal, bisikan warisan, dan tatapan curiga yang selalu diarahkan pada satu nama, Ariana.
Diego mengernyit. “Mereka menganggap Nyonya Ariana… benalu?”
Andrew menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Nada bicaranya turun.
“Iya. Sejak awal pernikahan mereka, sebagian besar keluarga besar Tuan Sergio tidak pernah menerima Ariana. Mereka menganggap Ariana hanya mengincar harta.”
“Padahal…” Diego menunduk, suaranya pelan tapi tegas. “Saya bisa melihat Nyonya Ariana begitu mencintai Tuan Sergio. Cinta yang begitu dalam.”
Andrew menatap Diego dengan senyum tipis. “Dan itulah mengapa kamu di sini. Itulah alasan kenapa Tuan Sergio memilihmu.”
Diego mengangguk. Kali ini lebih mantap. “Saya mengerti.”
**
Di kamar tidur Ariana, sunyi menggantung seperti kabut yang tak kunjung terangkat. Wanita itu duduk di tepi ranjang, memeluk bingkai foto Sergio erat di dadanya.
Wajahnya letih, tapi tidak lagi menangis. Air mata seperti telah mengering dalam dua minggu penuh kehilangan dan kelelahan.
Dalam pikirannya, kenangan dari hari pemakaman masih bergema.
Bagaimana keluarga suaminya lebih sibuk membicarakan pembagian warisan dibanding mengenang pria yang baru saja mereka kuburkan.
Bagaimana tawa sinis mereka menyelip di sela-sela doa.
Dua minggu itu bukan masa berkabung. Itu neraka.
Selama itu, Ariana lebih sering berada di kantor pengacara Sergio ketimbang rumah. Ia harus memastikan semua dokumen sah, memastikan tidak satu pun dari keluarga Ortiz bisa mengganggu amanat Sergio.
Dan selama itu pula, ia menerima semua hinaan yang mereka tahan ketika Sergio masih hidup.
Kini, ia kembali ke rumah. Tapi bukan sebagai istri seorang pengusaha besar, melainkan sebagai wanita yang ditinggal sendiri, di tengah rumah yang pernah terasa penuh kehidupan.
Di sudut kamar, Adele, pelayan yang diminta Andrew untuk menjaga Ariana berdiri dengan cemas. Nampan berisi bubur di meja tak disentuh. Wajahnya terlihat begitu khawatir.
Lalu suara pelan terdengar dari belakang. “Nyonya belum makan?”
Adele menoleh. Diego berdiri di ambang pintu. Ia mendekat, menatap Ariana dengan sorot yang tulus dan tenang.
“Tidak, Diego. Beliau belum menyentuhnya,” jawab Adele, pelan.
Diego tersenyum tipis. “Biar aku yang urus.”
Tanpa menunggu, ia mengambil mangkuk bubur dan menarik kursi, duduk tepat di depan Ariana. Wanita itu menoleh, sedikit terkejut.
“Diego?” tanyanya, bingung.
Diego tak langsung menjawab. Ia menyendokkan bubur dan menyodorkannya perlahan ke depan bibir Ariana.
“Tunggu, Diego…” Ariana menarik kepala sedikit ke belakang.
Tapi Diego tetap tersenyum. Hangat, tulus, tanpa dibuat-buat.
“Nyonya… makanlah dulu. Kalau Nyonya terus seperti ini, Tuan besar pasti sedih melihatnya. Setelah ini, aku akan duduk di sini. Mendengarkan semua yang Nyonya ingin sampaikan. Aku akan tetap di samping Nyonya. Seperti yang biasa Tuan Sergio lakukan.”
Ariana terdiam.
Kata-kata itu, sederhana tapi tulus, menggetarkan tembok yang telah ia bangun selama dua minggu terakhir. Perlahan, kepalanya mengangguk. Ia membuka mulut, menyambut sendok pertama. Matanya berkaca-kaca.
“Diego… Sergio… Sergio sudah…” kalimatnya terputus. Air matanya akhirnya tumpah. Tidak terbendung.
Ia menangis. Kali ini bukan karena kesedihan saja, tapi karena ada yang mengerti. Ada yang tinggal, saat semua orang lain menjauh.
Diego tetap di tempatnya. Diam, sabar, menyuap satu demi satu, tanpa mengeluh, tanpa bersuara. Hanya menemani.
Di balik pintu, Andrew berdiri diam, memperhatikan. Ia menunduk perlahan, dan senyumnya mengembang.
Di dalam hatinya, ia tahu bahwa Sergio tidak salah menilai.
“Tuan besar… Anda benar. Diego adalah orang yang tepat.”
Bersambung...
Jangan lupa masukkan ke daftar baca kalian ya~
Lima tahun kemudian.Matahari sore di Sevilla tidak pernah berubah, ia tetap menggantung rendah di ufuk barat, menumpahkan cahaya oranye keemasan yang memeluk kota tua itu dengan hangat. Namun, wajah kota di bawahnya telah berubah drastis.Di antara bangunan-bangunan klasik bergaya Moor dan Gotik, kini menyembul sabuk hijau yang membelah kota. Panel surya berkilauan di atap-atap gedung baru, taman-taman vertikal menghiasi dinding beton yang dulunya kusam, dan distrik industri yang dulu kumuh kini telah bertransformasi menjadi pusat inovasi ramah lingkungan.Di lantai teratas Gedung OBC, di balik dinding kaca yang menjulang dari lantai ke langit-langit, seorang pria berdiri diam menikmati pemandangan itu.Diego Martin tidak lagi mengenakan seragam cleaning service yang lusuh atau kemeja yang sedikit kebesaran. Tubuhnya kini dibalut setelan jas navy blue tiga bagian, dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Madrid.Potongan rambutnya rapi, menampakkan uban tipis yang mulai muncul di peli
Pintu ganda kamar utama Mansion Ortiz terbuka lebar dengan satu dorongan bahu yang kuat.Diego melangkah masuk sambil menggendong Ariana dalam dekapannya. Tawa Ariana meledak, renyah dan bebas, memantul di dinding-dinding kamar yang tinggi. Ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berlapis-lapis menyapu lantai, memenuhi ambang pintu seperti ombak putih yang berbuih.“Diego! Hati-hati, gaun ini berat!” seru Ariana di sela tawanya, melingkarkan lengan di leher suaminya.“Bagiku kamu seringan kapas, Nyonya Martin,” balas Diego sambil menyeringai.Ia membawa Ariana ke tengah ruangan, lalu perlahan menurunkannya. Kaki Ariana menyentuh karpet tebal yang empuk, namun tubuhnya masih menempel rapat pada Diego.Suasana di dalam kamar itu telah berubah total. Andrew dan tim rumah tangga rupanya telah bekerja dalam diam saat pesta berlangsung.Cahaya lampu utama dimatikan, digantikan oleh puluhan lilin aroma terapi yang diletakkan di setiap sudut, menciptakan pendar keemasan yang hangat dan romant
Dua bulan kemudian...Udara di ruang ganti pria terasa padat, bukan karena sempit, melainkan karena ketegangan dua pria yang biasanya tak kenal takut menghadapi preman atau rapat direksi, kini justru gemetar menghadapi cermin.Diego berdiri kaku, jemarinya yang biasanya cekatan menandatangani kontrak miliaran kini kesulitan menyimpul dasi kupu-kupu sederhana."Sial," gumamnya pelan, menarik ujung kain sutra itu untuk ketiga kalinya.Di sebelahnya, Jorge tidak lebih baik. Pria kekar itu mondar-mandir di ruang terbatas, mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celana bahan mahalnya. Wajahnya pucat, seolah darahnya tersedot habis ke kaki."Bro... aku mau muntah," keluh Jorge, menyandarkan keningnya ke dinding yang dingin. "Serius. Perutku mulas. Apa aku bisa kabur lewat jendela?"Diego menoleh, menahan tawa melihat sahabatnya yang tampak seperti narapidana menjelang eksekusi mati."Kalau kamu kabur, Adele akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan mematahkan kakimu, Jorge. Dan aku a
Mobil Rolls-Royce itu meluncur masuk ke halaman Mansion Ortiz. Bukan ke lobi utama yang megah, melainkan memutar ke jalan samping yang mengarah ke taman belakang.Ariana turun dari mobil dengan wajah bertanya-tanya. "Taman belakang? Diego, ada apa?"Diego tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mengajak Ariana berjalan. Ia melepaskan jasnya, menyampirkannya di lengan, membiarkan kemeja putihnya terkena angin sore yang hangat.Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang diapit oleh tanaman perdu yang rapi. Aroma rumput yang baru dipotong memenuhi udara, aroma yang sangat familiar bagi Diego."Kamu ingat tempat ini?" tanya Diego sambil memandang sekeliling.Ariana tertawa kecil. "Tentu saja. Ini rumahku.""Bukan itu maksudku," Diego tersenyum, matanya menerawang."Maksudku... ingat saat pertama kali kita bertemu di sini?"Langkah Ariana melambat. Ia melihat ke sekeliling, dan memori itu kembali."Ah..." Ariana menutup mulutnya, terkekeh geli."Waktu itu... kamu dan Jorge.
Dua minggu telah berlalu sejak konfrontasi Diego dengan Javier. Waktu seolah berjalan dengan ritme yang lebih lambat, lebih tenang, memberikan ruang bagi kota itu untuk bernapas kembali.Mesin Rolls-Royce Phantom hitam itu menderu halus saat memasuki gerbang besi tempa Cementerio de San Fernando. Ini bukan kunjungan bisnis, bukan pula pamer kekuatan.Hari ini, Diego menyetir sendiri, tanpa sopir, tanpa pengawalan ketat. Hanya dia dan Ariana. Roda mobil melindas jalanan berkerikil dengan bunyi krak yang ritmis, memecah keheningan kompleks pemakaman elit yang dipenuhi pepohonan cypress tua yang menjulang tinggi.Sinar matahari pagi menyelinap di antara dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari di atas kap mobil.Ariana duduk di kursi penumpang, memandang ke luar jendela. Wajahnya tenang, tidak ada lagi gurat kecemasan yang selama berbulan-bulan menjadi topeng sehari-harinya. Ia mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan, senada dengan setelan jas hitam Diego yang tanpa dasi.Mobil
Valentina menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan isak tangis yang masih tersisa di tenggorokannya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu dengan langkah gemetar namun penuh harap, ia mendekati pria yang duduk membelakangi pintu itu.Punggung tegap itu. Bahu lebar itu. Kemeja putih yang sedikit kusut itu. Semuanya seakan meneriakkan nama Diego."Diego..." panggilnya lirih, suaranya bergetar antara rindu dan putus asa. "Aku... aku tahu kamu masih-"Pria itu berhenti bergerak. Perlahan, ia memutar tubuhnya.Valentina menahan napas, senyum manis sudah ia siapkan di bibirnya.Namun, saat wajah pria itu sepenuhnya terlihat, dunia Valentina runtuh untuk kedua kalinya malam ini.Itu bukan Diego.Wajah pria itu biasa saja. Hidungnya sedikit bengkok, matanya sayu, dan ada bekas jerawat di pipinya. Sama sekali tidak memiliki ketajaman dan karisma yang dimiliki Diego saat ini. Pria itu menatap Valentina dengan kening berkerut bingung, mulutnya sedikit terbuka konyol."Maaf? Non







