LOGINSore mulai turun, cahaya keemasan matahari menembus tirai jendela, menyinari kamar yang kini tenang. Hanya suara detak jam dinding yang mengisi keheningan. Arven bersandar di tumpukan bantal, tampak lebih rileks, sementara Elena berdiri di meja sambil membaca hasil pemeriksaan terakhir dengan saksama, wajahnya serius. Setelah selesai, ia menutup berkas itu dan menatap pria di ranjang.
“Aku sudah melihat hasil pemeriksaanmu,” ucap Elena pelan sambil meletakkan berkas, lalu berbalik meKeesokan harinya setelah konferensi pers Arven, suasana rumah sakit tempat Elena bekerja berubah menjadi jauh lebih tegang. Sejak pagi, beberapa jurnalis terlihat berkumpul di depan gedung. Mereka berusaha mendapatkan pernyataan dari pihak rumah sakit mengenai hubungan Elena dengan Arven, terlebih setelah CEO Laurent Group itu secara terbuka membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya.Meskipun pihak keamanan telah membatasi akses media, berita tersebut telanjur menyebar luas. Nama Elena terus muncul di berbagai pemberitaan, disertai foto‑foto dirinya bersama Arven yang diambil tanpa sepengetahuannya.Di ruang istirahat dokter, Elena menatap layar ponselnya dengan wajah pucat. Ia sudah membaca hampir semua berita yang beredar. Beberapa mempertanyakan profesionalismenya, sementara yang lain mulai berspekulasi bahwa kedekatannya dengan Arven telah memberinya perlakuan istimewa di rumah sakit.Elena mengembuskan nafas panjang, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Ia berusaha mengabaika
Pagi itu, Laurent Group mendadak menjadi pusat perhatian media. Sejak berita tentang Elena tersebar, para jurnalis terus berusaha mendapatkan pernyataan dari Arven, menunggu di lobi gedung dan menghubungi pihak perusahaan. Selama dua hari ia diam. Akan tetapi ketika tuduhan terhadap Elena semakin buruk, ia memutuskan untuk berbicara.“Siapkan konferensi pers,” perintahnya kepada Kael, matanya tertuju pada berkas berita di meja. “Hari ini.”Kael menatapnya serius. “Kau yakin? Begitu kau berbicara, perhatian media akan semakin besar dan bisa merugikan perusahaan.”“Aku tahu,” jawab Arven singkat. “Lalu kenapa?”Arven menutup berkasnya dengan bunyi lembut. “Kalau aku membiarkan mereka terus menyerang Elena hanya karena dia mengenalku, lalu apa bedanya aku dengan orang‑orang yang menggunakan kekuasaan untuk menekan orang lain?”Kael mengangguk pelan. “Baik. Aku akan mengaturnya.”Konferensi pers dimulai siang itu. Puluhan jurnalis memenuhi ruangan, kamera mengarah ke podium. Saat Arven mu
Elena kembali memenuhi berbagai pemberitaan. Akan tetapi kali ini, pemberitaan tersebut tidak lagi sekadar mempertanyakan kedekatannya dengan Arven. Tuduhannya jauh lebih tajam.“Dokter Elena Diduga Memanfaatkan Hubungan dengan Pewaris Laurent untuk Keuntungan Pribadi.”Judul itu muncul hampir bersamaan di berbagai portal berita. Beberapa artikel bahkan menampilkan foto-foto Elena saat pertama kali menangani Arven di rumah sakit. Percakapan profesional yang seharusnya menjadi bagian dari hubungan dokter dan pasien dipotong-potong, kemudian disusun seolah-olah Elena sejak awal sengaja mencari kesempatan untuk mendekati Arven.Ada pula narasi bahwa Elena mengetahui identitas Arven sebagai pewaris Laurent Group dan menggunakan posisinya sebagai dokter untuk mendapatkan akses lebih dekat kepadanya. Tidak ada bukti yang benar-benar mendukung tuduhan tersebut. Akan tetapi opini publik tidak selalu membutuhkan bukti untuk terbentuk.Di rumah sakit, suasana berubah. Beberapa staf memilih diam
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa. Elena baru saja keluar dari ruang pemeriksaan ketika salah satu perawat menghampirinya dengan wajah yang berbeda dari biasanya.“Dokter Elena,” ucap perawat itu pelan, matanya tak lepas dari layar ponsel yang digenggam erat.Elena berhenti melangkah, menatapnya dengan dahi sedikit berkerut. “Ada apa?”Perawat itu terlihat ragu, menelan ludah sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Sepertinya Dokter perlu melihat ini.”Elena menerima ponsel tersebut, jemarinya menyentuh layar yang masih menyala. Sebuah berita sedang menjadi perhatian publik. Judulnya membuat langkah Elena terhenti.“Dokter Muda Dekat dengan Pewaris Laurent Group, Ada Hubungan di Balik Perawatan?” Alis Elena langsung berkerut dalam. Ia menatap tulisan itu sejenak, seakan tak percaya apa yang dibacanya.Ia membaca artikel itu perlahan, baris demi baris. Awalnya hanya membahas hubungannya dengan Arven. Akan tetapi semakin jauh ia membaca, sema
Pagi itu, Kael tidak langsung datang ke ruang Arven. Ia memilih sebuah ruangan kecil di lantai bawah yang jarang digunakan. Tidak ada staf yang bekerja di sana, tidak ada rapat yang dijadwalkan, dan yang terpenting, tidak ada akses langsung ke sistem utama Laurent Group.Laptopnya terbuka. Di hadapannya terdapat beberapa laporan transaksi saham, catatan komunikasi internal, serta data yang berhasil ia kumpulkan secara terpisah dari sistem perusahaan. Semua terlihat biasa. Terlalu biasa.Kael kembali membuka daftar transaksi yang ia terima dari pihak ketiga. Ia mencocokkannya dengan waktu rapat dewan, perubahan kepemilikan saham, dan informasi yang sebelumnya hanya diketahui oleh Arven dan beberapa orang kepercayaannya.Satu pola mulai terlihat. Setiap kali ada keputusan penting yang belum diumumkan secara resmi, beberapa jam kemudian selalu muncul pergerakan tertentu pada saham.Kael menyipitkan mata. Itu bukan kebetulan. Ia membuka catatan lain. Tanggal rapat internal. Waktu keputusa
Sebenarnya, Claire telah datang ke gedung Laurent Group sejak pagi, ketika rapat dewan yang dipimpin Arven sedang berlangsung. Akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam ruang rapat. Ia memilih menunggu di luar, bergerak melalui jalur yang telah disiapkannya, dan memastikan semua rencananya berjalan tanpa menarik perhatian.Meskipun tidak hadir di dalam ruang rapat, bukan berarti Claire tidak terlibat. Semua telah diatur olehnya. Malam mulai turun ketika Claire meninggalkan gedung Laurent Group. Ia tidak langsung pulang.Mobilnya berhenti di sebuah restoran eksklusif yang cukup jauh dari pusat kota. Tempat itu tenang, tertutup, dan jarang dipenuhi wartawan. Claire memasuki ruangan privat di lantai atas tanpa pengawalan berlebihan.Di dalam, dua orang sudah menunggunya. Keduanya merupakan anggota dewan Laurent Group. Claire tersenyum tipis ketika menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.“Rapat tadi cukup melelahkan,” ucap salah satu dari mereka sambil menyandarkan punggung ke kursi, suaran







