FAZER LOGINPagi itu, sinar matahari menyelinap melalui kaca jendela mobil, menyentuh wajah Arven yang tampak lebih segar dibanding minggu‑minggu sebelumnya. Kael mengantar Arven ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rutin. Meski kondisi Arven telah membaik setelah prosedur sebelumnya, ia masih harus menjalani pemantauan berkala, terutama terkait kondisi jantungnya yang perlu diawasi dengan ketat. Ketika mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit, udara pagi yang sejuk menyapu wajah mereka.
“Kau yakin tidak perlu aku menemanimu sampai selesai?” tanya Kael sambil melepas sabuk pengaman, matanya memandang Arven dengan ragu. “Tidak perlu. Kau bisa menunggu di lobi,” jawab Arven sambil membuka pintu mobil, berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya sedikit berdebar setiap kali mengingat akan bertemu Elena nanti. Kael mengangkat alis sambil mengikuti langkahnya masuk ke dalam gedung. “Aku mengantarmu ke sini bukan untuk duduk sendirian di lobi.” Arven mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Kalau begitu, lakukan apa pun yang kau mau. Asalkan jangan mengganggu pemeriksaanku.” Kael tertawa kecil sebelum mengikutinya masuk ke ruang administrasi. Setelah proses administrasi selesai dengan tanda‑tangan singkat dan pengecekan berkas, Arven menjalani pemeriksaan dengan dokter spesialis yang bertugas. Elena tidak melakukan pemeriksaan tersebut, karena jadwal tugasnya berbeda hari itu, tetapi ia berada di rumah sakit dan sempat menghampiri Arven tepat setelah konsultasinya selesai di depan pintu ruang periksa. “Bagaimana hasil pemeriksaanmu?” tanyanya sambil menatap berkas yang dipegang Arven. “Dokter bilang kondisiku cukup stabil, tetapi aku masih harus mengikuti jadwal pemantauan,” jawab Arven sambil menggenggam berkas itu erat‑erat. “Itu kabar baik.” Elena tersenyum tipis, matanya tampak lega mendengarnya. “Tetap ikuti anjuran dokter, ya. Jangan merasa sudah pulih sepenuhnya hanya karena tubuhmu mulai terasa lebih baik.” Arven mengangguk perlahan. “Aku akan mengingatnya.” Kael yang berdiri tidak jauh dari mereka bersandar pada dinding lobi, memperhatikan percakapan itu dengan tatapan penuh perhatian. Ia menyadari perubahan sikap Arven setiap kali berhadapan dengan Elena, pria yang biasanya tertutup dan sulit menerima nasihat kini mendengarkan dengan tenang, bahkan tidak berusaha membantah seperti biasanya. Setelah Elena berpamitan untuk kembali menyelesaikan tugasnya di ruang kerja, Kael melirik sahabatnya dengan senyum penuh arti. “Sejak kapan kau menjadi pasien paling patuh di rumah sakit ini?” godanya pelan. Arven mengerutkan kening, matanya menatap tajam ke arah Kael. “Apa maksudmu?” “Tidak ada. Aku hanya heran melihatmu begitu mudah mendengarkan seseorang,” jawab Kael sambil menggeleng‑gelengkan kepala. “Kael,” panggil Arven dengan nada peringatan rendah. “Baiklah, aku diam.” Kael mengangkat kedua tangan tanda menyerah, tetapi senyumnya tidak menghilang dari wajahnya. “Akan tetapi, sepertinya ada sesuatu yang belum kau ceritakan kepadaku.” Arven memilih mengabaikannya, berbalik arah seolah ingin pergi ke tempat lain. Sayangnya, Kael sudah cukup lama mengenalnya untuk mengetahui bahwa sikap diam seperti itu justru sering menyembunyikan sesuatu yang besar di dalam hati sahabatnya itu. Sebelum mereka pulang, Arven menatap jam dinding di lobi lalu berbicara dengan nada tegas kepada Kael. Ia meminta Kael menunggunya di lobi sebentar. Ia ingin berbicara sebentar dengan Elena yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Kael menatapnya curiga, matanya menyipit sedikit. “Jangan bilang kau tiba‑tiba punya keluhan baru.” “Aku hanya ingin berbicara dengannya,” jawab Arven dengan nada datar, meskipun telinganya tampak sedikit memerah. “Oh.” Kael mengangguk lambat, seolah mulai menebak apa yang akan terjadi. “Tentu saja.” “Jangan mulai,” ujar Arven cepat sebelum Kael sempat berbicara lagi. “Aku bahkan belum mengatakan apa‑apa,” balas Kael sambil tertawa kecil. Arven menghela nafas panjang, lalu beranjak menuju lorong ruang kerja sebelum Kael sempat melanjutkan godaannya. Langkahnya terasa sedikit lambat, seolah setiap langkahnya semakin berat karena kegelisahan yang tumbuh di dada. Di ruang kerja yang tenang, lampu meja menyinari tumpukan berkas di depan Elena. Elena mengangkat kepala ketika Arven mengetuk pintu dengan bunyi pelan. “Arven? Ada yang ingin kau tanyakan tentang pemeriksaan tadi?” tanyanya sambil meletakkan pena yang sedang digenggamnya. “Bukan tentang pemeriksaan.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. “Apa kau punya waktu sebentar?” Elena meletakkan berkasnya ke samping dan mengangguk, mempersilakannya duduk di kursi di hadapan meja kerjanya. Arven mengambil kursi itu dan duduk perlahan. Anehnya, kali ini ia merasa jauh lebih gugup daripada ketika harus menghadapi prosedur medis yang menakutkan beberapa waktu lalu. Ia sudah berulang kali menyusun kalimat di kepalanya selama berhari‑hari, tetapi sekarang semua kata‑kata itu mendadak terasa sulit diucapkan. Jari‑jemarinya saling digosokkan di pangkuan untuk menenangkan diri. “Aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama kupikirkan,” ucapnya perlahan, matanya tertuju pada permukaan meja terlebih dahulu. Elena menatapnya dengan penuh perhatian, tidak menyela sedikit pun. “Aku mendengarkan.” “Sejak mengenalmu, ada banyak hal yang berubah dalam diriku. Awalnya, aku mengira aku hanya merasa nyaman karena kau membantuku menghadapi ketakutanku. Tapi semakin lama, aku menyadari bahwa aku selalu menantikan saat bisa bertemu denganmu.” Ia berhenti sebentar, menarik nafas dalam‑dalam lalu memberanikan diri menatap mata Elena dengan tatapan tulus. “Aku memikirkanmu bahkan ketika kita tidak sedang bertemu. Aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu, dan aku merasa senang setiap kali mendengar suaramu.” Jantung Arven berdegup semakin cepat, denyutnya terasa jelas di pelipisnya. “Elena, aku jatuh cinta kepadamu.” Elena terdiam sejenak, matanya sedikit terbelah kaget. Ia tidak menyangka Arven akan mengungkapkan perasaan itu secara langsung di ruang kerjanya yang tenang ini. “Aku tahu kau adalah dokter yang merawatku,” lanjut Arven dengan nada rendah akan tetapi tegas. “Aku juga tahu situasi ini tidak sederhana. Aku tidak mengharapkanmu menjawab sekarang, apalagi membalas perasaanku hanya karena kita semakin dekat.” Ia menarik nafas perlahan untuk menenangkan kegelisahannya. “Aku hanya tidak ingin terus berbohong kepada diriku sendiri.” Elena menunduk sesaat, jari‑jemarinya memutar pena di atas meja. Ia berusaha memahami perasaannya sekaligus mengingat batas tanggung jawab profesional yang harus dijaganya. “Arven, aku menghargai kejujuranmu,” ucapnya dengan nada lembut akan tetapi tegas. “Tapi selama aku masih menjadi doktermu, kita harus menjaga batas profesional. Aku tidak ingin perasaan ini memengaruhi keputusan tentang perawatanmu.” “Aku mengerti,” jawab Arven singkat, bahunya sedikit terkulai. “Aku juga membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya dengan jernih.” Arven mengangguk perlahan. Meski ada sedikit kekecewaan karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti, ia tidak berniat mendesak Elena dengan cara apa pun. “Aku akan menghormati itu.” Ketika Arven keluar dari ruang kerja, langkahnya terasa lebih ringan meskipun hatinya masih bercampur‑aduk antara harapan dan cemas. Kael langsung berdiri dari kursi tunggu di lobi begitu melihat sosoknya muncul dari lorong. “Sudah selesai?” tanyanya sambil berjalan mendekat. “Sudah,” jawab Arven dengan nada datar. Kael mengamati wajah Arven beberapa saat, memperhatikan garis‑garis halus di dahi dan tatapan matanya yang tampak bercampur perasaan. “Kau terlihat seperti baru saja menghadapi ujian yang jauh lebih sulit daripada pemeriksaan jantungmu.” Arven mendengus pelan sambil melangkah menuju pintu keluar. “Kau terlalu banyak bicara.” “Dan kau terlalu mudah ditebak,” balas Kael sambil berjalan di sampingnya. Mereka berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Akan tetapi, sebelum mencapai mobil yang terparkir di halaman depan, Kael kembali bertanya dengan nada yang lebih serius tanpa nada gurauan sama sekali. “Kau benar‑benar menyukainya?” Arven menghentikan langkahnya, menatap ke arah pepohonan di halaman sebentar sebelum menoleh ke arah sahabatnya itu. “Ya.” Tidak ada gurauan dalam jawabannya kali ini, hanya kejujuran yang mendalam. Kael mengangguk pelan. Ia tidak menggoda Arven lagi, seolah memahami bahwa pengakuan tersebut bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan lelucon. “Kalau begitu, jangan terburu‑buru. Beri dia waktu untuk memikirkan semuanya.” “Aku tahu.” Arven kembali melangkah menuju mobil, sementara Kael berjalan di sampingnya dalam keheningan yang tenang. Untuk pertama kalinya, Arven telah mengungkapkan perasaannya kepada Elena. Ia belum tahu bagaimana perempuan itu akan menanggapinya kelak, tetapi setidaknya ia tidak lagi harus menyimpan semuanya sendirian di dalam hatinya. Dan di balik ketidakpastian itu, sebuah harapan kecil mulai tumbuh, harapan bahwa suatu hari nanti, hubungan mereka mungkin bisa melangkah lebih jauh, ketika waktunya tepat dan tidak ada lagi batas profesional yang menghalangi.Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui kaca jendela mobil, menyentuh wajah Arven yang tampak lebih segar dibanding minggu‑minggu sebelumnya. Kael mengantar Arven ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rutin. Meski kondisi Arven telah membaik setelah prosedur sebelumnya, ia masih harus menjalani pemantauan berkala, terutama terkait kondisi jantungnya yang perlu diawasi dengan ketat. Ketika mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit, udara pagi yang sejuk menyapu wajah mereka.“Kau yakin tidak perlu aku menemanimu sampai selesai?” tanya Kael sambil melepas sabuk pengaman, matanya memandang Arven dengan ragu.“Tidak perlu. Kau bisa menunggu di lobi,” jawab Arven sambil membuka pintu mobil, berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya sedikit berdebar setiap kali mengingat akan bertemu Elena nanti.Kael mengangkat alis sambil mengikuti langkahnya masuk ke dalam gedung. “Aku mengantarmu ke sini bukan untuk duduk sendirian di lobi.”Arven mendengus pelan, sudut bibirnya terang
Cahaya lampu ruang observasi rumah sakit temaram dan terasa dingin di sepanjang lorong, sesekali terputus bayangan perawat yang lewat berjalan cepat. Pemeriksaan lanjutan Arven berlangsung sejak pagi, serangkaian prosedur untuk mengevaluasi kondisi jantungnya yang memakan banyak tenaga dan membuatnya menahan rasa cemas yang tak terlihat. Setelah semuanya selesai, wajahnya tampak pucat pasi, keringat dingin menempel di pelipisnya, sementara langkahnya tampak sedikit goyah ketika perawat membantunya berjalan perlahan kembali ke ruang observasi.Elena yang kebetulan sedang memeriksa catatan pasien di bangsal terlihat dari kejauhan. Ia segera menutup berkasnya dengan gerakan ringkas dan menghampirinya dengan langkah cepat, tatapannya langsung tertuju pada wajah Arven yang tampak lemah.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada khawatir, matanya memindai wajah dan postur tubuh Arven dari atas hingga bawah.“Lelah,” jawab Arven singkat, suaranya lemah seolah tenaga hampir habis. “Kepalaku
Pagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah jendela ruang rawat, menyentuh meja tempat Elena sedang menyusun catatan pemeriksaan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar pelan. Itu pesan dari Arven, yang menanyakan apakah ia memiliki waktu luang sebelum jam makan siang tiba. Setelah membalas bahwa ia bisa bertemu menjelang siang, Elena segera merapikan berkas‑berkasnya dan berjalan menuju taman kecil rumah sakit, tempat yang sudah disepakati.Ketika Elena tiba, Arven sedang duduk di bangku kayu yang menghadap ke pepohonan rindang. Bahunya sedikit menunduk, pandangannya tertuju pada daun‑daun yang bergoyang tertiup angin sepoi‑sepoi, seolah sedang tenggelam dalam pikiran sendiri.“Kau sudah menunggu lama?” tanya Elena sambil duduk perlahan di sampingnya, agar tidak mengejutkannya.“Tidak.” Arven meliriknya sebentar, matanya tampak masih tertutup bayangan kecemasan yang belum hilang sepenuhnya. “Aku hanya ingin berbicara denganmu.”Elena menoleh ke arahnya, sedikit terkejut.
Elena masih memikirkan kejadian di ruang pemeriksaan saat kembali ke ruang kerjanya sore itu. Selama menangani Arven, ia sudah sering melihat reaksi pria itu terhadap tindakan medis, kadang bersikeras menolak, kadang diam dengan wajah tegang, atau meminta penjelasan berulang‑ulang. Elena tahu itu bukan sekadar sifat keras kepala. Pengalaman buruk membuatnya sulit merasa aman di rumah sakit, baginya mendekat dengan peralatan medis berarti mengambil risiko yang selalu ia hindari.Karena itu, kejadian kemarin terasa begitu berbeda. Arven masih takut, Elena melihat jemarinya mencengkeram sisi ranjang, nafasnya tidak teratur, pandangannya terpaku pada jarum yang disiapkan petugas. Akan tetapi saat tiba waktunya menjalani prosedur, ia tidak melawan, tidak menarik tangan, tidak menyuruh orang menjauh. Setelah mendengarkan penjelasan dokter dan menenangkan diri, ia justru mengulurkan tangannya atas kemauan sendiri.Perubahan itu membuat Elena terkejut. Bukan karena Arven berhasil menjalani pr
Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma
Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma







