Share

Bab 57. Ciuman di Tengah Badai

Penulis: Koihana Reika
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 10:09:53

Ada luka yang terasa perih bukan karena tamparannya,

melainkan karena siapa yang memberikannya.

Elara baru saja mengganti baju dan membersihkan wajahnya saat membuka pintu. Dia tidak terkejut melihat Revan berdiri di sana. Jas yang tadi dipakai sudah dilepas, kemejanya kusut, dan napasnya belum stabil. Revan datang dengan cepat tanpa sempat menenangkan diri.

“Kamu datang,” ucap Elara pelan, matanya penuh rasa keakraban.

Revan tidak menjawab. Pa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 64. Pesan yang Tidak Dibalas

    Revan memilih duduk sedikit menjauh saat ponsel Elara bergetar, wajahnya tenang, tapi jari-jarinya menekuk cangkir kopi yang belum tersentuh. Bukan karena tidak ingin tahu, tapi dia tahu ada ruang masa lalu Elara yang harus dia hormati, meskipun rasa ingin melindungi terus membara dalam dirinya. Nama suami Elara muncul di layar. Pria yang masih ada dalam hidup Elara dan menjadi bagian dari cerita yang membuatnya menjadi orang yang dia cintai sekarang. Elara menatap ponsel beberapa detik, jempolnya menyentuh layar seolah merenung pilihan. Revan berpaling, mengambil cangkir kopinya dengan gerakan lambat, memberi Elara waktu tanpa diminta. "Kenapa kamu tidak ikut pulang bareng Kak Agatha?" tulis Adrian. Elara menarik napas singkat sebelum membalas; napasnya membentuk kabut tipis di udara yang sedikit dingin."Aku ada jadwal konsultasi." Pesan itu terkirim dengan klik lembut, sudah terbaca ditandai centang biru ga

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 63. Hujan yang Menahan Langkah

    Satu panggilan membuat Elara merubah arah pulang. Sesampainya di kota Velora, dia berpisah dengan Agatha dan menuju tempat dengan kenangan hangat yang membuat hatinya berdebar-debar. Elara berhenti di toko kue kecil yang baru dibuka.“Ada tiramisu?” tanya Elara pada pelayan toko. “Ada.” “Selain tiramisu yang paling sering dibeli apa?” tanya Elara. “Red velvet,” jawab pelayan ramah. “Ok, Tiramisu 1, Red velvet 1,” kata Elara dengan senyum singkat.“Ini untuk kalian,” ujar Elara sesampainya di klinik konsultasi. “Terima kasih, Bu Elara. Bapak Revan sudah ada di ruangan konsultasi,” ucap resepsionis yang bertugas. Revan duduk di sofa panjang dengan menghadap ke arah laptop, tapi dia segera menutup laptopnya saat melihat Elara masuk ke dalam ruangan. Matanya lebih lembut saat melihat Elara datang.“Kamu sudah datang,” katanya dengan suara familiar yang membuat Elara meras

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 62. Langkah Menuju Kebebasan

    Keberanian tidak muncul secara tiba-tiba, tapi berkembang perlahan. Setelah seseorang lebih dulu berani mengambil langkah pertama, keberanian itu akan muncul dengan sendirinya.Agatha merasakannya setiap kali menerima kabar dari penyidik. Beberapa minggu setelah skandal Daniel bocor ke publik, korban Daniel mulai muncul satu demi satu. Mereka datang dengan suara gemetar, tapi tegas. Cerita yang berbeda, tapi pola yang sama. Setiap laporan yang masuk adalah bukti bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Ketika kasus naik ke pengadilan, dan hakim menyatakan Daniel bersalah. Daniel divonis penjara selama 12 tahun. Agatha tidak menangis. Hanya merasakan beban yang selama ini menumpuk di dadanya mulai sedikit berkurang. Namun, dia tahu, satu hal lagi yang harus diselesaikan agar benar-benar bebas."Aku sudah memikirkannya sejak lama," katanya pada pengacaranya. Suara yang dulu gemetar kini tenang dan kokoh,

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 61. Kesalahan yang Diakui.

    Ada kebenaran yang akhirnya terucap. Bukan untuk menyelamatkan siapa pun, tetapi karena kini sudah tidak bisa lagi disembunyikan.Agatha duduk dengan bahu membungkuk. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan setiap gerakan menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Suaranya lebih tenang dibanding sebelumnya, meski tetap berat, seolah setiap kata harus melawan hambatan.“Ada satu hal lagi yang harus aku katakan,” ucapnya dengan nada yang jelas.Elara menatapnya tanpa ekspresi, wajahnya tenang. Sementara, Adrian duduk di sofa dekat jendela, satu tangan di saku, punggung setengah menghadap mereka.“Waktu makan malam itu,” lanjut Agatha, suara pelan, tapi jelas terdengar di tengah keheningan ruangan, “Aku tahu Daniel menyentuh kamu.”Adrian langsung menatap Agatha tajam. Garis rahangnya tampak jelas akibat otot yang menegang menahan emosi.“Apa maksudmu, Kak?” tanyanya dengan nada tajam.“Dia sengaja menyentuh tangan Elara,” jelas Agatha, matanya menunduk seolah tidak berani melihat reaksi mereka.

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 60. Rahasia yang Terbuka

    Ada luka yang tidak terlihat dari luar. Bukan karena sudah sembuh sepenuhnya, melainkan karena telah disembunyikan terlalu lama dalam kedalaman hati. Agatha berdiri kaku di tengah ruang tamu, seolah setiap tulang di tubuhnya sedang menanggung beban yang tidak terkira berat. “Elara… Adrian…” suaranya serak di tengah keheningan, setiap kata keluar dengan susah payah.“Selama ini aku bohong.” Nara sudah dibawa ke kamar oleh asisten rumah tangga dengan lembut. Tinggal mereka bertiga dan rahasia yang sudah terkubur selama bertahun-tahun.Agatha menelan ludah dengan susah payah, kemudian mulai membuka cardigan yang dikenakannya dengan gerakan perlahan dan hati-hati. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk memperlihatkan bekas lebam di bahunya dan garis-garis luka samar yang jelas sudah lama.“Ini bukan pertama kalinya,” katanya dengan suara lirih yang penuh kesedihan. Adrian membeku, rahangnya mengeras

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 59. Kabar yang Mengejutkan

    Elara terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh suara Adrian yang memanggil namanya dari sisi ranjang, nadanya yang biasanya tenang kini terasa tegang. “Ra,” ucap Adrian pelan, tangannya menyentuh bahu Elara dengan lembut tapi pasti. “Bangun.”Elara membuka mata perlahan, kelopak matanya masih berat karena kantuk. Cahaya pagi hanya sedikit merembes melalui tirai, membuat kamar tetap terasa gelap. “Kenapa?” suaranya serak. “Kak Agatha menelepon.” Adrian berdiri di sisi ranjang, ponsel masih terpegang erat di tangannya. “Daniel ditangkap polisi pagi ini.”Elara langsung duduk tegak. Detik itu juga rasa kantuknya hilang sepenuhnya, digantikan oleh getaran yang menyebar dari ujung jari hingga ujung kaki. “Ditangkap?” katanya dengan suara yang lebih tinggi dari yang dia harapkan. “Iya.” Adrian mengangguk singkat, matanya tidak bisa menyembunyikan kekagetan yang masih menyelimutinya. “Katanya sudah resmi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status