Sudah sebulan sejak Ariadna tinggal di mansion Vernando dan resmi menjadi istrinya—CEO Angels Entertainment yang juga sekaligus bos mafia internasional di bawah tanah..
Selain sikap aneh Vernando padanya di malam pernikahan mereka terkait penculikan Ariadna di masa lalu, gadis itu tidak merasa ada hal lain yang mengganjal. Pembicaraan mereka malam itu berakhir begitu saja ketika Ariadna menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh tidak punya ingatan tentang itu. Sejak itu, mereka tidak pernah membahasnya seolah interogasi Vernando malam itu tidak pernah ada.
Yang menarik? Mereka sudah tidur seranjang selama tiga puluh hari tanpa satu pun adegan panas. Bahkan tidak ada sesi accidental brushing-of-the-hand seperti di drama. Yang ada hanya bantal tambahan di tengah ranjang dan jarak yang bisa diukur dengan meteran bangunan.
Ariadna tidak tahu harus bersyukur atau merasa tersinggung.
“Jadi… aku ini istri, boneka pajangan, atau semacam roommate yang kebetulan sah di mata hukum?” gumamnya suatu malam, menatap langit-langit kamar yang luas seperti aula dansa. “Apakah aku sudah kehilangan pesona?”
Sebagai gadis populer yang terbiasa dengan tatapan memuja dan bujukan manis dari para pria, Ariadna mulai mempertanyakan eksistensinya sendiri. Atau jangan-jangan, Vernando homo?
Setiap hari, pria itu pulang larut malam. Kadang pukul sebelas, kadang pukul dua. Dan ketika pulang, hanya mengangguk kecil seolah berpapasan dengan tetangga sebelah. Sesekali mereka memang mengobrol, tapi itu bisa dihitung jari. Walaupun memang diakui, sikap Vernando sejak malam pernikahan itu lebih lembut padanya. Kadang dia tersenyum mendengar celetukan-celetukan Ariadna.
Suatu malam, saat jam menunjukkan angka 00:42 dan drakor di laptop masih menyala, Ariadna mendengar suara mobil memasuki area halaman. Lagi-lagi, Vernando baru pulang
Dia turun dengan sengaja—bukan karena kangen, tapi karena penasaran
Sebenarnya Ariadna juga bisa memahami jam pulang Vernando yang larut itu, toh suami barunya itu bukan pengangguran. Tapi tetap saja, Ariadna ingin bertanya. Entahlah, dalam hatinya dia sendiri bingung apa maunya, apa ia ingin diberi kabar?
“Pulang jam segini, Pak Bos?” Ariadna berdiri di tengah tangga dengan tampang sok prihatin. Sebulan tinggal dengan Vernando, dia mulai terbiasa dan berani bersikap non formal dengannya. Vernando pun tidak protes, bahkan menyuruhnya untuk bersikap seperti karakter aslinya, tanpa polesan.
“Jangan bilang kamu kerja lembur demi menyelamatkan ekonomi negara.” Vernando melepaskan jas, memberikannya pada Sebastian, asisten pribadinya yang melangkah kemanapun Vernando berjalan__kecuali ke kamar.
“Aku tidak menyangka kamu akan jadi tipe istri yang nunggu di tangga dengan daftar pertanyaan,” katanya tanpa menoleh.
Ariadna menaikkan alis. “Aku juga nggak nyangka kamu akan jadi tipe suami yang nggak pernah kelihatan.. Kupikir semua sudah dikerjakan anak buahmu."
Vernando menatapnya sekilas, lalu melangkah ke dapur. “Kamu mau ikut audit pekerjaanku juga?”
“Kalau kamu kerja di BPK, mungkin,” Ariadna menyusul sambil mengisi gelas air. “Tapi kamu bukan akuntan, kan? Kamu bos... klub malam. Jadi kalau kamu pulang dini hari, ya maaf, aku mikirnya kamu bukan lagi hitung laporan keuangan."
Vernando mengangkat alis, menyeruput air dingin dari gelas kaca. “Wah... sindiranmu ini sudah terdengar seperti istri sungguhan.”
Ariadna memutar bola matanya. “Apa itu artinya aku akan naik level dan bisa dapat password laptop kamu?”
Vernando menyandarkan tubuh ke counter. “Kenapa? Kamu mau tahu aku chattingan sama siapa?”
“Enggak. Aku cuma penasaran saja kamu pulang larut darimana kemana, kan aku khawatir sedih kesepian merana sendiri dalam sepi.” jawab Ariadna setengah sungguhan setengah bercanda.
Vernando membuang muka seakan ingin menyembunyikan tawa “Kamu drama banget.”
“Dan kamu sok sibuk banget,” balas Ariadna.
Vernando hanya tersenyum samar dan pergi begitu saja, seperti biasa. Menyisakan bau parfumnya dan keinginan Ariadna untuk meninju lemari es. Dia merasa diabaikan. Dan itu menyebalkan.
______________________________________________________________________
Esok harinya, merasa frustrasi dan sedikit terlalu sehat karena tidak punya apa-apa untuk dikerjakan, Ariadna memutuskan untuk berjalan-jalan di mansion.
Mansion tiga lantai itu bagai istana modern: lantai pertama tempat publik—ruang tamu, dapur, home theatre, dan gym; lantai dua adalah kamar pribadi mereka berdua, perpusatakaan, dan beberapa kamar pribadi lagi; untuk lantai tiga, Ariadna tidak pernah kesana, tapi dia tahu bahwa di atas adalah ruang kerja Vernando, dan ada juga ruang meeting serta taman gantung yang memiliki beranda terbuka yang besar sehingga kelihatan dari luar.
Lantai dua dan lantai tiga hanya dapat dimasuki oleh beberapa asisten pribadi Vernando dan tamu khusus yang telah menerima ijin.
Ariadna yang ingin melihat-lihat taman di lantai tiga, berpikir sejenak ketika akan melagkahkan kaki ke tangga. Perlukah dia minta ijin dulu kepada Vernando? Tapi hei, dia sekarang nyonya rumah. Hak aksesnya di rumah ini setara dengan sidik jari Vernando. Vernando kan suaminya, rumah suaminya adalah rumahnya. Buat apa minta ijin untuk keliling di rumah sendirii?
Jadi, dengan keyakinan penuh, Ariadna naik ke lantai tiga. Ia ingin segera melihat taman indah yang terlihat dari luar itu. Taman besar lengkap dengan pancuran dan tanaman eksotis yang terdengar terlalu Instagramable untuk dilewatkan
Namun, niat bersantai berubah ketika dia melihat pintu ruang kerja Vernando terbuka sedikit.
Ariana bimbang. Ruang kerja itu cuma beberapa langkah darinya.
“Cuma mau lihat sebentar...” bisiknya akhirnya pada diri sendiri.
Ruang kerja itu seperti markas rahasia: rapi, dingin, dan penuh aura intimidasi. Tapi yang paling mencolok adalah folder besar bertuliskan ESPOIR – INTERNAL ONLY di rak kaca.
Ariadna tahu apa itu espoir. Itu adalah idol grup asuhan perusahaan entertainment milk Vernando, agensi “Angels”. Idol Grup yang mengundang berbagai kontroversi bahkan walaupun mereka belum melakukan debut. Itu dikarenakan usia mereka yang diduga di bawah umur serta latar belakang mereka yang masih dirahasiakan. Publik hanya mengetahui wajah serta nama panggung mereka lewat promosi yang sudah gencar dilakukan.
Ariadna mencoba menahan diri. Tapi folder itu berteriak padanya. Dan ia punya masalah dengan rasa ingin tahu—dan folder berteriak.
Dia menariknya keluar. Membuka pelan-pelan.
Data. Foto. Profil.
Nama asli. Jadwal latihan. Riwayat kesehatan. Dan... wali?
"Wali: Natalia, entertainer, UnderHeaven Lounge. Client level: Diamond."
Ia terdiam sejenak.
UnderHeaven Lounge itu lounge mewah kelas atas, satu grup dengan klub-klub malam milik Vernando.
Ia membuka satu lagi. Dan satu lagi. Semuanya serupa.
Para idol ini... mereka bukan gadis-gadis acak hasil audisi nasional.
Mereka putri dari para wanita penghibur
Dan Angels... bukan sekadar agensi.
Itu sistem regenerasi. Menggunakan yang dewasa untuk hiburan kelas atas dan yang muda untuk publik !
Ia bahkan belum selesai menyerap semuanya ketika terdengar suara langkah sepatu kulit dari belakang.
“Menarik pilihan bacaanmu malam ini.”
Suara tenang dan dingin itu datang dari belakangnya. Suara itu seperti punya suhu dingin karena langung membuat bulu kuduk Ariadna meremang.
Vernando berdiri di ambang pintu. Mengenakan jas gelap, dasi longgar, dan ekspresi seperti mau menyita nyawa.
“Sejak kapan hobi putri pejabat adalah masuk tanpa izin ke ruang pribadi?” tanyanya dingin.
Ariadna mencoba tenang. “Sejak aku jadi istri seseorang yang menyimpan anak-anak di bawah umur sebagai komoditas hiburan.”
Ekspresi Vernando tak berubah. “Mereka bukan komoditas. Mereka diberi kesempatan. Sesuatu yang dunia tolak mentah-mentah karena mereka bukan anak bangsawan sepertimu.”
“Oh, jadi menjual anak-anak secara halus di bawah lampu sorot itu namanya ‘kesempatan’ sekarang?” Ariadna membalas dengan folder masih di tangan. Nadanya lembut, namun ucapannya setajam pisau.
“Kamu memanipulasi mereka, memeras masa muda mereka buat uang.” lanjutnya.
“Dan kamu... benar-benar lucu,” kata Vernando, mendekat. “Gadis yang hidup dalam sangkar kaca, dijaga oleh uang haram ayahnya, kini merasa suci dan ingin menyelamatkan dunia.”
Ariadna merasakan darahnya mendidih. Lidahnya tidak terkontrol lagi “Setidaknya ayahku tidak mengajarkan cara mendapatkan uang haram itu padaku, seperti kau dibesar–!!”
Satu detik kemudian, kata-katanya terpotong.
Bibir Vernando melumat bibirnya. Cepat, tanpa peringatan. Lidahnya memaksa masuk ke rongga mulut gadis itu, menghentikan lidah Ariadna berkata lebih jauh.
Ariadna hampir membanting pintu kaca besar di lobi kantor Vernando ketika ia masuk. Sepatu haknya menghentak lantai marmer, menandai setiap langkah penuh amarah. Tanpa peduli pandangan para staf, ia langsung menuju ruang utama di lantai atas.Begitu pintu terbuka, Sebastian—yang sedang berdiri di dekat meja kerja—menoleh. Vernando duduk di balik meja, memeriksa berkas. “Vernando!”Vernando mengangkat kepalanya Apa kau membunuh Sean?” Ariadna bertanya langusngVernando mengerutkan kening, melirik Sebastian.Sebastian merapatkan map ke dada. “Maaf pak, laporannya datang tadi pagi ketika Anda sedang rapat bersama pak menteri. Saya terlewat menginformasikannya...”“Tidak usah bersandiwara,” potong Ariadna. “Jelas ini kerjaannya Vernando, masa dia tidak tahu!”Sebastian menarik napas, hendak menjawab, namun pergelangan tangan Vernando terangkat ringan—perintah sunyi untuk diam.“Pertanyaanku sederhana,” kata Vernando tenang. “Apa motifku membunuh Sean?”“Cemburu,” jawab Ariadna, tajam, s
“Tehnya enak banget, Ari. Ini teh apa, ya? Aku juga mau beli buat di rumah!” Hana menutup matanya sebentar, menghirup aromanya dalam-dalam.Pagi itu, Hana datang ke mansion dengan dijemput langsung oleh Oktal—supir Ariadna yang untungnya kemarin tidak jadi dipecat meskipun lalai menjaga tuannya.“Aku nggak tahu,” jawab Ariadna tanpa mengangkat wajah dari tablet. “Nanti aku suruh staff bawakan untukmu dari dapur.”“Sudah, berhenti membaca komentar-komentar nggak masuk akal itu!” Hana merebut tablet dari tangan Ariadna lalu menyelipkannya di bawah bantal sofa, “Aku datang buat menghiburmu dan bikin kamu lupa sama netizen brengsek itu, bukan malah mendukungmu meratapi nasib,” lanjut Hana dengan nada separuh prihatin, separuh kesal.Ariadna menghela napas berat, bersandar ke sofa. “Aku cuma… penasaran. Kenapa dalam waktu beberapa jam setelah pertemuanku dengan Lysandra, ada serangan semasif itu. Ternyata fansnya memang segila itu, ya?”“Jangan polos, Ari. Selain fans, dia juga gerakin bu
Ariadna membanting ponselnya ke dinding. Kesabarannya habis. Aplikasi chat dan pesannya semua macet karena serangan pesan bertubi-tubi dari ratusan nomor yang tidak dikenalnya. Sementara itu, telepon di ruang tamu lantai satu juga tidak berhenti berderaing. Kabarnya, telepon di ruang penerimaan tamu di gerbang depan juga tak berhenti menerima panggilan. Ariadna menggigit bibir. Dia sering dengar jangan pernah menyinggung seorang selebritis media karena fansnya lebih radikal daripada komunitas apapun, tapi baru kali ini dia merasakannya sendiri. Pesan dan panggilan dari fans Lysandra tidak henti mendatanginya. Semua makian dan kata-kata kasar yang bahkan belum pernah ia dengar seumur hiduo sudah ditelannya. “Cabut saja semua sambungan teleponnya!!” teriak Ariadna frustasi“Nyonya……nyonya..!” seorang asisten menghadap Ariadna buru-buru. Ariadna menoleh garang, membuat asistennya sedikit mundur. Ariadna menghela nafas “Katakan.”“Maaf, ada laporan dari depan, kiriman makanan pesan an
Menyadari Vernando sedikit goyah, gadis itu semakin agresif memainkan lidahnya di tekinga pria itu. Vernando tak mengelak, dan mulai menikmati. Tangannya yang semula memegang lengan gadis itu untuk mendorongnya turun, tanpa sadar bergerak menyusup ke baju Lysandra yang memang berleher rendah, memperlihatkan belahan dadanya. Ketika tangan Vernando meremas dada Lysandra, gadis itu mendesah pelan di telinganya “Kulum, nando…” rengeknya manja. Vernando, bagaimanapun adalah pria biasa yang sudah lama tidak dihibur wanita. Kesibukan serta kehidupan ranjangnya bersama Ariadna yang tidak pernah terjadi membuatnya sedikit stress juga. Mendengar desahan Lysandra yang memang mantannya, instingnya berjalan duluan daripada logikanya. Ditariknya kepala gadis itu dengan kasar, dan diciumnya Lysandra dengan buas seolah hilang akal.Sambil mengulum bibir Lysandra, disentakkannya blouse gadis itu hingga setengah telanjang membuat Vernando semakin leluasa meremas dan menyentuh tubuhnya. Setelah puas
Vernando sedang menerima sejumlah berkas dari Sebastian ketika Lysandra menerobos maduk ke kantornya di lantai teratas Angels. “Nona Lysandra! Sudah lama tidak….” “Diam kau ular. Pergi dari sini aku mau bicara dengan tuanmu!” Lysandra melewati Sebastian berjalan ke meja Vernando Sebastian, masih dengan senyum lebar dan tangan merentang yang diabaikan,, melirik kepada Bosnya. Vernando memijit pelipisnya, kemudian mengibaskan tangannya pada Sebastian. “Baik. Saya ada di depan jika dibutuhkan.” kata Sebatian mundur ke arah pintu dan menutupnya.Keheningan menguasai ruangan selepas Sebastian meninggalkan mereka berdua. Vernando tahu, dengan sifat keras kepala dan ego yang begitu tinggi dari Lysandra, mau tak mau ia harus memulai percakapan. "Tak usah begitu galak padanya. Dulu kalian kan sangat dekat." Vernando berkata, melihat ke arah Sebastian pergi"Hah! Jangan kau pikir aku tidak tahu soal bagaimana dia berperan penting dalam setuap keputusanmu, termasuk pada pembatalan pe
Ariadna menatap Vernando dengan pandangan tercengang. Tidak menyangka kata-kata semanis “rindu” bisa keluar juga dari bibir itu.“......Mungkin dia rindu” kata-kata itu menggema di kepalanya yang membuatnya menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang bahkan ia sendiri belum sempat pahami. Vernando mencondongkan badan lebih dekat, menatap Ariadna “Kenapa? Apa kau terganggu?” Ariadna tak menjawab. “Atau cemburu?”Ariadna berkedip, tapi dia masih diam.Vernando menyeringai tipis, memundurkan tubuhnya, bersandar ke sofa. “Jawaban diam yang cukup nyaring.”Ariadna menahan napas sejenak, lalu berkata ringan, “Cemburu adalah reaksi atas ancaman. Dan aku tidak menganggap perempuan yang berteriak dan mencakar sebagai ancaman.”Vernando tertawa kecil. “Jawaban diplomatis. Apa semua putri pejabat punya les pribadi bermain kata seperti ini?”“Aku juga heran, apa semua mafia juga bisa mengatakan istilah perasaan semacam “rindu” sepertimu?” “Mungkin agak berbeda artinya dengan kalian tapi kam