Share

BAB 8 - Pengabaian

Author: Serenaluna
last update Huling Na-update: 2025-07-02 16:41:33

Ciuman itu tidak manis. Tidak hangat. Itu adalah pernyataan dominasi dan kemarahan.

  Ariadna terdorong ke rak. Tangannya masih memegang folder Espora, jantungnya berdebar kencang.

  Ketika Vernando menarik diri, matanya dingin.

  “Kalau mau main api, Ariadna,” gumamnya pelan, “siap-siap terbakar.”

  Dia melangkah pergi tanpa menoleh.

  Ariadna berdiri diam. Bibirnya basah. Napasnya tercekat. Matanya panas.

  Tapi yang membuat air mata jatuh bukan karena dicium tanpa izin, bukan karena merasa terhina.

  Melainkan karena sesuatu di dalam dirinya—bagian kecil, memalukan, dan menyedihkan—bahwa dirinya justru tidak membenci sentuhan itu. 

  Ia menatap pintu yang sudah tertutup. Dada sesak. Karena ia sadar... mungkin, ia hampir menghancurkan hati seseorang yang tidak pernah diberi pilihan untuk tumbuh sebagai manusia biasa.

—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa hari setelah kejadian itu, udara di rumah mereka bisa dipotong dengan kartu nama—tipis, tajam, dan penuh pasif-agresif.

  Vernando bersikap seolah Ariadna adalah pot tanaman di lorong: keberadaannya diakui, tapi tak pernah ditatap langsung. Ia melewati Ariadna di tangga, ruang makan, bahkan lorong depan kamar, tanpa sepatah kata pun. Hanya angin yang berani menyapa di antara mereka.

  Dan Ariadna? Frustrasi bukan kata yang cukup. Dia merasa diabaikan sepenuhnya. Namun, ada sisi dari driinya yang merasa pantas diperlakukan seperti itu, sehingga gadis itu diam saja.

Merasa stress, ia menghubungi Hana untuk pergi minum ke klub. "Kalau aku tetap di rumah, aku bakal lempar piring karena stress. Dan aku sayang piringku yang keramik Italia itu,"

  Malam itu, Vernando pulang lebih lambat dari biasanya. Jam dua pagi dan rumahnya sunyi. Tidak ada Ariadna yang muncul di tangga. Tidak ada suara musik dari kamar. Merasa aneh, dalam hitungan detik, ia sudah sampai di kamar dan melihat bahwa Ariadna tidak ada di situ.

  Ia turun lagi ke lantai satu, berdiri di ruang tamu, ragu sejenak. Lalu mengeluarkan ponsel dan menekan satu nomor cepat.

  "Di mana dia?" tanyanya dingin.

  "Masih di klub Voxa, Pak. Bersama temannya. Saya mengawasi dari jarak aman. Mau saya bawa pulang sekarang atau tunggu sampai Ibu Ariadna selesai sendiri?"

  Vernando diam sejenak. Rahangnya mengeras. "Tidak usah. Aku yang jemput."

  Di Voxa, lampu strobo menari liar. Musik EDM menekan dada, dan alkohol sudah naik ke kepala Ariadna. Hana pamit ke toilet. Dan seperti hukum gravitasi, Ariadna yang memang pada dasarnya manis__dan makin manis dengan pipi yang memerah karena alkohol jelas saja menarik segelintir pria mabuk maupun setengah mabuk di situ.

  "Sendirian, Cantik?"

  Ariadna menoleh malas. "Enggak. Jelas-jelas banyak orang disini. Apa matamu itu butuh solusi mata minus?"

  Tawa kasar. Salah satu dari mereka mencoba menyentuh pinggangnya. Ariadna menepis.

  "Ayo, jangan jaim."

  "Jangan sentuh aku."

  Salah satu pria menunduk sedikit, menyipitkan mata. "Eh... kayaknya gue pernah lihat lo deh… lo yang di TV itu ya? Eh, eh, ini yang nikah sama... siapa tuh—"

  Mereka mendadak diam. Salah satu dari mereka membisik, "Anjir, itu beneran istri Vernando, bukan sih?"

  Suasana berubah seketika. Wajah-wajah mabuk mendadak sadar. Langkah-langkah mereka mundur perlahan, seperti tikus melihat ular. Tapi sebelum mereka benar-benar kabur, satu suara menyusul:

  "Lepaskan tanganmu, sebelum aku pastikan kamu nggak bisa pakai tangan itu lagi."

  Vernando.

  Senyap sejenak. Aura dingin dan tajam yang ia bawa membuat grup pria itu mundur perlahan seperti tikus melihat ular.

  Ariadna menatapnya. Mata Vernando menyala marah, rahangnya mengeras. Dan anehnya... ia terlihat marah. Atau... cemburu?

  Ia memakaikan jaket ke bahu Ariadna yang memakai blouse transparan tanpa lengan dan menyeret gadis itu keluar klub. Tanpa bicara. Tangannya kuat menggenggam lengan Ariadna, membuatnya seperti gadis SMA dibawa guru BK..

 ________________________________

  Di dalam mobil, keheningan menusuk. Sampai Ariadna menyalak.

  "Apa maksudmu? Kenapa seminggu ini kamu kayak hantu rumah—ada tapi nggak kelihatan? Ngomong pun nggak. Sekarang tiba-tiba nyeret aku kayak aku milikmu?"

  Vernando menatap lurus ke depan. "Kamu mabuk."

  "So what?! Itu bukan alasan kamu bersikap kayak... kayak aku transparan!"

  "Aku nggak perlu alasan untuk jaga jarak dari hubungan yang tidak ada perasaan."

  Ariadna mendengus. Lalu—tanpa aba-aba—ia mencium Vernando. Cepat, liar, penuh kemarahan.

  Ia menarik wajahnya mundur. "Itu balasannya."

  Vernando menoleh pelan. Matanya menyipit. Napasnya berat. Lalu ia membalas ciuman itu. Kali ini... lebih brutal.

  Tangannya meraih tengkuk Ariadna, menariknya lebih dekat. Ariadna yang tadinya terkejut, kini menerima lidah pria itu di dalam mulutnya dengan patuh. Ciuman mereka berubah jadi perang—lidah, napas, dan remasan saling bersaing untuk menang.

  Vernando menarik tubuh Ariadna maju, melintasi konsol tengah yang menghalangi, dan dalam hitungan detik ia sudah duduk di pangkuan Vernando.

  Jaketnya terlepas entah ke mana. Pergelangan tangannya dikunci erat oleh Vernando sembari bibir dan lidahnya dikulum dan dikunyah habis oleh pria itu.

  Ketika tiba-tiba Vernando berhenti dan tersadar oleh sinar lampu mobil lain yang lewat di depan mereka, Ariadna membalas dengan menyerang lehernya. Pria itu menarik napas panjang ketika Ariadna menciumi lehernya, menggigit dan menjilatnya secara liar. 

Dengan kesadaran yang tersisa, pemuda itu berkata pelan, setengah terengah “Ari…aku peringatkan, setelah ini aku tidak bisa berhenti” Tangannya menyusuri paha mulus gadis itu, naik, menyingkap roknya sampai naik ke pinggang.

“Ini di basement….” lanjut Vernando seperti mengingatkan untuk waras tapi tangannya tetap menyusup ke balik blouse Arianda, melepas tali branya di punggung,

  "Terus... jangan berhenti," rengek gadis itu lirih, rasanya bagai racun manis di telinga Vernando, mematikan seluruh logikanya.

  Dan Vernando menjawab dengan tangan yang mengusap punggung Ariadna, membuka kancing blus satu per satu dengan kesabaran yang nyaris hilang. Baju Ariadna melorot ke pinggangnya, dan udara dingin di dalam mobil terasa kontras dengan panas kulit mereka. Mobil berembun cepat. Jendela mengabur. Dunia luar menghilang. 

  Ariadna merintih pelan ketika Vernando membungkuk, menyusuri lehernya dengan ciuman basah. Setiap hisapan kecil, setiap tarikan napas cepat, membuat tubuhnya gemetar, tapi bukan karena dingin.

  Kaki Ariadna menekan pedal rem tanpa sadar. Vernando menggenggam pahanya, lalu merapatkan tubuh mereka lebih dekat, hingga tak ada celah lagi.

  “Bilang kalau kamu mau,” bisik Vernando di antara ciuman. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 24 - Konfrontasi

    Ariadna hampir membanting pintu kaca besar di lobi kantor Vernando ketika ia masuk. Sepatu haknya menghentak lantai marmer, menandai setiap langkah penuh amarah. Tanpa peduli pandangan para staf, ia langsung menuju ruang utama di lantai atas.Begitu pintu terbuka, Sebastian—yang sedang berdiri di dekat meja kerja—menoleh. Vernando duduk di balik meja, memeriksa berkas. “Vernando!”Vernando mengangkat kepalanya Apa kau membunuh Sean?” Ariadna bertanya langusngVernando mengerutkan kening, melirik Sebastian.Sebastian merapatkan map ke dada. “Maaf pak, laporannya datang tadi pagi ketika Anda sedang rapat bersama pak menteri. Saya terlewat menginformasikannya...”“Tidak usah bersandiwara,” potong Ariadna. “Jelas ini kerjaannya Vernando, masa dia tidak tahu!”Sebastian menarik napas, hendak menjawab, namun pergelangan tangan Vernando terangkat ringan—perintah sunyi untuk diam.“Pertanyaanku sederhana,” kata Vernando tenang. “Apa motifku membunuh Sean?”“Cemburu,” jawab Ariadna, tajam, s

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 23 - Emosi

    “Tehnya enak banget, Ari. Ini teh apa, ya? Aku juga mau beli buat di rumah!” Hana menutup matanya sebentar, menghirup aromanya dalam-dalam.Pagi itu, Hana datang ke mansion dengan dijemput langsung oleh Oktal—supir Ariadna yang untungnya kemarin tidak jadi dipecat meskipun lalai menjaga tuannya.“Aku nggak tahu,” jawab Ariadna tanpa mengangkat wajah dari tablet. “Nanti aku suruh staff bawakan untukmu dari dapur.”“Sudah, berhenti membaca komentar-komentar nggak masuk akal itu!” Hana merebut tablet dari tangan Ariadna lalu menyelipkannya di bawah bantal sofa, “Aku datang buat menghiburmu dan bikin kamu lupa sama netizen brengsek itu, bukan malah mendukungmu meratapi nasib,” lanjut Hana dengan nada separuh prihatin, separuh kesal.Ariadna menghela napas berat, bersandar ke sofa. “Aku cuma… penasaran. Kenapa dalam waktu beberapa jam setelah pertemuanku dengan Lysandra, ada serangan semasif itu. Ternyata fansnya memang segila itu, ya?”“Jangan polos, Ari. Selain fans, dia juga gerakin bu

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 22 - Kekacauan

    Ariadna membanting ponselnya ke dinding. Kesabarannya habis. Aplikasi chat dan pesannya semua macet karena serangan pesan bertubi-tubi dari ratusan nomor yang tidak dikenalnya. Sementara itu, telepon di ruang tamu lantai satu juga tidak berhenti berderaing. Kabarnya, telepon di ruang penerimaan tamu di gerbang depan juga tak berhenti menerima panggilan. Ariadna menggigit bibir. Dia sering dengar jangan pernah menyinggung seorang selebritis media karena fansnya lebih radikal daripada komunitas apapun, tapi baru kali ini dia merasakannya sendiri. Pesan dan panggilan dari fans Lysandra tidak henti mendatanginya. Semua makian dan kata-kata kasar yang bahkan belum pernah ia dengar seumur hiduo sudah ditelannya. “Cabut saja semua sambungan teleponnya!!” teriak Ariadna frustasi“Nyonya……nyonya..!” seorang asisten menghadap Ariadna buru-buru. Ariadna menoleh garang, membuat asistennya sedikit mundur. Ariadna menghela nafas “Katakan.”“Maaf, ada laporan dari depan, kiriman makanan pesan an

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 21 - Merayu

    Menyadari Vernando sedikit goyah, gadis itu semakin agresif memainkan lidahnya di tekinga pria itu. Vernando tak mengelak, dan mulai menikmati. Tangannya yang semula memegang lengan gadis itu untuk mendorongnya turun, tanpa sadar bergerak menyusup ke baju Lysandra yang memang berleher rendah, memperlihatkan belahan dadanya. Ketika tangan Vernando meremas dada Lysandra, gadis itu mendesah pelan di telinganya “Kulum, nando…” rengeknya manja. Vernando, bagaimanapun adalah pria biasa yang sudah lama tidak dihibur wanita. Kesibukan serta kehidupan ranjangnya bersama Ariadna yang tidak pernah terjadi membuatnya sedikit stress juga. Mendengar desahan Lysandra yang memang mantannya, instingnya berjalan duluan daripada logikanya. Ditariknya kepala gadis itu dengan kasar, dan diciumnya Lysandra dengan buas seolah hilang akal.Sambil mengulum bibir Lysandra, disentakkannya blouse gadis itu hingga setengah telanjang membuat Vernando semakin leluasa meremas dan menyentuh tubuhnya. Setelah puas

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 20 - Melabrak

    Vernando sedang menerima sejumlah berkas dari Sebastian ketika Lysandra menerobos maduk ke kantornya di lantai teratas Angels. “Nona Lysandra! Sudah lama tidak….” “Diam kau ular. Pergi dari sini aku mau bicara dengan tuanmu!” Lysandra melewati Sebastian berjalan ke meja Vernando Sebastian, masih dengan senyum lebar dan tangan merentang yang diabaikan,, melirik kepada Bosnya. Vernando memijit pelipisnya, kemudian mengibaskan tangannya pada Sebastian. “Baik. Saya ada di depan jika dibutuhkan.” kata Sebatian mundur ke arah pintu dan menutupnya.Keheningan menguasai ruangan selepas Sebastian meninggalkan mereka berdua. Vernando tahu, dengan sifat keras kepala dan ego yang begitu tinggi dari Lysandra, mau tak mau ia harus memulai percakapan. "Tak usah begitu galak padanya. Dulu kalian kan sangat dekat." Vernando berkata, melihat ke arah Sebastian pergi"Hah! Jangan kau pikir aku tidak tahu soal bagaimana dia berperan penting dalam setuap keputusanmu, termasuk pada pembatalan pe

  • Terjerat Cinta Tuan Penguasa Hiburan Malam   Bab 19 - Rindu

    Ariadna menatap Vernando dengan pandangan tercengang. Tidak menyangka kata-kata semanis “rindu” bisa keluar juga dari bibir itu.“......Mungkin dia rindu” kata-kata itu menggema di kepalanya yang membuatnya menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang bahkan ia sendiri belum sempat pahami. Vernando mencondongkan badan lebih dekat, menatap Ariadna “Kenapa? Apa kau terganggu?” Ariadna tak menjawab. “Atau cemburu?”Ariadna berkedip, tapi dia masih diam.Vernando menyeringai tipis, memundurkan tubuhnya, bersandar ke sofa. “Jawaban diam yang cukup nyaring.”Ariadna menahan napas sejenak, lalu berkata ringan, “Cemburu adalah reaksi atas ancaman. Dan aku tidak menganggap perempuan yang berteriak dan mencakar sebagai ancaman.”Vernando tertawa kecil. “Jawaban diplomatis. Apa semua putri pejabat punya les pribadi bermain kata seperti ini?”“Aku juga heran, apa semua mafia juga bisa mengatakan istilah perasaan semacam “rindu” sepertimu?” “Mungkin agak berbeda artinya dengan kalian tapi kam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status