Mag-log inKayra tersentak. Dengan panik ia menjangkau ponsel milik Leon dan menekan tombol hijau. Kali ini tangan Leon meremas pinggulnya.
"Dad!" Suara Ethan ceria dari speaker. "Aku baru sampai hotel. Bali panas banget, tapi pantainya keren."Leon mengambil ponsel itu dari tangan Kayra. Ia menempelkannya ke telinga, lalu berjalan santai ke arah jendela, punggungnya menghadap Kayra yang terengah."Bagus," jawabnya datar. "Jangan keluar malam-malam.""Aku mau bicara."Ethan menghadang Kayra di lorong kampus. Tubuhnya berdiri menghalangi jalan dengan tangan bersedekap di dada. Tatapannya mengamati Kayra dari kepala sampai kaki sebelum kembali ke wajah Kayra."Aku tidak punya waktu," jawab Kayra datar."Kamu tidak punya waktu untukku?" Ethan menyeringai penuh percaya diri. "Bukankah kamu masih berharap aku kembali padamu?"Kayra menghembuskan napas keras. "Katakan saja, Ethan. Ada perlu apa?""Kamu pernah bertemu Daddy-ku selain di kampus?" Tanya Ethan dengan mata menyipit.Darah Kayra seakan berhenti mengalir."Apa maksudmu?" Tanyanya, suaranya sengaja dibuat dingin.Ethan melangkah maju, memojokkannya ke dinding lorong."Laura bilang, kamu cari muka dan merayu Daddy-ku saat di ruangannya.""Bagaimana Laura tahu?" Kayra balik bertanya cepat dan setenang mungkin, sekalipun dadanya berdegup lebih kencang."Dia melihatnya sendiri saat kalian mengumpulkan tugas.""Ethan!" Ucap Kayra begitu dingin. "Apa benar kamu anaknya Pak Leon? Dadd
Kayra menghempaskan tubuhnya ke kasur tipis di kosnya. Aroma debu, kayu tua, dan sabun murah yang familiar tercium hidungnya seperti pengingat pahit. Tiga hari di apartemen Leon terasa seperti mimpi. Sekarang, dia kembali ke dunia nyata.Ponselnya bergetar dengan nama Leon terpampang di layar.Kayra menatapnya tanpa bergerak. Getaran pertama berhenti. Tak lama ponselnya bergetar lagi. Panggilan kedua, ketiga, sampai Kayra tak menghitungnya lagi.Panggilan terakhir, Kayra sengaja menekan tombol merah saat baru berdering. Pesan jelas bahwa dirinya menolak berkomunikasi.Tak lama, panggilan berhenti, berganti notifikasi pesan masuk. "Kayra, tolong angkat. Kita perlu bicara."Kayra mematikan ponselnya, lalu membuangnya ke ujung kasur. Ia menutup wajah dengan bantal. Dia ingin menangis, tapi air matanya tak bisa keluar, membuatnya diam merasakan sakit.Beberapa menit kemudian, ponselnya menyala lagi. Bukan panggilan dari Leo
Leon tak memberi jeda pada Kayra. Dalam kondisi tubuh Kayra terkulai, Leon merapatkan dirinya dan berbisik rendah."Kamu luar biasa, Kayra. Aku ingin mengulang malam itu. Boleh?" Tanyanya menatap mata Kayra yang masih berkabut.Kayra mengangguk, meskipun akal sehatnya melarang. Leon tersenyum dan dengan lembut mengecup bibir Kayra. Makin lama kelembutannya menghilang, digantikan rasa lapar dan keserakahan Leon yang memabukkan.Tangan Kayra pun tak lagi diam. Dia menyentuh semua yang bisa disentuhnya, sementara bibir Leon mengecap kulit Kayra. Dan dalam satu hentakan keras, Leon mengisi tubuh Kayra dengan miliknya.Semua dilakukan dengan sangat cepat dan tanpa ampun. Kayra tak diberikan jeda, sekaligus tak ingin berhenti. Dan ketika ledakan dalam tubuh mereka terjadi bersamaan, Leon menyebut nama Kayra dalam geraman panjang.Napas keduanya terengah selama beberapa saat."Kamu luar biasa, Kayra. Aku ba
Kayra tersentak. Dengan panik ia menjangkau ponsel milik Leon dan menekan tombol hijau. Kali ini tangan Leon meremas pinggulnya. "Dad!" Suara Ethan ceria dari speaker. "Aku baru sampai hotel. Bali panas banget, tapi pantainya keren."Leon mengambil ponsel itu dari tangan Kayra. Ia menempelkannya ke telinga, lalu berjalan santai ke arah jendela, punggungnya menghadap Kayra yang terengah. "Bagus," jawabnya datar. "Jangan keluar malam-malam.""Tenang, Dad. Aku nggak sendiri. Ada teman-teman.""Bagus."Kayra masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Napasnya belum kembali normal. Lehernya masih terasa panas. Ia menyentuh lehernya tanpa sadar, lalu tiba-tiba terbatuk. "Dad, aku dengar suara batuk. Perempuan?" tanya Ethan tiba-tiba.Kayra hampir tersedak udara.Leon tidak berkedip. "Televisi.""Televisi lagi?" Ethan tertawa. "Dad, itu kali kedua har
Satu jam kemudian, Kayra sudah berada di apartemen milik Leon yang berada di gedung apartemen mewah di pusat kota."Kamar tamu ada di ujung lorong," ucap Leon sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. "Kamar mandi ada di dalamnya. Kamu bisa mandi dan berganti."Kayra mengangguk kaku, lalu menyeret koper kecilnya menyusuri lorong apartemen. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar tamu. Ia sempat menoleh ke arah pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Tapi, Kayra cepat-cepat mengalihkan pandangan dan masuk ke kamar tamunya.Kamar yang jauh lebih besar dari kamar kosnya, dengan tempat tidur besar dan empuk. Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap kota, memperlihatkan panorama gedung-gedung yang berkilau di bawah cahaya senja membuatnya terpesona.Kayra menahan napas, lalu meletakkan kopernya sebelum masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak mampu mengusir ketegangan di otot-ototnya.
Kayra, bisa bicara sebentar?" Bu Kartini, ibu kos Kayra, melongok dari balik pintu kamarnya yang terbuka sebagian."Ya, Bu, ada apa?" Kayra menjawab sambil mempersilahkan Bu Kartini masuk ke kamarnya yang sempit."Kayra, Ibu mau mengingatkan, minggu depan kamu harus memperbarui perpanjangan kos." Nada suara Bu Kartini datar, tanpa basa-basi. "Kamu akan perpanjang untuk enam bulan lagi, kan? Ibu tidak lagi terima sewa bulanan."Kayra membeku. Beasiswanya baru akan turun akhir bulan ini. Ayah tirinya baru saja pindah ke pedesaan menikmati masa pensiun. Ia tak mau merepotkan pria tua yang sudah membesarkannya dengan susah payah itu."Bu, saya—" Kayra menggigit bibir, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Iya, Bu. Saya akan perpanjang.""Ibu tunggu ya. Sewa minimal untuk enam bulan, lima belas juta.""Baik, Bu," jawab Kayra pelan, berusaha terdengar tenang. Dia tahu betul saldo di rekeningnya







