Share

Bab 6

Author: itnaynurain
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 06:46:25

Kayra, bisa bicara sebentar?" Bu Kartini, ibu kos Kayra, melongok dari balik pintu kamarnya yang terbuka sebagian.

"Ya, Bu, ada apa?" Kayra menjawab sambil mempersilahkan Bu Kartini masuk ke kamarnya yang sempit.

"Kayra, Ibu mau mengingatkan, minggu depan kamu harus memperbarui perpanjangan kos." Nada suara Bu Kartini datar, tanpa basa-basi. "Kamu akan perpanjang untuk enam bulan lagi, kan? Ibu tidak lagi terima sewa bulanan."

Kayra membeku. Beasiswanya baru akan turun akhir bulan ini. Ayah tirinya baru saja pindah ke pedesaan menikmati masa pensiun. Ia tak mau merepotkan pria tua yang sudah membesarkannya dengan susah payah itu.

"Bu, saya—" Kayra menggigit bibir, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Iya, Bu. Saya akan perpanjang."

"Ibu tunggu ya. Sewa minimal untuk enam bulan, lima belas juta."

"Baik, Bu," jawab Kayra pelan, berusaha terdengar tenang. Dia tahu betul saldo di rekeningnya hanya tersisa dua juta rupiah. Nominal yang jauh dari cukup.

Bu Kartini mengangguk puas. "Baiklah. Saya tunggu minggu depan. Jangan lupa, ya!"

Kayra mengangguk pasrah pada Bu Kartini.

Namun, saat Bu Kartini berbalik, seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu. Kayra hampir menjerit.

Leon Arkan berdiri di sana dengan kaos putih polos yang membalut dadanya yang bidang dan celana jins gelap yang melengkapi postur tingginya. Rambutnya sedikit basah di ujung, seperti baru saja selesai mandi. Matanya bergerak dari Bu Kartini ke Kayra, lalu menyapu seluruh ruangan sempit yang hanya cukup untuk satu orang itu.

Bu Kartini terkejut melihat pria tampan dan berwibawa di depannya. "Tamu Kayra?"

Leon hanya tersenyum tipis, yang tidak berhasil membuat Kayra tenang.

Kayra hampir tersedak. "Anda—"

"Saya pergi dulu, Kayra. Jangan lupa soal perpanjangan!" Bu Kartini melangkah cepat, meninggalkan Kayra dan Leon berhadapan di ambang pintu.

Begitu ibu kos pergi, Kayra menatap Leon dengan mata membelalak. "Pak, kenapa Anda ke sini?"

Leon melangkah masuk tanpa permisi. Pintu kamarnya tertutup dengan suara pelan, mengunci mereka berdua di ruangan yang terasa makin sempit.

Mata Leon menyapu kamar Kayra. Dinding penuh buku-buku tebal, kasur tipis dengan sprei polos, lemari baju kecil yang sudah usang, dan dapur sempit yang hanya memuat kompor listrik serta wastafel di sudut.

"Kamar ini terlalu kecil," ucap Leon datar. Matanya kembali menatap Kayra, membuat Kayra merasa ditelanjangi.

"Saya sendirian, dan kamar saya cukup nyaman—"

Leon menghampirinya dengan langkah tegap. Refleks, Kayra mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kamar yang dingin. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya gemetar, tapi matanya mencoba tetap menatap Leon dengan berani.

Leon menyeringai. Dengan gerakan santai, ia menaruh paper bag yang dibawanya ke atas meja belajar Kayra.

"Barangmu masih tertinggal."

Kayra mengutuk dirinya sendiri. Dia melupakan itu tadi pagi, karena kedatangan Ethan dan kepulangannya yang buru-buru. Dia bahkan baru menyadari Leon membawa sesuatu di tangannya.

"Terima kasih." Suara Kayra mencicit seperti tikus. Tubuhnya masih menyender di dinding, dan dia hampir menahan napas. Apalagi saat ini Leon hanya berjarak satu langkah darinya. Aroma cedar dan musk yang begitu dikenalnya kembali menusuk indranya.

Tiba-tiba tangan Leon meraih pinggangnya, menariknya hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Leon. Kayra memejamkan mata, merasakan sensasi panas dingin menjalari seluruh tubuhnya. Dadanya sesak.

"Kamu tidak membutuhkannya?" bisik Leon di telinganya, sementara tangan kanannya menyusuri garis tepi hotpants-nya dengan gerakan lambat dan menggoda. "Kapan kamu akan menggunakannya?"

Apa maksud pertanyaan Leon? batin Kayra. Masa dia bertanya kapan menstruasiku datang?

"Kapan?" Leon kembali berbisik, dan tangannya semakin menekan pinggangnya, menjebaknya di antara dinding dan tubuhnya yang panas.

Kayra menelan ludah susah payah. "Empat... lima hari lagi."

Leon tertawa renyah mendengarnya. Getaran tawanya merambat dari dadanya ke tubuh Kayra yang masih menempel. Jarinya meraih dagu Kayra, memaksanya menatap tepat ke matanya yang gelap dan penuh teka-teki.

"Ikut aku!"

"Ke mana?"

"Nanti kamu tahu. Berkemaslah!"

"Berkemas?" Kayra mengulangi dengan suara serak. Kalimat itu seolah menyatakan bahwa mereka akan pergi lama. Memang mau ke mana? Dan kenapa dia harus ikut? Tidak, dia harus menolaknya. "Maaf, Pak, saya harus menyelesaikan proposal. Harus selesai saat masuk—"

"Bawa saja, nanti kamu kerjakan di apartemen." Potong Leon membuat Kayra nyaris tersedak.

"Apartemen? Apartemen siapa maksudnya?"

"Apartemenku. Aku minta kamu temani untuk tiga hari." Suaranya berubah menjadi lebih rendah, sebuah bisikan yang hanya ditujukan untuknya.

Kayra menggeleng cepat. "Tidak bisa."

Leon menyeringai. Dia mendekati Kayra dan menarik tali tanktop Kayra, melilitkannya di antara jari-jarinya yang panjang. Kayra menahan napas, dan merasakan angin dingin di kulit perutnya yang terbuka. "Aku bilang temani aku. Hanya itu."

"Tapi—"

"Apa kamu takut?" Leon mencondongkan tubuh, bibirnya hampir menyentuh telinga Kayra. Napas hangatnya menyebar di kulit sensitif di belakang telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri. "Takut tidak bisa menahan dirimu sendiri? Aku akan membayar jasamu. Cukup untuk membayar sewa kamarmu ini."

Kayra melotot, harga dirinya terusik. "Saya bukan pelacur, Tuan Leon!" Jawab Kayra dengan suara tertahan, matanya berkaca-kaca.

"Aku tahu!" Leon mengusap bibirnya dengan ibu jari, memberikan gelenyar aneh di tubuh Kayra. "Kamu tak perlu dibayar hanya untuk membuatku bergairah! Aku hanya perlu ditemani, dan kamu butuh uang."

Kayra menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Ia tahu Leon sedang memainkan egonya. Tapi ia juga tahu, ia tidak punya pilihan.

"Baik," bisik Kayra akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar di antara debaran jantungnya yang keras. "Tapi hanya tiga hari. Setelah itu saya kembali ke kos."

Leon tersenyum. Senyum kemenangan yang sama seperti saat ia mendengar "Sorry, Daddy" pagi itu. Senyum yang membuat Kayra ingin memukulnya dan memeluknya sekaligus.

"Bagus. Sekarang ambil barangmu. Kita langsung jalan."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 11

    "Aku mau bicara."Ethan menghadang Kayra di lorong kampus. Tubuhnya berdiri menghalangi jalan dengan tangan bersedekap di dada. Tatapannya mengamati Kayra dari kepala sampai kaki sebelum kembali ke wajah Kayra."Aku tidak punya waktu," jawab Kayra datar."Kamu tidak punya waktu untukku?" Ethan menyeringai penuh percaya diri. "Bukankah kamu masih berharap aku kembali padamu?"Kayra menghembuskan napas keras. "Katakan saja, Ethan. Ada perlu apa?""Kamu pernah bertemu Daddy-ku selain di kampus?" Tanya Ethan dengan mata menyipit.Darah Kayra seakan berhenti mengalir."Apa maksudmu?" Tanyanya, suaranya sengaja dibuat dingin.Ethan melangkah maju, memojokkannya ke dinding lorong."Laura bilang, kamu cari muka dan merayu Daddy-ku saat di ruangannya.""Bagaimana Laura tahu?" Kayra balik bertanya cepat dan setenang mungkin, sekalipun dadanya berdegup lebih kencang."Dia melihatnya sendiri saat kalian mengumpulkan tugas.""Ethan!" Ucap Kayra begitu dingin. "Apa benar kamu anaknya Pak Leon? Dadd

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 10

    Kayra menghempaskan tubuhnya ke kasur tipis di kosnya. Aroma debu, kayu tua, dan sabun murah yang familiar tercium hidungnya seperti pengingat pahit. Tiga hari di apartemen Leon terasa seperti mimpi. Sekarang, dia kembali ke dunia nyata.Ponselnya bergetar dengan nama Leon terpampang di layar.Kayra menatapnya tanpa bergerak. Getaran pertama berhenti. Tak lama ponselnya bergetar lagi. Panggilan kedua, ketiga, sampai Kayra tak menghitungnya lagi.Panggilan terakhir, Kayra sengaja menekan tombol merah saat baru berdering. Pesan jelas bahwa dirinya menolak berkomunikasi.Tak lama, panggilan berhenti, berganti notifikasi pesan masuk. "Kayra, tolong angkat. Kita perlu bicara."Kayra mematikan ponselnya, lalu membuangnya ke ujung kasur. Ia menutup wajah dengan bantal. Dia ingin menangis, tapi air matanya tak bisa keluar, membuatnya diam merasakan sakit.Beberapa menit kemudian, ponselnya menyala lagi. Bukan panggilan dari Leo

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 9

    Leon tak memberi jeda pada Kayra. Dalam kondisi tubuh Kayra terkulai, Leon merapatkan dirinya dan berbisik rendah."Kamu luar biasa, Kayra. Aku ingin mengulang malam itu. Boleh?" Tanyanya menatap mata Kayra yang masih berkabut.Kayra mengangguk, meskipun akal sehatnya melarang. Leon tersenyum dan dengan lembut mengecup bibir Kayra. Makin lama kelembutannya menghilang, digantikan rasa lapar dan keserakahan Leon yang memabukkan.Tangan Kayra pun tak lagi diam. Dia menyentuh semua yang bisa disentuhnya, sementara bibir Leon mengecap kulit Kayra. Dan dalam satu hentakan keras, Leon mengisi tubuh Kayra dengan miliknya.Semua dilakukan dengan sangat cepat dan tanpa ampun. Kayra tak diberikan jeda, sekaligus tak ingin berhenti. Dan ketika ledakan dalam tubuh mereka terjadi bersamaan, Leon menyebut nama Kayra dalam geraman panjang.Napas keduanya terengah selama beberapa saat."Kamu luar biasa, Kayra. Aku ba

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 8

    Kayra tersentak. Dengan panik ia menjangkau ponsel milik Leon dan menekan tombol hijau. Kali ini tangan Leon meremas pinggulnya. "Dad!" Suara Ethan ceria dari speaker. "Aku baru sampai hotel. Bali panas banget, tapi pantainya keren."Leon  mengambil ponsel itu dari tangan Kayra. Ia menempelkannya ke telinga, lalu berjalan santai ke arah jendela, punggungnya menghadap Kayra yang terengah. "Bagus," jawabnya datar. "Jangan keluar malam-malam.""Tenang, Dad. Aku nggak sendiri. Ada teman-teman.""Bagus."Kayra masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Napasnya belum kembali normal. Lehernya masih terasa panas. Ia menyentuh lehernya tanpa sadar, lalu tiba-tiba terbatuk. "Dad, aku dengar suara batuk. Perempuan?" tanya Ethan tiba-tiba.Kayra hampir tersedak udara.Leon tidak berkedip. "Televisi.""Televisi lagi?" Ethan tertawa. "Dad, itu kali kedua har

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   bab 7

    Satu jam kemudian, Kayra sudah berada di apartemen milik Leon yang berada di gedung apartemen mewah di pusat kota."Kamar tamu ada di ujung lorong," ucap Leon sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. "Kamar mandi ada di dalamnya. Kamu bisa mandi dan berganti."Kayra mengangguk kaku, lalu menyeret koper kecilnya menyusuri lorong apartemen. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar tamu. Ia sempat menoleh ke arah pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Tapi, Kayra cepat-cepat mengalihkan pandangan dan masuk ke kamar tamunya.Kamar yang jauh lebih besar dari kamar kosnya, dengan tempat tidur besar dan empuk. Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap kota, memperlihatkan panorama gedung-gedung yang berkilau di bawah cahaya senja membuatnya terpesona.Kayra menahan napas, lalu meletakkan kopernya sebelum masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak mampu mengusir ketegangan di otot-ototnya.

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 6

    Kayra, bisa bicara sebentar?" Bu Kartini, ibu kos Kayra, melongok dari balik pintu kamarnya yang terbuka sebagian."Ya, Bu, ada apa?" Kayra menjawab sambil mempersilahkan Bu Kartini masuk ke kamarnya yang sempit."Kayra, Ibu mau mengingatkan, minggu depan kamu harus memperbarui perpanjangan kos." Nada suara Bu Kartini datar, tanpa basa-basi. "Kamu akan perpanjang untuk enam bulan lagi, kan? Ibu tidak lagi terima sewa bulanan."Kayra membeku. Beasiswanya baru akan turun akhir bulan ini. Ayah tirinya baru saja pindah ke pedesaan menikmati masa pensiun. Ia tak mau merepotkan pria tua yang sudah membesarkannya dengan susah payah itu."Bu, saya—" Kayra menggigit bibir, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Iya, Bu. Saya akan perpanjang.""Ibu tunggu ya. Sewa minimal untuk enam bulan, lima belas juta.""Baik, Bu," jawab Kayra pelan, berusaha terdengar tenang. Dia tahu betul saldo di rekeningnya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status