登入Malam pun tiba, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Di dalam kamar, Liona mulai terbangun perlahan dari tidur lelapnya akibat pengaruh obat penenang.Kesadarannya pulih perlahan, membawa kembali rasa sakit dan hancur yang sempat mereda beberapa jam lalu.Mendengar pergerakan di atas ranjang, Winda dan Suster Maya dengan sigap langsung berada di samping Liona.Winda merapikan bantal agar Liona bisa bersandar dengan nyaman, sementara Suster Maya mengecek kondisi fisik gadis itu."Liona... Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Mau minum?" Tanya Winda lembut seraya merapikan rambut tipis sahabatnya. "Aku gak apa-apa, Win... Cuma masih lemas." Jawab Liona menggeleng lemah, bibirnya tersenyum tipis penuh kepedihan.Tak berselang lama, ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Mbok Nem melangkah masuk."Mbak Winda, Suster... makan malam sudah siap. Dan menu khusus buat Mbak Liona juga sudah dibikin sama Bibi di bawah," ujar Mbok Nem ramah namun penuh rasa iba menatap Liona.Winda meno
Melihat kondisi Liona yang semakin tak karuan, Suster Maya segera mengambil tindakan cepat.Sebagai perawat profesional, dia tahu betul bahwa stres berat bisa berakibat fatal bagi kondisi fisik Liona."Mbak Winda, tolong pegang sebentar tangan mbak Liona," ujar Suster Maya sigap sambil beranjak mengambil obat penenang di meja.“Baik sust!” Sahut Winda langsung mengambil alih posisi suster Maya.Suster Maya kembali mendekat, menyodorkan obat penenang tersebut ke bibir Liona."Mbak Liona... minum obat ini dulu ya, Sayang. Biar hatinya lebih tenang dan tidurnya nyenyak."Liona menatap pil kecil itu dengan tatapan kosong, lalu menggeleng pelan."Aku... aku gak mau minum obat, Suster... Aku mau pergi dari sini" ucap Liona lirih."Minum ya, mbak. Demi kesehatan mbak Liona sendiri," bujuk Suster Maya penuh kelembutan.“Iya, Li. Minum ya obatnya!” Imbuh Wilda merayu.Akhirnya Liona mengangguk, dan mulai meminum obat tersebut dengan dibantu suster Maya.Tak berselang lama, efek dari obat
Di dalam kamar Liona, suasana terasa begitu kelam. Liona duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar hebat dan nafas yang tersengal-sengal.Air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, menumpahkan rasa hancur atas pengkhianatan yang baru saja dia ketahui.Suster Maya, yang berdiri di sampingnya, dengan penuh kesabaran merangkul bahu Liona yang ringkih."Mbak Liona... tenang ya. Tarik nafas pelan-pelan..." bisik Suster Maya lembut, sembari mengusap punggung Liona tanpa henti demi menjaga agar emosi dan fisik sang pasien yang baru membaik dari kemoterapi tidak mendadak drop lagi.Dengan jemari yang bergetar hebat, Liona meraba meja dan meraih ponselnya.Hatinya yang teriris mendesaknya untuk mencari perlindungan. Dengan mata yang bengkak oleh air mata, dia menekan nomor telepon sang papa.Tak berselang lama, sambungan telepon pun terhubung."Halo, Liona? Ada apa, Sayang? Tumben menelepon Papa jam segini," suara Pak Pramoedya terdengar di seberang sana, hangat dan
Suasana di kamar Tante Meri mendadak memanas di antara Tante Meri dan Rehan. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan nafas memburu, dikuasai oleh ketegangan yang sudah lama terpendam."Rehan, apakah kamu yakin dengan semua keputusanmu!" seru Tante Meri dengan suara tajam, menatap mata pemuda itu penuh tuntutan."Kenapa tiba-tiba kamu ngotot ingin mengakhiri hubungan kita sekarang? Apakah tidak ada cara lain, Rehan?" Rengeknya.Rehan menggelengkan kepala. Dia mengepalkan kedua tangannya"Tante... Keputusanku sudah bulat, jika terus-terusan begini, setiap aku dekat dan melihat Liona, hati selalu dihancurkan oleh rasa bersalah!" Tegas Rehan."Tapi bukan berarti kita harus mengakhirinya seperti ini, Rehan! Hubungan kita memang salah, tapi mengakhirinya itu bukan keinginanku, aku sangat membutuhkanmu, Rehan!" "Kalau kita teruskan, kita sama saja mendoakan kematian Liona, Tante! Aku sudah tidak sanggup hidup dalam kebohongan ini!"Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar, seseoran
Hari berganti hari dengan ritme yang lambat dan penuh ujian. Waktu terus berjalan, membawa Liona melintasi minggu-minggu melelahkan dalam perjuangan panjang melawan penyakitnya.Gadis itu kini telah menjalani beberapa siklus kemoterapi di rumah sakit. Efek samping dari obat-obatan keras tersebut mengubah fisiknya secara drastis.Tubuh Liona tampak semakin kurus kering, dan mahkota indahnya rambut hitam panjang yang dulu sangat dibanggakannya, kini menipis drastis dan mengalami kerontokan di setiap helainya.Hari ini adalah hari Minggu. Siang menjelang sore, Rehan datang berkunjung untuk menemui Liona.Di dalam kamar tidur yang luas, Liona sedang bersandar di atas ranjang dengan balutan syal tipis menutupi kepalanya yang kini botak separuh akibat rontok. Suster Maya sedang merapikan bekas obat yang baru diminum oleh Liona, sementara Rehan duduk setia di tepi ranjang, menggenggam jemari Liona yang terasa kian rapuh."Rehan, makasih ya sudah mau datang nemenin aku terus setiap akhir
Tepat setelah jam kantor sore itu usai, Winda menepati janjinya. Dia langsung bergegas memacu kendaraannya menuju rumah Liona untuk menjenguk sahabatnya yang baru saja pulang dari rumah sakit.Begitu pintu kamar terbuka, Winda mendapati Liona sedang bersandar santai di ranjang ditemani oleh Suster Maya dan Rehan."Winda!" sapa Liona riang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.Winda langsung berlari kecil dan merengkuh tubuh sahabatnya dalam pelukan hangat."Liona... Ya ampun, aku kepikiran kamu terus! Syukurlah kamu sudah kelihatan jauh lebih segar sekarang.""Iya dong! Di rumah rasanya jauh lebih enak daripada di rumah sakit yang bau obat terus," balas Liona tertawa renyah.Rehan, yang sejak tadi duduk setia di sisi ranjang menemani Liona, ikut tersenyum melihat keakraban dua sahabat itu.Tapi, di balik senyumnya, Rehan menyadari kehadirannya kini sudah ada yang menggantikan untuk menemani Liona sore ini.Tak berselang lama, Rehan melirik jam tangan pintunya. Dia berdiri pela







