LOGINReyhan tidak pernah berniat main belakang dengan Tante Mia sekaligus putrinya. Tapi semakin istrinya menginjak injak harga dirinya karena dianggap miskin dan tidak becus mencari nafkah, Reyhan semakin tidak bisa menahan diri.
View MorePlak!
Suara sendok yang sengaja dihentakkan Nadia ke atas piring memecah keheningan makan malam. "Bisa-bisanya kamu masih tenang-tenang saja makan jam segini, Rey? Ini sudah bulan ketiga kamu menganggur setelah di-PHK! Cicilan rumah, mobil, semuanya jalan terus. Aku capek kerja sendirian sementara suamiku cuma jadi beban!" omel Nadia dengan nada tajam. Reyhan menghentikan kunyahannya. Dadanya bergemuruh hebat. Selama tiga bulan ini, dia sudah menahan semua rasa kecewa dan tekanan yang menumpuk. Dia melamar ke puluhan perusahaan, tapi situasi ekonomi memang sedang sulit. Di depan tamu yang sedang menginap, rasa tertekan itu terasa makin menghimpit. "Nadia, cukup. Aku tidak diam saja. Aku berusaha tiap hari. Kita bicara di kamar nanti, nggak enak kita bicara masalah seperti ini di depan orang lain," suara Reyhan bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan emosinya agar tidak meledak. "Kenapa harus tunggu nanti? Valerie ini sahabatku dari SMA, dan Tante Mia juga sudah seperti ibuku sendiri!" sahut Nadia ketus, menunjuk Valerie dan ibunya yang duduk di seberang meja. Valerie menunduk canggung, berpura-pura sibuk memutar garpunya. Sementara itu, Tante Mia, wanita berusia 42 tahun yang anggun dan baru tiba dari luar negeri, hanya diam mengamati. Keduanya adalah tamu yang menumpang menginap selama tiga hari menunggu apartemen siap. Melihat respons dingin dari meja makan, Nadia menahan kekesalan, berdiri menghentakkan kaki menuju kamar di lantai atas. Valerie segera menyusul untuk menenangkan sahabatnya. Reyhan menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tante Mia... maaf atas ketidaknyamanannya," bisik Reyhan lirih. Tante Mia tersenyum tipis dan teduh, memancar simpati. "Tidak apa-apa, Rey. Minum dulu, tenangkan pikiranmu. Tante masuk ke kamar duluan ya," balas tante Mia, sambil berdiri melangkah menuju kamar tamu. Dua jam berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sudah sepi, tapi pikiran Reyhan masih berantakan. Dia turun ke dapur di lantai bawah untuk mengambil segelas air es untuk mendinginkan kepalanya. Suasana dapur temaram, hanya diterangi cahaya redup kulkas. Reyhan mengambil botol air dan berbalik. Deg. Tante Mia berdiri tepat di belakangnya untuk mengambil minum. Karena jarak yang terlalu dekat dan gerakan yang mendadak, tubuh mereka bertubrukan. Botol air terlepas dan menggelinding di lantai. Refleks, tangan Reyhan menahan pinggang Tante Mia agar tidak terjatuh, sementara tangan Tante Mia bertumpu pada dada Reyhan. Dalam jarak serapat itu, aroma terapi lavender bercampur aroma alami Tante Mia tercium jelas. Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur satin tipis bertali spageti. "Ah... Reyhan, maaf. Tante mengejutkanmu ya?" bisik Tante Mia dengan suara serak khas bangun tidur. Tante Mia tidak langsung menarik tangannya dari dada Reyhan. Tatapannya memusat lekat pada manik mata Reyhan, penuh rasa kasihan yang sangat jelas. "Tante benar-benar kasihan melihatmu, Rey. Kamu pria hebat, pekerja keras, tapi Nadia sama sekali tidak bisa menghargaimu. Pria seperti kamu tidak pantas diperlakukan seperti beban," bisik Tante Mia perlahan, mengusap lembut dada Reyhan. Reyhan terpaku, tenggorokannya mendadak kering. "Tante..." ucap Reyhan lirih. Belum sempat Reyhan meneruskan ucapannya, tante Mia mendekatkan wajahnya, menatap bibir Reyhan sebelum kembali menatap matanya dengan tatapan intens. "Kalau kamu merasa lelah, kesepian, atau butuh seseorang yang benar-benar bisa memanjakan dan melayanimu... Tante selalu ada untukmu, Rey. Kapan pun kamu mau," ucap Tante Mia berbisik terang-terangan di telinga Reyhan, menyiratkan tawaran yang tak lagi terselubung. Jantung Reyhan berdegup kencang, akal sehatnya sempat diuji oleh godaan tersebut. Tapi, rasa hormat dan kesadarannya segera menegaskan batasan. Reyhan memegang pergelangan tangan Tante Mia, melepaskannya dari dadanya secara perlahan tapi tegas, lalu melangkah mundur satu pijakan. "Maaf, Tante Mia. Saya menghargai empati Tante. Tapi saya sangat mencintai pernikahan saya, dan saya masih menghormati Tante sebagai keluarga. Dan saya harap jangan pernah katakan hal seperti ini lagi," jawab Reyhan dengan suara berat tapi tenang. Tante Mia tertegun, terdiam mematung mendengar penolakan dingin dan mantap dari Reyhan. Tepat saat Reyhan membungkuk untuk mengambil botol minumnya yang jatuh di lantai, sebuah suara dari atas memecah keheningan dapur. Klek. Suara pintu terbuka, diikuti langkah kaki yang berjalan menuju tangga. "Tante Mia, Reyhan! Kalian ngapain?" ucap Nadia saat melihat tante Mia sedang bersama suaminya. Sebelum Reyhan sempat membuka suara untuk menjelaskan, Tante Mia sudah lebih dulu memotong dengan senyum tenang khas wanita dewasa yang pandai mengendalikan situasi. "Eh, Nadia... Ini, Tante haus banget ingin minum air dingin. Pas turun ke dapur, Tante kaget ada orang, jadi botol minum Reyhan jatuh, tante jadi merasa tidak enak sudah mengejutkan suamimu," sahut Tante Mia santai, jarinya menunjuk botol yang baru saja ditegakkan Reyhan. Reyhan menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya. "Iya, Nad. Tante Mia cuma mau ambil minum," Sahut Reyhan. Nadia mengibaskan tangannya, mendesis pelan. "Oalah, aku kira ada apa. Lagian kamu ini, Rey, malam-malam bikin gaduh saja. Bikin Tante Mia kaget!" Ucap Nadia. Nadia tidak menaruh curiga sedikit pun. Dia hanya memutar bola matanya malas, lalu berbalik kembali ke tangga. "Cepat kembali ke kamar, Rey. Jangan bikin bising lagi," Lanjut Nadia. Ketegangan malam itu akhirnya reda seiring langkah kaki Nadia yang menjauh. Reyhan menatap Tante Mia sekilas dengan tatapan dingin penuh ketegasan, lalu berjalan melewati wanita itu tanpa sepatah kata pun menuju kamarnya. Pagi harinya, aroma harum bumbu tumisan membasahi udara dapur. Sejak di-PHK tiga bulan lalu, memasak adalah salah satu rutinitas yang diambil alih Reyhan. Di balik apron lusuhnya, Reyhan merasa setidaknya masih bisa berguna untuk rumah ini. Tangan kirinya terampil memotong daun bawang, sementara tangan kanannya mengaduk nasi goreng di atas wajan besar. Langkah kaki halus terdengar dari belakang. Tanpa perlu menengok, Reyhan tahu siapa yang datang dari aroma terapi lavender yang pekat. "Pagi, Rey," sapa Tante Mia lembut. Pagi ini dia mengenakan gaun terusan kasual yang pas di badan, memamerkan lekuk tubuhnya yang masih sangat terawat di usia awal empat puruhan. "Pagi, Tante," jawab Reyhan datar, tetap fokus pada wajannya. Tante Mia melangkah mendekat, berdiri sangat dekat di samping Reyhan. Dia pura-pura mengintip masakan di atas kompor, tapi bahunya sengaja bersentuhan tipis dengan lengan Reyhan. "Biar Tante bantu potong sosisnya ya?" tawar Tante Mia seraya meraih pisau dapur. "Tidak usah, Tante. Sudah mau selesai," tolak Reyhan halus sambil menggeser posisinya sedikit ke kiri. Tante Mia terkekeh pelan, suara tawanya terdengar manja di telinga Reyhan. Dia memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga pria muda itu sewaktu mengambil piring saji. "Tawaran Tante semalam masih berlaku, lho. Kalau kamu capek menghadapi sikap Nadia... kamar Tante selalu terbuka. Kamu pria tampan dan mandiri, Rey. Sangat disayangkan kalau tidak ada yang melayanimu dengan layak.”Reyhan tidak sedikit pun mundur. Ketika adegan panas di layar TV itu terus berlanjut diiringi bisikan halus dari Valerie, pria itu sadar betul ke mana arah permainan yang sedang dimainkan oleh adik sepupu istrinya tersebut."Kamu kangen sama aku ya, Val?" pukas Reyhan dengan suara berat dan serak yang begitu santai, seolah-olah membaca seluruh pikiran gadis di sampingnya.Valerie tersentak pelan. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu, tapi kehebohan di dadanya berganti menjadi keberanian luar biasa. Dia memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata Reyhan, menyunggingkan senyum manja yang sarat akan obsesi terselubung."Iya, Kak… Emangnya... Kakak nggak mau?" bisik Valerie halus, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfumnya menguar kuat.Reyhan terkekeh rendah, sebuah kekehan dingin yang penuh teka-teki. Tangan kirinya perlahan terangkat, mendarat di sandaran sofa di belakang bahu Valerie, seakan mengunci posisi gadis itu.Namun, alih-alih melanjutkan ak
Tante Mia tersenyum puas melihat keraguan yang berhasil dia tanamkan di kepala Reyhan. Dengan langkah anggun yang penuh kepura-puraan, wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, menyambar cangkir tehnya, lalu berbalik menuju kamar utama di lantai bawah."Tante tidur duluan ya, Rey. Jangan malam-malam tidurnya," pesan Tante Mia sebelum menghilang di balik pintu.Sepeninggal Tante Mia, keheningan kembali menguasai ruang tengah. Hanya pantulan cahaya biru dari layar televisi yang menerangi rahang tegak Reyhan. Jemarinya yang menggenggam remot, cengkramannya kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.‘Kalau sampai Nadia hamil dengan selingkuhannya itu... gue nggak akan pernah maafin dia, Gue akan pastikan dia dan pria itu hancur sampai tak tersisa,’ batin Reyhan berbisik dingin. Tatapannya menajam bagai sembilu.Tak lama kemudian, suara gesekan sandal rumah di anak tangga memecah lamunan Reyhan.Valerie melangkah turun dengan perlahan. Dia mengenakan baju tidur satin yang kasual,
Nadia berjalan memasuki kamar utama dengan senyuman yang jauh lebih tenang di wajahnya. Rasa lega membuncah di dadanya karena Reyhan bersikap begitu manis dan perhatian padanya malam ini.Sementara itu, Reyhan yang baru saja selesai melepaskan jas kerjanya berbalik menghadap Nadia. Di dalam kepalanya, Reyhan sama sekali belum mengetahui kebenaran tentang kehamilan istrinya, dia hanya mengira mual-mual Nadia semalam murni disebabkan oleh gangguan pencernaan atau kelelahan biasa, meski instingnya tetap mendeteksi ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu.Reyhan melangkah mendekati Nadia, menatap istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan perhatian seorang suami."Gimana, Nad? Kamu udah pergi ke dokter tadi siang?" tanya Reyhan dengan nada suara yang tenang dan lembut.Nadia sempat menahan napasnya sepersekian detik mendengar pertanyaan itu. Namun, karena dia merasa aman dan Valerie telah berjanji untuk menutup mulut, Nadia langsung memasang ekspresi meyakinkan, menyembunyikan kep
Reyhan menghentikan jemarinya yang sedang memegang pena. Matanya menyipit tipis, membaca dengan cepat permainan Pak Danu yang sengaja menempatkan Maudy tepat di ring satu posisinya, sebuah langkah infiltrasi untuk mengawasi dan menjatuhkan Reyhan dari dalam.Namun, alih-alih panik atau menolak, Reyhan justru terkekeh rendah, mempererat perangkaian jebakannya sendiri."Oh ya? Pak Danu cepat juga ya ambil keputusan. Tapi baguslah kalau gitu... Jadi aku nggak perlu canggung lagi harus kerja bareng orang baru, kan?" pukas Reyhan dengan alis terangkat, berpura-pura terkejut sekaligus antusias.Maudy tersenyum makin lebar, merasa rencananya untuk menyusup ke dalam hidup dan pekerjaan Reyhan berjalan tanpa hambatan sedikit pun."Pasti, Rey. Aku bakal bantu semua urusan kamu... luar dan dalam,” bisik Maudy halus, menundukkan tubuhnya sedikit di tepi meja Reyhan.’Bagus, Maudy... masuklah lebih dalam ke lingkaran gue. Lo sama Pak Danu pikir lo berdua yang lagi mengendalikan permainan ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.