LOGINDemi pengobatan ibunya, Rehan harus menjadi pria simpanan untuk seorang sosialita cantik tanpa suami. Dan tidak disangka, wanita itu adalah Mama dari kekasihnya sendiri. Saat Rehan coba menutupi hubungan itu, ternyata kekasihnya datang, tepat ketika Rehan dan Mama kekasihnya sedang berada dalam...
View More"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang."Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!""Aduh, kan Mama sudah
Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan."Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan."Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li
Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan."Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya."Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan."Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini.""Ibu cuma bisa
Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin."Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."Tante Meri yang b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore