Se connecterSetahun setelah kematian istrinya, Kendrik masih dihantui malam ketika ia menemukan Sora tewas di dalam bathtub rumah mereka. Semua orang menganggap Sora bunuh diri, dan Kendrik berusaha menerima kenyataan itu. Hingga suatu malam, sebuah email masuk dari akun Sora. “Jangan percaya siapa pun.” Disusul pesan lain yang membuatnya meragukan ingatannya sendiri: “Malam itu aku belum mati.” Di tengah usahanya mencari tahu siapa yang mengirim pesan-pesan tersebut, Kendrik bertemu Launa, seorang perempuan misterius yang perlahan masuk ke dalam hidupnya. Namun semakin dekat dengan Launa, semakin banyak hal tentang kematian Sora yang terasa tidak masuk akal. Ketika masa lalu mulai terbuka, Kendrik harus menghadapi satu pertanyaan yang paling ia takuti: Benarkah kematian Sora disebabkan oleh orang yang paling ia kenal?
Voir plus“SORA!”
Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon. Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru. Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah. Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya. Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. “Sora?” Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras. Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman. Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana. “Sayang… bangun!” Kendrik mengangkat tangan Sora setinggi wajah, dia bisa melihat jelas luka menganga di pergelangan tangan itu terus mengeluarkan cairan merah kental yang anyir. Dia tepuk pipi Sora pelan, hanya dingin yang menempel di tangannya. Tak ada respon apapun. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga. “TIDAK MUNGKIN KAMU MENINGGALKAN AKU! SORA!” *** Setahun berlalu dengan begitu cepat. Hujan masih memiliki suara yang sama. Mata Kendrik sembab menatap jendela kaca lebar di sisi meja kerjanya, ingatannya masih segar memutar kejadian yang seperti baru saja terjadi kemarin. Dia berusaha keras melupakan itu semua. Tapi, wajah pucat Sora. Aroma darah yang menetes ke lantai kamar mandi. Suara shower yang mengucur deras. Seperti melekat begitu kuat di ingatannya. Kendrik menarik napas dalam dan memejamkan mata, berusaha melenyapkan ingatan atas kejadian itu setiap hujan turun. Ping! Suara kecil dari laptop di meja memecah keheningan di ruangan. Napas Kendrik mendengus pelan karena lamunannya diganggu oleh pesan itu.Sebuah notifikasi email muncul di sudut layar. Dia hampir mengabaikannya sampai dia membaca nama pengirim. SORA Mata Kendrik membelalak memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Benar, nama Sora dan alamat email itu milik istrinya. Jemarinya ragu bergerak di atas touchpad, namun rasa penasaran memaksanya membuka email tersebut. ‘Subjek: Jangan Percaya Siapapun! Aku masih ada di sini, aku mau kamu jangan percaya pada siapapun terutama soal kematianku, Kendrik!’ “Brengsek! Siapa yang memakai email Sora untuk melakukan ini?!” geramnya sambil mengusap wajahnya yang terasa panas. Beberapa saat dia memikirkan balasan apa yang bisa dia kirim untuk memperingatkan si pelaku pengirim email tersebut, namun Kendrik mengurungkan niatnya. Orang iseng tidak penting yang mau menjatuhkan karirnya. Begitu anggapannya sekarang. Ping! Pesan kedua masuk. ‘Subjek: Malam Itu Malam itu aku belum mati saat kamu pulang!’ “Apa-apaan ini, orang gila mana yang melakukan ini!” Kendrik kembali membaca pesan itu dengan emosi. Kendrik segera menutup laptopnya dengan penuh emosi, dan memasukkan ke dalam tas kerja. Dia menenggak sisa kopi dingin yang ada di meja, lalu bergegas meninggalkan ruangan yang dingin dan sunyi itu. Malam ini Kendrik tak ingin langsung pulang ke rumah penuh kenangan itu, dia ingin mampir ke bar dan minum beberapa gelas untuk meringankan isi kepalanya. Email itu, dari orang iseng pasti. Tapi tepat sekali saat Kendrik sedang mengenang kejadian kelam setahun lalu yang hampir membuatnya ingin pindah rumah. Duka dan traumanya seperti dipaku di dalam kepala. Jalanan malam itu lengang, gerimis masih turun seperti embun, dingin dan basah. Mobil hitam itu berbelok ke kanan setelah lampu merah beralih hijau. Di balik kemudi, Kendrik masih terganggu oleh pikiran siapa orang yang mengirimi email menggunakan akun milik Sora. Pasti itu dilakukan oleh orang terdekat yang tahu seluk beluk kehidupan pribadi istrinya. Tiba-tiba sebuah kecurigaan berkecamuk di dalam kepalanya, jangan-jangan orang itu juga yang menyebabkan Sora memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin saja orang ini memiliki hubungan khusus dengan Sora. Tapi rasanya tidak mungkin, Sora begitu setia pada Kendrik selama ini. Setidaknya itu yang dirasakan olehnya. Tak terasa mobil sudah sampai di sebuah area parkir. Bangunan bar kecil di sudut kota tampak tenang dari luar, dengan lampu neon warna ungu menghias bagian depan. Kendrik turun dari mobil dengan langkah gontai, di belakangnya ada mobil lain yang menyusul parkir namun si pengemudi tidak langsung turun. Di balik kaca gelap mobilnya, dia mengamati Kendrik yang sudah sampai di depan pintu bar. Saat pintu dibuka, suara musik menyembur ke luar. Meja dekat bartender menjadi pilihannya. “Vodka orange,” kata Kendrik lalu mengacungkan jari telunjuk. Dia memesan satu jug vodka saja agar dia tak terlalu mabuk saat menyetir nanti. Tidak butuh waktu lama untuk bartender menyajikannya di depan Kendrik. Satu sloki sudah membasahi kerongkongan, rasa pahit, manis, minty, menguasai mulut. Lelaki itu berdehem mengusir rasa perih di kerongkongannya. Otaknya kembali mengulas isi email yang tadi sempat dibaca. Kalimat ‘jangan percaya siapapun’ membuatnya tergelitik. Namun tak lama kemudian minuman alkohol sudah mulai membuat sensasi ringan yang semu pada Kendrik, dia mulai bisa merasa rileks meski ini hanya sementara. Suara musik dari berbagai penjuru ruangan menggema, beberapa orang berdansa di depan meja DJ, terlihat mabuk dan mulai kacau. Asap rokok mengepul di beberapa meja, bersama dengan suara obrolan para pengunjung yang bersaing dengan suara musik. LED besar di belakang meja DJ menampilkan video para penari panas, Kendrik hanya fokus menatap kosong ke gelas sloki nya yang kosong. Tuang lagi. Tenggak lagi. Tuang lagi. Jeda, tatapannya kosong. Dentuman musik mengagetkannya. Tenggak lagi. Dari arah pintu masuk, terlihat seorang wanita melongok ke kanan dan ke kiri, seperti mencari seseorang namun tak kunjung menemukan. Tapi senyumnya mengembang saat mata cokelatnya menangkap punggung Kendrik. Dia melangkah ke arah kursi samping Kendrik yang kosong, memesan orange jus dan es batu dipisah.Kendrik tidak peduli dengan sekitarnya, dari ekor matanya dia hanya melihat wanita itu memakai gaun malam yang elegan, ditutup cardigan berwarna marun yang membuat penampilannya sedikit tidak biasa untuk ada di sebuah bar. Seperti wanita yang baru pulang makan malam dengan kekasihnya lalu memutuskan untuk santai sejenak membuang omong kosong yang diterimanya selama bersama si lelaki tadi. Tap! Wanita itu sedikit tersentak. Kendrik sedikit membanting slokinya ke meja, lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. “Sendirian?” tanya wanita itu. Kendrik menoleh, baru kemudian dia sadar wanita di sebelahnya menatapnya. “Ya,” jawab Kendrik singkat, tidak ada niat untuk memperpanjang percakapan. Si wanita tersenyum simpul, “Jangan terlalu mabuk, bahaya!” Kendrik terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. “Aku memang sedang mencari bahaya!” Wanita itu terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya. “Launa!”Sophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia.“Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya.Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain.“Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar.Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.”“Apa yang ingin kamu ketahui?”“Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat.“Bagaimana bisa hal seperti ini…”Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menur
“Halo.”“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.“Aku tidak ingat pernah memesannya?”Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu menga
Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. “Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan b
“Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.Kringgg!Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’“Launa?” gumamnya heran.Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.