Antara Cinta dan Rahasia

Antara Cinta dan Rahasia

last updateDernière mise à jour : 2026-09-06
Par:  LeeEn cours
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Notes insuffisantes
5Chapitres
13Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Setahun setelah kematian istrinya, Kendrik masih dihantui malam ketika ia menemukan Sora tewas di dalam bathtub rumah mereka. Semua orang menganggap Sora bunuh diri, dan Kendrik berusaha menerima kenyataan itu. Hingga suatu malam, sebuah email masuk dari akun Sora. “Jangan percaya siapa pun.” Disusul pesan lain yang membuatnya meragukan ingatannya sendiri: “Malam itu aku belum mati.” Di tengah usahanya mencari tahu siapa yang mengirim pesan-pesan tersebut, Kendrik bertemu Launa, seorang perempuan misterius yang perlahan masuk ke dalam hidupnya. Namun semakin dekat dengan Launa, semakin banyak hal tentang kematian Sora yang terasa tidak masuk akal. Ketika masa lalu mulai terbuka, Kendrik harus menghadapi satu pertanyaan yang paling ia takuti: Benarkah kematian Sora disebabkan oleh orang yang paling ia kenal?

Voir plus

Chapitre 1

Bab I

“SORA!”

Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon.

Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru.

Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah.

Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya.

Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Sora?”

Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras.

Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman.

Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana.

“Sayang… bangun!”

Kendrik mengangkat tangan Sora setinggi wajah, dia bisa melihat jelas luka menganga di pergelangan tangan itu terus mengeluarkan cairan merah kental yang anyir.

Dia tepuk pipi Sora pelan, hanya dingin yang menempel di tangannya. Tak ada respon apapun.

Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga.

“TIDAK MUNGKIN KAMU MENINGGALKAN AKU! SORA!”

***

Setahun berlalu dengan begitu cepat. Hujan masih memiliki suara yang sama.

Mata Kendrik sembab menatap jendela kaca lebar di sisi meja kerjanya, ingatannya masih segar memutar kejadian yang seperti baru saja terjadi kemarin.

Dia berusaha keras melupakan itu semua. Tapi, wajah pucat Sora.

Aroma darah yang menetes ke lantai kamar mandi.

Suara shower yang mengucur deras.

Seperti melekat begitu kuat di ingatannya.

Kendrik menarik napas dalam dan memejamkan mata, berusaha melenyapkan ingatan atas kejadian itu setiap hujan turun.

Ping! Suara kecil dari laptop di meja memecah keheningan di ruangan.

Napas Kendrik mendengus pelan karena lamunannya diganggu oleh pesan itu.Sebuah notifikasi email muncul di sudut layar. Dia hampir mengabaikannya sampai dia membaca nama pengirim.

SORA

Mata Kendrik membelalak memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Benar, nama Sora dan alamat email itu milik istrinya.

Jemarinya ragu bergerak di atas touchpad, namun rasa penasaran memaksanya membuka email tersebut.

‘Subjek: Jangan Percaya Siapapun!

Aku masih ada di sini, aku mau kamu jangan percaya pada siapapun terutama soal kematianku, Kendrik!’

“Brengsek! Siapa yang memakai email Sora untuk melakukan ini?!” geramnya sambil mengusap wajahnya yang terasa panas.

Beberapa saat dia memikirkan balasan apa yang bisa dia kirim untuk memperingatkan si pelaku pengirim email tersebut, namun Kendrik mengurungkan niatnya.

Orang iseng tidak penting yang mau menjatuhkan karirnya. Begitu anggapannya sekarang.

Ping! Pesan kedua masuk.

‘Subjek: Malam Itu

Malam itu aku belum mati saat kamu pulang!’

“Apa-apaan ini, orang gila mana yang melakukan ini!” Kendrik kembali membaca pesan itu dengan emosi.

Kendrik segera menutup laptopnya dengan penuh emosi, dan memasukkan ke dalam tas kerja.

Dia menenggak sisa kopi dingin yang ada di meja, lalu bergegas meninggalkan ruangan yang dingin dan sunyi itu.

Malam ini Kendrik tak ingin langsung pulang ke rumah penuh kenangan itu, dia ingin mampir ke bar dan minum beberapa gelas untuk meringankan isi kepalanya.

Email itu, dari orang iseng pasti. Tapi tepat sekali saat Kendrik sedang mengenang kejadian kelam setahun lalu yang hampir membuatnya ingin pindah rumah. Duka dan traumanya seperti dipaku di dalam kepala.

Jalanan malam itu lengang, gerimis masih turun seperti embun, dingin dan basah. Mobil hitam itu berbelok ke kanan setelah lampu merah beralih hijau.

Di balik kemudi, Kendrik masih terganggu oleh pikiran siapa orang yang mengirimi email menggunakan akun milik Sora. Pasti itu dilakukan oleh orang terdekat yang tahu seluk beluk kehidupan pribadi istrinya.

Tiba-tiba sebuah kecurigaan berkecamuk di dalam kepalanya, jangan-jangan orang itu juga yang menyebabkan Sora memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Mungkin saja orang ini memiliki hubungan khusus dengan Sora. Tapi rasanya tidak mungkin, Sora begitu setia pada Kendrik selama ini. Setidaknya itu yang dirasakan olehnya.

Tak terasa mobil sudah sampai di sebuah area parkir.

Bangunan bar kecil di sudut kota tampak tenang dari luar, dengan lampu neon warna ungu menghias bagian depan.

Kendrik turun dari mobil dengan langkah gontai, di belakangnya ada mobil lain yang menyusul parkir namun si pengemudi tidak langsung turun.

Di balik kaca gelap mobilnya, dia mengamati Kendrik yang sudah sampai di depan pintu bar.

Saat pintu dibuka, suara musik menyembur ke luar.

Meja dekat bartender menjadi pilihannya.

“Vodka orange,” kata Kendrik lalu mengacungkan jari telunjuk.

Dia memesan satu jug vodka saja agar dia tak

terlalu mabuk saat menyetir nanti. Tidak butuh waktu lama untuk bartender menyajikannya di depan Kendrik.

Satu sloki sudah membasahi kerongkongan, rasa pahit, manis, minty, menguasai mulut.

Lelaki itu berdehem mengusir rasa perih di kerongkongannya.

Otaknya kembali mengulas isi email yang tadi sempat dibaca. Kalimat ‘jangan percaya siapapun’ membuatnya tergelitik.

Namun tak lama kemudian minuman alkohol sudah mulai membuat sensasi ringan yang semu pada Kendrik, dia mulai bisa merasa rileks meski ini hanya sementara.

Suara musik dari berbagai penjuru ruangan menggema, beberapa orang berdansa di depan meja DJ, terlihat mabuk dan mulai kacau. Asap rokok mengepul di beberapa meja, bersama dengan suara obrolan para pengunjung yang bersaing dengan suara musik.

LED besar di belakang meja DJ menampilkan video para penari panas, Kendrik hanya fokus menatap kosong ke gelas sloki nya yang kosong.

Tuang lagi.

Tenggak lagi.

Tuang lagi.

Jeda, tatapannya kosong.

Dentuman musik mengagetkannya.

Tenggak lagi.

Dari arah pintu masuk, terlihat seorang wanita melongok ke kanan dan ke kiri, seperti mencari seseorang namun tak kunjung menemukan. Tapi senyumnya mengembang saat mata cokelatnya menangkap punggung Kendrik.

Dia melangkah ke arah kursi samping Kendrik yang kosong, memesan orange jus dan es batu dipisah.Kendrik tidak peduli dengan sekitarnya, dari ekor matanya dia hanya melihat wanita itu memakai gaun malam yang elegan, ditutup cardigan berwarna marun yang membuat penampilannya sedikit tidak biasa untuk ada di sebuah bar.

Seperti wanita yang baru pulang makan malam dengan kekasihnya lalu memutuskan untuk santai sejenak membuang omong kosong yang diterimanya selama bersama si lelaki tadi.

Tap!

Wanita itu sedikit tersentak.

Kendrik sedikit membanting slokinya ke meja, lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.

“Sendirian?” tanya wanita itu.

Kendrik menoleh, baru kemudian dia sadar wanita di sebelahnya menatapnya.

“Ya,” jawab Kendrik singkat, tidak ada niat untuk memperpanjang percakapan.

Si wanita tersenyum simpul, “Jangan terlalu mabuk, bahaya!”

Kendrik terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.

“Aku memang sedang mencari bahaya!”

Wanita itu terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya.

“Launa!”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
5
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status