Share

Bab 8

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-20 17:05:08

​Matahari pagi bergerak cepat menyinari lorong-lorong rumah sakit. Rehan berdiri tegap di sudut lorong lantai tiga, menyandarkan bahunya pada pilar beton besar.

Tatapannya dingin dan tajam, mengawasi pintu kamar rawat liona dari kejauhan. Tidak ada raut panik atau keputusasaan di wajahnya.

Dia hanya perlu memastikan satu hal sebelum melangkah keberadaan Tante Meri.

​Saat seorang perawat melintas di dekatnya, Rehan menghentikan langkah perawat itu dengan gestur yang lugas.

​"Suster," panggil Rehan dengan intonasi rendah namun tegas.

​Perawat itu menghentikan langkahnya seraya menoleh.

"Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?"

​"Kamar 304. Apa ada keluarga yang mendampingi di dalam?" tanya Rehan tanpa basa-basi.

​Suster itu memeriksa papan catatan di tangannya.

"Oh, ibunya Pasien Liona baru saja berangkat beberapa menit lalu untuk urusan pekerjaan. Katanya sore baru kembali. Di dalam cuma ada pasien sendirian."

​"Terima kasih," sahut Rehan singkat.

​Begitu perawat berlalu, Rehan membenarkan letak kemejanya.

Tanpa ragu sedikit pun, dia melangkah mantap menuju kamar tempat Liona dirawat dan memutar gagang pintu tersebut.

​Klek.

​Di dalam ruangan, Liona sedang bersandar lemah di atas ranjang medis dengan selang infus menancap di punggung tangannya.

Raut pucat di wajah cantiknya seketika terhiasi senyum hangat begitu mendapati Rehan melangkah masuk.

​"Rehan..." panggil Liona dengan suara pelan namun riang.

​Rehan mengikis jarak, menduduki kursi di samping ranjang lalu menatap lurus mata kekasihnya. 

Dia menguasai ekspresi wajahnya dengan sempurna, menampilkan ketenangan tanpa celah.

​"Gimana keadaanmu pagi ini?" tanya Rehan langsung.

​"Sudah mendingan kok. Perutku tidak sesakit semalam," jawab Liona. Jemarinya menggapai tangan Rehan, meremasnya pelan.

"Kamu kok mukanya kelihatan capek banget, Rehan? Kamu tidak tidur ya?"

​Rehan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Ibu sempat gelisah semalam di ruang perawatan, jadi aku harus standby menjaga ibu."

​"Maaf ya, semalam aku tidak bisa nemenin kamu atau tanya kabar Tentang ibumu," bisik Liona merasa bersalah.

​"Fokus sama diri kamu sendiri. Kamu juga butuh perawatan, sayang. Aku yang minta maaf tidak bisa jagain kamu terus" ucap Rehan dengan nada sehalus mungkin.

​Liona mengangguk pelan, mengusap punggung tangan Rehan.

"Iya... Mamaku juga semalam mendampingi aku di sini." 

​Mendengar kata 'mama' meluncur dari bibir Liona, raut wajah Rehan tidak bergeming. Dia hanya mengangguk tipis.

​"Mamamu sudah pergi dari tadi?" tanya Rehan sekadar memastikan ulang perkataan dari perawat tadi.

​"Iya, baru saja keluar. Ada urusan mendadak sama klien katanya. Tapi semalam Mama khawatir banget, sampai beliin banyak buah." Sahut Liona sedikit cemberut. 

​"Bagus kalau begitu, sekarang giliranku yang nemenin kamu li!" balas Rehan lega.

​Liona menatap Rehan dengan dahi berkerut tipis, merasakan ada ketegasan yang tak biasa dari kekasihnya pagi ini.

"Kamu kenapa, Rehan? Apa ada yang salah?" Tanya Liona bingung dengan ekspektasi kekasihnya.

​Rehan meremas jemari Liona dengan tingkat penekanan yang pas, menyalurkan kehangatan tanpa kelemahan.

"Aku cuma mau kamu cepat sembuh. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting."

​"Iya, Rehan. Oh iya, bagaimana dengan Ibu? Operasinya lancar kan pagi ini?" jawab Liona tersenyum manis.

​Pertanyaan itu menghantam logika Rehan. Tenggat waktu operasi ibunya tinggal menghitung jam, dan biaya ratusan juta belum juga terkumpul.

Tapi, Rehan menjawabnya dengan wajah datar tanpa keraguan sedikitpun.

​"Semua sesuai rencana. Dokter lagi siapkan tim tindakan. Kamu tidak perlu cemas." bohong Rehan singkat.

​"Syukurlah kalau begitu..." desah Liona lega.

​Di tengah percakapan singkat itu, pandangan mata Rehan yang tajam tidak sengaja menangkap sebuah benda di sudut ruangan.

Sebuah tas tangan kulit berwarna hitam milik Tante Meri tergeletak begitu saja di atas sofa empuk dekat jendela.

Wanita itu tampaknya tertinggal barang berharganya karena terburu-buru pergi.

​Otak Rehan yang terbiasa berpikir cepat di bawah tekanan langsung menghitung kemungkinan.

Di dalam tas merek terkenal itu, dipastikan ada uang tunai dalam jumlah besar.

Kartu kredit berlimit tinggi, atau buku cek yang sanggup melunasi seluruh tagihan operasi ibunya dan ancaman rentenir dalam hitungan menit.

​Rehan berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati sofa tersebut.

​"Kenapa, Rehan?" tanya Liona heran melihat Rehan bangkit secara mendadak.

​Rehan menghentikan langkahnya tepat di depan sofa, menatap tas hitam itu dengan tatapan menilai yang dingin.

​"Tas mamamu tertinggal," ujar Rehan datar.

​"Eh? Iya kah. Wah, Mama memang suka ceroboh kalau lagi buru-buru. Biarkan saja di situ, nanti sore juga Mama ambil lagi." Liona mengangkat kepalanya dari ranjang. 

​Rehan tidak menjawab ucapan Liona. Tatapannya semakin mengeras, terkunci lurus pada ritsleting emas tas kulit tersebut.

​Waktu operasi ibunya tinggal menghitung jam. Ancaman dari rentenir membayangi setiap detik yang berlalu.

Hanya dengan membuka tas itu, seluruh masalah finansialnya detik ini juga bisa selesai.

​Rehan memajukan tubuhnya. Tangan kanannya terulur ke depan, jemarinya perlahan menggapai dan menyentuh permukaan dingin ritsleting tas milik Tante Meri.

​

​

​

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status