LOGINBab 8
Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya. Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana. Mencari celah, Rehan mengamati pergerakan perawat yang keluar dari kamar tersebut. Saat perawat melintas di dekatnya, Rehan memberanikan diri menegurnya dengan nada pelan. "Maaf, Suster... apakah di dalam kamar 304 ada keluarganya yang mendampingi?" tanya Rehan sopan. Suster itu tersenyum ramah seraya memeriksa papan catatannya. "Oh, ibunya Pasien Liona baru saja pergi beberapa menit lalu untuk urusan kerjaan. Katanya nanti sore baru kembali lagi. Di dalam cuma ada pasien sendirian." Rasa syukur yang samar terlihat diwajah Rehan. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rehan mulai melangkah mendekati pintu. Jemarinya yang bergetar memutar gagang pintu secara perlahan, lalu mendorongnya halus. Di dalam ruangan itu, Liona terbaring lemah di atas ranjang putih. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Wajah cantiknya tampak pucat dan berseri tipis, namun senyum hangat langsung terbit di bibirnya begitu melihat sosok Rehan yang muncul di balik pintu. "Sayang..." panggil Liona dengan suara pelan namun begitu lembut. Rehan merasakan hatinya remuk seketika. Suara itu, senyuman murni itu, adalah hal paling berharga yang dia miliki. Namun kini Rehan merasa tak pantas bahkan hanya untuk menatap matanya. Mengumpulkan sisa kekuatan dan menyembunyikan gemuruh di dadanya, Rehan melangkah mendekat lalu duduk di kursi sebelah ranjang. "Hai, Sayang..." bisik Rehan, memaksakan nada suaranya terdengar lembut dan hangat. "Gimana keadaanmu pagi ini?" "Udah mendingan kok. Perutku udah nggak sesakit semalam," jawab Liona lirih. Jemarinya yang tak tertancap infus bergerak pelan, menggenggam jemari Rehan. "Kamu kok pucat banget, Rehan? Kamu begadang ya jaga Ibu?" Pertanyaan polos dari Liona menembus dada Rehan bagaikan sembilu yang tajam. Dia meremas lembut jemari Liona yang hangat, mencoba mengabaikan rasa bersalah yang terus menggerogoti benaknya. "Iya, semalam Ibu agak gelisah di ruang perawatan, jadi aku nggak bisa tidur," bohong Rehan lagi, matanya menatap ke dalam bola mata Liona. "Maaf ya, semalam aku nggak bisa langsung nemenin kamu di sini." Liona menggeleng pelan, mengusap punggung tangan Rehan dengan ibu jarinya. "Nggak apa-apa, Rehan. Aku mengerti kok. Ibu kamu jauh lebih butuh kamu sekarang. Mamaku juga semalam menemani aku di sini." Rehan mendadak beku saat mendengar kata mama keluar dari bibir Liona. Darahnya serasa berhenti mengalir. Namun dengan cepat dia menguasai diri, memaksakan anggukan kecil. "Mama kamu... udah pergi, kan?" tanya Rehan pelan, sekadar memastikan ulang demi ketenangan dirinya. "Iya, baru aja keluar. Ada urusan dengan client mendadak katanya," sahut Liona dengan nada sedikit kecewa, lalu menghela napas pendek. "Mama memang selalu sibuk. Tapi semalam dia khawatir banget sama aku, sampai beliin banyak buah dan makanan." Rehan menundukkan kepala sejenak. Bayangan kejadian semalam saat Tante Meri berada di bawah kendalinya di kamar hotel sebelum telepon dari Liona memutus segalanya, kembali melintas bagai mimpi buruk yang nyata. Gemuruh di dadanya semakin tak terkendali. "Kamu kenapa, Sayang? Tangan kamu dingin banget dan gemetaran," tegur Liona cemas, menyadarkan Rehan dari gejolak pikirannya. Rehan dengan cepat mendongak, kembali memasang raut wajah tegar. Dia mengangkat tangan Liona, lalu mendaratkan kecupan panjang di punggung tangan gadis itu. Kecupan yang dipenuhi oleh permohonan ampun yang tak pernah bisa dia utarakan secara lisan. "Aku nggak apa-apa, Liona. Aku cuma... kangen banget sama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap Rehan tulus, suaranya sedikit parau menahan air mata agar tidak menetes. Liona tersenyum manis, matanya berbinar menatap pria di hadapannya. "Aku baik-baik aja, Rehan. Ada kamu di sini aja udah bikin aku merasa jauh lebih tenang." "Kamu harus cepat sembuh ya. Jangan dipikirin apa-apa lagi," tutur Rehan menenangkan. "Iya, Sayang. Oh iya, Ibu kamu gimana kondisinya sekarang? Operasinya lancar kan?" tanya Liona perhatian. DEG! Pertanyaan Liona kembali memukul Rehan tepat di ulu hati. Operasi ibunya belum dilakukan karena biaya yang belum tuntas, sementara tenggang waktu 24 jam terus berjalan menekan nyawa ibunya. "I, Iya, dokter lagi persiapkan semuanya. Kamu fokus sama kesehatanmu dulu aja ya," bohong Rehan lagi. Di tengah momen hangat yang memilukan itu, mata Rehan tidak sengaja menangkap sebuah tas tangan milik Tante Meri yang tertinggal di atas sofa sudut ruangan. Tas branded kulit berwarna hitam itu tergeletak begitu saja. Otak Rehan yang terdesak waktu operasi ibunya dan ancaman para rentenir mendadak berputar liar. Di dalam tas yang tertinggal di kamar rumah sakit itu, mungkin ada sejumlah uang atau buku cek yang bisa menyelamatkan nyawa ibunya, sekaligus menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja jika dia berani menyentuhnya.Bab 8Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.
Bab 7Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.Rehan membungkuk, memegangi perutn
Bab 6"Rehan! Kamu kok di sini?!"Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya."Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg
Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. “Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. “Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu
Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par
Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. “Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip







