Mag-log inSilakan Nona, Tuan sudah menunggu di ruang kerjanya.” Pria dengan setelan jas hitam itu menunduk sopan.
Kemudian, melangkah mundur. Meninggalkan Jasmine sendiri di ruangan megah milik Damian.Jasmine mengenal asisten pribadi Damian tersebut. Namun, baru malam ini pria bernama Pierre tersebut bicara padanya.Jasmine diam terpaku di ambang pintu. Ruangan di depannya begitu mengintimidasi dirinya, sama seperti Damian. Dinding-dinding berwarna abu gelap dengan pencah"Kamu tunggu di sini, ya. Saya mau ganti baju dulu." Jasmine dan Damian sudah sampai di apartemen—tepatnya di kamar. Sesuai dengan yang dikatakam Damian tadi, Jasmine segera ia minta untuk istirahat. Baru saja Damian hendak melangkah, ujung jasnya lebih dulu ditahan Jasmine. Bibirnya mencebik, membuat Damian mengernyit. "Ada apa, Sayang?" Damian kembali duduk di bibir ranjang. Kemudian mengusap lembut pipi Jasmine. Jasmine terlihat ragu. Akan tetapi, tak urung ia katakan juga apa yang mengusik pikirannya. "Mas nggak marah? Lihat tangan aku begini dari tadi Mas bahkan nggak ngomel kayak Mas Renan biasanya." Kekehan Damian terdengar lembut. Ia tidak menyangka Jasmine akan mengatakan hal seperti itu. Tadinya ia takut Jasmine merasa tidak nyaman dengan satu tangan diperban seperti itu. Pasti kaku sekali. Dan Damian sangat mengkhawatirkan hal itu. Siapa sangka, ternyata Jasmine malah berpikir hal lain. "Mana bisa saya marah dengan kondisi kamu seperti ini. Lihat!" Damian menyentuh t
Jasmine baru saja keluar dari Amartha saat tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal berada di tepi jalan. Awalnya Jasmine tidak terlalu ingin peduli. Namun, saat lampu lalu lintas berubah warna hijau, matanya langsung terbelalak. Tanpa berpikir panjang Jasmine langsung berlari cepat menuju Clara. Perempuan hamil itu bersiap untuk mengangkat kakinya. "Clara!" seru Jasmine keras. Namun, Clara tidak mengubris. Entah memang tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, Jasmine tidak tahu. Yang ada di pikiran Jasmine adalah segera menghampiri Clara. Kaki kecil Jasmine semakin cepat melangkah. Beruntung jarak area depan Amartha dengan jalan tidak terlalu jauh. Tepat saat Clara hendak benar-benar ke tengah jalan, Jasmine berhasil menarik mantan sahabatnya itu. Sayangnya Jasmine tidak memperhitungkan dirinya pun bisa celaka. Sebuah mobil melaju cepat ke arah mereka. Suara klakson memekik kencang menulikan telinga. Clara yang baru sadar segera mendorong Jasmine ke tepi jalan. Dan tanga
Jasmine buru-buru bangkit sembari menutup hidungnya. "Mas Damian ganti parfum, ya?" Damian menggeleng pelan. Lalu ikut duduk sembari mengendus kemeja depannya sembari memikirkan parfum siapa yang melekat di bajunya. "Mas peluk-peluk cewek, ya? Itu aroma perempuan loh." Jasmine menatap Damian curiga. Pernah diselingkuhi membuat Jasmina gampang trust issue dengan celah-celah kecil keanehan pada pasangannya. Tidak bermaksud menuduh Damian, hanya saja ia jadi kepikiran. "Ya enggaklah." Damian lalu membuka kancing kemejanya dengan cepat. Rahangnya mengeras dan ekspresinya terlihat kaku kurang suka dengan tuduhan Jasmine. Jasmine menahan tangan Damian. "Mau ngapain?" "Dibuka. Saya mau bakar sekalian kemejanya." Damian membuktikan ucapannya. Kemeja yang menjadi kecurigaan Jasmine pun ia buka di tempat itu. Kemudian tanpa bicara segera beranjak berdiri dan melangkah menuju tempat sampah. Tanpa ragu, Damian melemparkan kemeja mahal itu ke tempat sampah. Jasmine terbelalak, tidak perca
"Jasmine!" Jasmine bisa mendengar suara panik Damian dari arah kamar. Benar saja, pria itu langsung keluar kamar dan langsung berlari cepat menghampiri Jasmine. "Yang mana yang sakit?" tanya Damian saat sudah sampai pada Jasmine. Damian memeriksa setiap detail kaki Jasmine. Tidak tega dengan ekspresi panik Damian, Jasmine pun menyudahi aktingnya. Tawanya pun pecah. "Tapi aku bohong!" Gelak tawa Jasmine semakin keras. Ia bahkan memegang perutnya yang terasa sakit dikarenakan terlalu banyak tertawa. Dua alis Damian saling bertaut. Hingga akhirnya ia pun sadar kalau sudah dibohongi Jasmine. "Kamu...." Damian mendekat, lalu tanpa ampun menggelitik pinggang Jasmine hingga membuat gadis itu semakin tertawa. Tawa keduanya pun memenuhi lantai dua. Seakan tanpa beban yang berarti, riangnya Jasmine membuat matanya bahkan berair. Napasnya pun tersengal-sengal. Dadanya kembang kempis. Dan tubuhnya sudah terbaring di atas lantai. Begitu pula dengan Damian. Selaras dengan Jasmine, pria itu
"Maaf saya terlambat. Dia pasti sudah berbicara yang aneh-aneh tentang kamu, kan?" Damian mengendorkan pelukannya, menatap Jasmine lekat. Jasmine tercengang sesaat, sebelum akhirnya tersenyum kikuk. Kemudian melirik Pierre yang berada di barisan depan singkat. "Aku baik-baik aja. Tenang, Mas. Aku nggak selemah dulu, Mas." Senyum lebar Jasmine suguhkan untuk menenangkan Damian. Sebenarnya, Jasmine juga merasa tidak nyaman jika harus seintim ini dengan Damian di depan Pierre. Apalagi membicarakan perihal keluarga yang seharusnya Jasmine tutup aibnya dari orang luar. Sekalipun itu Pierre. Damian hendak protes, tapi Jasmine lebih dulu menepuk bahu pria itu dengan santai. Seolah-olah pertemuannya dengan Miranda barusan bukanlah hal besar. Meskipun sukses membuatnya sempat merasa tidak nyaman. "Aku beneran nggak apa-apa. Sekarang kita pulang, ya. Aku capek." Damian mengembuskan napas pelan, mengiyakan permintaan sang istri. Padahal ia sangat meragukan kata 'baik-baik' saja yang diucap
"Jadi apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Jasmine, setelah hampir sepuluh menit mereka sampai di cafe klasik tidak jauh dari butik milik Miranda. Miranda terhenyak sesaat. Namun, langsung menyunggingkan senyum tipis sebelum ia menyesap teh chamomile miliknya. "Kenapa begitu tergesa-gesa? Damian tidak mengizinkan kamu bertemu dengan saya?" Intonasi tenangnya tetap terjaga. Hanya saja tidak lantas membuat Jasmine merasa nyaman. Sebaliknya, Jasmine semakin merasa ingin segera pergi. Apalagi setelah mendikte penampilan Jasmine tadi, tidak terdapat permintaan maaf yang keluar dari mulut Miranda. Lantai atas cafe tersebut sangat tenang. Jauh berbeda dengan lantai bawah dan bagian outdoor yang tadi Jasmine lihat begitu ramai. Aroma harum sekaligus manis dessert pun menusuk penciuman Jasmine. Jasmine pun menyeruput americano dingin di hadapannya. Ia butuh sesuatu yang segar, sebelum nanti ibu mertuanya ini benar-benar menguji dirinya. Minumannya diletakkan di atas meja kembali. Menghad







