MasukAbas kembali melajukan mobilnya, roda berputar mulus di atas aspal tol yang panjang. Lampu-lampu jalan berbaris rapi, sementara suara mesin mobil berpadu dengan aliran angin dari AC.
Sejak tadi, Jena duduk gelisah di kursinya. Matanya berulang kali melirik ke arah Abas, lalu buru-buru berpaling lagi setiap kali hampir ketahuan. Namun rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada gengsi yang ia simpan. Akhirnya, dengan suara pelan tapi jelas terdengar, Jena memberanikan diri bertanya, "Mas... dada kamu sakit nggak?" Abas tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap fokus ke jalan, wajahnya tenang tanpa menunjukkan ekspresi berarti. Hanya jemari tangannya yang sempat mengecilkan genggaman di setir, sebelum kembali menguat. "Sakit sedikit," jawabnya datar, seolah itu bukan hal penting. "Tapi masih bisa nyetir. Kamu tenang aja." Jena mengerutkan kening, tangannya meremas tas di pangkuan. "Kok bisa bilang 'tenang aja'? Mas tadi kebentur keras, lho. Harusnya kamu jangan sok kuat gitu. Gimana kalau ada apa-apa?" Abas melirik sekilas ke arahnya, tatapan matanya tajam tapi samar menyimpan hangat. "Kalau saya nunjukkin sakit, kamu bisa tenang?" Pertanyaan itu membuat Jena terdiam. Ia membuka mulut, tapi tidak ada jawaban keluar. Bibirnya maju kecil, pipinya memanas karena merasa tersudut. Abas kembali menatap jalan. "Makanya, saya bilang saya nggak apa-apa. Supaya kamu tenang." Jena terhenyak. Dadanya serasa ditusuk halus, antara kesal dan terenyuh. Ia akhirnya hanya bisa bergumam pelan, "Dasar keras kepala..." sambil menunduk, pura-pura sibuk merapikan tasnya. "Kalau saya kenapa-kenapa juga bukan urusan kamu. Toh, nantinya kita akan tetap pisah, kan? Sesuai dengan perjanjian pernikahan yang kamu buat itu. Kamu akan tetap kembali ke pacar kamu," ucap Abas. Kalimat itu membuat jantung Jena seketika berdegup kencang. Tangannya yang tadi sibuk merapikan resleting tas berhenti begitu saja. Ia menoleh cepat, menatap Abas dengan mata membelalak. "Mas... kenapa ngomongnya kayak gitu sih?" suaranya lirih, terdengar getir. Abas tidak menoleh, pandangannya tetap lurus ke jalan tol yang panjang. Rahangnya tampak mengeras, nada bicaranya dingin tanpa intonasi. "Itu kenyataannya. Kamu sendiri yang bilang pernikahan ini cuma formalitas. Kamu juga yang bikin syarat, kalau semua ini hanya sementara. Jadi kalau suatu hari saya jatuh sakit atau kenapa-kenapa, apa artinya buat kamu?" Jena tercekat. Ucapan itu seperti tamparan keras. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya mulai memanas, seakan menahan sesuatu yang ingin pecah. "Aku... aku nggak pernah bilang aku nggak peduli sama Mas Abas..." gumam Jena pelan, hampir tak terdengar. Abas akhirnya menoleh sekilas, tatapannya menusuk tapi dalam. "Tapi kamu juga nggak pernah bilang kamu peduli." Jena langsung membuang wajah ke jendela, menahan air mata yang hampir jatuh. "Mas Abas nggak ngerti... Mas Abas bener-bener nggak ngerti." Suasana mobil kembali hening. Hanya suara ban yang berputar di aspal, mengisi ruang di antara mereka yang kini dipenuhi kata-kata tak terucap. Mobil terus melaju di jalan tol, tapi pikiran Jena sudah tidak karuan. Kata-kata Abas barusan terngiang-ngiang di kepalanya, membuat dadanya sesak. Ia menatap keluar jendela, tapi bayangan wajah Abas tak bisa ia enyahkan. Tiba-tiba, Jena menegakkan tubuhnya. Dengan suara agak tinggi, ia berseru, "Mas, berhenti di rest area!" Alis Abas sedikit terangkat. "Kenapa? Kita belum perlu istirahat." "Aku bilang berhenti!" Jena menoleh cepat, sorot matanya penuh tekad meski suaranya gemetar. "Kalau kamu nggak berhenti, aku yang tarik rem tangannya!" Abas sempat meliriknya tajam, seolah menimbang apakah Jena hanya menggertak. Tapi melihat gadis itu menggenggam tasnya erat dengan wajah memerah serius, ia akhirnya mendesah panjang dan mengarahkan mobil ke rest area terdekat. Begitu mobil berhenti di parkiran, Jena langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat. Ia menoleh ke arah Abas, matanya berkaca-kaca. "Mas Abas!" suaranya meninggi, penuh emosi yang tertahan. "Kamu pikir aku nggak peduli, ya?! Kamu pikir aku cuma nganggep kamu suami formalitas, ya?! Kamu salah besar!" Abas masih menatapnya dengan tenang, meski dadanya naik turun karena benturan tadi. "Buktinya?" tanyanya datar. Tanpa pikir panjang, Jena langsung mengulurkan tangannya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia membuka kancing kemeja Abas bagian atas, lalu menyingkapnya sedikit. Tangannya bergetar saat ia menatap dada Abas yang tadi terbentur. "Lihat! Kalau aku nggak peduli, aku nggak mungkin kayak gini! Aku khawatir, Mas! Aku takut ada yang terjadi sama kamu!" suaranya pecah, air matanya akhirnya jatuh juga. Abas terdiam, terpaku pada wajah istrinya yang menangis karena dirinya. Jari-jari Jena masih menyentuh dada Abas, gemetar tapi hangat. "Baru juga sehari, tapi kayaknya kamu mulai sayang sama saya, ya? Hati-hati aja, hati kamu bisa diisi sama saya, bukan pacar kamu lagi," goda Abas. Jena sontak menoleh cepat, matanya melebar karena terkejut. Air mata masih menggantung di sudut matanya, tapi kini wajahnya semakin merah karena malu bercampur kesal. "Ih! Mas Abas! Siapa juga yang bilang aku sayang sama kamu?!" sergahnya dengan suara bergetar. "Aku cuma... cuma khawatir aja! Itu manusiawi kan kalau aku khawatir sama orang yang ada di samping aku?" Abas tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lekat pada wajah Jena, dingin di permukaan, tapi dalam sorot matanya terselip sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang bahkan Jena sendiri belum bisa baca. Sudut bibirnya melengkung tipis, nyaris tak terlihat. "Kalau kamu bilang cuma khawatir, kenapa sampai nangis kayak gini?" Jena tercekat. Tangannya yang masih menempel di dada Abas buru-buru ditarik, seolah tersengat panas. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang kian memerah. "Dasar... suka banget muter-muterin omongan orang," gumam Jena lirih sambil menyeka air matanya dengan kasar. Abas menghela napas, lalu dengan tenang meraih tangan Jena yang masih gemetar, menggenggamnya erat tanpa kata. "Kamu boleh ngotot bilang ini cuma khawatir, tapi saya ngerti kok. Dan... saya nggak keberatan kalau hati kamu beneran berubah." Jena menarik tangannya dengan kasar dari tangan Abas. "Aku cuma khawatir, bukan berarti sayang sama kamu! Perasaan aku cuma buat Radit! Nggak akan pernah buat kamu." Ucapan Jena menusuk lebih dalam daripada yang ia kira. Abas terdiam, genggamannya yang kosong kini perlahan ia tarik kembali. Wajahnya tetap datar, tidak ada ekspresi marah atau kecewa, tapi sorot matanya meredup sesaat—sesuatu yang tidak Jena sadari karena kepalanya menunduk. Abas menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menutup kembali kancing kemejanya dengan gerakan tenang. "Ya sudah. Kalau itu yang kamu yakini, saya nggak maksa." Suaranya terdengar datar, terlalu tenang, justru membuat dada Jena terasa sesak. Hening melingkupi kabin mobil. Hanya suara orang-orang lalu lalang di rest area yang samar terdengar dari luar. Jena menggigit bibirnya, jemarinya meremas tas di pangkuan. Ia ingin menegaskan lagi kalau perasaannya tidak akan pernah berubah, tapi kata-kata itu terasa berat di tenggorokannya. Sebaliknya, bayangan Abas yang tadi menahan tubuhnya dari benturan, yang lebih memilih sakit sendiri asal dirinya aman, berulang kali muncul di kepalanya. Abas menoleh sekilas, menatap Jena yang masih menunduk. Tatapannya dingin kembali, seolah ia sudah menutup rapat hatinya. "Kalau udah tenang, kita lanjut jalan." Jena mengangkat wajah, hendak membalas, tapi begitu melihat sorot mata Abas yang begitu datar, dadanya justru semakin perih. Tiba-tiba ia merasa takut—takut kalau ucapannya barusan benar-benar menjauhkan Abas darinya.Abas menyetir pelan, sesekali mencuri pandang ke arah Jena yang duduk bersandar sambil memejamkan mata. Napas Jena tampak teratur, tapi wajahnya tetap pucat—dan itu cukup membuat hati Abas tidak tenang. “Sayang, haus? Mau aku beliin minum dulu?” tanyanya pelan. Jena membuka mata sebentar, menggeleng lemah. “Nggak usah, Mas. Aku cuma mau tidur dulu.” Abas mengangguk, meski khawatir tetap mengganjal di dadanya. Tangannya menjulur dan mengusap kepala Jena dengan lembut. “Tidur ya… Aku bangunin kalau udah masuk tol.” Jena tersenyum tipis sebelum kembali memejamkan mata. ***** Beberapa menit melaju di jalan tol, Abas mulai merasa ada yang janggal. Jena menggigil pelan. Bukan menggigil kedinginan—lebih seperti tubuh yang berusaha menahan rasa sakit. Abas panik. “Sayang? Kamu kenapa?” Jena membuka mata sedikit, berusaha menahan mual yang tiba-tiba menghantam perutnya. Wajahnya memucat lebih parah. “A-aku… mual, Mas…” Tanpa pikir panjang, Abas segera menyalakan lampu sein dan men
Abas beranjak dari tempat tidur begitu alarmnya berbunyi. Ia meraih ponsel dan langsung mematikannya sebelum suara itu membangunkan sosok di sampingnya. Ia tersenyum kecil saat melihat Jena masih tertidur pulas, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. “Tidur aja, cantik,” bisik Abas, mengecup kening Jena lembut. Ia berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, kemudian menuju dapur. Lengan piyamanya digulung sampai siku, lalu ia mulai mengeluarkan beberapa bahan untuk sarapan sederhana—roti, telur, susu. Beberapa menit kemudian, semuanya sudah tertata rapi di atas meja. Ia menepuk kedua tangannya puas. “Sekarang tinggal bangunin princess,” gumam Abas dengan senyum tipis. Namun sebelum ia sempat melangkah ke kamar, terdengar suara teriakan menggema di seluruh apartemen. “Mas Abas!!!” Abas menoleh spontan. Di ambang pintu dapur, berdirilah Jena dengan bibir mengerucut—persis seperti bebek yang sedang ngambek. “Selamat pagi, istriku,” sapa Abas dengan nada menggoda.
Abas meraih troli yang sudah disiapkan di depan pintu masuk supermarket, lalu mencondongkan tubuh sedikit, meraih tangan Jena dan menggenggamnya erat sambil mulai mendorong troli itu pelan.“Kamu mau ke rak apa dulu, sayang?” tanya Abas sambil melirik Jena yang berdiri di sampingnya.Jena mengerucutkan bibir, kedua alis terangkat seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius.“Ke sayuran atau frozen food ya, Mas?” tanyanya balik.“Hm… kita butuh es krim dulu supaya kamu senyum terus… atau bayam dulu supaya kamu sehat terus?”“Kalau aku pilih es krim dulu, Mas nggak akan ceramah soal nutrisi?”“Aku cuma mau istri aku bahagia. Dan kalau kebahagiaan kamu bentuknya es krim… aku siap ngedorong troli sampai rak paling belakang pun.”Jena mendengus kecil menahan tawa.“Ya udah… kita ke frozen food dulu,” putusnya akhirnya.“Baik, Nyonya. Frozen food dulu,” jawab Abas sambil mendorong troli ke arah yang ditunjukkan Jena.Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Jena.Ab
Beberapa minggu kemudian… Jena memperhatikan kalender kecil yang berada di atas rak. Ia menggigit bibir pelan, lalu menoleh ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. “Mas,” panggilnya, menatap Abas yang baru saja keluar dengan rambut masih basah. “Sebentar lagi tahun baru. Kamu sibuk nggak?” Abas melangkah mendekat sambil mengusap handuk ke rambutnya. “Kenapa, sayang? Kamu mau ngajak aku pergi?” “Aku kayaknya mau liburan, deh. Kamu mau nggak?” tanya Jena, memperhatikan ekspresi suaminya dengan penuh harap. “Mau dong,” jawab Abas tanpa ragu. Tangannya terulur, perlahan menarik pinggang Jena agar merapat padanya. “Aku malah seneng banget kalau bisa liburan sama kamu.” “Sebelum liburan, kamu temenin aku belanja bulanan dulu, yuk," ucap Jena. Abas terkekeh pelan. “Siap, istriku. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu mau beli apa emang?” “Banyak sih,” jawab Jena santai. “Aku udah tulis daftarnya.” “Yaudah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.” “Aku tunggu di ruang tengah ya.”
Abas masuk ke kamar setelah mendapatkan telepon dari Ibas. Pintu kamar ditutupnya perlahan, tidak ingin mengagetkan Jena.Jena sedang duduk bersandar pada headboard, selimut menutupi kakinya. Ia tertawa kecil sambil menonton video lucu di tabletnya, bahunya naik-turun karena masih menahan geli.Abas mendekat tanpa suara, lalu duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur sedikit melesak. Gerakan itu membuat Jena otomatis menoleh.“Mas?”Ia memiringkan kepala. “Kenapa? Mau makan? Aku siapin sebentar ya.”Abas tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan Jena, menggenggamnya hangat, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya.“Sayang…” ucapnya pelan, seolah memulai sesuatu yang penting.“Besok Ibas ngajak kita makan siang, kamu mau? Ibas mau ajak Siska, katanya ada yang mau diomongin sama Siska.”“Siska ajak Tante Putri nggak, Mas? Aku nggak mau kalau ada Tante Putri. Nanti dia sumpahin aku yang nggak-nggak lagi. Aku biasanya berani lawan dia, tapi setelah dia sumpahin aku, aku takut,” ucap
Koper itu gedebuk turun satu anak tangga, lalu satu lagi. Suaranya memecah keheningan rumah besar itu—rumah yang biasanya hangat, kini terasa seperti medan perang yang baru saja selesai terbakar.Ibas dan Siska yang sedang duduk di ruang keluarga langsung terlonjak kaget.“Ma… Mama mau ke mana bawa koper?”Ibas berdiri, suaranya berat dan bingung.Siska ikut bangkit. “Iya, Ma… Ini udah malam banget loh. Mau ke mana sih?”Tante Putri berhenti di tengah tangga. Napasnya kasar, matanya merah—bukan karena sedih, lebih seperti marah yang tidak sempat disembunyikan.Ia menarik kopernya lagi, keras, tidak mempedulikan tatapan anak dan menantunya.Sebelum ia sempat menjawab, langkah berat terdengar dari arah ruang kerja.Pak Samudra muncul, wajahnya tenang... Tenang yang sudah selesai. Tenang yang tidak bisa dibantah siapa pun.“Mulai hari ini,” ujarnya tanpa nada berputar-putar, “Mama kalian nggak tinggal di sini l







