MasukMata Jena bergerak turun, terhenti tepat pada bibir Abas yang sedikit terbuka. Seketika ia menelan ludahnya dengan gugup. "Kenapa bibir Mas Abas menggoda banget sih?" batinnya berteriak, sementara jari-jarinya kian sadar masih melekat di dada bidang pria itu. ***** Kisah Abas dan Jena yang terjebak dalam sebuah kontrak dengan syarat-syarat mengejutkan menjadi awal dari hubungan yang mereka kira akan sementara. Apakah cinta bisa tumbuh dari pernikahan yang hanya dibangun di atas kontrak?
Lihat lebih banyakAbas keluar kamar lebih dulu untuk mengecek kamera dan jaket, sementara Jena masih duduk di ujung ranjang, satu tangan memegang perutnya. Awalnya ia kira hanya mual biasa… Tapi rasa itu berubah. Bukan mual, bukan juga kram. Lebih seperti… perutnya terisi penuh dari dalam, menekan sampai ke dadanya sehingga napas terasa pendek. Jena mencoba berdiri. Terlalu cepat. Kepalanya berputar sepersekian detik, membuatnya harus memegang meja kecil di sebelahnya. "Kenapa begini lagi…?" Ia menatap bayangannya di cermin—wajah pucat, bibir sedikit memutih. Kalau ia bilang ke Abas sekarang… liburan ini mungkin selesai sebelum dimulai. Tidak. Ia tidak mau Abas kecewa. Ia tidak mau jadi alasan semuanya gagal. Ia memberi dua tamparan kecil pada pipinya sendiri, mencoba menghidupkan kembali warna di wajah. Saat Abas masuk lagi, ia tersenyum menutupi kekhawatiran. “Cantik banget istri Mas kalau mau lihat sunset,” puji Abas sambil mengelus rambut Jena. Jena pura-pura memutar mata. “Lebay.” A
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir ketika mobil Abas berhenti di depan sebuah vila mewah yang dikelilingi pepohonan pinus dan hawa dingin khas dataran tinggi. Udara Bandung yang sejuk langsung menyergap begitu pintu mobil terbuka. Abas segera keluar dan bergegas ke sisi lain untuk membantu Jena. Begitu pintu dibuka, Jena mengerjapkan mata, masih sedikit lemas. Abas menyodorkan tangannya, menopang pinggang Jena pelan. “Pelan-pelan ya, sayang,” ucapnya lembut. Jena mengangguk dan mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. Di depan vila, Ibas dan Siska sudah berdiri menunggu. Ibas melambaikan tangan begitu melihat mereka. “Mas Abas! Jena!” seru Ibas. Siska ikut melangkah mendekat dengan senyum lebar. “Halo, Jen. Kamu kelihatan capek banget, sayang. Perjalanan panjang ya?” Jena tersenyum tipis. “Iya… agak pusing sedikit aja kok.” Abas langsung menatap Ibas dengan wajah serius, seperti memberi kode agar mereka tidak banyak mengajak Jena bicara dulu. “Mas Abas, sini, a
Abas menyetir pelan, sesekali mencuri pandang ke arah Jena yang duduk bersandar sambil memejamkan mata. Napas Jena tampak teratur, tapi wajahnya tetap pucat—dan itu cukup membuat hati Abas tidak tenang. “Sayang, haus? Mau aku beliin minum dulu?” tanyanya pelan. Jena membuka mata sebentar, menggeleng lemah. “Nggak usah, Mas. Aku cuma mau tidur dulu.” Abas mengangguk, meski khawatir tetap mengganjal di dadanya. Tangannya menjulur dan mengusap kepala Jena dengan lembut. “Tidur ya… Aku bangunin kalau udah masuk tol.” Jena tersenyum tipis sebelum kembali memejamkan mata. ***** Beberapa menit melaju di jalan tol, Abas mulai merasa ada yang janggal. Jena menggigil pelan. Bukan menggigil kedinginan—lebih seperti tubuh yang berusaha menahan rasa sakit. Abas panik. “Sayang? Kamu kenapa?” Jena membuka mata sedikit, berusaha menahan mual yang tiba-tiba menghantam perutnya. Wajahnya memucat lebih parah. “A-aku… mual, Mas…” Tanpa pikir panjang, Abas segera menyalakan lampu sein dan men
Abas beranjak dari tempat tidur begitu alarmnya berbunyi. Ia meraih ponsel dan langsung mematikannya sebelum suara itu membangunkan sosok di sampingnya. Ia tersenyum kecil saat melihat Jena masih tertidur pulas, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. “Tidur aja, cantik,” bisik Abas, mengecup kening Jena lembut. Ia berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar, kemudian menuju dapur. Lengan piyamanya digulung sampai siku, lalu ia mulai mengeluarkan beberapa bahan untuk sarapan sederhana—roti, telur, susu. Beberapa menit kemudian, semuanya sudah tertata rapi di atas meja. Ia menepuk kedua tangannya puas. “Sekarang tinggal bangunin princess,” gumam Abas dengan senyum tipis. Namun sebelum ia sempat melangkah ke kamar, terdengar suara teriakan menggema di seluruh apartemen. “Mas Abas!!!” Abas menoleh spontan. Di ambang pintu dapur, berdirilah Jena dengan bibir mengerucut—persis seperti bebek yang sedang ngambek. “Selamat pagi, istriku,” sapa Abas dengan nada menggoda.
Abas memutar kemudi perlahan, matanya menelisik setiap deret kendaraan di area parkir yang padat. Sudah hampir lima belas menit ia berkeliling, tapi tak satu pun slot kosong terlihat. Sementara itu, Jena duduk di sampingnya, menatap ekspresi suaminya yang masih tampak tenang. Abas
Abas duduk di kursi pengemudi, gerakannya pelan namun mantap saat menarik sabuk pengaman dan mengaitkannya di dada. Jena menoleh ke arahnya, memperhatikan setiap gerakan itu dengan tatapan lembut. Ada rasa hangat yang muncul di dadanya — melihat Abas yang kini tampak lebih sehat, lebih tenang, da
Abas menepikan mobil perlahan ke sisi jalan yang sepi. Ia mematikan mesin, dan suasana langsung sunyi—hanya ada detak waktu dan napas mereka yang terasa begitu nyata di dalam kabin. Begitu sabuk pengamannya lepas, Jena langsung menunduk, air matanya jatuh deras. “Aku takut, Mas…” suaranya pecah d
Tante Putri mendecak kesal, suara kerasnya memecah keheningan ruang tengah rumah Pak Samudra yang sejak tadi terasa tegang. “Udah Mama bilang, Jena tuh nggak cocok jadi istrinya Abas!” ujarnya dengan nada tinggi, tangan bersedekap di dada. “Abas sampai sakit kayak gitu, itu pasti karena stres! Wa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.