Share

Bab 82. Memilih

Author: Shenna
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-04 21:35:26

"Kau tidak berhak!"

"Kenapa tidak?!" balas Chloe dengan mata berkilat marah. "Aku adalah putri keluarga Landtsov. Aku bisa singkirkan jalang itu dengan mudah. Jangan remehkan diriku, Alexander!"

Alexander tersenyum tipis. "Baiklah," ucapnya tenang. "Coba lakukan semampumu." Pria itu pun berbalik, melangkah keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun.

"Alexander! Kau mau ke mana?" Chloe menyusul, tumit sepatunya menghantam lantai marmer dengan nada tak sabar.

Tak ada jawaban.

"Alexander! BERHENTI!" Su
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 147. Ledakan Emosi

    “Hei, kita baru bertemu lagi." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis yang dulu mungkin mampu membuat wanita itu salah tingkah.Sayangnya, bagi Ella, senyum itu kini justru terasa menjengkelkan."Bagaimana kabarmu?" tanya Joseph lagi. "Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu."Ella menyesap sedikit minuman di tangannya sebelum menjawab dingin, "Masih hidup."Joseph terkekeh. "Kau benar-benar berubah setelah pulang dari Milan. Apa yang telah terjadi?""Aku tidak ingat pernah memintamu menilai perubahan hidupku."Joseph hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak memedulikan ketusnya sikap Ella. "Baiklah. Kalau begitu aku ganti pertanyaan." Senyuman pria itu kembali merekah. "Bagaimana di Milan? Menyenangkan? Ah, tapi di sana tidak ada diriku, pasti jawabannya tidak."Ella tetap diam sambil mencoba tiramisu cup.Joseph melanjutkan tanpa merasa canggung sedikit pun. "Ngomong-ngomong, apa kau dekat dengan seseorang di sana? Tidak, 'kan? Memang tidak ada pria yang lebih baik d

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 146. Malam Perayaan

    ***Pukul 10.45 PM.Ella melangkah melewati halaman rumah Grace sambil menenteng sebuah paper bag kecil.Begitu melewati pintu depan, suasana yang menyambutnya benar-benar kacau.Musik menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan anak muda memadati rumah sambil tertawa, mengobrol, menari, mengabadikan foto dan video, dan saling bersulang dengan gelas di tangan. Ella menyapu ruangan dengan pandangan perlahan.Ada banyak wajah yang dikenalnya. Namun, jauh lebih banyak lagi orang-orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.Rumah Grace malam itu sudah kehilangan kesan sebagai sebuah rumah. Tempat itu lebih menyerupai pesta liar yang dipenuhi tawa, kebisingan, dan energi anak-anak muda yang seolah tidak akan habis hingga matahari terbit.Hingga matanya menangkap sosok Grace yang sedang mengobrol bersama beberapa tamu.Tanpa ragu, ia menghampiri. "Hai, Grace."Grace segera menoleh. Wajahnya langsung berbinar. "Oh, hai, Ella! Kau datang."Barulah Ella memperhatikan penampilan t

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 145. Kabar dari Milan

    7 Hari Kemudian.Pukul 11.00 AM.Ella duduk diam di kursi kamarnya.Tangan kanannya mengusap-usap perut tanpa sadar hingga ujung kaus yang dikenakannya terangkat. Tapi siapa peduli, hanya ada dirinya di tempat.Sementara itu, pandangannya tidak lepas dari laptop yang terletak di atas meja di depannya.Sudah lebih dari satu jam ia berada dalam posisi yang sama.Selama itu pula, ia terus berpindah dari satu video ke video lainnya di internet. Semua membahas topik yang sama, yakni cara menggugurkan kandungan.Mulai dari makanan yang dipercaya dapat memicu keguguran, ramuan herbal, aktivitas fisik yang berlebihan, hingga berbagai mitos dan pengalaman orang-orang yang mengaku pernah mengalaminya.Namun, tak ada satu pun yang mampu memberinya jawaban pasti. Semuanya terdengar omong kosong.Oh iya, jika ada yang bertanya bagaimana hasil 'Hadiah' yang diberikan Daisy seminggu lalu ...Jawabannya sederhana.Gagal total!Sedangkan semuanya sudah habis tanpa sisa.Kemarin, Ella bahkan kembali me

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 144. Lelaki yang Kucintai

    “Tapi tunggu." Ella menggaruk pelipisnya pelan. "Semua ini tidak akan meracuniku, bukan?"Daisy mengangkat bahu. "Kurasa tidak.""Kurasa?""Yang penting, target kita kandungannya berhenti berkembang 'kan?"Ella langsung menoleh tajam. "Ah, Daisy. Aku serius. Jika ujung-ujungnya aku ikut mati, lebih baik kau langsung saja bawakan tali atau peluru."Daisy malah terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Tak kusangka kau masih peduli nyawa dirimu."Ella tetap menatapnya datar.Tawanya perlahan mereda. Daisy merespon, "Ya ... berdoa saja semoga kau tidak kenapa-kenapa, sebab aku juga belum pernah kebobolan."Ella hanya bisa mendengus kesal, walau yang dikatakan temannya benar.Ia meraih salah satu botol alkohol yang tergeletak "Baiklah. Aku akan minum yang ini dulu. Kau ambil saja yang satunya."Mata Daisy langsung berbinar. "Untukku? Oh, terima kasih," gembiranya memeluk botol tersebut.Ella mengangguk asal. Lagi pula memang Daisy yang membelinya."Menurutku juga, lebih baik kau

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 143. Obat, Alkohol, dan Nanas

    Tin Tong ...! Rachel yang masih memegang majalah di sofa segera menutupnya, lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya. "Hei, Daisy," sapanya hangat. "Hallo, Mrs. Force." Daisy tersenyum lebar. "Kuharap aku tidak mengganggu." "Oh, ayolah. Jangan bicara seolah kita baru pertama kali bertemu. Ayo masuk." Daisy melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saat itu Rachel menyadari kedua tangan gadis itu penuh oleh dua kantong belanja berukuran cukup besar. "Kau pasti ingin menemui Ella," ujar Rachel. "Dia ada di kamarnya. Langsung saja." "Benar." Daisy mengangkat salah satu kantong belanja ke arah Rachel. "Aku barusan ke supermarket. Kuharap Anda mau menerimanya." Rachel menerimanya sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Sayang. Tapi lain kali tidak perlu repot-repot seperti ini." "Hahaha ... supaya terlihat seperti tamu yang tahu sopan santun." Rachel ikut tertawa sambil menggeleng geli. Daisy akhirnya berjalan lebih jauh memasuki rumah. Tapi saat melewati ruang keluarga, lang

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 142. Pembenaran

    ***Pintu ruangan Dr. Amelia Hart terbuka.Ella keluar sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Langkahnya lambat disertai wajah lesu, sesuai dengan situasi yang tengah menimpanya.Ia menutup pintu itu pelan.Namun, baru satu langkah, mata Ella langsung membelalak."Ella?!"Suara itu membuat tubuhnya menegang.Di depannya berdiri Daisy yang tampak sama terkejutnya. Wanita itu berkedip beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah lihat.Lalu tanpa sadar tatapannya naik ke papan kecil di samping pintu.Dr Amelia HartObstetrician & GynaecologistEkspresi Daisy berubah. Matanya makin membesar dan bibirnya terbuka. "Kau-""Tidak, tidak, tidak." Ella langsung berjalan cepat menghampirinya lalu menutup mulut Daisy dengan panik. "Tolong jangan katakan apa pun. Aku bisa jelaskan!"Daisy langsung menyingkirkan tangan Ella dari mulutnya dengan wajah penuh keingintahuan. "Yeah, jelaskan cepat. Semuanya."Ella langsung menoleh ke kanan dan kiri. Lorong rumah sakit bukan tempat

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 7. Hutan, Tubuh, dan Dosa

    Ella tentu tidak akan membuang-buang waktu lagi. Ia segera berlari ke luar gerbang yang menjulang tinggi itu. Dugaannya benar, rumah ini berada di dalam hutan. Hutan dengan tumbuhan besar serta liar dan sangat gelap, padahal hari belum malam. Ella juga bisa mendengar suara air. Apa itu air terjun,

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 6. Tahanan Milan

    Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom melaju di jalan kota Milan, Italia. Di kursi belakang ada Alexander yang sibuk dengan berkas di tangannya dan di depan ada supir serta Lionello-Asisten pribadi Alexander. Alexander melonggarkan dasinya, ingin menghela napas berat tapi ia tidak ingin menunjukkan ra

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 5. Hilang Tanpa Jawaban

    Denting jam dinding menyambut hari baru. Nyawanya sudah kembali, tapi kelopak matanya masih berat untuk terbuka. Perlahan, Ella menggeser kepala, menoleh ke sisi kiri ranjang. Membuka matanya perlahan untuk melihat pemandangan yang berbeda. Kosong. Hanya ada selimut putih berantakan dan paper bag b

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 4. Sentuhan Lebih

    Cengkraman Joseph melonggar. Ella segera melepaskan tangannya tanpa pikir panjang."Pria mana yang kau maksud?" tanya Joseph dengan nada tinggi.Ella menunjuk ke arah Alexander. "Dia. Aku mengenalnya, dan kita akan pergi bersama ... seperti kemarin."Mata Joseph menyipit. Amarahnya memuncak melihat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status