Share

2. Pelacur Penggoda Kakak Tiri?

Sungguh gila, akhirnya permainan ranjang panas tak bisa terbendung, hingga malam penuh peluh pun menjadi sejarah mereka.

Dan kala bangun di pagi hari, River tampak memasang ekspresi bengis karena Adeline sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu menutup dahinya dengan lengan kiri seraya menyeringai tipis.

‘Ternyata dia sengaja bermain denganku agar bisa kabur, ya? Jangan senang dulu, Nona. Aku pasti menemukanmu, meski kau lari ke ujung dunia sekalipun!’ gemingnya bertekad keras.

Namun, saat River bangkit dari ranjang, dia menyadari ada barangnya yang hilang. Wajahnya seketika berubah bengis sembari mengumpat, “sialan! Apa wanita itu yang mencurinya?!”

Sedangkan di lobi hotel, seorang lelaki dengan potongan rambut cepak tampak cemas menanti seseorang.

“Nona Adeline?!” pekiknya kemudian.

Wajahnya tampak antusias saat melihat Adeline keluar dari lift dan berjalan ke arahnya dengan terburu-buru.

“Akhirnya saya menemukan Anda,” lanjut lelaki tadi yang adalah Sopir Adeline. “Apakah Nona baik-baik saja? Anda menghilang di tengah acara lelang.”

“Mari kita pergi dulu dari sini,” balas Adeline dengan raut muka gelisah.

Ya, dia tentunya harus cepat kabur sebelum River bangun dan menyadari ketidakhadirannya. Wanita itu bergegas keluar lobi hotel dan segera naik ke mobil yang dikemudikan sopirnya.

Namun, tanpa diduga, River ternyata melihat Adeline dari jendela kamarnya. Tatapan pria itu terpaku pada nomor plat mobil Adeline yang semakin berjalan menjauh.

Dia meraih ponselnya dan lantas bicara pada asistennya. “Cari tahu informasi pemilik nomor plat mobil yang aku kirimkan!”

Agaknya, River memang tidak akan melepaskan Adeline begitu saja.

Sementara itu, sang wanita yang berpikir bahwa dirinya sudah lolos dari River, tengah menyandarkan punggung dengan kepala menengadah di kursi belakang mobilnya. Akan tetapi, ketenangannya terusik saat sopirnya tiba-tiba berdehem.

Dengan ragu, lelaki yang sedang menyetir itu bertanya, “mo-mohon maaf, Nona. Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Apakah Anda dalam masalah? Saat itu Tuan Ludwig juga tiba-tiba diseret oleh petugas keamanan dan dibawa ke kantor polisi.”

“Bukan apa-apa. Kemarin malam saya tidak sengaja mabuk dengan teman saya dan akhirnya menginap di salah satu kamar hotel,” sahut Adeline dengan mata terpejam. “Apakah orang mansion menelepon Anda?”

“Ah, ya ….”

Mendengar jawaban sopirnya, Adeline lekas membuka netranya.

“A-apakah Ayah yang menelepon?” tanya wanita seraya menegakkan tubuhnya.

“Maaf, bukan, Nona. Nyonya Sabrina yang menelepon.”

Dugaan Adeline yang salah, membuat semangat di wajahnya kembali luntur. ‘Memangnya apa yang aku harapkan? Sejak kapan Ayah peduli padaku?’

“Dan … sepertinya Nyonya Sabrina sangat marah, Nona.” Sang Sopir kembali berkata.

Adeline yang kini menatap ke luar jendela, hanya menghela napas panjang. Dia sudah tak heran jika nyonya Daniester itu murka. Terlebih jika menyangkut Ludwig-putra kesayangannya!

Ketika tiba di pelataran mansion Daniester, rasanya Adeline sungguh berat untuk masuk ke dalam. Namun, dia tak bisa lari seperti tikus pecundang hanya untuk menghindari kemarahan ibu tirinya. Dan benar saja, saat Adeline menginjak lantai ruang tengah, dia sudah disambut tatapan bengis Sabrina dan Heinry.

“A-ayah ….” Suara Adeline kembali teredam kala Sabrina mendadak melangkah ke arahnya.

Dengan wajah menahan amukan, Nyonya Daniester itu langsung menampar pipi Adeline amat kencang.

“Berani sekali kau melaporkan putraku ke Polisi, hah?!” Sabrina memberang dengan nada tinggi. “Kau menjebloskan kakakmu ke penjara? Apa kau sudah gila?!”

Sebelah tangan Adeline memegang pipinya yang terasa berdenyut. Akan tetapi, dia tak merasa bersalah sedikitpun karena baginya, Ludwig memang pantas dihukum.

“Semua itu salah Kak Ludwig! Dia ….”

Belum sempat Adeline menuntaskan katanya, Sabrina kembali mendaratkan tamparan di sisi lain pipi putrinya. Bahkan, tatapan nyonya Daniester itu berubah lebih garang seolah ingin mencabik-cabik Adeline.

Irisnya bergetar penuh emosi sembari berujar, “siapa yang memberimu hak untuk membantah? Ludwig kakakmu. Jadi apapun yang terjadi, kau harus menghormatinya. Bahkan jika kalian sedang bertengkar, bukankah seharusnya kau mengalah dan menuruti ucapan kakakmu?!”

Mendengar celotehan Sabrina, rasanya Adeline ingin muntah. Nyonya Daniester itu memang selalu menutup mata pada kesalahan yang dilakukan putranya.

“Lalu, apakah saya harus diam saja saat Kak Ludwig meletakan obat perangsang di minuman saya? Apa saya harus menurut ketika Kak Ludwig berniat melecehkan saya?!” Adeline menyahut dengan tegasnya.

Namun, belum sempat Sabrina menjawab, Heinry yang sejak tadi diam kini angkat bicara. “Hentikan omong kosong itu, Adeline!”

“Apa yang Ayah maksud omong kosong?” sambar sang putri seraya merapatkan alisnya.

Dia melirik Heinry dan Sabrina secara bergantian. “Ayah dan Ibu tahu sendiri sifat Kak Ludwig seperti apa terhadap saya. Lalu, apa kalian masih menganggap saya bersalah hanya karena membela diri?!”

“Ya, kau bersalah. Tentu saja kau bersalah karena sudah mempermalukan keluarga Daniester! Aku tidak akan peduli jika itu kau, tapi berbeda kalau Ludwig. Apa kau tidak tahu bahwa Ludwig adalah wajah DNS Group?!” decak Sabrina dengan amarah memuncak.

Nyonya Daniester itu terang-terangan mengungkap ketidaksukaannya pada Adeline dan Heinry diam saja. Sungguh, Adeline nyaris tak percaya dengan situasi ini. Namun, tidak ada kegilaan yang mustahil karena ini adalah keluarga Daniester.

Adeline menatap tajam Sabrina dan lekas bertanya, “apakah itu berarti Ibu tidak masalah jika Kak Ludwig memperkosa saya?!”

Alih-alih langsung menjawab, Sabrina hanya menarik sebelah sudut bibirnya dengan sinis. Dia mengikis jaraknya dengan Adeline hingga wajah mereka saling berhadapan.

“Kalau begitu, kau harus menikah, Adeline,” bisiknya kemudian.

Sang putri seketika tertegun saat mendapati titah tak terduga tersebut. Dengan mulutnya yang terasa kering, dia pun menyambar, “a-apa? Menikah? Mengapa saya harus menikah?”

“Kalau kau tidak menikah, apa kau ingin terus menjadi pelacur yang menggoda kakak tirimu sendiri?!” sambar Sabrina melotot tajam.

“Malam ini keluarga dari calon suamimu akan datang. Jadi bersiaplah dan pastikan kau bersikap sopan!” Sabrina pun berbalik dan meninggalkan ruangan sebelum Adeline sempat menentang.

Adeline melirik Heinry yang masih berada di dekat sofa, tapi ayahnya tersebut hanya memampangkan iras muka datar, seolah tak ingin membicarakan apapun dengannya.

Hingga waktu malam tiba, keluarga calon suami Adeline benar-benar datang. Namun, Adeline rasanya sungguh enggan untuk turun dari kamarnya, sampai-sampai Sabrina memerintahkan pelayan untuk menjemputnya.

“Nona Adeline, semua orang sudah menunggu Anda,” tukas seorang Pelayan usai mengetuk pintu Adeline. “Nyonya Sabrina meminta Anda untuk keluar sekarang, Nona.”

Pelayan itu sudah menunggu beberapa menit, tapi tidak ada sahutan apapun dari dalam. Dia berniat mengetuk sekali lagi, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan Adeline keluar dengan tampang sinisnya.

“Ah, Nona?” Pelayan tadi seketika terkejut melihat penampilan Adeline, tapi dia tak berani memberi komentar apa-apa.

Ya, Adeline sengaja mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans longgar dengan bagian lutut yang sobek-sobek. Sementara rambutnya yang terbiasa digerai indah, kini dia ikat seperti kuncir kuda. Penampilannya sungguh berbeda dari kesan anggun dan feminimnya sehari-hari. Wanita itu berjalan mendahului sang pelayan dengan tatapan amat tajam. Sialnya, dia malah bertemu Ludwig saat akan turun dari tangga.

“Lihat ini. Kau ingin bertemu calon suami atau ingin balapan di sirkuit, hah?” tutur Ludwig memancing keributan. “Apa mungkin … kau memberontak karena ibuku berniat menikahkanmu dengan orang lain?”

“Tutup mulutmu, Kak Ludwig! Aku sangat malas berdebat sekarang!” sahut Adeline tegas.

Namun, sang kakak malah semakin mendekatinya sambil berbisik, “kau harus membayar perbuatanmu karena membuatku tidur di kantor polisi, Adeline!”

Adeline pun mendapukkan alisnya, tapi belum sempat dia membalas, Ludwig sudah berlalu menuruni anakan tangga.

“Cepatlah, Adeline. Apa kau tidak penasaran dengan calon suamimu?” Ludwig kembali bercakap tanpa menoleh ke belakang.

Mendengar itu, perasaan Adeline sudah tak enak. Dan benar saja, dirinya seketika terbelalak saat melihat keluarga dan pria yang dipilihkan Sabrina untuk menjadi suaminya.

‘Apa-apaan ini? Mengapa harus dia?!’

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status