LOGINMata Ruby mulai berkaca-kaca karena rasa penuh di mulutnya. Ia mencoba menahannya, tapi setiap kali ujung kejantanan itu menyentuh bagian belakang tenggorokannya, ia merasa tersedak.Tubuhnya berguncang, membuat Ruby memegang paha Nikolai untuk menahan diri agar tidak jatuh mundur.Tapi Nikolai tidak peduli. Ia menarik kepala Ruby lebih dekat, memaksa hampir seluruh panjang kejantanan itu masuk. Ruby tersedak keras, hidungnya hampir menempel di perut pria itu. Napasnya tersumbat. Detik-detik itu terasa sangat panjang hingga Nikolai menarik keluar sedikit kejantanannya, memberi ruang.“Bernapas,” perintahnya serak. “Lalu masukkan lagi.”Ruby menarik napas kasar, dada naik-turun cepat. Air matanya mengaburkan pandangan. Ia merasa begitu terhina, tapi juga… entah mengapa, ada getaran aneh di perut bawahnya setiap kali Nikolai mengerang pelan karena gerakannya.Ruby membuka mulut lagi. Kali ini lebih patuh mengikuti perintah Nikolai. Lidahnya bergerak di bawah kejantanan itu, mencoba me
Ruby menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering, detak jantungnya bergemuruh kencang di telinga. Perintah itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.Gadis itu memandang Nikolai. Mata legam itu tak berkedip, menunggunya. Panas tubuh pria itu masih terasa di kulitnya yang terbuka. Jubah hitam yang tadi Ruby kenakan sudah tergeletak di lantai, meninggalkannya hanya dengan lingerie merah marun yang nyaris tak menutupi apa pun.Ruby belum pernah melakukan ini. Tidak pernah. Bibirnya belum pernah menyentuh kejantanan pria mana pun. Bayangan harus berlutut di depan Nikolai, membuka mulut, dan melakukan itu membuat perutnya bergejolak hebat. Rasa malu, takut, dan sesuatu yang lebih gelap bercampur aduk.Tangannya terkepal di sisi tubuh. Napasnya memburu.Nikolai tidak mengulangi perintahnya. Ia hanya menatap Ruby, rahangnya mengeras. Ibu jarinya masih mengusap pelan tengkuk Ruby.“Aku tidak suka diulangi, Bianca,” bisiknya rendah, serak. “Berlutut.”Nama itu lagi. Bi
Ruby menelan ludah dengan susah payah, membiarkan keheningan yang mencekam menggantung di udara kamar mandi yang beruap itu. Matanya terpaku pada kotak beludru dan gaun tidur sutra di tangan Elena."Secepat ini?" bisik Ruby nyaris tanpa suara. Wajahnya yang semula memerah karena air hangat perlahan memucat.Ia kira setidaknya ia akan punya waktu beberapa hari, atau paling tidak satu malam penuh untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum pria itu manggilnya kembali. Namun, di dunia Castellano, waktu rupanya berjalan sesuai dengan kehendak sang Tuan Muda.Melihat kepanikan yang terpancar dari mata Ruby, Elena menundukkan pandangannya. "Tuan Nikolai masih memiliki pertemuan tertutup dengan beberapa petinggi keluarga di ruang kerja utama malam ini, Nona. Pertemuan itu diperkirakan akan berlangsung cukup alot.""Lalu... kenapa kau membawa pakaian itu sekarang?""Tuan Nikolai memberikan waktu dua jam untuk anda bersiap," jelas Elena dengan nada hati-hati. "Beliau secara khusus memerintahkan ag
Ruby menatap Valentina dengan sorot mata yang menajam. Rasa lelah, sakit fisik, dan penghinaan yang bertubi-tubi sejak pagi membuat sisa-sisa kesabaran di dalam dadanya menguap habis."Berhenti memanggilku Sinclair," desis Ruby dengan nada dingin yang mengejutkan dirinya sendiri. "Aku sudah membuang nama itu. Aku tidak ingin dikaitkan lagi dengan keluarga keparat itu."Mendengar perlawanan kecil itu, Valentina terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengus pelan. Sudut bibir wanita berkacamata itu tertarik ke atas, membentuk senyuman meremehkan yang sangat kentara."Luar biasa," cibir Valentina. "Sifatmu berubah begitu cepat setelah menandatangani perjanjian itu. Kemarin kau hanya pelayan menyedihkan yang menangis di sudut dapur, dan sekarang kau sudah mulai berani menggonggong. Apakah tidur di ranjang Tuan Muda membuatmu merasa memiliki kuasa?"Ruby mengerutkan dahinya dalam-dalam. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. "Apa maumu sebenarnya, Valentina? Jika kau hanya datang untuk menghi
Senyum di wajah Edith dan Martha membeku seketika. Keduanya saling bertatapan dengan mata membelalak, mengira pendengaran mereka baru saja bermasalah."Nyonya... apa maksud Anda?" suara Edith bergetar. Ia mencoba tertawa canggung, mengira ini hanyalah lelucon yang salah sasaran. "Anda pasti salah mengerti. Yang harus dihukum itu Ruby, Nyonya. Pelayan baru ini yang—""Apa aku terlihat seperti sedang meminta pendapatmu, Edith?!" bentak Kepala Pelayan. Suaranya membelah udar seperti petir, membuat nyali semua orang di ruangan itu menciut."T-tapi Nyonya!" Martha ikut memprotes panik. Ia melangkah mundur saat menyadari raut wajah atasannya sama sekali tidak sedang bercanda. "Kami hanya menegakkan aturan kedisiplinan! Pelayan pemalas ini yang salah! Kenapa kami yang disuruh berlutut?!"Kepala Pelayan tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia menoleh ke arah dua pelayan pria berbadan tegap yang berjaga di dekat pintu. "Pegang mereka berdua! Paksa mereka berlutut ke lantai. Sekarang!""Tidak!
Melihat kedatangan sang kepala pelayan, Martha dan Edith yang awalnya terkejut dengan cepat mengubah raut wajah mereka. Kesombongan dan amarah mereka menguap, digantikan oleh topeng kepalsuan yang sangat meyakinkan. Keduanya saling bertatapan, sebuah sinyal rahasia melintas di antara mereka, sebelum akhirnya Martha melangkah maju dengan kepala menunduk patuh."Nyonya Kepala, syukurlah Anda datang tepat waktu!" seru Martha dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia adalah korban yang paling menderita. Tangannya menunjuk lurus ke arah Ruby yang masih berdiri terpojok di dekat pantri. "Kami sedang mencoba mendisiplinkan anak baru yang sangat tidak tahu aturan ini!"Edith segera menimpali, tidak membiarkan ada jeda sedetik pun yang bisa dimanfaatkan Ruby untuk membela diri. "Benar, Nyonya! Anda bisa lihat sendiri kekacauan hari ini. Kami semua sudah bekerja memeras keringat sejak pagi. Kami menyiapkan sarapan, menyikat lantai, dan membersihkan seluruh paviliun. Sementara dia? Dia men







