Share

7. Tawaran Sensual

"Dan apa motivasi kamu itu?"

"Ada urusan keluarga yang mendesak, dan bos Topo memberi saya solusi seperti itu, jadi saya coba."

"Menurut kalian itu solusinya? Dan apa kamu bilang, kamu mencobanya? Apa kamu sadar apa akibatnya kalau kamu bertemu dengan pelanggan yang salah dan semakin terjerumus pekerjaan itu, Lyra!" sentak Javas.

Zehra tersentak, ia yang tadinya menatap penuh pada Javas langsung menunduk, aura dominasi begitu terasa dari diri Javas bahkan ketika ia tak melakukan apapun dan disaat Javas menyentaknya jelas Zehra terkesiap ditambah ia mengkhawatirkan nasibnya.

Javas menghela napas kasar, "Apa ini berhubungan dengan kebutuhan kamu mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat?"

Zehra mengangguk kecil, membalas Javas dengan meringis dan rasa rendah diri menyergapnya.

Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan duduk di sofa yang sama, cukup dekat dengan Zehra,

"Dengar! sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu entah kenapa, kamu membuatku sangat bergairah."

Mulut Zehra ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong. Tak sedetikpun ia berkhayal petir di siang bolong.

"Aku punya penawaran, kamu tah simbiosis mutualisme aku menginginkanmu untuk melayaniku kapanpun aku mau dan sebagai gantinya aku akan memberikanmu jajan bulanan, semacam sugar baby, wanita simpanan atau apapun namanya, bagaimana?"

Javas tampak bersemangat dan santai dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock Zehra,

"Kamu hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku," Suaranya menjadi rendah dan merayu, "Dan kamu nggak perlu khawatir merasa rugi atau direndahkan, kamu sudah merasakan kalau aku bukan jenis lelaki yang bermulut besar dan pelit."

"Aku pikir, aku bisa membelikan kamu membayar bulanan untuk kontrakan elit di ibukota, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan barang mahal, baju- baju rancangan desainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau menyukainya Sebagai wanita kamu pasti menyukainya. Bahkan kamu bisa mengatasi masalah keluarga mu dengan cepat kalau itu tentang uang, Bagaimana Zehra? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kamu hanya harus ada saat aku membutuhkanmu,"

"Maaf, Pak sebagai seorang wanita yang hanya memiliki sisa harga diri saya menolak, selama ini saya bekerja keras dengan cara yang benar walau melelahkan secara fisik dan batin. Saya harap anda mengerti maksud saya."

Zehra mendongak dan tersentak saat menatap wajah Javas dengan jarak dekat yang menjelaskan semuanya. Selama ini ia selalu bertemu dengan Javas di tempat gelap yang berisik, kali ini ia bertemu di tempat yang lebih normal dengan terpaan sinar mentari dari jendela besar yang sebagian dibiarkan terbuka menyinari wajah Javas yang tak sepenuhnya angkuh mata coklat pekat yang terlihat jantan, dan itu tipe idealnya.

"Ma..maaf, Pak saya mohon batalkan pelaporan anda mengenai perbuatan yang tidak menyenangkan pada saya karena kita berdua tahu, malam itu saya hanya sedang melindungi diri."

Javas menatap dalam Zehra yang berbicara cepat dengan mata yang tak fokus membuat ia terkekeh, Javas cukup terhibur dengan aksi canggung versi Zehra.

"Bagaimana kalau aku nggak mau, kamu bisa apa?"

Seketika ada rasa gentar merayap ke dada yang membuatnya gemetar ia jelas tahu jika ia bukanlah lawan sebanding dan akan lebih baik jika ia mundur sekarang dengan mencoba tegar.

"Saya datang kesini hanya untuk itu, mohon dipertimbangkan, saya permisi." ucapnya lekas bangkit dengan panik Zehra setengah berlari menuju pintu mengabaikan geraman disusul derap langkah di belakangnya.

Zehra menatap fokus pada engsel pintu mahal di depannya sebentar lagi ia sampai tapi terlambat, Javas bergerak secepat kilat menerjangnya, Zehra berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Javas mendorongnya kembali tertutup.

Lelaki itu menghimpitnya di pintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu lolongan terkejut, yang satunya lagi bergairah,

"Le…. lepaskan saya!!, atau saya akan berteriak dan menuntut balik anda atas tindakan pelecehan..."

Javas tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara.

Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Zehra, dagu Zehra dicengkeram untuk mendongak lalu bibir Javas mencari-cari bibir Zehra yang sedikit tertutup uraian rambut, tubuhnya makin menekan Zehra ke pintu,

Dengan tangan kanan yang bebas Zehra mencakar punggung tangan Javas yang mencengkram nya disertai menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Javas hanya menempel di telinga yang setengah tertutup rambut, dia mencoba meronta melepaskan diri tapi tubuh Javas menghimpitnya ke pintu dan tak habis akal tangannya mencengkram kedua tangan Zehra di kiri dan kanan kepalanya.

Mereka bergulat beberapa saat, Zehra masih meronta semampunya tetapi Javas tak mau menyerah dari perlawanan Zehra. Sampai kemudian ketika Zehra membuka mulut untuk berteriak, Javas memagut bibir itu.

Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Javas melumat bibir Zehra dengan gairah yang membuncah. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Zehra yang bagaikan sari madu pada kelopak bunga mawar merah.

Zehra terbuai merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya tanpa sadar ia melemah. Dan hal itu memberi kesempatan Javas untuk mencium semakin dalam, Javas menaikkan bokong Zehra lebih naik agar seluruh tubuhnya lebih leluasa menempel ditubuh Zehra, masih memaku kedua tangan dengan satu tangannya. Javas menekan tubuh depannya menempel pada tubuh depan Zehra yang terasa menggairahkan ia juga terus menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Zehra lidah Javas mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Zehra.

Zehra mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seintim dan sepanas ini! Tapi Javas begitu lembut serta lihai menyertakan lidahnya saat mencium menjadikannya makin bergairah,lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Zehra, Javas mengerang dalam ciumannya, oh ya Tuhan nikmat sekali! Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat

Kriiingg!!

Mereka berdua sempat tersentak sesaat, gerakan Javas berhenti dan kini mata mereka bersirobok dan Javas bisa melihat jelas sinar mata yang terbuai walau ada air mata disudut kelopak mata Zehra dan ia memilih fokus kembali membangkitkan sisi lain dari Zehra agar melebur bersamanya.

Javas mencium telinga Zehra dengan sensual ia mendekap erat pinggang Zehra sedikit mengangkat agar ia tak terlalu pegal menunduk dan berhasil Zehra mendesah walau hanya sedetik sebelum ia kembali meronta.

"Itu ada telepon, kamu harus mengangkatnya!" desah Zehra tercekat.

"Biarkan aja, siapapun dia bisa menunggu tapi enggak dengan kita benar kan, Lyra?"

Tok...tok...

Kini Zehra lah yang terkesiap lebih kuat suara ketukan pintu terdengar dan terasa karena kepalanya yang bersandar di balik pintu.

"Brengsek! dasar pengganggu!" umpat Javas di atas telinga Zehra. Dan Zehra bak patung yang pasrah saat pinggangnya dicengkeram untuk di geser ke samping, Javas membuka pintunya.

"Apa?!" sembur Javas emosi.

"Maaf, mengganggu Pak Javas tapi ada telepon penting yang harus Bapak angkat dari petinggi Syam Company, beliau bilang ada hal penting harus segera dibicarakan dengan anda"

"Regis? Maksud kamu?” sentak Javas agar terdengar hingga balik pintu sedangkan matanya memandang Zehra yang menunduk dalam tak berani mendorongnya membuat ia tersenyum simpul.

"Benar, Pak."

"Sial, dasar pengganggu! Kembali ke meja mu, Bu Dyah!"

"Dan kamu tunggu disini!" Javas tak menunggu balasan Zehra ia segera berbalik meraih gagang telepon di atas meja kerja yang kembali berbunyi.

Braakk!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status