Compartir

Bab 35

Autor: Chloe Laurent
"Aku tahu."

"Jangan bilang 'aku tahu'. Berani-beraninya kamu bilang kamu tahu."

Dia tidak berteriak. Namun entah kenapa, itu justru terasa lebih buruk. Suaranya tenang, pelan, tetapi setiap katanya terasa begitu berat.

"Dia pergi karena kamu. Selama tujuh tahun dia menjalani semuanya sendirian karena perbuatanmu. Dia membesarkan keponakanku seorang diri, bekerja di dua tempat, tinggal di apartemen yang bahkan aku nggak tahu. Aku rasa aku bisa membayangkan seperti apa hidupnya."

Dia menarik napas
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 80

    Sudut Pandang Aiden:Jeffery mengirimiku pesan pada Jumat pagi. Pesannya singkat.[ Restoran Marsh. Siang. Kalau kamu mau. ]Kata terakhir itu, "kalau kamu mau", mengubah segalanya. Ada garis tak kasatmata yang membedakan sebuah perintah dengan sebuah ajakan. Begitulah caranya mengajak. Aku sudah mengenalnya selama 15 tahun.Aku tahu persis bagaimana caranya bertindak. Singkat, tak ada kata-kata yang tidak perlu. Cukup samar untuk memberinya kesempatan mundur tanpa kehilangan harga diri kalau aku menolak.Aku membalas pesannya.[ Aku akan ke sana. ]Restoran itu sudah menempati sudut jalan yang sama selama 30 tahun dan mungkin belum pernah dicat ulang setidaknya selama 20 tahun terakhir.Meja-meja Formica, sofa bilik berlapis vinil yang retak dan ditambal dengan potongan selotip tebal, bar panjang dengan deretan bangku, serta mesin kopi tua yang seolah tetap menyala hanya karena keras kepala.Saat jam makan siang, tempat itu penuh sesak, sama seperti restoran-restoran lainnya. Para pel

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 79

    Sudut Pandang Rosie:Aku menatap meja di depanku."Sulit dipercaya," ucapku."Aku tahu.""Semua itu nggak akan menghapus apa yang sudah dia lakukan.""Aku setuju." Nada bicara Jeffery menjadi lebih hati-hati. Dia menimbang setiap kata, seperti yang selalu dilakukannya saat berusaha bersikap jujur dan adil.Itu sesuatu yang selalu terasa lebih berat baginya, tetapi tidak pernah dia tunjukkan. "Aku nggak memintamu mengubah pandanganmu tentang dia. Aku juga nggak menyuruhmu memaafkannya. Aku cuma menceritakan apa yang kulihat."Aku kembali mengangkat cangkir teh."Aku nggak tahu gimana caranya memaafkan dia," kataku. Entah kenapa, mengucapkannya keras-keras sekarang terasa lebih mudah. Bahkan aku sendiri kaget mendengar betapa jelasnya kata-kata itu saat dilontarkan."Aku nggak tahu seperti apa bentuk memaafkan itu. Aku nggak tahu apa yang harus dilakukan untuk sampai ke sana. Nggak ada buku petunjuk untuk hal seperti ini.""Aku juga nggak tahu," sahut Jeffery."Dia sudah menyakitiku samp

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 78

    Sudut Pandang Rosie:Jeffery sudah tiga minggu berada di kota ini dan belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi.Menurutnya, dia mengambil cuti karena sudah mengumpulkan terlalu banyak jatah libur dan tidak punya tempat lain untuk dituju.Dia baru saja bertemu dengan keponakan yang nyaris tidak dia ketahui keberadaannya, juga seorang adik yang sudah hampir tujuh tahun tidak benar-benar dia ajak bicara.Rupanya, atasannya cukup memahami situasi keluarganya yang tidak biasa itu. Atau mungkin Jeffery memang tahu persis apa yang harus dikatakan agar atasannya mengizinkannya. Mungkin juga dua-duanya.Apa pun alasannya, dia tetap di sini. Dia menumpang tidur di sofa apartemenku, yang sebenarnya kependekan untuk tubuhnya meski dia tidak pernah mau mengakuinya. Selebihnya, dia sibuk menguras persediaan makanan di dapurku, seolah bertahun-tahun hidup dari jatah ransum tentara harus ditebus sekarang juga.Lucy bilang dia merasa sangat senang dengan keberadaan Jeffery. Jeffery pun jelas merasa be

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 77

    "Terima kasih sudah meneleponku.""Kamu memang sedang menunggu teleponku," balasnya. Nada bicaranya sama sekali tak terdengar menuduh. Dia hanya menyampaikan kenyataan."Ya." Aku mengakuinya.Suasana hening sejenak. Keheningan itu sudah begitu familier di antara kami. Dulu mungkin akan terasa canggung, tetapi sekarang kami tak lagi merasa harus mengisinya dengan kata-kata."Kalau nanti kamu ingin bicara, telepon aku lagi," ucapku."Ya, mungkin," gumamnya sebelum menutup telepon.Aku masih duduk di kursi. Ponsel yang sudah tak bersuara masih menempel di telingaku.Akhirnya, aku mengakhiri panggilan dan mengalihkan pandangan ke "Kepulangan". Dalam benakku, aku kembali memikirkan semua yang masih harus kulakukan. Rosie sudah memenangkan pertarungannya. Sekarang, giliranku memulai pertarunganku.Orang pertama yang kuhubungi adalah detektif swastaku. Setelah dia mengangkat telepon, aku langsung menjelaskan apa yang kuinginkan.Aku membutuhkan laporan investigasi lengkap tentang Elena yang d

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 76

    Sudut Pandang Aiden:Pagi ini, pukul 8.45, dia mengirimiku pesan.[ Petugas sosial akan datang jam 10 pagi. Nanti aku telepon kamu. ]Hanya itu. Tidak ada permintaan bantuan ataupun ajakan. Dia memberitahuku waktunya hanya karena tahu aku perlu mengetahuinya.Begitulah cara kami berkomunikasi yang terbentuk perlahan selama beberapa bulan terakhir. Ada semacam pemahaman tanpa kata di antara kami. Kami tahu ada hal-hal tertentu yang perlu diketahui satu sama lain, tanpa perlu lagi menjelaskannya panjang lebar.Aku membaca pesannya, memasukkan ponsel ke saku, lalu duduk di meja kerja. Aku membuka kontrak yang sedang kuperiksa untuk Marcus.Paragraf yang sama kubaca sampai empat kali, tetapi tak satu kata pun benar-benar masuk ke kepalaku.Pukul 9.50 pagi, aku tak lagi berniat bekerja. Aku sempat terpikir untuk pergi ke sana. Bukan untuk masuk ke apartemennya. Aku hanya ingin memarkir mobil di suatu tempat di dekat sana, di tempat yang tidak bisa dia lihat.Sebenarnya itu akan membuatnya m

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 75

    Laporan mengenai penelantaran anak baru saja diajukan ke sekolah tempatku mengajar.Kalau penyelidikan administratif ini berjalan buruk, aku bisa kehilangan pekerjaan. Reputasiku di mata para orang tua murid dan masyarakat sekitar adalah fondasi mata pencaharianku.Ini bukan sebuah kebetulan. Ini tindakan jahat yang dilakukan dengan sengaja.Aku meraih ponsel dan menelepon Aiden. Dia mengangkat pada dering pertama.Aku menceritakan semuanya. Telepon dari kepala sekolah. Tuduhan-tuduhan dalam laporan itu. Kunjungan Dinas Perlindungan Anak yang akan segera dilakukan.Aku menjaga suaraku tetap tenang dan netral. Dia membutuhkan fakta, bukan kepanikanku.Setelah aku selesai bicara, keheningan memenuhi sambungan telepon. Kemudian, aku mendengar nada dingin yang belum pernah kudengar darinya. Nada itu tidak ditujukan kepadaku.Itu adalah kemarahan dari seorang pria yang memiliki pengendalian diri luar biasa, tetapi akhirnya sudah mencapai batas kesabarannya.Selama beberapa bulan terakhir, a

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status